
Begitu sambungan video itu dimatikan, kedua tangan Bara mendekap istrinya dari belakang. Sedikit membungkuk, menatap pantulan wajah cantik Bella dari cermin meja rias.
“Jangan marah, Bell. Nanti aku akan membelikanmu siomai. Kamu mau berapa porsi? Satu, dua atau mau sama gerobaknya?” tawar Bara, melunak. Laki-laki itu masih dalam mode merayu istri yang sedang merajuk.
“Tidak perlu, Mas. Kailla sudah mengirim asistennya yang paling tampan membelikannya untukku. Padahal aku sudah mengatakan besok saja, tetapi Kailla langsung meminta Kak Ricko membelinya sekarang. Menurut Kailla, kalau lagi hamil dan menginginkan sesuatu tidak boleh ditunda-tunda. Nanti anaknya bisa menyebalkan sepertimu, Mas,” gerutu Bella, menyindir suaminya.
Ucapan Bella seperti menamparnya. Laki-laki itu menelan saliva, sembari mencuri tatap pada istrinya dari cermin meja rias.
“Maaf Bell, aku tadi tidak serius. Jangan marah. Aku janji akan membelikannya untukmu,” ucap Bara, memohon.
“Mas itu memang selalu begitu. Setiap kali aku menginginkan sesuatu, pasti mulutmu jalan duluan, Mas. Baru kakinya belakangan. Di mana-mana itu ya, Mas. Kalau apa-apa itu, kaki yang jalan duluan,” gerutu Bella.
“Apa aku seperti itu di matamu, Bell?” tanya Bara dengan wajah bersalahnya.
“Tanya pada dirimu sendiri, Mas. Kamu lebih tahu seperti apa dirimu. Aku sudah lelah, kalau protes nanti dikira tidak bersyukur mendapat suami sepertimu.”
Wajah Bara kian memelas, semakin mengeratkan pelukannya. “Maafkan aku, Bell. Apa aku begitu kelewatan sebagai seorang suami?” tanya Bara.
Menghela napas kasar, Bella memandang suaminya yang bertumpu di pundaknya dengan manja.
“Mas itu baik, apalagi pada orang lain, saaaaaaangattt ... baik. Hanya saja, Mas suka lupa cara menyayangi istri sendiri,” sindir Bella.
Ucapan Bella kali ini, langsung mengena ke hati Bara. Terlihat sekali lelaki itu menghujami kecupan di pipi istrinya sebagai permintaan maaf.
“Maafkan aku, Bell,” bisik Bara, dengan nada memohon. Dengan lancang, laki-laki itu menautkan jari-jarinya pada jemari Bella.
“Sudah Mas, aku sudah melupakannya. Bukannya Mas tadi mengatakan masih ada pekerjaan. Mau mengecek email dari Kevin.” Bella mengingatkan.
“Oh ya, aku hampir lupa. Kalau ada apa-apa, aku di ruang kerja.” Bara berpamitan.
Langkah laki-laki itu terhenti dengan pikiran mengembara ke mana-mana saat bunyi ketukan di pintu dan suara asisten rumah tangga yang memanggil Bella.
“Nyonya, ada tamu di luar,” ucap sang asisten, beriringan dengan ketukan lembut di pintu kamar.
Mendengar kalimat itu, Bella langsung menghambur, melewati Bara yang mematung. Sebaliknya, alarm di otak laki-laki itu langsung berbunyi. Layaknya sirene yang berteriak, mengingatkan sebentar lagi akan ada bencana.
“Bell, mau ke mana?” tanya Bara, cemburu yang mendarah daging di dalam dirinya kembali mencuat ke permukaan. Lupa sudah dengan rencana awalnya, ingin mengecek pekerjaan kantor.
“Ada tamu untukku, Mas.”
Bella menjawab seadanya, segera keluar untuk menemui tamu yang akan membawakannya sajian istimewa.
__ADS_1
Setengah berlari diiringi teriakan Bara yang mengikuti di belakang. “Bell, jalannya pelan-pelan,” teriak Bara.
Sudah tidak peduli dengan nada peringatan Bara, Bella terlalu bersemangat dengan siomai panas yang sebentar lagi akan menggoyang lidahnya.
Sampai di depan teras, Bella mengerutkan dahi. Tamu yang dimaksud tidak tampak sama sekali. Jangankan bayangannya, aromanya saja tidak tercium. Baru saja, Bella akan berbalik dan memastikan, dari arah dalam rumah, Bara muncul dengan senyum merekah di bibirnya.
“Ada apa Bell?” tanya Bara.
“Tidak ada tamunya.” Bella mengerutkan dahi.
Dari arah luar gerbang, terdengar teriakan Ricko memanggil setengah berteriak. “Bell, ini aku Ricko, boleh masuk?” teriak Ricko yang mengintip dari jeruji pagar.
“Ya Tuhan, kenapa Kak Ricko tertahan di sana?” tanya Bella sembari berlari ke pos security. Ibu hamil itu sudah memberi perintah.
“Buka pintunya! Apa-apaan ini!”gerutu Bella.
Tampak Ricko dengan senyum manis menenteng kantong bening dan menyerahkannya pada Bella saat pintu gerbang terbuka sebagian. Bara yang mengekor langkah istrinya, menatap sinis pada laki-laki yang berdiri di depan gerbang, tidak berani masuk.
“Ayo masuk, Kak Ricko,” tawar Bella, merasa tidak enak hati. Setidaknya menawarkan segelas air putih untuk basa-basi.
“Ehemmm ....” terdengar dehaman keras di belakang Bella, sontak mengalihkan perhatian wanita itu.
“Eh ... tidak perlu mampir, Bell. A ... aku hanya membawa titipanmu. Itu sesuai dengan seleramu,” ucap Ricko terbata dengan wajah ketakutan. Tatapan Bara begitu mengerikan, terbayang setiap mereka berhadapan, Ricko harus merelakan wajah tampannya menjadi sasaran empuk Bara.
“Ini pasti ulahmu kan, Mas?” todong Bella, menatap tajam suaminya. Temaram senja tidak sanggup menutupi senyum bahagia penuh kemenangan yang tercetak di wajah menyebalkan Bara.
“Ulah apalagi, Sayang?”
“Kak Ricko tertahan di gerbang. Itu pasti ulahmu, kan?”
“Jelas-jelas aku tidak tahu menahu masalah ini. Sejak tadi aku bersamamu, Bell.” Bara membela diri.
“Ya, tapi security di depan itu bekerja atas perintahmu, Mas?” serang Bella.
“Jangan marah-marah lagi, aku tidak menyukai Ricko!” ucap Bara, mengunci tubuh Bella tiba-tiba dari belakang. Tanpa malu-malu mendekap istrinya di halaman rumah, agar berhenti mengomelinya.
“Aku akui itu. Setiap melihat wajah tampannya itu, bawaannya ingin memukulnya, Bell. Aku masih mengingat bagaimana dia menatapmu penuh cinta waktu itu.”
“Mas, sadar. Istrimu itu sedang hamil. Memang Mas pikir ada yang menyukai wanita dengan perut buncit sepertiku!”
“Wanita hamil itu terlihat semakin cantik, Bell. Semakin mengemaskan,” lanjut Bara.
__ADS_1
“Sudah, aku tidak mau berdebat denganmu, Mas. Aku selalu kalah.” Bella menyikut perut Bara, agar laki-laki itu melepas kuncian tangannya. Bergegas masuk ke dalam rumah untuk menikmati siomai yang rasanya sudah di ujung lidah.
***
Dua hari berlalu.
Siang itu seperti akhir pekan biasanya. Hari libur keluarga kecil Wirayudha hanya diisi dengan berbincang dan bercanda di kamar dengan putri mereka, Issabell.
“Icca belum mau tidur?” tanya Bella, setelah lelah melihat Issabell meloncat tanpa henti di ranjang empuknya.
“Ayo berhenti main loncat-loncatannya, nanti Daddy marah.” Bella berucap kembali, mengingatkan putrinya. Sejak tadi Bara di kamar mandi, entah apa yang dilakukan laki-laki itu.
“Nanti, Mi.” Issabell masih meloncat sembari tertawa.
Bella hanya bisa duduk bersandar di tempat tidur sembari mengelus perut besarnya. Memejamkan mata, menahan kantuk yang tiba-tiba menyerangnya. Mata ibu hamil itu membuka saat mendengar derit ponsel yang bergetar tanpa suara di atas nakas.
“Rania ....” Bella berucap, saat melihat nama penelepon yang sedang menghubungi suaminya.
“Mas ... Rania menghubungimu, aku angkat ya,” ucap Bella, meminta izin.
“Ya, Bell,” terdengar teriakan Bara dari dalam kamar mandi.
Belum sempat menggeser logo hijau di layar, panggilan itu berhenti. Berganti dengan suara pesan masuk.
“Mas, apa sandi ponselmu. Sepertinya ada pesan masuk,” tanya Bella, sekarang ibu hamil itu sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
“120902, Sayang. Bukannya aku sudah memberitahumu.” Tiba-tiba Bara sudah berdiri di depan pintu.
“Maaf, aku lupa.”
“Diingat, seumur hidup aku tidak akan mengganti kata sandi. Itu tanggal kematian orang tuaku. Bahkan semua orang tahu, seberapa penting tanggal itu untukku. Hanya istriku saja yang tidak pernah mencari tahu.” Bara bercerita sembari menyentil kening istrinya.
Bella berbalik menatap suaminya. Selama ini dia tidak pernah tahu kisah kedua mertuanya. Bara tidak pernah mengungkit. Bahkan sampai sekarang, Bara belum pernah mengajaknya ke makam mertuanya, meskipun sempat terucap dari bibir suaminya akan membawanya berkunjung ke sana.
“Kenapa Bell?” tanya Bara tersenyum.
“Maaf, aku tidak tahu apa-apa tentangmu, Mas,” ucap Bella, merasa bersalah. Tangannya sudah memasukan kode sandi di ponsel suaminya. Wanita hamil itu masih enggan menyerahkan gawai itu pada pemiliknya. Memilih mengecek sendiri isi pesan masuk yang menggelitik hatinya.
Mata Bella membulat saat melihat pesan masuk dari Rania. “Mas ....” ucap Bella, dengan mata berkaca-kaca.
***
__ADS_1
TBC