Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 50. Pulang


__ADS_3

Bara memerhatikan wajah cantik yang sedang mengusap hidungnya yang memerah. Perasaannya jauh lebih lega, setidaknya Bella sudah bisa mengerti.


"Bell, apa aku boleh minta jatah lagi sebelum kembali ke Jakarta?" tanya Bara tiba-tiba.


Bella terkejut, mengangkat pandangannya. Suaminya sedang menunggu jawaban dengan wajah penuh harap.


“Tidak, Mas! Aku harus bersiap-siap,” sahut Bella tertunduk menutup pipinya yang memerah.


Bergegas menuju kamar mandi sembari membingkai wajahnya dengan kedua tangannya.


“Dasar tidak tahu malu! Di saat seperti ini bisa-bisanya dia meminta,” gerutu Bella pelan, menutup pintu kamar mandi dengan sedikit kencang. Mengejutkan Bara yang tertegun menatap punggung istrinya menghilang di balik pintu.


“Astaga, aku baru melihat sisi lain istriku,” bisik Bara pelan.


***


Pak Rudi, sopir Bara sudah menunggu di samping mobil, siap mengantar kedua majikannya kembali pulang ke Jakarta. Ia baru saja merapikan dan memasukkan koper dan barang-barang majikannya ke dalam bagasi mobil.


Kota Bogor pagi itu terbilang cerah. Jalanan pun sudah mulai memadat, beberapa pedagang terlihat mulai menggelar lapaknya, menjual jajanan, oleh-oleh atau makanan kecil khas kota Bogor.


Senyum terukir di bibir sang sopir, saat melihat Bara yang keluar dari lobi hotel dengan menggandeng mesra tangan istrinya.


“Akhirnya Bos bisa merasakan juga nikmatnya berumah tangga.”


Pak Rudi bisa mengingat jelas rumah tangga majikannya dulu yang hampir tiap hari diwarnai pertengkaran dan pertempuran. Tidak jarang perabotan rumah menjadi korban dari percekcokan Bara dan mantan istrinya.


Bahkan, ia harus terbiasa tidur di basement kantor, setiap pertengkaran yang berujung dengan keluarnya Bara dari rumah. Pria itu memilih tidur di kantor atau kadang di hotel. Mobilnya dulu dipenuhi dengan pakaian dan jas kerja Bara.


Sering kali majikannya yang malas pulang ke rumah, memilih berganti pakaian atau sekedar istirahat di dalam mobil. Kehidupan yang benar-benar tidak sehat waktu itu. Sampai akhirnya, Bara lelah dan menggugat cerai mantan istrinya.


“Pak, kita langsung jalan?" tanya Pak Rudi pada Bara yang sudah duduk berdampingan dengan Bella di kursi belakang.


“Ya, Pak. Istriku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya,” sahut Bara, tersenyum menatap Bella yang sedang mengikat rambutnya.


“Tidak, jangan diikat. Lebih cantik digerai,” goda Bara, menahan tangan Bella yang sibuk merapikan rambutnya.


“Mas, apa-apaan sih,” protes Bella, menahan tangan Bara yang sedang melepaskan kembali kuncir rambutnya.


“Aku merasa tidak rela pulang ke Jakarta,” ucap Bara, mengecup pipi istrinya.


“Mas, ada sopir,” keluh Bella menggelengkan kepala. Suaminya jadi berubah, rasanya seperti bukan Barata Wirayudha.


Perjalanan Bogor-Jakarta, lumayan ramai walau tidak sampai macet dan tersendat. Sempat terjebak di beberapa titik tetapi tidak sampai berhenti total. Saat mobil masuk ke tol dalam kota, ponsel Bara berdering.

__ADS_1


“Ya, ada apa Kevin?” sapa Bara, sesaat setelah menempelkan benda tipis persegi itu di telinganya.


“Pak Bara sudah di Jakarta?” tanya Kevin, si asisten .


“Ada apa?” tanya Bara melirik Bella sekilas. Istrinya tertidur pulas dengan bersandar di kursi. Sesekali kepala itu tertunduk ke depan, setiap Pak Rudi menghentikan laju mobil.


“David, baru menghubungiku. Rapat dengan RD Group harus ditunda. Pak Pram selama seminggu ke depan tidak bisa datang ke kantor,” jelas Kevin.


“Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” Bara heran.


Rapat yang akan dilaksanakan besok dengan RD Group terbilang penting, bahkan tidak bisa tanpa dihadiri pemilik perusahaan. Ia sendiri harus mengejar waktu untuk rapat itu. Kalau tidak, Bara lebih memilih menginap dua tiga hari lagi supaya bisa lebih dekat dengan sang istri.


“Pak Pram sedang dapat musibah. Istrinya keguguran semalam,” jelas Kevin.


“Oh, sekarang di mana? Tolong cari tahu untukku. Aku dan Bella akan menjenguk istri Pram,” pinta Bara pada asistennya.


“Baik, Pak,” sahut Kevin dari seberang telepon.


***


Mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam pekarangan rumah kediaman Bara. Dari teras rumah sudah tampak Issabell yang digendong pengasuhnya berteriak kencang sambil melambaikan tangannya.


Seminggu mereka berpisah, hanya berhubungan melalui video call saja. Ada segunung rindu yang dirasakan gadis kecil itu kepada ayah dan bundanya.


Bella bergegas menghampiri, berjongkok tepat di depan Issabell. Di belakangnya tampak Bara menyusul sambil membawa boneka beruang besar yang dibelinya saat di Bogor.


“Icca rindu Mommy?” tanya Bella, mengecup kedua pipi gembul Issabell.


“Lindu Mami,” sahut Issabell, memeluk erat leher Bella, meminta sang mama membawanya ke dalam gendongan.


“Daddy!” teriak Issabell, saat pandangannya beralih pada sosok Bara yang berjalan mendekat, membawa boneka besar di pelukannya.


Issabell sudah menyodorkan kedua tangannya, bersiap menerima boneka beruang yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya.


“Maasih, Daddy,” celoteh Issabell, menyandarkan kepalanya pada boneka besar yang sedang didekapnya.


“Mami,” panggil Icca, pandangannya tertuju pada mobil, di mana Pak Rudi sedang menurunkan koper dan barang-barang milik Bella dan Bara.


“Dedek mana?” tanyanya polos pada Bella, kemudian manik mata gadis kecil itu beralih menatap Bara. Menagih janji yang sempat di ucapkan Bara, saat ia ditinggalkan seminggu yang lalu. Dilarang ikut oleh sang ayah.


“Daddy, dedek mana?” tanya Icca lagi. Kepalanya celingak-celinguk mencari sesuatu.


“Icca cari apa, sih?” tanya Bella heran.

__ADS_1


“Dedek Mami,” jelas Issabell menegaskan kembali.


“Sabar ya, Icca. Harus menunggu lagi,” sahut Bara asal, menggarukan kepalanya yang tidak gatal,


“Kamu bicara apa dengan Icca, Mas?” tanya Bella, memukul lengan Bara.


“Seminggu yang lalu aku menjanjikannya akan memberi Icca adek bayi. Kalau tidak begitu, dia akan memaksa ikut kita ke Bogor,” jelas Bara, tersenyum.


“Dasar!” gerutu Bella masuk ke dalam rumah.


***


Keluarga kecil itu sedang menikmati makan siangnya setelah membersihkan diri dan melepas lelahnya karena perjalanan panjang Bogor-Jakarta. Issabell pun sudah duduk di kursi khusus untuk balita, disuapi makan siang oleh pengasuhnya.


Bara seperti biasa duduk di kursi utama, ditemani Bella di sampingnya. Menikmati makan siang yang sudah disiapkan asisten rumah tangga. Gambaran keluarga kecil bahagia, makan siang yang diiringi celotehan Issabell dan pembicaraan ringan antara Bara dan Bella.


“Bell, besok sore kita ke rumah sakit. Menjenguk istri Pram,” ucap Bara, sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Kailla kenapa, Mas?” tanya Bella heran.


“Keguguran,” sahut Bara singkat.


“Aduh, kasihan sekali. Bagaimana bisa? Kapan?” tanya Bell penasaran.


“Info dari Kevin, kejadiannya semalam.”


Bella mengangguk. Terbayang pertemuan mereka terakhir, masih mengobrol dan bercanda. Bella masih mengingat keusilan teman barunya itu, saat mengajaknya mengerjai suami mereka.


Mas, besok ...." Bella tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Tiba-tiba Rissa masuk, sambil berteriak di ruang makan. Diikuti seorang security yang berusaha menahan langkah kakinya.


“BARA!” teriak Rissa.


***


T B C


Terima kasih


Love You all


Mohon dukungan Like komen rate dan share nya.

__ADS_1


__ADS_2