
Beberapa hari setelah kedatangan Roland di akhir pekan, tidak ada lagi pembahasan tentang lelaki itu. Kehidupan Bara dan Bella berjalan normal, menikmati perannya sebagai suami dan istri. Bella dengan rutinitasnya di rumah mengurus Issabell dan Bara dengan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum Bella melahirkan.
Sebisa mungkin nanti setelah anaknya lahir, Bara ingin mencurahkan sebagian waktunya untuk keluarga. Apalagi ini pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah dalam arti yang sebenarnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Bara berpamitan dengan istri dan anaknya. Seperti biasa, diantar sampai ke teras rumah dengan lambaian tangan. Sebelumnya, baik Bella maupun Issabell dan bayi mungil di dalam kandungan Bella dihadiahkan sebuah kecupan manis, tanda sayangnya Bara.
“Bell, nanti jam sepuluh aku akan menjemputmu. Kita sama-sama mengunjungi Rissa,” bisik Bara, di telinga istrinya.
Tentu saja ini kejutan luar biasa untuk Bella. Sejak beberapa hari yang lalu, ia sempat bertanya pada sang suami yang hanya dijawab nanti dan nanti dan sekarang nantinya itu sudah tiba.
“Aku harus bawa apa, Mas?” tanya Bella, jantungnya berdegup kencang dan gugup. Ini kali pertama membesuk seseorang di tempat yang tidak biasa, Bella tidak punya gambaran dan persiapan.
“Tidak perlu bawa apa-apa. Nanti setelah bertemu, kalau Rissa meminta sesuatu, baru kita bawakan. Lagi pula di tahanan itu tidak bisa semudah itu menerima barang dari luar. Ada proses yang harus dilewati sampai barang kiriman kita tiba ke tujuannya,” jelas Bara. Lelaki itu sudah melenggang masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa, wajah tampan dihiasi kacamata hitamnya, Bara duduk di belakang kemudi, melajukan mobilnya tanpa bantuan sopirnya, Pak Rudi.
***
Siang itu, setelah sekian lama, Bella akhirnya bisa bertemu dengan kakaknya, Rissa. Hal yang pertama dilakukan keduanya, memeluk dan menangis, sambil bertukar cerita.
“Bell, tolong jangan sampai Ibu tahu. Aku takut Ibu sakit lagi,” pinta Rissa pada adiknya.
“Kalau takut Ibu sakit, kenapa dilakukan, Kak,” ucap Bella, mengusap air matanya yang mengucur melihat kondisi Rissa saat ini. Kakaknya terlihat jauh lebih kurus, wajahnya kusam dan berantakan karena tidak lagi melakukan perawatan seperti biasa. Belum lagi pasti di tahanan Rissa tidak bisa tidur dengan nyaman.
“Aku khilaf,” cicit Rissa. Tampak sesal menggunung, tetapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Seberapa pun besar sesal itu, sudah tidak berguna. Rissa harus menjalankan hukuman atas apa yang dilakukannya.
“Tolong aku, Bell. Di sini tidak enak sama sekali,” keluh Rissa, di sela tangisan.
“Kalau sudah tahu seperti ini, harusnya sejak awal jangan coba-coba, Kak. Coba pikirkan Ibu, seberapa sakitnya Ibu kalau tahu Kak Rissa ditahan,” sahut Bella.
__ADS_1
Bara yang sejak awal memiliki masalah dengan Rissa sudah tidak bisa bermanis-manis dengan kakak iparnya itu. Memilih menunggu di luar dan menjaga jarak dengan Rissa. Tidak ingin dilibatkan terlampau jauh.
“Minta tolong suamimu, Bell. Bantu aku keluar dari sini,” rengek Rissa seperti anak kecil.
“Mas Bara juga tidak bisa apa-apa, Kak,” sahut Bella, ikut menangis melihat kakaknya yang berurai air mata.
Keduanya masih berbincang, saling bertukar cerita. Rissa dengan pengalaman pahitnya selama ditahan dan Bella dengan cerita sang Ibu yang sudah kembali ke Surabaya untuk sementara sampai ia melahirkan.
“Kak, Roland yang mengaku ayah kandung Icca sempat ke rumah dan menemui Icca,” cerita Bella tiba-tiba.
Rissa tentu sudah tidak terkejut, bahkan ia yang mengundang dan menceritakan semuanya pada laki-laki itu. Ia berharap Roland akan membantunya keluar dari tahanan. Namun kenyataannya berbeda, Roland hanya mengirimkan pengacara. Selebihnya lelaki itu sibuk dan terlalu bahagia dengan status ayah atas putri kandungnya, Issabell.
Apalagi sejak Roland mengetahui status Issabell dari hasil tes DNA, lelaki itu bak hilang ditelan bumi. Yang membuat Rissa sakit hati adalah kata-kata Roland di kunjungan terakhirnya.
“Semakin lama ditahan, makin baik. Kalau bisa membusuk saja sekalian di sini. Kasihan Issabell kalau sampai tahu mama kandungnya seperti apa. Belum cukup dengan status wanita panggilan, malah menambah deretan dosanya dengan obat-obat terlarang,” umpat Roland kala itu setelah membesuk Rissa. Setelah hari itu, Roland tidak pernah lagi mengunjunginya.
“Kenapa Kak Rissa harus berhubungan lagi dengannya. Icca sudah bahagia sekarang, kenapa Kak Rissa membuat hidupnya menjadi tidak tenang dengan kehadirannya di dalam hidup Icca?" keluh Bella.
“Apa Kak Rissa tidak takut Roland merebut Icca dari tangan kita,” lanjut Bella, tertunduk. Sedih rasanya, hanya dengan membayangkan saja hatinya sakit kalau diminta berpisah dari Issabell. Namun, Rissa kakaknya bisa sesantai itu.
“Denganmu atau bersama Roland, aku sama sekali tidak punya hak apa-apa terhadap Icca. Apa yang mau aku takutkan. Toh, aku hanyalah orang lain yang tidak dianggap keberadaannya untuk Icca,” sahut Rissa, mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
“Kak, jangan seperti ini. Meskipun Icca sekarang tidak tahu kebenarannya, suatu saat Icca akan tahu kalau Kak Rissa mama kandungnya. Nah, pada saat dia mengetahui segalanya, apakah dia bisa menerima kondisi Kak Rissa yang seperti ini. Jadilah mama yang bisa dibanggakannya. Setidaknya saat dia tahu nanti, dia bisa menerima Kak Rissa dengan kedua tangannya. Mengakui Kak Rissa dengan bangga.”
Rissa tertegun. Lumayan tertampar dengan kata-kata adiknya.
“Seperti yang Mas Bara katakan sejak awal. Icca itu putri kita berdua. Bahkan Mas Bara menyelipkan nama kita di dalam nama Icca. Issabell dari Rissa dan Bella. Bukankah artinya Mas Bara secara tidak langsung masih menganggap Kak Rissa bagian dari Icca.”
__ADS_1
Tangis Rissa pecah, meraih tubuh Bella dan menangis sesenggukan, menumpahkan semua perasaan yang dipikulnya sejak lama.
“Jadilah anak yang membanggakan untuk Ibu dan Ibu yang membanggakan untuk anakmu, Kak,” bisik Bella, mengusap pelan punggung kakaknya.
“Aku janji akan menjaga putrimu dengan baik, putri kita,” ucap Bella.
***
Bella masih menangis tanpa henti di mobil. Bara yang duduk di samping sambil memegang setir sampai harus menghentikan mobilnya.
“Sudahlah, Bell,” bisik Bara, meraih sekotak tisu dan meletakkan di pangkuan istrinya.
“Kasihan Kak Rissa,” cicit Bella, menarik selembar tisu dari kotaknya dan mengeluarkan cairan bening dari hidungnya yang memerah,
“Ya, tetapi kita bisa apa. Ini buah perbuatannya sendiri. Kita tidak bisa berbuat banyak. Biarkan saja, dia menuai apa yang selama ini ditanamnya. Jadi dia bisa belajar banyak.” Bara mencoba menjelaskan dan menenangkan Bella.
“Mungkin dengan begini, dia bisa belajar,” lanjutnya lagi.
Bella hanya mengangguk, menarik selembar tisu lagi untuk menghapus air mata yang mengucur deras di pipinya.
“Jangan menangis lagi. Kasihan jagoanku di dalam sini kalau mommynya menangis terus-terusan,” ucap Bara, mengusap perut Bella.
***
T B C
Love you all
__ADS_1
Terima kasih.