Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 68. Mulai cemburu


__ADS_3

Bara tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia bahkan sudah yakin Bella akan setuju, saat menawarkan bantuan pada mantan mertuanya. Bara mengenal jelas perempuan yang menjadi istrinya saat ini.


Dari gadis kecil yang selalu tersenyum ceria di segala situasi hingga tumbuh menjadi remaja manis. Bara mengingat jelas, Bella yang selalu menyiapkan air hangat dan mengumpulkan pakaian kotornya dari pojok kamar.


Namun, saat itu istrinya belum seberani sekarang, bahkan menatapnya pun harus mencuri-curi. Bella lebih banyak menunduk setiap bertemu.


“Kemari,” pinta Bara, merangkul pundak Bella mendekat padanya.


Sejak menikah, mereka jarang berbincang hangat atau saling berbagi kisah. Masih ada jarak dan canggung yang terbentang, meski pada kenyataannya mereka selalu menghabiskan tiap malam bersama. Namun, obrolan dari hati ke hati memang jarang terjadi, hampir tidak pernah.


“Pernah menyesal menikah denganku?” tanya Bara, tiba-tiba. Menatap ke arah Issabell yang terlelap di atas ranjang.


“Pernah!” sahut Bella dengan yakin, melirik sekilas. Apakah jawabannya memberi pengaruh pada tuan majikan yang sekarang menjadi suami dan ayah untuk calon anak mereka.


“Maafkan aku. Ada begitu banyak masalah yang aku bawa untukmu dari awal pernikahan sampai hari ini,” ucap Bara mendekatkan bibir di telinga istrinya.


”Akhirnya kamu menyadarinya,” ucap Bella, menatap dengan ujung matanya.


“Ah ... Sweetheart.” Rangkulan tangan di pundak Bella, berganti menjadi pelukan hangat. Lirikan mata Bella bagi Bara terlihat menggemaskan. Betapa ia merindukan istri yang manja dan selalu menempel padanya.


Walaupun Bella tidak semanja yang diharapkannya, setidaknya jauh lebih baik dibanding mantan istrinya Brenda yang sama sekali tidak bermanja-manja dengannya. Mantannya terlalu mandiri, seorang yang memiliki karir sendiri. Bahkan, Brenda dulu tidak bergantung hidup darinya.


Karir yang diawal menjadi kebanggaan Bara ketika mengenalkan istrinya pada setiap kolega atau teman bisnisnya. Namun, pada akhirnya menjadi bumerang untuk rumah tangganya sendiri.


Bara memberi kepercayaan penuh pada istrinya, tetapi malah menjadi kebablasan dan istrinya salah memanfaatkannya. Dan akhirnya memberi kesempatan untuk Brenda berselingkuh kembali darinya.


“Kenapa kamu jadi begini?” tanya Bella heran, mendengar panggilan aneh suaminya.


"Ah ... Sweetheart," ulang Bara tertawa, tetapi kali ini tidak ditanggapi Bella.


“Mas, aku merindukan Ibu,” ucap Bella.


Mata yang sempat berbinar itu berubah menjadi sayu. Untuk pertama kalinya, terpisah jarak yang jauh dalam waktu lama.


“Kita bisa meminta Ibu ke sini, kalau kamu merindukannya,” ucap Bara tersenyum.


“Aku akan meminta Kevin menjemput Ibu untukmu. Karena aku tidak akan mengizinkanmu pergi jauh lagi,” lanjut Bara.


“Lalu, bagaimana dengan Kak Rissa? Mas tidak berniat berdamai dengannya?” tanya Bella.


“Bukankah aku sudah menawarkan perdamaian dengannya. Tapi Rissa sendiri yang menabuh genderang perang dengan kita,” sahut Bara.


Kedua tangannya sudah menangkup wajah istrinya.

__ADS_1


“Jangan pikirkan Rissa ataupun Brenda. Jangan pikirkan masa laluku, cukup pikirkan masa depan kita saja,” ucap Bara.


“Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di dalam hidupku, Bell. Aku juga tidak bisa membuatnya menjadi tidak ada. Jadi jangan pernah dipikirkan. Hidupku hanya ada dia dan kamu,” ucap Bara pelan menunjuk ke arah Issabell, kemudian tersenyum menatap Bella sembari mengusap lembut perut rata istrinya.


“Juga dia yang ada di sini,” lanjutnya lagi.


“Mas ...." ucap Bella, mengalungkan kedua tangannya di leher Bara.


“Aku harus memindahkan Icca ke kamarnya dulu,” ucap Bara lagi, mengecup kedua pipi istrinya sebelum melepaskan diri dan beranjak pergi dengan menggendong Issabell.


Tak lama, Bara sudah muncul kembali dengan segelas air hangat. Dengan cekatan tangannya menarik laci nakas dan memilah-milah vitamin yang harus diminum istrinya.


“Minum vitaminmu sekarang, Bell. Setelah itu tidur,” pinta Bara.


“Terima kasih,” sahut Bella tersipu. Perhatian Bara bertambah sejak mengetahui kehamilannya. Suaminya juga jauh lebih perhatian dan pengertian padanya.


“Masih mual dan muntah?” Bara bertanya saat keduanya sudah kembali ke atas tempat tidur.


“Tidak begitu, hanya di pagi hari saja. Dan itu juga sudah tidak terlalu parah,” sahut Bella, menarik selimut menutup habis tubuhnya.


“Besok, Kevin dan sekretarisku akan ke sini.. Aku harus ke Bogor pagi-pagi dan tidak sempat ke kantor,” cerita Bara, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di atas nakas.


“Hmm,” gumam Bella. Setelah itu tidak ada suara lagi. Keduanya sudah terlelap di dalam mimpi indah. Saling berpelukan dan berbagi kehangatan.


***


Suara tawa kecil Issabell juga terdengar dari luar kamar, bergabung dengan suara pengasuh dan asisten rumah tangga yang sedang berbincang.


Bella segera bangun dari tempat tidurnya setelah memastikan ia hampir terlambat. Walaupun sudah memutuskan berhenti kuliah, tetapi ia masih tetap harus ke kampus seperti biasa.


“Mas, bangun. Kamu sudah terlambat,” bisik Bella, mengguncang pelan bahu kekar suaminya. Laki-laki itu terlalu lelah, tidurnya pulas sekali. Bella bisa mendengar suara dengkuran halus yang teratur dari Bara yang masih belum terganggu dengan gangguan kecilnya.


“Mas, bangun!” tepuk Bella kembali. Sedikit lebih kencang, kemudian berlari ke kamar mandi. Ia juga harus bersiap-siap ke kampus pagi ini.


Bara terkejut, tepukan Bella lumayan keras. Mengerjap beberapa kali, kemudian ia tersenyum menatap punggung yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah siap dan keluar kamar dengan pakaian rapinya. Bella sudah menenteng tas yang biasa dipakainya ke kampus, Bara pun sudah siap dengan setelan kerjanya.


Ceklek!


Saat pintu kamar terbuka, Issabell sudah menyambut mereka dengan senyuman. Gadis kecil itu sedang bermain boneka bersama pengasuhnya.


“Mami sudah ... tantik,” celetuknya. Menyodorkan kedua tangan ke atas, meminta gendong seperti biasanya.

__ADS_1


Bella sudah hendak meraih tubuh mungil itu, tetapi Bara sudah berteriak dari belakangnya.


“Bell, biar aku saja yang menggendongnya. Icca sudah terlalu berat untukmu,” pintanya. Menyerahkan jas kerja yang tadi dipegangnya pada Bella.


“Morning, Icca,” sapa Bara, mengecup kedua pipi gembul, yang semakin hari semakin melebar.


“Morning, Daddy,” sahutnya tersenyum. Melingkarkan kedua tangannya di bahu sang daddy.


Ketiganya baru saja duduk, hendak memulai sarapan saat seorang asisten rumah tangga, mengganggu dan memberitahu Bara kalau ada tamu yang mencarinya.


“Pak, ada Pak Kevin dan Ibu Dona menunggu di ruang tamu.”


“Oh, lanjutkan saja sarapanmu, Bell. Aku harus menemui mereka sebentar,” pamit Bara, bergegas menuju ruang tamu. Ia meninggalkan Bella dan Icca di meja makan.


Perbincangan di ruang tamu berlangsung lumayan lama, sampai ibu dan putrinya itu menyelesaikan sarapannya pun Bara belum kembali ke meja makan.


Rasa penasaran membuat Bella melangkahkan kaki mengintip aktivitas suami dan bawahannya di ruang tamu.


Deg—


Bola matanya menangkap sesuatu yang membuat hatinya tercubit. Ia sudah pernah bertemu dengan asisten Bara yang tampan, tetapi sekretaris Bara yang cantik dan menggoda, baru kali ini ia melihatnya. Sewaktu ke kantor Bara beberapa waktu yang lalu, ia tidak sempat bertemu dengan wanita cantik, tinggi semampai dengan bibir tipis merah delima dan kulit putih mulus bak porselen. Belum lagi lekuk tubuh yang seperti gitar Spanyol, sungguh sempurna dengan balutan blazer hitam dan rok ketat pendek yang minimalis.


Sebagai wanita, ia sungguh iri. Netranya menatap sekretaris Bara yang begitu sempurna layaknya boneka India. Tidak ada cacat di wajah dan penampilannya.


“Sudah, Pak,” sahut sekretaris Bara yang bernama Dona, dengan alunan suara merdu dan sedikit mendayu.


“Suaranya saja bisa begitu seksinya,” batin Bella.


Pandangannya tertuju ke arah Dona, mengawasi wanita cantik itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mengabsen semua yang terlihat oleh matanya.


Entah ini bisa disebut cemburu atau hanya rasa iri hatinya sebagai wanita, tetapi yang jelas di dalam dirinya mulai muncul perasaan tidak rela saat melihat Dona yang berdiri di dekat suaminya sembari mencatat. Bahkan, sesekali wanita itu membungkuk mendekati Bara yang sedang duduk.


***


T B C


Maaf kemarin tidak up


lagi banyak pekerjaan di dunia nyata


Love You All


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2