
Begitu menurunkan Issabell dan pengasuhnya, Bella segera menyusul Ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Perasaannya jauh lebih tenang saat melihat sendiri kondisi Ibu Rosma yang sudah siuman meskipun masih terlihat pucat dan lemah.
“Bu,” sapa Bella, memeluk erat tubuh Ibu Rosma yang masih terbaring di brankar rumah sakit.
“Bell, kamu datang. Kapan kamu sampai?” tanya Ibu Rosma, masih terlihat lemas.
“Suamimu tidak ikut?” tanyanya lagi, menatap ke arah pintu masuk ruang perawatan.
“Mas Bara tidak ikut, Bu. Aku kesini bersama Icca dan pengasuhnya,” jawab Bella, menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.
“Bagaimana keadaan Ibu? Kenapa bisa sampai begini?” tanya Bella, mengenggam tangan renta Ibu Rosma. Menunggu sang ibu bercerita.
“Kakakmu ... Rissa ....” Suara Ibu Rosma tercekat. Terbata menahan isaknya. Mengingat kembali informasi yang disampaikan orang yang tak dikenalnya. Semua terlihat begitu nyata, tidak tampak kebohongan di sana.
“Apa benar kakakmu ditahan di Jakarta?” Ibu Rosma mengusap dadanya yang sesak setiap mengingat cerita yang disampaikan seseorang padanya melalui ponsel.
Deg— Bella menelan ludah. Tidak tahu harus jujur atau tetap berbohong di saat seperti ini.
“Bagaimana ibu bisa tahu? Siapa yang menceritakannya?” tanya Bella heran.
Ibu Rosma menggeleng. “Ada yang menghubungi ponsel Ibu, mengirimkan pesan dan foto Rissa saat berada di tahanan, tetapi saat ibu menghubunginya, orang itu tidak mau menerima panggilan Ibu,” jelasnya perlahan sembari terisak.
“Katakan Bell. Jujur pada Ibu. Ibu juga harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudah terlalu lama, terlalu banyak yang kalian tutupi dari Ibu,” pinta Ibu Rosma lagi.
“Sudah Bu. Kak Rissa baik-baik saja, tidak perlu dipikirkan. Yang terpenting sekarang, Ibu harus sehat. Nanti aku akan membawa Ibu menjenguk Kak Rissa.”
“Jadi.. berita itu benar Bell?” tanyanya lagi, tak kuasa menahan. Tangis itu pecah seiring anggukan kepala Bella. Tadinya, meskipun keyakinannya mengatakan itu benar, dia masih berharap kalau Bella menggeleng dan mengatakan tidak.
“Ya Tuhan, Rissa.” Ibu Rosma tidak bisa berkata-kata, hanya meremas dadanya, sembari memejamkan mata. Ada banyak rasa mengumpul. Sebagai seorang ibu, mendapati putri kesayangannya berada di titik terendah seperti ini, sama saja seperti kehancuran dan kegagalannya dalam mendidik sang anak.
“Apa salah Ibu Bell, kenapa Rissa sampai harus seperti ini,” ucapnya menangis.
Wanita hamil itu segera bangkit dan memeluk Ibunya untuk menenangkan. Tidak tega meliha Ibunya menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang menimpa sang kakak.
__ADS_1
“Ini bukan salah Ibu, mungkin ini jalan yang diatur Tuhan supaya Kak Rissa sadar. Ibu jangan khawatir, Kak Rissa baik-baik saja. Aku sudah melihatnya sendiri,” ucap Bella, ikut meneteskan air mata.
Tidak tega rasanya melihat Ibu yang selama ini sudah berjuang sendirian, membesarkannya dan sang kakak harus melewati masa tua dengan beban seperti ini. Melihat pipi keriput itu berurai air mata rasanya menyedihkan.
Dia melihat sendiri bagaimana perjuangan ibunya setelah kepergian sang ayah. Ibunya harus berjuang, banting tulang menghidupi mereka, hingga disaat tuanya pun masih harus menanggung beban seperti ini.
“Bu, jangan seperti ini. Kalau ibu sampai sakit, aku bagaimana?” isak Bella. Ikut berurai air mata mendengar tangis pilu Ibu Rosma.
“Ibu jangan menangis lagi, jangan seperti ini. Harus tetap sehat untuk kak Rissa. Nanti kita sama-sama memeluk Kak Rissa. Walau bagaimanapun, seburuk apa Kak Rissa di mata orang lain, dia tetap kakakku. Aku tetap menyayanginya,” ucap Bella, menahan tangisnya tidak semakin pecah.
***
Bara panik luar biasa, sesalnya pun semakin menjadi saat mendapati Bella sudah tidak mau lagi menerima panggilannya. Semua sambungan teleponnya berakhir dengan gadis cantik penunggu mailbox. Kalau beruntung, sambungannya akan ditolak istrinya, yang menandakan kalau istrinya masih ada di ujung sana.
“Ya Tuhan, Bell. Angkat teleponmu Sayang.” Bara berucap penuh sesal, setelah puluhan panggilannya ditolak Bella dan terhubung ke mailbox, puluhan pesannya hanya dibaca tanpa dibalas sama sekali.
Lelaki itu melempar ponselnya ke atas tempat tidur, berbaring telentang menutupi wajahnya dengan lengannya. Saat ini dia benar-benar menyesal. Seharusnya tadi pagi dia tidak perlu berbohong pada Bella. Setidaknya kalau dia jujur, amarah Bella tidak semeledak saat ini.
Kali ini, lelaki itu bisa tersenyum saat mendengar suara Ibu Rosma yang menenangkan di kala jiwanya yang kacau balau.
“Bu bagaimana keadaan Ibu?” tanya Bara, begitu sambungan telepon itu terhubung dengan ibu mertuanya.
“Ibu sudah baikan. Ini masih di rumah sakit,” sahut Ibu Rosma.
“Oh syukurlah. Bu, Bella bersama Ibu?” tanya Bara.
“Ada di sebelah Ibu. Mau bicara dengan Bella?” tanya Ibu Rosma.
“Bisa tolong berikan ponselnya pada Bella, Bu? Aku mengkhawatirkannya.” Bara berkata.
Hening sejenak, Bara tidak tidak bisa mendengar apapun. Tak lama, dia bisa mendengar suara ketus Bella menyapanya.
“Sayang, Sweetheart, dengarkan aku. Aku mohon jangan dimatikan ponselnya. Kita perlu bicara,” ucap Bara, buru-buru.
__ADS_1
“Katakan Mas. Aku tidak memiliki banyak waktu meladenimu,” sahut Bella ketus. Dia terpaksa berbicara di luar kamar, tidak mau sang ibu mendengar pertikaiannya dengan sang suami.
Jangan marah lagi ya. Aku mohon maafkan aku,” pinta Bara, dengan nada memelas.
“Aku capek Mas, kalau tiap hari harus berdebat denganmu. Jangankan aku, anakmu yang ada di dalam kandunganku ini saja sudah muak mendengar permintaan maafmu. Maaf, diulangi lagi. Maaf, diulangi lagi.” Bella menggerutu.
“Apa Mas tidak capek meminta maaf terus-menerus. Aku saja capek memaafkan terus-terusan,” sindir Bella.
“Bukan begitu, Bell ... kamu harus mendengarkan penjelasan ku ....”
Bara belum menyelesaikan kalimatnya, sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh istrinya.
“Ya Tuhan, Bell. Kenapa jadi begini,” ucap Bara pelan.
***
Semalaman Bella menunggu di rumah sakit, tidur di kamar perawatan. Kondisi Ibunya sudah jauh lebih baik dan kalau hasil pemeriksaannya bagus, dokter mengizinkan ibu Rosma pulang ke rumah hari ini.
Pagi itu, setelah membersihkan diri di kamar mandi rumah sakit, Bella bermaksud turun ke bawah untuk mencari sarapan. Sejak kehamilannya masuk trimester kedua, nafsu makannya melonjak drastis.
“Bu, aku mau ke bawah. Mau membeli sarapan. Ibu membutuhkan sesuatu?” tanya Bella.
Ibu Rosma menggeleng.
“Ya sudah. Aku keluar dulu, Bu. Kalau ada apa-apa, telepon aku,” pamit Bella.
Ibu hamil yang terlihat cantik dengan gaun hijau itu sudah melangkah masuk ke dalam lift. Dia harus turun ke lobi rumah sakit untuk membeli sarapan. Baru saja keluar dari lift, hendak menuju salah satu restoran siap saji di sisi kiri lobi, langkahnya terhenti oleh suara maskulin yang menyapanya. Suara laki-laki yang dikenalinya, memanggil dari belakang.
“Mommy Icca ....”
***
TBC
__ADS_1