
Tangisan kencang bayi mungil itu sontak membuat Bara dan Bella kelimpungan. Amarah yang sejak tadi menguasai keduanya, mendadak menguap. Hilang, lenyap dalam hitungan detik. Bella segera meraih tubuh mungil Real, mendekapnya erat dengan bibir membujuk. Walau Bella tahu, bisikan dan bujukannya tidak akan berpengaruh. Bayi Real masih terlalu mungil untuk paham bahasa ibunya.
"Bell, berikan padaku. Biarkan aku menimangnya." Bara menyodorkan tangannya setelah melihat istrinya meringis kesakitan karena tak sengaja bergerak terlalu kekencangan.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Adek lapar sepertinya," sahut Bella dengan suara melembut tiba-tiba. Kekesalannya tadi menghilang tanpa jejak.
Suara tangis Real perlahan mengecil dengan dekapan Bella dan usapan lembut Bara. Daddy dan mommy itu terlihat begitu telaten, bahu membahu membujuk buah hati mereka. Pergerakan keduanya seperti sudah saling mengerti satu sama lain. Satu menimang, yang lain bersenandung. Satu menepuk pelan, yang lain membujuk.
Real membuat keduanya berdamai tanpa bersalaman dan saling memaafkan, menurunkan ego masing-masing sampai titik nol tanpa harus mencari alasan.
"Mas, tolong pegang adek sebentar, aku harus membuka kancing dan braku dulu."
"Aku saja, Bell. Nanti kalau bergerak lagi, tangis Real semakin menjadi." Bara beralasan. Laki-laki itu memilih membantu membuka kancing dan mengeluarkan susu Real yang tersembunyi di balik gaun rumah Bella.
Tak lama, keduanya bisa melihat bagaimana Real yang kelaparan meneguk asi sampai nyaris tersedak.
"Pelan-pelan, Dek. Daddy tidak akan berebutan denganmu." Bara berjongkok demi melihat aktivitas istri dan anaknya dari dekat, mengusap lembut pucuk kepala Real dengan lembut.
Terdengar napas bayi Real yang tersengal. Bunyi tegukan itu begitu jelas saat bayi mungil itu menelannya buru-buru.
"Sakit, Bell?" tanya Bara, melihat Bella meringis lagi di sela decapan bibir mungil putra mereka.
"Sedikit. Adek sepertinya lapar. Mengisap dengan kencang," ucap Bella sembari meringis.
"Sebelahnya basah, Bell," ucap Bara. Menunjuk puncak bukit kembar yang tak tersentuh, mulai merembes, tercetak basah dan jelas di gaunnya.
"Ya, Mas. Nanti mau dipompa keluar. Adek hanya minum sebelah. Itu saja tidak habis," jelas Bella.
"Wah, apa perlu daddy turun tangan?" canda Bara, sontak mendapat tatapan tajam. Tapi wajah cemberut itu tidak berlangsung lama. Kedua sudut bibir Bella tertarik ke atas saat melihat Bara berjalan menuju ke meja, di pojok kamar. Mengeluarkan pompa asi dan botol kaca dari dalam steamer.
"Meskipun dia kaku dan suka naik darah, tidak peka dan suka marah-marah. Tidak romantis dan keras kepala. Namun, di saat seperti ini, daddy terlihat manis dan tiada duanya, Sayang," ucap Bella pelan pada bayinya. Berbicara dari hati ke hati, menceritakan bagaimana manisnya sang daddy, supaya kelak Real akan mengingat hal indah dari seorang Bara. Searogan apa pun Bara, laki-laki itu masih menjadi daddy terbaik untuk putra putri mereka saat ini.
Kaki Bara berhenti melangkah, saat tanpa sengaja mendengar ungkapan manis dari bibir Bella. Ingin rasanya menghambur dan memeluk, menghujami Bella dengan kecupan mesra.
__ADS_1
"Benar begitu, Bell?" tanya Bara ragu-ragu. Berdiri dengan pompa asi di tangannya.
"Ya, Mas. Apa pun yang terjadi, bagaimana pun sikap dan sifatmu, aku sudah menerima apa adanya, tidak pernah protes sedikit pun. Aku tidak benar-benar mengeluh dari dalam hati."
Kalimat Bella terhenti, mengangkat pandangannya. Suaminya sedang tersenyum manis akan pujian yang baru saja terlontar dari bibirnya.
"Aku juga tidak serius dengan kata-kataku, Bell." Bara menjatuhkan tubuhnya di samping Bella, menatap Real yang hampir tertidur lagi. Buah hati mereka yang sering menjadi alasan perdebatan, tidak jarang menjadi alasan Bara dan Bella memilih berdamai.
"Rumput tetangga memang hijau, Bell, tetapi tetap saja aku menyukai rumput di halaman rumahku meskipun menguning dan hampir mati tertiup angin musim kering. Mungkin itu salahku juga, lupa merawatnya." Bara berkata, sesekali menatap istri dan anaknya.
"Aku tahu, Mas. Aku juga tidak berminat dengan perkutut Pak Lurah. Meskipun perkututmu tidak bisa apa-apa. Tidak bisa berkicau, tidak bisa bersenandung, aku tidak akan berpaling, Mas."
Keduanya tergelak, perlahan lengan kekar itu merangkul mesra pundak istrinya. Gelak mereka terhenti saat bayi Real terusik dengan suara tawa nyaring daddy dan mommynya.
"Ssttt! Letakan biarkan aku yang menggendongnya. Kamu bisa memompa keluar asimu sekarang. Apa perlu aku yang melakukannya juga?" goda Bara, mengedipkan matanya.
"Maumu itu, Mas!" gerutu Bella.
***
Kehangatan menyelimuti keluarga kecil Bara di lembayung senja. Bara dan Bella terlihat duduk di teras samping, mengawasi putri-putri mereka dari kejauhan.
"Ibu ... kira-kira bagaimana reaksi ibu, Bell? Saat mengetahui kalau Issabell benar-benar cucunya, putri dari Rissa Cantika. Menurutmu apa yang akan dipikirkan Ibu."
Bella menggeleng.
"Sebaiknya Mas saja yang menceritakannya pada Ibu. Sejak dulu kalian adalah soulmate," ucap Bella, melirik Bara sekilas. Selanjutnya kembali fokus pada Rania dan Issabell yang berlarian mengelilingi taman.
"Hahaha! Kamu cemburu pada ibu, Bell?" tanya Bara, menangkap nada bicara Bella yang sedikit berbeda.
"Tidak, itu kenyataannya." Bella menjawab datar.
"Mas, ingat sewaktu kita baru menikah. Tidak sekali pun Mas menghubungiku, menanyakan kabarku. Padahal aku istrimu, Mas. Sebaliknya, aku tahu kalau Mas diam-diam menghubungi ibu. Walaupun tidak sering, Mas pasti menyempatkan menghubungi ibu," lanjut Bella.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bell. Aku tahu, aku tidak termaafkan." Bara tertunduk.
"Kalau tidak ada Ibu, aku mungkin sudah meninggal karena over dosis obat tidur atau ... over dosis minuman keras." Bara bercerita, tatapannya menerawang jauh. Mengingat masa lalunya dulu sewaktu baru tiba di Surabaya.
Bella tersentak. Kisah ini, tidak ada seorang pun yang menceritakan detail padanya. Ibu bungkam, bahkan selama ini ibunya menyimpan semua cerita masa lalu Bara seorang diri.
"Ibu adalah temanku berbagi keluh kesah. Dia tahu bagaimana perjuanganku melupakan Brenda dan kegagalan pernikahanku."
Bella beralih menatap Bara. Ada tanya yang selama ini disimpannya. Penasaran, tetapi takut akan terluka saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Mas ...." Ragu-ragu Bella menyerukan suaminya.
"Mmm ... ada apa, Bell? tanya Bara.
Diam sejenak, mommy Rania, Issabell dan Real itu menatap lekat suaminya. Ingin bertanya tetapi ragu. Tidak bertanya, semua akan jadi abu-abu dan mengendap di dalam kalbu.
"Apa yang membuat Mas begitu mencintai Mbak Brenda?" Akhirnya tanya itu terlontar keluar dari bibir tanpa lipstik. Pucat dan sederhana.
"Kenapa jadi ingin banyak tahu tentang masa laluku, Bell?" Bara tidak menjawab, sebaliknya netra biru itu sedang mencari jawaban dari raut datar istrinya.
"Aku hanya ingin tahu saja, Mas. Itu masa lalumu, Mbak Brenda pun sudah tiada. Seharusnya tidak ada alasan lagi kita bertengkar, apa pun jawabanmu, Mas."
"Masa lalu memang tetap milik masa lalu. Apapun jawabanku, tidak bisa mengubah masa depan, mungkin tidak akan berpengaruh pada hubungan kita, tetapi bisa saja membuatmu terluka." Bara menolak menjawab.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi, sejak aku berani menemuinya." Bara menjawab pelan.
"Aku tahu, Mas."
"Aku susah untuk bisa jatuh cinta, tetapi saat terjatuh ke dalam kubangan cinta, aku akan susah untuk bangkit lagi, meskipun sudah disakiti berkali-kali."
***
TBC
__ADS_1