
Kalimat pengulangan yang meluncur lancar dari bibir suaminya, Bara. Suami yang beberapa jam lalu terlihat sempurna tanpa cela, tetapi saat ini tiba-tiba berubah. Bara tak lebih dari laki-laki pecundang yang terlihat hina di mata Bella.
Kalimat Bara seolah memastikan kembali kalau pendengarannya tidak salah. Bagai petir yang menyambar tiba-tiba. Bagaimana laki-laki tampan yang begitu baik hati, menjadi pahlawan di keluarga sederhananya tiba-tiba menjadi perusak hubungannya dan sang kakak, Rissa.
"Bell," panggil Bara setelah ucapan terakhirnya tidak mendapat respons apa pun dari istrinya.
Tangan kekar itu memberanikan diri menyentuh Bella yang tertunduk tanpa ekspresi.
"Jangan sentuh aku, Mas!" bentak Bella, menatap Bara tajam.
"Kamu menjijikkan, Mas," lanjut Bella.
Bola mata indah itu mulai mengkristal. Dengan susah payah Bella menahan, tetap saja air mata itu mengalir turun.
"Bell, maafkan aku. Kejadiannya sudah lama ... bukan sekarang," jelas Bara, memohon.
"Aku tidak pernah melakukannya lagi. Itu pun ... aku tidak tahu apa-apa. Rissa sengaja menjebakku," lanjut Bara.
"Maksud Mas, Kak Rissa menjebak supaya bisa tidur denganmu, Mas?" tanya Bella, terisak.
Bara mengangguk, berusaha meredam emosi Bella yang terlanjur mengumpul.
"Tega kamu, Mas. Kalau Mas memperlakukan Kak Rissa dengan baik, tidak mungkin Kak Rissa melakukannya," omel Bella, menghapus air mata yang turun di pipi.
"Bell, aku tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba sudah terbangun berdua dengan Rissa di kamar hotel." Bara masih berusaha menjelaskan.
"Rissa menjebakku dan menggunakan foto-foto kebersamaan kami untuk mencapai tujuannya. Termasuk menahanmu tetap di Surabaya, memaksa untuk tetap tinggal di rumahku dan banyak permintaannya yang lain lagi," lanjut Bara.
Bella menggelengkan kepalanya.
"Setelah menipu perasaan Kak Rissa, Mas malah memfitnahnya."
"Aku tidak berbohong, kakakmu murahan. Walau aku menipu perasaannya, tidak sekali pun aku mau menyentuhnya," jelas Bara.
Plak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bara.
__ADS_1
"Maaf, kalau aku lancang dan berani mengangkat tanganku padamu, Mas. Tapi itu untuk semua sakit yang Mas toreh padaku dan Kak Rissa."
"Bell, aku mohon maafkan aku. Aku bersalah padamu. Aku berkhianat walau tidak sengaja."
Bara menerima tamparan Bella dengan lapang dada. Ia menyadari, tamparan itu pantas untuknya.
Bella tidak menjawab, hanya menatap suaminya dengan berurai air mata. Hatinya terasa sakit, Bara menghunjamkan pisau tepat di jantungnya dan sekarang menariknya tanpa berperasaan.
"Aku menyesal, Mas. Harusnya ... aku tidak mendengar bujukanmu, Mas. Harusnya aku tetap melanjutkan proses perceraian kita," ucap Bella sambil terisak.
"Tidak. Aku tidak mau bercerai. Jangan berharap bisa bercerai dariku," tegas Bara.
Lama keduanya terdiam di posisi masing-masing, saling menenangkan diri. Akhirnya Bella membuka suara, setelah menghapus jejak air mata yang tertinggal di pipi. Ia sudah lelah menangis.
"Icca ... apakah Icca putri kandungmu, Mas?" tanya Bella, menatap nanar berharap jawaban Bara kali ini tidak semenyakitkan sebelumnya.
"Tidak. Icca bukan putriku." Bara buru-buru menjawab dengan penuh ketegasan.
"Sampai sejauh mana saja hubungan Mas dan Kak Rissa?" tanya Bella lagi, mencari tahu.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa. Tidak ada perasaan apa-apa. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya, kecuali saat Rissa menjebakku. Aku sendiri tidak tahu, itu benar atau karangan Rissa saja,” sahut Bara, berusaha menjelaskan dan mengambil kembali kepercayaan Bella.
“Bagaimana bisa mendapatkan bukti kejadian sebenarnya di dalam kamar hotel itu. Hanya ada aku yang tidak sadarkan diri dan Rissa yang ada di dalam. Hanya Rissa yang tahu, apa yang terjadi!” ucap Bara.
“Kamera CCTV tidak menyorot di dalam kamar hotel.” lanjut Bara lagi.
"Aku tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak peduli. Silakan dia menyimpan bukti-bukti itu. Dia sudah tidak bisa memaksaku lagi."
"Aku mau tidur sekarang. Mas tidur di tempat lain saja" pinta Bella dengan wajah sembabnya.
"Maafkan aku, tidak bisakah memberiku kesempatan lagi, Bell?" tanya Bara, berusaha meraih tangan Bella.
"Maaf, Mas. Aku sedang tidak ingin melihatmu," jawab Bella, menghempas kasar tangan Bara.
"Bell," panggil Bara, memohon.
Namun, istrinya sudah berbaring membelakanginya. Bahkan Bella tidak mau menatapnya saat ini. Sakit hati Bella terlampau dalam, tidak mungkin sembuh dengan sepatah kata maaf.
__ADS_1
Bella terisak menangis, meratapi nasibnya yang jauh dari kata bahagia. Ia sudah merelakan hidupnya untuk menjadi istri Bara dan ibu dari Issabell, tetapi tepat di saat ia menjadi istri Bara sesungguhnya, suaminya malah memberi hadiah yang tidak pernah di duga.
Rasa sakit yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rasanya ingin menolak percaya, tetapi ini nyata. Bahkan bibir suaminya sendiri yang mengakui. Ada banyak pikiran melayang di otaknya, tetapi tidak ada satu pun yang menawarkan jalan keluar untuknya.
Ingin rasanya pergi meninggalkan Bara, tetapi bagaimana dengan Issabell dan Ibu. Kalau tetap bertahan, hubungannya dengan Rissa akan tetap memburuk. Jelas-jelas, Rissa menginginkan perpisahannya dengan Bara.
Lelah berpikir, lelah menangis, akhirnya Bella tertidur. Tertidur dengan air mata yang masih saja saja mengalir tanpa bisa dibendung.
****
Bara terbangun di pagi hari dengan sakit dan penat di lehernya. Ia harus rela tidur di sofa semalaman demi menghindari Bella yang tidak mau berbagi ranjang dengannya. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya dari silau matahari yang menerobos masuk melalui celah tirai kamarnya.
"Sudah jam sembilan," ucapnya pelan sembari memandang jam yang tergantung di dinding kamar.
Bara sedang merenggangkan otot-ototnya, saat pandangan pria itu tertuju pada ranjang kosong, tidak berpenghuni. Jantungnya berdetak kencang, pikiran buruk langsung menyergap.
"Bella ...." Berbisik lirih.
Seketika Bara mengedarkan pandangannya . Mencari jejak dan bayangan Bella yang tiba-tiba menghilang dari kamar. Berlari menuju kamar mandi, ia mengobrak-abrik di sana.
Kosong.
Tidak ada Bella di dalam kamar mandi. Bergegas menuju ke balkon, siapa tahu istrinya sedang menikmati matahari pagi.
Nihil. Bella juga tidak ada di sana. Ketakutannya semakin bertambah, saat menghubungi ponsel Bella yang tidak diangkat sama sekali.
"Bell, kamu di mana, Sayang. Jangan menakutiku," bisik Bara mulai panik.
Berlari keluar dengan pakaian tidur, mencari Bella yang menghilang dari kamar.
****
T B C
Terima kasih.
love you all
__ADS_1
Bara dan Bella