
Masih menggenggam faktur dan karcis di tangan, Bella meraih pakaian kotor suaminya dan membawanya keluar ke laundry room, supaya besok bisa dicuci asisten rumah tangga. Untuk faktur dan karcis, kemudian disimpannya di laci nakas.
Perasaannya masih tidak tenang, apalagi selama ini Bara sudah sering tertangkap basah menyembunyikan banyak hal darinya dan membuat banyak dugaan buruk menari di otaknya. Dengan pikiran melayang, Bella menyeret kakinya menuju dapur, memanaskan makan malam yang sudah dingin ke dalam micrawave.
Bella menatap nanar ke microwave dengan lampu kekuningan, alas yang sedang memutar piring lauk di dalamnya membuat pikirannya menerawang. Larut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, sampai tidak sadar tiba-tiba Bara sudah berada di belakangnya.
“Kok cepat, Mas?” tanya Bella, terkejut saat kedua tangan Bara sudah memeluk pinggangnya.
“Aku sudah lapar sekali, Bell,” sahut Bara, yang tidak mengetahui kalau sang istri mengetahui sesuatu tentangnya. Lelaki itu menyibak rambut panjang istrinya dan mengecup tengkuk Bella, membuat kulit tubuh meremang seketika. Apalagi nafas berat, seperti sengaja diembuskan di sana.
“Sebentar lagi, Mas. Ini sudah siap,” ucap Bella, melepaskan diri, tidak mau larut dalam perlakuan menggoda Bara. Lelaki itu seperti sengaja memancingnya.
“Ih, Mas geli,” respon Bella, ketika Bara mengecup basah tengkuknya.
Kedua tangan Bara membelit pinggang istrinya, masih sibuk mengusap area perut yang membesar. Melepaskan kerinduannya sepanjang hari ini tidak bisa menyapa jagoan mereka.
“Bell, pakaianmu sudah sempit semua. Nanti ada waktu kita berbelanja gaun hamil lagi,” ucap Bara tiba-tiba.
“Sekalian melihat perlengkapan bayi,” lanjut Bara.
“Ya, Mas. Oh ya, apa besok aku boleh ke tempat Kailla?” tanya Bella, melepaskan diri dari belitan tangan suaminya. Segera mengeluarkan makanan dari microwave dengan asal mengepul dari piring keramik.
“Kamu mau ke tempat anak nakal itu lagi?” tanya Bara, mengerutkan dahi. Agak malas setiap istrinya bertemu dengan Kailla, pasti ada saja ulah istri Pram yang membuatnya meradang. Bara heran, bagaimana Pram bisa bertahan dengan wanita seperti Kailla yang nakalnya tidak ketulungan. Kalau bicara pedasnya seperti bon cabe level tertinggi.
Apalagi asisten Kailla yang tak lain lelaki yang pernah menyukai istrinya, semakin lagi membuat Bara tidak rela.
“Untuk apa?” tanya Bara lagi, terbayang kembali wajah tampan Ricko yang tersenyum menyapa Bella jika istrinya itu jadi berkunjung ke rumah Pram.
“Aku juga butuh teman, Mas. Di rumah tiap hari 'kan bosan juga.”
“Ti ... tidak! Kamu tidak boleh ke sana!” tolak Bara. Lelaki itu sudah mengambil posisi duduk bersiap menyantap makan malamnya.
“Cuma sebentar, Mas.”
“Nanti aku pikirkan lagi,” sahut Bara, menatap istrinya yang sedang menyendokkan nasi putih ke atas piring.
“Sudah, Bell. Jangan banyak-banyak nasinya.”
“Ya sudah. Ini makan dulu, Mas.” Bella mengambil posisi duduk tepat di depan Bara. Sambil menemani suaminya makan, ia akan mencari tahu apa yang terjadi sepanjang hari ini.
“Mas, sibuk sekali hari ini? Ada masalah di proyek?” tanya Bella, menatap suami yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Ya. Ada masalah di proyek, tetapi sekarang sudah beres,” sahut Bara tersenyum.
“Masalahnya berat? Sampai Mas pulang semalam ini,” tanya Bella, masih mengorek.
“Tidak. Jangan dipikirkan. Semuanya baik-baik saja,” sahut Bara, tersenyum. Tangannya meraih tangan Bella yang tergeletak diam di atas meja dan menggenggamnya erat.
Bella termenung, ingin bertanya lebih jauh tetapi ragu. Kalau tidak bertanya, hatinya jadi tidak menentu.
__ADS_1
“Mas, kapan-kapan kita ajak Icca jalan-jalan ke kebun binatang, ya,” ucap Bella memancing. Bukannya ia tidak tahu tempat apa itu Taman Safari. Selama ini Bella belum pernah diajak Bara jalan-jalan. Hanya dua kali sewaktu bulan madu dadakan di Bogor dan babymoon di Bali.
Bara tertegun. Tidak biasanya Bella meminta seperti ini, apalagi mengajak jalan-jalan. Hampir tidak pernah terjadi selama pernikahan mereka.
“Ya, nanti aku cari waktu senggang. Akhinya Bara menjawab dengan santainya.
“Kira-kira, kebun binatang yang bagus di mana, Mas?” pancing Bella lagi.
“Yang dekat di Ragunan, tetapi kalau mau lebih menarik di Taman Safari saja,” sahut Bara, kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Bella memperhatikan wajah suaminya dengan saksama, sedikitpun tidak terlihat seperti orang menyembunyikan sesuatu. Bahkan tidak ada aura gugup atau apapun di saat Bara menyebutkan Taman Safari. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, fakta yang ditemukannya di dompet Bara, tidak bisa membuatnya berhenti berpikiran buruk.
“Mas, apa kabar Rania?” tanya Bella, tiba-tiba. Entah kenapa, ia berpikir kalau tiket dan faktur hotel itu ada hubungannya dengan Rania dan Brenda.
“Beberapa hari yang lalu dia menghubungiku. Kabarnya baik-baik saja. Dia menitip salam untukmu.” sahut Bara dengan santainya.
“Kalau kabar ...." Bella tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Rasanya sungkan menanyakan kabar Brenda.
“Ada apa, Bell?” tanya Bara heran.
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Habiskan makananmu, Mas. Aku mengantuk, ingin tidur,” ucap Bella mengalihkan pembicaraan.
***
Keesokan harinya. Sore itu, setelah merayu Bara dengan berbagai macam cara, akhirnya Bella diizinkan berkunjung ke kediaman Kailla.
“Boo, kenapa tidak bilang-bilang kalau mau ke sini?” tanya Kailla, tersenyum bahagia menyambut kunjungan Bella ke rumahnya. Ia langsung merangkul Bella yang baru turun dari mobil.
“Tidak, tetapi dia akan menjemputku nanti sepulang dari kantor,” sahut Bella, terlihat cantik dengan gaun baby doll berbahan brokat yang menutupi perutnya. Dengan susah payah ia membujuk Bara agar diizinkan mengunjungi Kailla, sampai akhirnya lelaki keras kepala itu mengalah. Dengan berbagai syarat, salah satunya tidak boleh berkunjung terlalu lama.
“Ya sudah. Ayo masuk ke dalam,” ajak Kailla, membawa Bella masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumah terlihat Pram yang sedang duduk di ruang tamu, memangku laptopnya.
“Om,” sapa Bella, tersenyum ramah pada Pram.
Suami Kailla itu hanya mengangguk dan mempersilakan keduanya menikmati waktu bersama dan memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Kailla mengajak Bella mengobrol di kamarnya. Sebenarnya Bella sungkan, tetapi Kailla memaksa.
“Sudah, Boo. Anggap saja kamar sendiri,” ucap Kailla tersenyum.
“Suamiku tidak seperti suamimu mengerikannya,” ucap Kailla, dengan asal, tanpa berpikir bisa saja membuat Bella tersinggung. Namun, Kailla tetaplah Kailla. Suka akan bilang suka, tidak suka dia akan terus terang.
Mendengar suaminnya disebut-sebut, kembali Bella terpikir dengan apa yang ditemukan di kantung celana suaminya.
“Kai, suamimu apa pernah berbohong?” tanya Bella tiba-tiba. Ibu hamil itu duduk di sofa kamar, tepat di sebelah Kailla. Menatap lekat teman baiknya itu, menunggu jawaban. Sejak semalam, perasaannya gusar, tidak karuan. Tangannya saling meremas, bingung mau bercerita atau tidak.
“Apa maksudmu, Boo? Suamimu berbohong? Bagaimana kamu tahu dia berbohong?” cerocos Kailla, mulai penasaran.
Bella terdiam, ada rasa bersalah saat Kailla menuduh suaminya seperti itu. Sebenarnya ia tidak mau bercerita, tetapi perasaannya mengambang sejak semalam.
__ADS_1
“Apa yang terjadi, Boo?” tanya Kailla, mencecar Bella dengan pertanyaan lagi.
“Aduh, Boo. Kalau belum pasti-pasti, kenapa harus dipikirkan. Kasihan dedek bayinya. Jangan sampai stress,” ucap Kailla, menenangkan dan ikut mengelus perut Bella.
“Aku ... aku khawatir kalau suamiku berselingkuh,” ucap Bella pelan. Akhirnya ia menumpahkan perasaannya.
“Aduh, Boo. Kamu sudah melihat sendiri? Dengan mata kepala sendiri? Suamimu berubah?” tanya Kailla.
Bella menggeleng.
“Kalau begitu kenapa dipikirkan. 'Kan baru dugaan, Boo. Jangan sampai salah paham merusak rumah tanggamu. Kecuali kamu melihat sendiri suamimu berselingkuh atau mendengar sendiri.”
“Aku hanya menduga.”
“Sudah, jangan dipikirkan. Kalau ragu tanyakan langsung padanya. Aku juga begitu, kalau ada yang aku curigai, aku akan menodong suamiku. Kalau perlu mengambek, membuat dia mengerti kalau aku tidak menyukai kalau dia dekat-dekat dengan wanita lain,” cerocos Kailla.
“Suamimu beda, Kai.”
“Sama saja. Setiap suami itu tidak suka dicurigai, apalagi mengenai perempuan, terlebih kalau mereka tidak terbukti melakukan perselingkuhan. Mereka lebih suka kita berterus terang atau mengamuk seperti anak kecil,” jelas Kailla.
“Memang suamimu pernah, Kai?” tanya Bella, mengerutkan dahinya. Melihat suami Kailla yang begitu sayang, rasanya tidak mungkin.
“Ya pernahlah, Boo. Itu artinya suami kita masih laku, masih memiliki nilai jual tinggi meskipun kerutan di mana-mana,” sahut Kailla asal.
“Pelakor itu tidak perlu ditakuti, harus dilawan, Boo. Mereka itu sama saja seperti setan. Semakin kita takut, makin mereka berani, tetapi kalau kita berani mereka juga ciut.”
Bella terbelalak mendengar penuturan Kailla. Sahabat manjanya ini ternyata sudah menamatkan diri melawan pelakor. Terbukti kata-katanya begitu penuh percaya diri.
“Yang terpenting pastikan Om Bara termasuk lelaki yang gampang tergoda apa tidak. Kalau memang dia setia, jangan takut dan mudah berpikiran buruk, Boo.”
“Pelakor itu hanya bisa beraksi kalau si laki-laki juga kegatelan. Kalau tidak, dia hanya bisa gigit jari di depan pintu.”
Bella mendengar petuah-petuah yang disampaikan Kailla padanya dengan saksama.
“Aku kasih tahu ya Boo. Setiap berhadapan dengan perempuan yang menggoda suami kita, jangan pernah memarahi suami di depan perempuan itu. Kalau perlu, dil'umat habis bibir suami walaupun dalam hati kesal. Biar pelakor mati berdiri, langsung gulung tikar. Kita para istri harus pintar, Boo,” ucap Kailla lagi.
“Perempuan penggoda itu paling senang kalau kita bertengkar dengan suami. Makanya jangan sekali-sekali. Kalau mau menguliti suami, nanti sampai di rumah. Kamu bisa mengulitinya sampai puas. Kalau perlu, perkututnya dibalsamin,” lanjut Kailla, tanpa sadar suaminya sudah berdiri di tengah pintu, mendengar ucapannya.
Deg—
Kailla terdiam, menutup mulut dengan kedua tangannya melihat suaminya yang melotot padanya.
“Sayang kenapa masuk tidak mengetuk?” tanya Kailla, menelan saliva.
“Ada Bara di bawah. Mau menjemput Bella,” jawab Pram, dengan wajah kaku.
“Pantas saja, Bara tidak mengizinkan kedua anak ini bertemu. Ternyata di belakang, mereka sering menggosipkan perkutut para suami,” gumam Pram dalam hati.
“Astaga Om Bara! Baru juga beberapa menit, sudah main jemput saja,” omel Kailla, mengajak Bella turun.
__ADS_1
***
TBC