Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 103. Rencana Bella


__ADS_3

Beberapa hari ini suasana di kediaman Bara terlihat tenang. Bella memilih tidak memusingkan apa yang dirasakan di dalam hatinya. Ia memilih mendengarkan semua nasehat ibunya, mencoba mengerti dan memahami semua luka yang dirasakan Bara dulu. Bella mencoba berdamai dengan masa lalu suaminya.


Rumah itu sudah terdengar ramai, menyambut mentari pagi yang siap terbit di ufuk timur. Issabell yang makin hari makin menggemaskan. Mulai pintar dan banyak bicara, apalagi sejak kehadiran Rania di keluarga kecil mereka. Memberi warna di keseharian Issabell. Beberapa hari tinggal di sini, Rania sanggup mencuri tempat di hati Issabell.


Rania sendiri mulai terbiasa dengan rutinitas di keluarga barunya. Gadis tanggung itu tidak tahu jelas sampai kapan ia akan dititipkan di sini. Namun, ia menikmati rasanya memiliki keluarga lengkap, ayah, ibu dan seorang adik yang lucu, kendati ia masih merindukan sosok ibu kandungnya.


Pagi itu, terlihat Ibu Rosma sedang bersiap, merapikan isi kopernya dibantu oleh asisten rumah tangga. Rania yang kebetulan libur sekolah dan Issabell tampak duduk di dekat wanita tua yang disapa Oma itu.


“Oma, terus kapan ke sini lagi?” tanya Rania, gadis itu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Ibu Rosma.


“Nanti Oma datang lagi. Kapan-kapan Rania main ke tempat Oma, ya,” ucap Ibu Rosma, tersenyum. Merapikan anak rambut Rania yang berantakan.


Rania mengangguk, tersenyum menatap Issabell yang duduk di pangkuan Ibu Rosma. Sejak awal, gadis kecil itu tidak mau berpindah, seolah paham kalau omanya akan segera pulang ke Surabaya.


Tidak lama, terdengar bunyi pintu kamar terbuka. Muncul Bella dari balik pintu dengan daster batik sederhananya. Kecantikan alami seorang Bella Cantika terpancar disana.


“Bu, aku masih tidak rela,”ucap Bella menahan tangis. Tiba-tiba sudah berlutut memeluk pundak Ibu Rosma dari belakang. Ibu Rosma yang sedang duduk di lantai sembari memangku cucunya sampai harus hilang keseimbangan karena rangkulan Bella yang mendadak.


“Anak manja! Nanti ibu berkunjung ke sini lagi. Mungkin nanti saat kamu sudah mau dekat-dekat lahiran,” jelas Ibu Rosma.


“Ayo bangun. Kamu sedang hamil, jangan manja. Tidak malu dengan kedua putrimu yang cantik-cantik ini. Mereka juga tidak menangis,” lanjut Ibu Citra.


“Aku masih tidak rela, Bu,” ucap Bella masih saja bermanja dengan ibunya.


“Sudah, jangan begini. Di mana suamimu? Sudah bangun?” tanya Ibu Rosma.


“Tadi di kamar mandi. Ibu mau apa?” tanya Bella, penasaran.


“Ibu mau pamitan. Yang akur, jangan bertengkar. Kamu itu sedang hamil, tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Suamimu itu sangat menyayangimu. Hanya saja dia lelaki yang kaku dan tidak mau memahami isi hatinya sendiri,” pinta Ibu Rosma.


“Ah, ibu seperti mengenal luar dalam suamiku saja,” ucap Bella.

__ADS_1


“Ayo panggilkan suamimu. Ada yang harus ibu sampaikan padanya,” pinta ibu Rosma.


Dengan langkah gontai dan terpaksa, Bella akhirnya menurut. Kembali ke kamarnya dan mencari sosok suami yang sering dielu-elukan ibunya.


“Mandinya kenapa lama sekali,” celetuk Bella, saat indra pendengarannya masih mendengar gemericik air dari keran di dalam kamar mandi.


Menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang, menunggu Bara menyelesaikan acara mandinya yang sudah seperti putri keraton. Sewaktu ia keluar dari kamar menemui ibunya, Bara masuk ke dalam kamar mandi, tetapi sampai ia kembali lagi, suaminya itu masih saja betah di dalam.


Duduk menunggu tanpa kepastian, Bella dikejutkan dengan suara dering ponsel. Berdering dan berderit karena getarannya berbentur dengan nakas kayu.


Awalnya, Bella memilih mengabaikan, mengingat itu adalah ponsel milik suaminya. Ia tidak mungkin melewati batasannya meski pun statusnya istri Bara, tetapi suara ponsel yang tidak mau berhenti, jeda sebentar dan kembali berbunyi membuatnya mendekat.


Begitu melihat nama Kevin terpampang nyata di layar, Bella memberanikan diri untuk menerimanya. Toh, Kevin juga mengenal baik dirinya. Paling tidak ia bisa menyampaikan kepada asisten suaminya itu, kalau atasannya sedang mandi.


Baru saja jemarinya menggeser logo hijau, bahkan ia belum sempat menempelkan gawai itu dengan sempurna di telinganya. Suara Kevin yang familiar sudah terdengar nyaring tanpa bisa disaring.


“Pak, aku sudah mengurus semuanya. Brenda juga sudah dipindahkan ke ruangan yang lebih baik sekaligus ditangani oleh dokter terbaik. Aku pastikan tidak ada yang mengetahui campur tangan Pak Bara dibalik semua ini. Dan ...."


“Apa yang kamu lakukan, Bell? Kamu tahu, aku tidak suka dengan kelancanganmu!” tegas Bara, mematikan sambungan telepon sepihak.


Lelaki itu baru keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang.


Bella menunduk, seketika menyadari kesalahannya. Ia terlalu bersemangat mendengar rahasia yang disimpan suaminya berdua dengan Kevin sehingga tidak menyadari kehadiran Bara yang sudah berdiri di sampingnya.


“Maafkan aku, Mas,” ucap Bella pelan. Masih menunduk, Bella tidak berani beradu tatap dengan suaminya.


“Jangan diulangi,” tegas Bara.


Kata-kata yang tegas dengan intonasi sedikit keras, membuat Bella terpaku. Ditambah berita dari Kevin yang baru saja didengarnya membuat hatinya teriris-iris, terluka dan berdarah-darah. Berusaha menahan kelopak matanya yang memanas seketika dan mulai menampung titik-titik air.


“Mas, ibu mau bicara denganmu. Tolong temui Ibu, sebelum berangkat ke kantor. Hari ini Ibu pulang ke Surabaya, semoga Mas tidak lupa.”

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, Bella sudah berlari menuju pintu. Kalau terlambat sedikit saja, Bara akan melihatnya menangis. Suaminya bisa menyaksikannya terluka. Ia tidak mau itu terjadi. Sebisa mungkin ia akan menyimpan perasaannya sendiri. Berusaha tegar dan tidak mau jadi perempuan cengeng.


Bara tidak kalah terkejut, menatap punggung yang bergoyang ketika berlari.


“Bell, hati-hati!” ucap Bara panik, khawatir istrinya terjatuh dengan kondisi hamil muda. Melihat semua itu, timbul secercah rasa bersalah di dadanya.


Mencoba membaca kembali peristiwa beberapa menit yang lalu. Dari mulai Bella yang lancang menyentuh bahkan menerima panggilan di ponselnya. Ditambah kata-katanya yang lumayan keras, ditujukan pada istrinya yang kalem.


“Apa aku terlalu berlebihan memperlakukannya,” bisik Bara


***


Bella yang baru saja terluka, tampak bergegas menuju taman belakang. Tempat yang jarang didatangi penghuni rumah. Sangat jarang ada yang duduk dan menikmati pemandangan taman belakang kecuali Isabell. Gadis itu selalu suka bermain di taman belakang yang luas, lengkap dengan rumput hijaunya.


Air mata yang tertahan sejak tadi, langsung tumpah ruah tidak terbendung. Bahkan ia harus mengigit bibir supaya isaknya tidak terdengar nyaring. Memuasakan diri mengeluarkan isi hatinya yang sakit karena ulah suaminya sendiri.


Nama Brenda kembali disebut. Itu berarti suaminya masih berhubungan dengan mantan istri yang sangat dicintai suaminya itu.


Jangan ditanya perihnya, sakit bagai teriris. Lagi-lagi, masa lalu Bara kembali mengganggu kehidupan rumah tangganya. Dan ia hanya bisa duduk di sini menangis sesengukan.


Lama Bella menikmati paginya sembari merenung perjalanan pernikahannya. Perjalanan yang tidak terbilang mudah. Sebelum tinggal bersama di Jakarta, bahkan Bella sudah memasukan gugatan cerainya ke pengadilan Surabaya.


Setelah puas menumpahkan kekesalannya, Bella pun beranjak masuk kembali ke dalam rumah. Setidaknya, ia harus bergabung menikmati sarapan pagi, menyamarkan rencana tersembunyi yang sudah disusunnya beberapa menit yang lalu.


“Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya. Aku sudah mantap untuk ikut Ibu pulang ke Surabaya. Dan Icca akan ikut bersamaku!” batin Bella dengan penuh keyakinan.


***


T b c


Love You all.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2