
Siang berlari pergi, sore pun menjemput hari. Sepasang suami istri itu masih betah menemani gadis kecil yang bersimpuh dengan tangisannya di sisi pusara. Para pelayat sudah tak berjejak, tertinggal keluarga inti yang masih setia berpayung hitam menahan gerimis kecil.
Stella tampak memeluk mamanya yang masih melemas. Ibu Sutomo kondisinya sedikit lebih baik dibanding suaminya yang terbaring tak berdaya di brankar rumah sakit, sehingga tidak sanggup mengantar putrinya di peristirahatan terakhir.
“Ste, apa tidak sebaiknya kamu bawa mama pulang dulu?” tawar Bara, setelah tidak tega melihat kondisi mantan mama mertuanya.
“Aku ... tidak bisa meninggalkan Rania sendirian di sini, Mas.”
“Rania biarkan bersama kami sementara, ada Bella yang menemaninya. Nanti kami yang akan mengantarnya pulang.”
Stella menurut. Kondisi mamanya memang tidak bisa terlalu lama bertahan di pemakaman. Setidaknya lebih baik pulang beristirahat di rumah dan menenangkan diri. Di usia senjanya, fisik Ibu Sutomo sudah tidak setangguh waktu masih muda, apalagi ditambah guncangan yang begitu hebat dengan kepergian Brenda.
***
Setelah membujuk Rania, akhirnya gadis itu menurut. Kembali pulang ke rumah, berpamitan di makam Brenda dengan mata menganak sungai.
“Rania sudah makan? Mau mommy belikan sesuatu?” tanya Bella, mendekap tubuh kurus Rania yang masih belum mau berhenti menangis. Gadis itu membelit pinggang Bella dengan manjanya. Ketiganya sudah berada di dalam mobil, dengan Pak Rudi memegang kemudi.
Bara yang duduk di sisi lain, hanya tersenyum sekilas menatap Bella dan Rania yang berpelukan, kemudian melanjutkan konsentrasinya pada layar gawai. Memeriksa email yang dikirim Kevin padanya. Sejak pagi, laki-laki itu tidak bekerja. Rencananya setelah dari pemakaman langsung ke kantor, tetapi kondisi Rania membuat Bara membatalkannya.
“Rania tidak mau apa-apa.” Gadis itu masih betah memeluk dan merebahkan tubuhnya di pelukan Bella, mencari kehangatan yang selama ini tidak didapatkannya.
“Mas, mampir di depan. Mau beli cemilan untuk Rania, sekalian buat Icca,” pinta Bella menunjuk papan nama sebuah donut terkenal dengan berbagai toping kesukaan putrinya.
Bara menoleh sekilas, laki-laki itu menjawab, tetapi langsung memberi perintah pada Pak Rudi. Tepat saat mobil itu berhenti sempurna di tepi jalan, Bella melepaskan pelukannya pada Rania.
“Sudah Bell, biar aku saja,” ucap Bara, meraih gagang pintu mobil dan bergegas turun.
“Rania mau toping apa, Sayang?” tanya Bella.
“Mau moka,” sahut Rania pelan.
“Mas, belikan moka. Icca belikan yang coklat, Mas.”
Bara mengangguk. Berdiri membungkuk menahan pintu mobil, sembari menunggu intruksi sang nyonya.
“Apalagi, Bell?” tanya Bara.
__ADS_1
“Rania mau turun. Nanti bisa pilih sendiri,” tawar Bella. Membujuk Rania untuk jalan-jalan keluar, setidaknya gadis itu bisa melupakan kesedihannya sementara.
Rania menggeleng.
“Itu saja, Mas. Jangan lama-lama, ya.”
“Aku hanya mampir sebentar Bell, bukan mau menginap di sana,” celetuk Bara, sikapnya sudah kembali seperti semula.
Bara memang bukan tipe pria romantis, yang bisa melempar kata-kata manis yang membuat wanita melayang ke udara sampai lupa bagaimana cara turun mendarat ke bumi. Dia juga bukan laki-laki yang bisa bersikap lembut, yang membuat para wanita melemas seketika, jatuh tidak sadarkan diri karena pesonanya. Akan tetapi kesetiaan Bara sudah teruji, dari berumah tangga dengan istri yang pertama sampai menikahi Bella, putri asisten rumah tangganya.
Hampir 30 menit laki-laki itu berdiri menunggu di dalam toko. Suasana sore itu lumayan ramai, sehingga Bara harus mengantri. Saat menyelesaikan pembayarannya, begitu berbalik badan Bara menabrak seseorang.
“Maaf ....” ucapnya. Beruntung dua kotak donut masih terjaga di tangannya.
“Ya, tidak apa-apa.” Terdengar suara manja, mengalun merdu menjawab permintaan maaf Bara, sontak laki-laki itu menoleh.
Gadis manis mungkin seumuran istrinya, dengan celana super pendek dan kaos putih menggantung, memamerkan perut ratanya yang putih mulus tersenyum manis padanya.
“Oke, aku permisi.” Bara melenggang pergi tanpa menoleh lagi. Respon berbeda ditunjukan sang gadis. Yang meloncat kegirangan dan bergosip dengan teman sebayanya.
Setelah mengantar Rania pulang ke rumah, Bara dan Bella menjadi tidak tega. Hanya ada Omanya yang duduk termenung di sana. Sedangkan Stella mengurus papanya di rumah sakit. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, pasangan suami istri itu membawa Rania pulang ke rumah mereka untuk sementara, sampai keadaan kembali seperti semula.
***
“Anak-anak sudah tidur, Bell?” tanya Bara, berbaring menyamping menatap istri yang baru saja melangkah masuk dengan daster abu-abu tanpa lengan.
“Sudah,” sahut Bella. Ibu hamil itu memilih tidak naik ke atas tempat tidur, tetapi bertumpu di sisi ranjang dan menatap suaminya dengan seksama.
“Mas, tadi aku memnghubungi ibu,” cerita Bella dengan wajah cerahnya.
“Lalu?”
“Ibu bersedia pindah ke Jakarta dan tinggal bersama kita di sini.”
“Benarkah?” Bara memastikan lagi.
Bella mengangguk.
__ADS_1
“Kamu tidak jadi meninggalkanku dan menetap di Surabaya, Bell?” tanya Bara, dengan senyum cerahnya.
Bella kembali mengangguk dan tersenyum.
“Kemarilah, Sweetheart. Kita harus merayakan perdamaian kita ini, sebelum nanti kita memulai pertengkaran lagi,” pinta Bara, membawa istrinya naik ke atas tempat tidur.
“Kamu tahu, Bell. Kamu terlihat manis malam ini,” ucap Bara, mengunci tubuh Bella yang duduk di sampingnya. Perasaan bahagia, membuat laki-laki itu jadi sosok berbeda dari biasanya.
“Memang biasanya tidak manis, Mas?” tanya Bella, mengulum senyumannya.
“Istriku selalu manis, apalagi kalau ada maunya,” goda Bara.
Senyum laki-laki itu tidak pernah hilang dari bibirnya, sejak Bella memberi pernyataan damai. Hidupnya terasa ringan dan bersemangat saat Bella mulai memahami semua sikapnya selama ini
“Mas, aku kasihan melihat Rania. Gadis itu sudah tidak memiliki siapa-siapa,” ucap Bella tiba-tiba.
“Apa memang seharusnya dia ikut bersama kita, seperti permintaan Mbak Brenda.”
Senyum yang tadi singgah di wajah ibu hamil itu hilang entah kemana. Tatapannya menjadi sendu, mengingat kembali obrolan sederhananya dengan Rania sebelum tidur. Gadis itu banyak bercerita, tentang perasaan dan kesedihannya yang sekarang harus bertahan sendirian. Tidak ada mommy yang menjadi tumpuannya. Yang Bella tangkap, Rania sekarang seperti layangan putus benang. Terombang ambing tertiup angin. Sosok kakek, nenek dan Stella tidak bisa menggantikan sosok orang tua untuknya.
“Mas, bagaimana menurutmu?”
Bara menghela napas. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya dia tidak merasa kasihan, tetapi selama ini kehadiran Rania menjadi masalah di rumah tangga mereka. Itu menjadi pertimbangan untuknya.
“Bell, nanti saja baru kita bicarakan lagi. Sementara ini, biarkan saja seperti ini. Aku tidak masalah kalau Rania tinggal bersama kita, tetapi mungkin belum sekarang. Kita perlu diskusikan dengan oma dan opanya. Walaupun Brenda memintanya langsung padamu.”
Akhirnya Bara bersuara. “Aku pribadi, tidak keberatan. Hanya saja masalah ini tidak semudah itu. Untuk sementara biarakan saja seperti ini, kalau Rania mau di sini, biarkan dia tinggal di sini, tetapi kalau dia merindukan oma dan opanya, aku juga tidak akan melarang dia kembali tinggal di sana.”
“Memang, lebih baik tinggal bersama kita. Akan tetapi aku tidak bisa mengabaikan perasaan kedua orang tua Brenda. Saat ini, yang tertinggal dari Brenda, hanyalah Rania. Mereka pasti menginginkan untuk tetap bersama Rania di sisa hidup mereka.”
***
TBC
__ADS_1
Note : yang ingin masuk di group chat passwordnya Barata Wirayudha. Tolong ketikan nama itu di alasan masuk jadi author dan admin bisa acc.