
Bara tersenyum sendiri, mengandeng Bella dengan mesranya masuk ke kamar mereka. Sepanjang hari mereka menghabiskan waktu berduaan, berbelanja, jalan-jalan dan diakhiri makan malam romantis di pinggir pantai.
Semuanya baru berakhir saat Bella mengeluh kelelahan sambil mengusap perutnya yang kram mendadak.
Pintu kamar itu baru saja terbuka, Bella sudah menerobos masuk meninggalkan Bara dengan kantong belanjaan yang berukuran raksasa.
Sosok Bara sudah seperti ajudan istrinya sendiri. Mengikuti ke mana arah Bella melangkah, mendengar semua perintah Bella tanpa membantah sedikit pun. Seperti saat ini, Bella baru saja menghempaskan tubuh kelelahan di atas tempat tidur.
“Aduh, Mas.Kakiku kenapa jadi sakit semua,” keluh Bella, memijat kedua kaki yang diluruskannya di atas tempat tidur.
Mendengar keluhan istrinya, Bara sigap menjatuhkan semua barang belanjaannya ke lantai dengan kasar. Lelaki itu bergegas menghampiri Bella. Tanpa diperintah, sudah mengambil alih memijat betis istrinya dengan penuh perasaan.
“Mas, kenapa kamu jadi begini perhatian?” tanya Bella, mengerutkan dahinya. Menatap keheranan pada suami yang duduk di sisi ranjang.
Tangan yang biasanya sering digunakan untuk menandatangani proyek miliaran rupiah itu, sekarang dengan lincahnya memijat hampir mirip pianis handal yang menekan tuts piano dengan mahirnya.
“Kramnya hanya di betis saja, Bell?” tanya Bara, setelah hampir lima belas menit memijat di titik yang sama.
“Maksudnya, Mas?” tanya Bella.
“Kramnya hanya di betis saja, Bell? Siapa tahu perlu di-upgrade lagi,” jelas Bara, menatap ke arah paha mulus yang menantang, karena gaun Bella tersingkap.
“Mas!” omel Bella kesal, pandangan nakal dan memohon Bara persis seperti Issabell saat merajuk melihat es krim.
“Apa, Sweetheart?” tanya Bara, tersenyum menggoda.
Keduanya masih berdebat dengan Bara yang lebih mendominasi. Sambil memijat, lelaki itu melempar candaan dan rayuan maut yang rasanya sudah lama sekali tidak pernah dilakukannya. Ia tidak muda lagi, belasan tahun sudah tidak melakukan hal-hal yang biasanya dilakukannya saat remaja.
Jika dipikir kembali, rasanya malu sendiri. Namun, pesan ibu mertuanya, kalau Bella juga terkadang masih membutuhkan hal-hal manis seperti itu untuk melunakan sikap kerasnya.
Sikap kekanak-kanakan Bella yang belum bisa hilang sepenuhnya meskipun sudah berstatus istri dan ibu dari seorang anak membuat Bara harus memutar otak. Membongkar kembali, memori masa-masa berseragam putih abu-abunya. Mengingat bagaimana bersikap manis ala remaja tujuh belas tahun.
“Sudah, Mas,” pinta Bella.
“Sudah? Yakin?” tanya Bara memastikan, menarik turun gaun mini istrinya. Gaun yang sengaja dipilihnya untuk Bella di pusat perbelanjaan.
“Sudah, Mas. Kakiku sudah enakan. Aku mau mandi, lengket semua,” keluh Bella.
“Perlu dimandikan juga?” tawar Bara, mengedipkan sebelah mata. Menunggu suara manja Bella yang mendayu-dayu, kesal padanya.
“Mas," protes Bella dengan nada manjanya. Melangkah menuju kamar mandi, ia bersiap membersihkan diri.
***
Bella baru saja melepaskan gaunnya. Turun melorot dari pundak, melewati pinggang dan kaki jenjangnya yang indah, berakhir teronggok pasrah di atas lantai kamar mandi. Dengan tubuh terbalut pakaian dalam, Bella menyiapkan air mandinya.
Dengan lincah tubuh mungil itu berlenggak-lenggok ke sana kemari. Suara air keran yang mengucur memenuhi bathtub membuat Bella tidak bisa mendengar jelas saat suaminya menyelinap masuk bagai seorang pencuri amatiran. Mengendap-endap tanpa kejelasan dengan senyum usilnya.
__ADS_1
Baru saja ia akan mencelupkan kakinya masuk ke dalam bak, tiba-tiba ada tangan kekar yang membelit pinggang membuatnya menjerit.
“Aahhh!” teriak Bella, terkejut dan ketakutan.
“Sstt, ini aku, Sweetheart,” bisik Bara, menjatuhkan dagunya di pundak telanjang Bella.
“Mas, apa-apa sih! Aku hampir mati ketakutan di sini,” keluh Bella, mengatur napasnya supaya kembali normal.
“Aku mau melihatmu mengenakan bikini yang tadi kita beli, tetapi sampai di sini aku berubah pikiran,” cerita Bara.
Bella menoleh ke samping, melihat jelas wajah Bara yang dibuat memelas dan menggemaskan.
“Tidak perlu seperti itu, Mas. Wajah garangmu itu tidak pantas dibuat semanis itu,” celetuk Bella, masih setengah kesal.
“Hahaha, tetapi melihatmu seperti ini, aku berubah pikiran. Lebih cantik tanpa bikini dan tanpa apa-apa,” ucap Bara, dengan tatapan menggodanya.
Tangan yang tadinya membelit pinggang, sekarang sudah menjelalah ke mana-mana. Menyusuri lekuk tubuh indah, memberi sentuhan pada titik-titik yang membuat Bella melayang ke awang-awang.
Sampai akhirnya keduanya sudah berendam, berbagi bathtub dengan tubuh tanpa sehelai benang.
“Bell, maafkan aku,” bisik Bara, mengecup punggung Bella yang polos.
Selama ini mereka tidak memiliki ruang untuk bicara dari hati ke hati. Sehingga menciptakan banyak kesalahpahaman. Ia sibuk dengan pekerjaannya, Bella sibuk dengan kuliah dan mengurus Issabell. Keseharian mereka lebih banyak dihabiskan dengan rutinitas biasa.
“Mungkin tanpa sengaja menyakitimu,” lanjut Bara. Lelaki yang sekarang duduk tepat di belakang Bella, sedang mengusap perut rata Bella. Membiarkan istrinya setengah berbaring di tubuhnya, menikmati hangatnya air bathtub bercampur bola-bola sabun dan usapan lembut tangannya.
“Pulang dari Bali, kita ke dokter lagi. Sudah lama rasanya tidak menjenguk bayiku,” ucap Bara.
***
Hampir seminggu keduanya menghabiskan babymoon di Bali. Sebelum kembali ke Surabaya, Bara sempat menyiapkan makan siang romantis dengan Bella di pinggir pantai. Membuat istrinya terharu dan luluh.
__ADS_1
Mereka benar-benar menghabiskan waktu berduaan, saling mengenal lebih dalam, saling memahami apa yang selama ini membuat mereka sering bertengkar.
Keduanya sudah di dalam pesawat, penerbangan kembali ke Surabaya. Babymoon mereka usai sudah. Hampir seminggu meninggalkan Issabell, terbersit rindu pada gadis kecil yang biasanya mengisi hari-hari mereka. Begitu pagi tadi Bella menghubungi ibunya, memberitahu mengenai kepulangan mereka, Issabell sudah langsung berteriak kegirangan. Bahkan gadis kecil itu berencana menjemput kedua orang tuanya di bandara bersama omanya.
Penerbangan kembali terasa lebih singkat, Bella lebih banyak bersandar manja di pundak suaminya sembari menggenggam erat tangan Bara
“Ah, besok aku harus kembali bekerja, Bell,” ucap Bara, dengan wajah sedih.
“Dan kita akan berpisah lagi,” lanjut Bara. Belum rela kembali ke Jakarta, meninggalkan anak dan di istrinya di Surabaya.
“Kenapa tidak kembali bersamaku ke Jakarta saja,” ajak Bara.
Bella tampak berpikir. Jujur, ia juga merasakan hal yang sama. Namun, saat ini ia masih ingin menikmati kampung halamannya. Ia lebih nyaman tinggal di Surabaya, dekat dengan ibunya dibandingkan di Jakarta, tinggal di rumah mewah Bara.
“Berikan aku waktu sedikit lagi, Mas. Aku masih ingin melepas rindu pada kampungku. Aku juga mau ke tempat Bapak. Sudah lama tidak ziarah ke makam bapak.”
Bara tersentak. Ia juga lupa melakukannya. Bahkan ia belum mengenalkan Bella pada kedua orang tuanya. Selama ini, ia terlalu disibukan dengan masalah pekerjaan dan rumah tangga mereka. Sampai melupakan hal terpenting di dalam rumah tangga mereka.
“Aku akan menemanimu menemui bapakmu dan nanti temani aku mengunjungi Mami dan papiku,” ucap Bara.
“Aku belum mengenalkanmu pada mereka. Aku kelewatan sekali,” lanjut Bara, mengenggam erat tangan Bella.
***
Begitu menginjakan kaki keluar dari Bandara Juanda, keduanya sudah disambut senyuman ceria putri mereka Issabell. Gadis kecil itu berteriak histeris dalam gendongan pengasuhnya
“Mommy!” teriaknya kencang.
“Itu Daddy, Oma,” teriak Issabell lagi saat melihat Bara yang sedang menyeret koper keluar dari pintu.
Bella yang sudah merindukan putrinya langsung memeluk dan mengecup pipi Issabell yang masih di gendongan sang pengasuh
“Bu, apa Icca rewel dan menyusahkanmu?” tanya Bella, berlanjut memeluk Ibu Rosma.
“Anak-anak 'kan memang seperti itu. Sering menanyaimu dan Bara,” sahut Ibu Rosma, tersenyum.
Terlihat Bara, mencium tangan Ibu Rosma dan memeluk mertuanya itu.
“Doakan aku, Bu. Sebentar lagi, aku pasti berhasil menaklukannya, Bu,” bisik Bara, di telinga ibu mertuanya.
Pertemuan keluarga kecil yang selama seminggu terpisah itu berakhir sudah. Bara dengan menggendong Issabell dan menggandeng tangan istrinya berjalan menuju ke parkiran.
Tanpa mereka sadari, kebersamaan mereka diam-diam diabadikan seseorang. Lelaki asing yang selalu mengikuti, sejak keberangkatan Bella, Issabell dan Ibu Rosma ke Surabaya.
***
T b c
__ADS_1
Love You all
Terima kasih