Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 165 : Daddy jaga gawang


__ADS_3

Bunyi ketukan di pintu ruang kerja mengalihkan perhatian keduanya.


“Masuk!” titah Bara. Laki-laki itu tak bergeser sedikit pun dari tempat duduknya. Terus-terusan mengamati pintu, menunggu siapa yang meminta izin untuk masuk.


Begitu daun pintu terbuka, muncul Kevin dengan senyum tenang menghangatkan. Berjalan masuk, memangkas jaraknya dengan sang atasan, Kevin menyerahkan amplop coklat berisi uang tunai yang baru saja diambilnya dari ATM.


“Ini Pak.” Meletakannya perlahan ke atas meja kemudian mundur beberapa langkah untuk menunggu instruksi selanjutnya.


“Kamu boleh kembali ke kantor ... Oh ya, besok aku baru mulai ke kantor lagi, tolong siapkan berkas-berkas penting yang harus aku selesaikan secepatnya.”


“Baik Pak.”


Kevin undur diri. Asisten tampan itu masih menyempatkan tersenyum pada pengasuh yang terlihat gugup dan ketakutan.


“Di dalam amplop ini ada uang untuk menganti ponsel dan gajimu bulan ini. Buat janji bertemu dengan Roland besok pagi, setelah itu kamu bisa angkat kaki dari rumah ini. Ingat! Jangan pernah melapor apa pun pada pecundang itu kalau kamu masih ingin hidup nyaman,” ancam Bara.


“Kamu boleh keluar dari sini!”


***


Bara tampak keluar dari ruang kerjanya tergesa-gesa. Saat ini dia harus menemui Bella dan membagi sebagian permasalahannya dengan sang istri. Mungkin tidak bisa berterus terang, mengingat kondisi istrinya yang hamil besar sedang membutuhkan ketenangan.


Langkah kaki laki-laki itu terhenti di ambang pintu kamar, saat melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya. Bella sedang berbaring di pusat ranjang, dengan Issabell dan Rania memijat kedua kakinya. Yang satu kaki kiri dan satunya lagi kaki kanan.


Terdengar celotehan keduanya, terkadang berdebat, terkadang beradu pendapat hanya ingin mendapat pujian dari sang mommy. Pijatan siapa yang lebih nikmat. Tak jarang Bara melihat kedua sudut bibir istrinya terangkat ke atas setiap kedua putrinya berebut pelukan.


“Apa yang kalian lakukan? Kalian menganggu mommy lagi!” tuding Bara, sengaja memutar balik keadaan. Sontak kedua gadis kecil itu berteriak hebat. Memprotes dan siap membombardir Bara dengn omelan khas anak-anak.


“Dad, kamu menganggu saja!” gerutu Rania. Tangannya dengan terampil memberi pijatan di betis kanan Bella.


“Ya Tuhan, apa yang kalian lakukan. Kalian membuat kaki mommy bengkak seperti gajah,” celetuk Bara, menuduh keduanya. Kaki Bella tiba-tiba membengkak saat kandungan masuk tujuh bulan. Menurut dokter ini proses yang alami, hanya diminta jaga pola makan dan kurangi makanan asin.

__ADS_1


Kedua putri itu segera menghentikan pijatannya. Issabell langsung berbaring di samping Bella dan memeluk. Rania dengan wajah asam kecutnya, menatap Bara seakan tidak terima dengan tuduhan yang baru saja dilayangkan daddynya.


“Kamu kelewatan, Dad. Mommy tadi cerita, kalau bengkak ini karena daddy! Bukan karena kami. Ini karena mommy belanja keperluan adek bayi di mall, terus kebanyakan jalan, jadi kakinya bengkak. Harusnya daddy yang belanja, bukan mommy. Daddy itu bisanya cuma marah-marah, mengomel. Ya kan, Mi? tanya Rania pada Bella.


Bella tentu saja terkejut. Rania sekarang sudah berani menjawab Bara dengan panjang lebar. Gadis itu mulai kritis, tidak seperti awal-awal kedatangannya. Selalu diam dan takut. Lebih bisa mengekspresikan perasaannya. Rania sekarang sudah tidak malu-malu memeluknya. Bahkan tidak sungkan mengatakan kalau dia mencintai Bella.


Perlahan mulai melupakan rasa kehilangannya pada sosok Brenda. Menata kembali kepingan hati kecilnya yang terluka saat kehilangan orang yang paling disayangnya.


“Kak, ajak adek ke tempat Oma. Ada yang mau daddy bicarakan dengan mommy.” Bara meraih tubuh mungil Issabell yang menempel lekat pada istrinya. Menurunkannya dari tempat tidur.


“Ca, sudah. Main sama kakak di luar dulu. Daddy mau meeting dengan mommy sebentar.”


Pasangan suami istri melihat kedua putrinya yang keluar dari kamar tanpa protes. Bergandengan tangan dengan akrabnya.


“Bell, aku berencana mencari pengasuh baru untuk jagoan kita. Yang lama sepertinya akan aku berhentikan,” cerita Bara, tanpa mengatakan alasannya.


“Kenapa Mas? Lebih baik mempekerjakannya mbak yang lama saja. Setidaknya aku sudah nyaman bersamanya. Kalau baru lagi, harus menyesuaikan lagi. Belum tentu cocok dengan kita dan anak-anak.” Bella berpendapat.


“Icca sudah mulai belajar mandiri. Aku pikir, sebaikanya dia mulai belajar tidak bergantung lagi dengan pengasuhnya. Apalagi sekarang ada Rania yang menemaninya.” Bara memutar otak, mencari alasan yang masuk akal.


“Kalau pengasuh itu tetap tinggal bersama kita, Icca akan sulit sekali lepas. Karena sejak bayi sudah ditangani oleh pengasuhnya, pasti ada ikatan yang terbentuk di antara keduanya.”


“Jadi aku memutuskan memakai pengasuh lain untuk jagoan kita. Kamu tidak keberatan, kan?” tanya Bara.


Lama terdiam, akhirnya Bella mengangguk. “Aku terserah Mas saja.”


Bara ikut berbaring di samping istrinya, dengan satu tangan menelungkup di perut Bella.


“Mas, aku merasa keputusan untuk membawa Rania tinggal bersama kita adalah keputusan terbaik. Mas melihat sendiri banyak perubahannya.”


“Ya ....”

__ADS_1


“Mereka anak-anak yang manis, meskipun bukan putri kandungku. Untuk Icca, kita masih memiliki tanggung jawab besar. Sampai masanya tiba, kita harus mengenalkan padanya tentang keberadaan orang tua kandungnya. Itu yang sampai sekarang, rasanya berat.” Bara berkata.


“Kalau bisa egois, aku tidak ingin mengenalkannya, tetapi tidak bisa seperti itu. Walaupun bagaimana pun Rissa dan Rolland orang tuanya. Ada saatnya Icca harus mengetahui semuanya. Hanya saja aku kasihan pada anak itu. Kalau sampai tahu masa lalu orang tuanya pasti terpukul," lanjut Bara.


“Ya Mas. Masih panjang. Masih banyak waktu untuk menyiapkan Icca. Apalagi ....”


Bella belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Bara berteriak histeris.


“Bell, jagoanku bergerak. Dia menendang tanganku!” teriak Bara dengan wajah bahagia. Laki-laki itu segera duduk, menatap perut istrinya yang bergelombang dan berkedut-kedut, terlihat dari daster yang dikenakan Bella.


“Astaga Bell, dia bergerak!” pekik Bara kegirangan. Persis seperti Issabell saat dihadiahkan boneka hello kitty.


“Ya, Mas. Tidak perlu berteriak seperti itu. Mengagetkanku saja!” omel Bella, menggelengkan kepala melihat tingkah Bara.


Laki-laki itu sudah menatap tak berkedip perut istrinya, menunggu gelombang yang akan datang selanjutnya. Hampir lima menit diam menunggu, akhirnya Bara menyingkap kasar daster istrinya tanpa permisi.


“Mas!! Apa-apaan ini!” gerutu Bella, saat merasakan perut buncitnya terbuka sempurna dengan pusar yang muncul keluar.


“Aku masih ingin melihat anakku menendang Bell.” Bara beralasan. Mengelus pelan perut bulat istrinya dan menempelkan telinga di sana.


“Hei Jagoan! Ayo tendang lagi, daddy siap menunggu gawangnya.” Bara berkata sambil tersenyum usil.


“Mas, sudah. Nanti tiba-tiba Rania dan Icca masuk. Tidak enak dilihat mereka,” protes Bella.


“Sebentar lagi, Bell. Aku sedang menikmatinya.”


Bara masih saja menempelkan wajahnya di perut Bella, sesekali berbincang dengan jagoannya sambil mengelus pelan perut buncit istrinya.


"Bell, besok aku sudah mulai ke kantor, kalau ada apa-apa segera mengabariku. Aku tidak mau kecolongan lagi. Aku tidak mau istriku digendong orang lain."


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2