Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 46. Cerita Bara 2


__ADS_3

Bara sedang berdiri di ujung ranjang, menatap Bella yang duduk di atas ranjang dengan memeluk lutut. Tatapannya tertuju pada noda merah di atas seprai hotel. Ah, baru saja mereka menjadi suami istri seutuhnya, tetapi masalah datang tepat setelahnya.


Istrinya, Bella sedang tidak ingin bicara. Memilih diam dan menyandarkan kepalanya di atas lutut. Mungkin seharusnya, ia tidak perlu jujur. menunggu waktu yang tepat baru mengungkapkannya semua.


“Bell, maafkan aku.” Bara berucap dengan raut penuh penyesalan.


Kalau bukan karena Rissa yang menabuh genderang perang, ia memilih memendam rahasia ini seorang diri. Namun, kakak iparnya itu sudah terang-terangan menyeret istrinya masuk ke lingkaran masalah mereka berdua.


Bara tidak bisa membayangkan, kalau Bella sampai tahu kalau ia tidur dengan Rissa. Entah apa yang akan dilakukan istrinya.


“Aku benar-benar kecewa padamu, Mas,” ujar Bella


"Bell, aku mohon ... maafkan aku. Aku melakukan semuanya demi Ibu dan Icca,” ucap Bara, menghampiri Bella, duduk di sisi ranjang,


“Kamu tidak bisa membayangkan bagaimana Icca kalau ikut bersama kakakmu.”


Bara memberanikan diri, menggenggam tangan Bella. Seketika, membuat istrinya itu mengangkat kepala dan membalas tatapannya.


“Tapi yang membuatku kecewa itu, kenapa harus mempermainkan perasaan Kak Rissa, Mas,” jawab Bella.

__ADS_1


“Aku tahu, aku salah,” sahut Bara tertunduk. Bagaimana pun ia harus bisa membujuk Bella dan mempertahankan rumah tangganya. Untuk itulah saat ini ia memberanikan diri berterus terang.


“Bell, aku harus bagaimana?” tanya Bara.


Bella menatap ke arah netra biru suaminya, laki-laki blasteran itu terlihat sedih. Tatapan menyiratkan permohonan dan ketidakberdayaan. Bella menangkap ada ketulusan di sana.


“Minta maaf dengan Kak Rissa. Kalau dia memaafkanmu, aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi. Aku akan menutup mata,” sahut Bella.


Sedikit pun Bella tidak pernah berpikir, semuanya begitu rumit. Kalau bukan suaminya, ia akan pura-pura tidak mendengar, pura-pura tidak melihat. Namun kenyataannya, suaminya sendiri yang menyakiti sang kakak.


“Kalau Rissa tetap tidak memaafkanku?” Bara bertanya seperti anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.


“Berusahalah, Mas. Aku akan coba untuk membantumu,” bisik Bella pelan.


“Mas, kalau memang begitu tidak ingin kita bercerai, harusnya Mas berpikir ulang sebelum bertindak,” sahut Bella cepat.


“Maaf ...."


“Jujur, sebelum bertemu denganmu aku tidak terlalu memikirkan hal ini. Bahkan, tidak berpikir sampai sejauh ini.” Bara berkata.

__ADS_1


“Apa ada hal lain lagi yang Mas sembunyikan dariku?” tanya Bella, menatap lekat. Ia bersiap menunggu jawaban suaminya.


“Aku tidak mau, jadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa,” ucap Bella, dengan tatapan tajam.


Bara diam sesaat, tampak berpikir dan menimbang ulang. Entahlah, ia sendiri bingung. Apakah tepat menceritakan sesuatu yang akan menyakiti istrinya sendiri. Namun; bukankah lebih baik Bella mendengar dari bibirnya langsung. Dibanding mendengar dari Rissa yang sewaktu-waktu akan membongkar semuanya.


Dengan menghela napas berat, Bara akhirnya membuka mulut. Memantapkan hati, membuka aibnya dan Rissa. Ia berharap Bella bisa mengerti.


“Bell," panggil Bara, meminta perhatian istrinya yang sedang menunduk.


“Aku ... aku ... pernah tidur dengan Rissa,” ucap Bara pelan, nyaris tidak terdengar jelas.


“Maksudmu, Mas?” Bella sudah mendengar, tetapi hanya ingin memastikan. Kenyataan yang paling menyakitkan untuknya, kalau memang ia tidak salah menangkap ucapan Bara.


“Aku tidur dengan Rissa,” ucap Bara kembali dan tertunduk.


***


T B C

__ADS_1


Maaf telat up


Love you all.


__ADS_2