
Masuk ke dalam kamar perawatan dengan kostum yang terasa aneh bagi Bara, tetapi di mata istri dan mertuanya tampak biasa saja. Bella berbaring miring di atas brankar setelah sebelumnya sempat diperiksa oleh dokter jaga dan perawat di IGD
“Bagaimana, Bu?” tanya Bara, bergegas mendekati Bella. Bara memilih bertanya pada Ibu Rosma, setelah melihat Bella meringis sembari meremas seprai putih rumah sakit.
“Tadi sudah diperiksa. Sepertinya baru bukaan dua. Dokter yang biasa menangani Bella sedang dalam perjalanan.” Ibu Rosma menjelaskan.
“Lalu?” Bara meraih tangan Bella yang terus-terus mengenggam seprai. Istrinya sejak tadi mengernyit menahan sakit tanpa suara.
“Lalu apanya. Hanya bisa menunggu bukaannya cukup, baru bisa melahirkan.” Ibu Rosma yang sudah berpengalaman, menjelaskan. Wanita itu berdiri di sisi ranjang lainnya, tepat di belakang Bella. Tangan keriputnya mengusap lembut punggung Bella tanpa henti.
Bara hanya mengangguk, menghela napas berulang kali saat aroma minyak kayu putih dari kemeja yang tiba-tiba menyengat menusuk hidung.
“Sakit Mas,” lirih Bella pelan, meremas tangan Bara dengan kencang.
“Ya, Sayang. Sabar, sedikit lagi.” Di saat seperti ini, laki-laki itu hanya bisa menguatkan dengan ucapannya. Merelakan tangannya diremas sang istri, dijadikan pelampiasan akan sakit yang datang dan pergi setiap beberapa menit sekali.
Menunggu hampir satu jam, pintu kamar terbuka tanpa permisi. Muncul Ibu dokter yang sudah sangat dikenali pasangan suami istri itu, masuk dengan wajah berhias senyum.
“Bagaimana, Ibu? Maaf saya sedikit terlambat. Ada sedikit kendala di perjalanan,” ucapnya. Wanita dengan jas putihnya itu ditemani seorang perawat dengan nampan stainless di tangan.
“Ya, Dok.” Wajah lega Bara begitu kentara. Bagaimana tidak, sejak tadi istrinya menahan sakit, dengan wajah pucat. Sebagai suami, tentu saja tidak tega melihat Bella seperti itu, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Selain menguatkan dengan bisikan-bisikan penyemangat dan usapan-usapan hangat.
“Maaf ya, Bu. Saya harus memeriksanya sebentar,” ucap sang dokter dengan santai, memakaikan sarung tangan karet putih ke tangannya.
Dengan dibantu perawat, Bella memposisikan kedua kakinya supaya terbuka lebar, memberi akses untuk sang ahli memeriksa.
“Mas, jangan kemana-mana,” pinta Bella dengan lemah. Menahan tangan suaminya yang hendak menjauh. Mata wanita yang menahan rasa sakit itu tampak memohon. Disaat seperti ini, selain ibunya, dia ingin ditemani Bara. Tidak ingin ditinggal sama sekali.
“Tidak apa-apa, Pak. Bisa tetap di sini,” ujar sang dokter, cukup mengerti dengan kesungkanan Bara.
__ADS_1
“Ya. Aku tidak kemana-mana, Bell.” Bara kembali mendekat. Meraih tangan Bella dan menggengamnya erat. Dengan tangan lainnya mengusap kening sang istri yang mulai berkeringat. Kecupan hangat dilabuhkan.
Dokter wanita yang sudah siap di posisinya, berdiri di antara kedua kaki Bella, tampak berusaha bersikap tenang. Dia bisa melihat pasiennya sedang dalam kondisi tidak baik. “Ibu tarik nafas dalam, ya,” ucapnya lembut. Masih sempat berucap pelan, sebelum memasukan jemarinya ke dalam inti tubuh Bella.
Genggaman tangan Bella mengeras, meremas jari-jari tangan Bara seiring jemari dokter yang semakin melaju ke dalam. “Mas ....” lirih Bella, menarik nafas dalam. Ngilu dan nyeri secara bersamaan, menekuk jemari kakinya ke atas ranjang.
“Sakit ....”
“Ya, Sayang.” Bara menunduk dan membiarkan tubuhnya menjadi penguat istrinya. Laki-laki itu mengusap kening Bella dan mengecupnya berulang kali. Di saat genting seperti ini, lupa sudah dengan semua penampilannya, yang ada di otaknya hanya Bella dan jagoan mereka.
“Pembukaan dua,” jelas Ibu dokter, tersenyum. “Semoga prosesnya cepat ya, Bu. Kita tunggu saja sampai pembukaannya sempurna. Sementara bisa dibantu dengan berjalan-jalan,” lanjut Ibu Dokter.
“Dok, kalau seperti ini kita harus menunggu berapa lama?” tanya Bara, penasaran. Tidak terbayang oleh calon ayah itu, kalau sang istri harus menahan sakit sehingga berjam-jam.
“Kita tunggu saja, Pak. Saya juga tidak bisa memprediksi. Setiap wanita hamil itu berbeda-beda. Sabar ya, Bu. Kalau sakit, bisa atur nafas, hembuskan lagi. Jangan panik. Kalau ada apa-apa, segera hubungi perawat,” ucap Ibu dokter, sambil membuka kembali sarung tangannya.
Lima jam menunggu, belum ada perubahan sama sekali selain wajah Bella semakin pucat dan tenaga wanita itu kian melemas. Sakit di perut Bella masih tetap sama, tidak berkurang sama sekali. Bara yang sudah berganti pakaian bisa sedikit nyaman dan fokus pada sang istri.
“Sabar ya, Bell. Mau ibu panggilkan dokter?” tawar Ibu Rosma.
“Bella mengangguk.
“Mas ... sakitnya datang lagi.” Bella meringis. Wajah mengernyit dengan bulir air mata membasahi wajah cantik yang semakin memucat. Dengan kedua tangan bergelayut di leher Bara, Bella meremas leher belakang suaminya. Menancapkan kuku-kuku panjangnya dengan tidak berperasaan. Menyalurkan sakitnya, berbagi dengan sang suami. Itu satu-satu yang bisa dilakukannya selain merintih pelan.
“Sabar, Sayang.” Bara mengecup ubun-ubun istrinya, dengan kedua tangan menahan pinggang Bella.
“Mau kembali ke tempat tidur?” tanya Bara, membantu memapah Bella berjalan kembali.
Bella menggeleng. “Aku masih mau berjalan, Mas. Supaya adek cepat keluar.” Ringisan dan suara menahan sakit terdengar lagi.
__ADS_1
“Pelan-pelan, Sayang,” lanjut Bara.
Bisa dikatakan saat ini, kesabaran Bara sedang diuni. Laki-laki itu dituntut untuk mengurus istrinya dengan telaten. Biasanya Bella sangat mandiri dan melakukan semua hal sendirian, tidak pernah merepotkannya sama sekali.
“Mas, tunggu. Ini sakit.” Bella menghentikan langkahnya. Meremas pundak Bara, menimbulkan nyeri yang tidak biasa saat kuku -kuku itu menancap kembali di kulit punggungnya.
“Ya, sabar ya. Sebentar lagi adek mau keluar. Sabar ya, Mommy.” Bara berbisik pelan, mengecup bibir pucat Bella sekilas. Tidak ada yang bisa dilakukan calon ayah itu, selain menguatkan istrinya dengan segala cara.
Ibu Rosma yang berdiri tidak terlalu jauh dari keduanya hanya bisa mengulum senyuman. Amarah dan kesalnya menghilang perlahan. Selama lima jam melihat sikap telaten dan sabar menantunya, Ibu Rosma tentu saja tersentuh. Apalagi dia bisa melihat sendiri bagaimana sang putri yang tidak mau sedetik pun menjauh dari pasangan hidupnya.
“Mas, ini sakit sekali. Aku takut.” Bella mengeluarkan isi hatinya.
“Ssssttt, semua pasti baik-baik saja. Tarik napas, hembuskan. Mommy pasti bisa.” Bara kembali menguatkan.
Usapan tangan Bara, menyapu lembut di perut yang bergelombang. “Adek jangan nakal, ya. Kasihan mommy. Ayo cepat keluar, daddy menunggumu,” bisik Bara sedikit membungkuk, kemudian mengecup pelan pusar yang menonjol keluar.
Bunyi pintu terbuka, mengalihkan perhatian suami istri itu. Dokter wanita yang selalu ramah menyapa pasiennya itu kembali datang dan memeriksa.
“Ayo Ibu, kita periksa lagi, mudah-mudahan ada kabar baik dari jagoannya.”
***
Tubuh Bara melemas saat menunggu sekian jam, bukaan Bella tidak kunjung bertambah banyak. Pembukaan baru empat, masih jauh dari sempurna sedangkan sakit istrinya kian bertambah. “Dok, apa tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk membuat semuanya menjadi cepat. Istriku sudah ....” Bara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, tangannya sudah diremas Bella lagi.
Kontraksi berkala dengan jeda tak teratur antara sepuluh sampai dua puluh menit itu membuat Bella kehabisan tenaga. Meskipun sakit itu tidak lebih dari satu menit, tetapi tetap saja membuat Bella tumbang pada akhirnya. Apalagi, saat proses kelahiran normal, Bella masih harus berjuang lebih lagi.
Iba dan haru bersamaan menyergap hati Bara. Ini pengalaman pertama mereka, dia ingin semuanya berjalan mudah. Segala doa sudah terucap di dalam hati untuk keselamatan istri dan buah hatinya.
“Sabar ya, Pak. Kita berdoa semoga disegerakan. Melahirkan memang seperti ini, ada yang cepat prosesnya, ada juga yang sedikit lebih lama.
__ADS_1
***
TBC