Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 168 : Dua minggu lagi


__ADS_3

Seminggu terlewati, Bella masih saja belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Sejak masuk HPL, Bara tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap malam selalu terbangun, takut Bella akan melahirkan. Bahkan tidak jarang laki-laki itu tidak bisa tidur semalaman saat Bella sudah berkeluh kesah di dalam tidurnya.


Hari ini, lelaki itu kembali menemani istrinya ke dokter. Mulai masuk bulannya, jadwal kunjungan ke dokter pun semakin sering. Kalau dulu sebulan sekali, sekarang menjadi seminggu sekali.


“Bagaimana, Bu? Sudah ada keluhan atau tanda-tanda?” tanya dokter wanita, tersenyum pada pasangan suami istri yang sudah siap lahir batin menyambut jagoan kecil mereka lahir ke dunia.


“Belum Dok. Masih seperti biasa. Belum ada tanda-tanda sakit perut sama sekali.” Bella melempar senyuman.


“Dok, apa tidak masalah kalau terlalu lama di dalam? Bukankah sekarang sudah waktunya,” cerocos Bara. Sejak tadi lelaki itu banyak sekali bertanya. Terlihat sekali bagaimana bahagianya seorang Barata Wirayudha menyambut putra pertamanya.


“Selagi air ketubannya masih oke, saluran makanan dari ibu ke bayinya masih bagus dan belum mengalami pengapuran, tidak masalah Pak. Berarti bayinya masih betah di dalam.” Sang dokter menjelaskan dengan bahasa umum. Sembilan bulan bertemu rutin dengan Bara, tentu dia tahu jelas watak suami pasiennya yang bawel dan banyak bertanya. Menggunakan istilah kedokteran hanya akan membuat Bara penasaran dan semakin banyak bertanya lagi. Lagi dan lagi.


“Apa tidak ada cara supaya adek bayinya cepat keluar, Dok?” tanya Bara dengan polosnya. Untuk masalah perusahaan, mengurus proyek, Bara memang sudah terbukti tetapi menjadi seorang ayah seutuhnya, Bara tidak memiliki pengalaman apa-apa.


“Mas ....” Bella menyenggol lengan suami yang duduk di sebelahnya.


“Mohon bersabar, Pak. Ini jalan 38 minggu. Menunggu dua minggu lagi masih tidak masalah, selagi bayi di dalam kandungan ibu baik-baik saja.”


“Hah! DUA MINGGU LAGI?” Bara setengah menjerit, mengucapkannya dengan nada terkejut.


Dokter wanita dan perawatnya sempat terkejut mendengar suara Bara yang kencang. Berusaha menahan tawa, keduanya cukup mengerti kalau sang calon ayah sudah tidak sabar menunggu buah hati mereka lahir ke dunia. Bisa terbaca dari ekspresi Bara yang muncul dengan spontan di saat harus menunggu dua minggu lagi.


“Mas, jangan berisik. Wajahmu itu apa tidak bisa dikondisikan, Mas? Kenapa harus seperti kesambet begitu. Memalukan saja!” omel Bella, kembali menyikut perut Bara dengan sudut lengannya. Bagaimana tidak kesal, bola mata Bara hampir meloncat keluar dengan mulut menganga sempurna.


“Bukan apa-apa, Bell. Bisa gila aku disuruh menunggu dua minggu lagi. Seminggu ini saja jadwal tidurku sudah tidak teratur, apalagi harus melewati dua minggu lagi. Bisa-bisa badanku kurus kering kerontang karena tidak cukup tidur setiap malam,” ungkap Bara, masih dengan wajah tidak bersahabatnya.

__ADS_1


“Siapa suruh Mas begadang setiap malam. Aku sudah meminta Mas tidur!” gerutu Bella.


“Mungkin lebih banyak bergerak, berjalan, berjongkok. Bisa juga dibantu dengan melakukan hubungan suami istri supaya membantu mempercepat proses kelahiran.” Sang dokter bicara dengan terus terangnya.


Kalimat terakhir sang dokter, membuat wajah kesal Bara berubah drastis. Berseri-seri seketika, tanpa tahu malunya.


“Mas, apa-apaan sih!” Kembali Bella mengomel sambil berbisik, melihat wajah Bara yang tiba-tiba berubah genit menggoda.


“Apalagi sih, Bell. Aku marah-marah, salah. Aku banyak bertanya, salah. Aku cemberut, salah. Aku tersenyum bahagia, salah juga.” Bara berucap kesal. Kali ini suaranya tanpa direm. Terdengar jelas oleh dokter dan perawat.


“Ada lagi yang mau ditanyakan, Bu, Pak.” Sang dokter akhirnya menyela sambil menahan tawa.


“Tidak ada, Dok.” Bella menjawab.


“Baiklah, kalau begitu kembali lagi minggu depan ya, Bu, Pak. Semoga sudah ada kabar baik.” Sang dokter menyalami keduanya sebelum mempersilahkan pasangan suami istri itu keluar. Karena di luar masih banyak antrian pasien.


***


“Pak, hati-hati bawa mobilnya. Istriku sedang hamil besar!” omel Bara.


“Maaf Pak, jalanannya rusak. Ini juga sudah hati-hati.” Pak Rudi membela diri.


Sejak beberapa bulan belakangan Bara semakin bawel dan posesif. Apalagi menyangkut kandungan Bella dan jagoannya. Dia harus memastikan semuanya sendiri.


Senyum Bara merekah saat tatapannya tertuju pada sang istri yang mulai pulas. “Tidur lagi,” ucapnya pelan, meraih tubuh Bella supaya bersandar di pundaknya.

__ADS_1


Dengan tangan mengelus perut buncit istrinya yang tertutup daster hamil satin. Bara bisa merasakan pergerakan kecil jagoannya. Semakin merasakan tendangan bayinya, perasaannya semakin tidak karuan. Tak sabar ingin segera bertemu, memeluk erat di dalam dekapan. “Cepat keluar, Sayang. Daddy sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu,” ucapnya pelan.


Pak Rudi yang masih setia dengan kemudi, hanya mengulum senyuman mengintip dari kaca spion. Kebahagiaan bukan hanya milik majikannya, tetapi juga miliknya. Sejak lama mengabdi pada keluarga Wirayudha, tentu saja kelahiran putra Bara akan menjadi momen yang ditunggu-tunggu olehnya.


“Pak, istriku akan melahirkan dalam waktu dekat. Tolong berjaga di rumah selagi aku di kantor. Aku takut sekali. Setiap hari di kantor, perasaanku tidak tenang. Selalu was-was. Setiap malam, tidak bisa tidur lelap. Selalu terbangun untuk memastikannya baik-baik saja,” pinta Bara pelan.


“Baik Pak.”


“Aku berencana mencari tambahan sopir lagi. Rania dan Icca juga membutuhkan sopir untuk mengantar jemput ke sekolah. Apalagi Rania mulai rutin les piano. Dan Icca, rencananya Bella akan memasukannya gadis itu ke les balet. Semuanya mulai aktif, aku pikir kita membutuhkan tambahan sopir dan mobil.”


Pak Rudi mengangguk.


“Ada kenalan, Pak? Atau saudara?” tanya Bara, memilih mendapatkan sopir dari rekomendasi sopir lamanya, yang sudah terbukti kesetiaannya. Pengalaman dengan pengasuh Issabell, membuat Bara lebih berhati-hati lagi. Tidak bisa sembarangan mencari pekerja.. Rambut sama hitam, tetapi hati tidak ada yang tahu.


Pak Rudi termenung. Tampak berpikir sambil fokus ke jalanan. “Pak, butuh yang masih muda atau sudah berumur?” tanya Pak Rudi.


“Yang mana saja, Pak. Asal dia serius ingin bekerja.” Bara berkata pelan.


Laki-laki itu baru saja menyelesaikan kalimatnya, tetapi kembali meralatnya. “Tunggu Pak, yang berumur saja. Kalau bisa, yang sudah punya anak dan istri lebih baik lagi,” ucap Bara, meluruskan kembali.


Mengingat sopir baru yang mungkin akan menghabiskan banyak waktu di rumah bersama anak dan istrinya, cemburu Bara kembali mencuat. Laki-laki itu tidak mau mengambil resiko. Lebih baik mencari aman supaya rumah tangga mereka tetap tenteram dan damai dari orang ketiga.


Perjalanan rumah tangganya dan Brenda dulu, mengajarkannya banyak hal. Sebut saja dia terlalu posesif atau sejenisnya. Perselingkuhan itu terjadi bukan karena ada niat kedua pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan dan keadaan. Jadi sebagai seorang suami, Bara memilih waspada dan menutup semua kesempatan itu. Apalagi Bella masih muda, masih labil akan kata-kata manis yang mungkin akan menjeratnya di saat lengah.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2