
“Aku mau belanja, antarkan aku. Kalau tidak, aku akan meminta Rahmat mengantarku!” ucap Bella dengan ketus.
Pikiran Bara langsung kalut setiap nama Rahmat dikumandangkan, langkah kaki itu terhenti. Mengkaji ulang sikap Bella yang tidak biasanya.
Sebagai suami, Bara sudah mulai memahami sedikit demi sedikit karakter istri kecilnya yang mulai bisa merajuk atau protes untuk setiap hal yang tidak disukainya. Berbeda saat awal-awal menikah, Bella lebih banyak memendam perasaan sendiri.
“Maafkan aku, Sweetheart. Aku tidak tahu, tiba-tiba ada makhluk jadi-jadian yang menempel padaku,” jelas Bara.
Berjalan mendekat, ia berusaha menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi di kolam renang yang membuat istrinya meradang.
“Tidak ada yang menandingi kecantikanmu,” puji Bara, tersenyum semanis mungkin. Berusaha memadamkan api cemburu yang begitu menggelora. Terlihat jelas dari bola mata indah yang biasanya penuh dengan kasih sayang, saat ini begitu panas membara.
Bara memilih berjongkok tepat di hadapan Bella yang duduk di sisi ranjang. Tatapan lelaki itu mengandung permohonan supaya bisa dimaafkan.
“Antarkan aku, Mas. Aku mau membeli pakaian. Mas tidak lihat, aku tidak membawa pakaian sama sekali,” keluh Bella.
Tadi pagi saat menyusul Bara ke Jakarta, ia tidak membawa apa pun. Hanya sebuah tas slempang kecil sederhana berisi ponsel dan dompet. Tidak mempersiapkan apa pun, bahkan ia tidak menduga akan diberi kejutan luar biasa dari suaminya.
Pria dengan balutan pakaian casual itu tertawa kecil sembari menggoda.
“Tidak memakai apa-apa jauh lebih baik. Kamu sepertinya lupa, kita ke sini dalam rangka apa,” goda Bara.
“Mas, aku serius,” keluh Bella.
“Aku juga tidak bercanda, Sweetheart.” Bara tidak mau kalah, masih saja berdebat.
Wajah cemberut itu terlihat makin kesal, sesekali mendengus kesal. Sampai akhirnya Bella bersuara.
“Sudah, aku berangkat sendiri saja!” gerutu Bella.
“Rahmat sudah menungguku di luar,” lanjut Bella lagi.
Mendengar nama Rahmat, cemburu Bara terpancing kembali. Meskipun ia tahu jelas, tidak akan ada Rahmat yang dimaksud, tetapi hatinya ketar-ketir setiap nama itu keluar dari bibir istrinya.
“Tunggu, Bell. Aku akan mengantarmu,” cegah Bara, menahan lengan Bella.
“Aku ganti pakaian dulu,” lanjut Bara lagi, bergegas membuka koper dan mencari pakaian keluar.
Tidak lama keduanya sudah berada di pusat perbelanjaan terdekat dari tempat mereka menginap. Bella begitu antusias, bahkan ia terlihat berlama-lama mengitari bagian pakaian wanita.
Bara yang mulai kebosanan menunggu, baru saja akan mengeluh. Namun, begitu matanya menangkap apa yang sedang dicermati Bella hingga berlama-lama, pikirannya langsung kacau.
__ADS_1
“Apa yang mau kamu beli, Bell?” tanya Bara terbelalak melihat bikini tergantung beraneka macam, warna dan rupa. Lelaki itu sejak tadi hanya menunggu di luar, tidak betah harus mengikuti Bella, berjalan ke sana kemari.
“Ini." ucap Bella, menunjuk ke salah satu bikini model two piece yang tergantung.
“Astaga Bella! Untuk apa membeli pakaian beginian?” tanya Bara, bola matanya hampir keluar membayangkan istrinya mengenakan pakaian seperti itu.
“Aku mau berenang seperti Mas tadi. Tidak mungkin 'kan harus mengenakan gaun,” gerutu Bella, kesal dengan respon Bara.
Ia melihat sendiri bagaimana penampilan gadis yang menempel pada suaminya di kolam renang. Emosinya langsung terpancing saat itu juga. Ia ditinggal sendirian di kamar, sedangkan suaminya bersenang-senang dengan gadis berpakaian mini di pinggir kolam.
Dan ia tidak mungkin memarahi Bara di tengah keramaian sekaligus menunjukan emosi dan cemburunya. Ia tidak mau membuat Bara besar kepala, merasa begitu dicemburui dan dicintai olehnya.
“Tidak. Kamu tidak boleh berenang dengan pakaian ini. Kalau memaksa, kamu bisa memakai daster yang tertutup seperti yang biasa dipakai ibumu saat tidur.” Bara memberi ide.
“Mas! Jangan bercanda!” omel Bella.
“Aku tidak sedang bercanda. Coba saja kalau kamu berani mengenakannya!” ancam Bara, dengan tatapan mematikannya.
“Mas, aku juga mau seperti para gadis-gadis itu,” tolak Bella, masih saja memandang bikini-bikini yang tergantung.
“Memakai itu mau menggoda siapa? Rahmat?” todong Bara, mendengus kesal
“Mas! Aku serius,” ucap Bella ketus.
“Pulang sekarang,” ajak Bara, menyeret lengan istrinya menuju ke kasir. Siap membayar belanjaan Bella yang lainnya.
Sepanjang jalan menuju ke kasir, lelaki itu masih mengomel tidak jelas. Sesekali mendengus kesal menatap Bella di sampingnya.
“Nak, daddy-mu kelewatan sekali. Padahal kamu sudah sangat ingin melihat mommy-mu mengenakannya, ya,” ucap Bella berbisik lirih. Tangannya yang bebas, mengelus perut ratanya dengan pelan. Wajahnya pun terlihat begitu menyedihkan.
Deg—
Bara menghentikan langkahnya saat itu juga. Hatinya tersentuh saat Bella membawa nama anaknya di dalam ucapannya. Namun, sungguh tidak rela membiarkan istrinya mengenakan pakaian mini yang mempertontonkan lekuk tubuhnya di depan umum.
“Anakku benar-benar menginginkannya? Atau hanya alasanmu saja?” tanya Bara dengan polosnya.
“Ya, Mas,” sahut Bella langsung mengangguk. Senyum di wajahnya merekah.
“Kamu yakin anakku yang menginginkannya?” tegas Bara sekali lagi.
“Ya, Mas,” sahut Bella mulai terpancing kesal.
__ADS_1
“Kenapa perasaanku mengatakan ini hanya akal-akalanmu saja, Bell,” todong Bara.
“Jadi Mas tidak percaya padaku?” Bella murka, menghempaskan tangan Bara.
“Bukan begitu Bell. Aku hanya tidak yakin, kalau anakku menginginkan mommy-nya mengenakan pakaian kurang bahan itu,” jelas Bara, melunak.
Bella makin kesal. Maju beberapa senti mendekati Bara. Dengan membusungkan perutnya ke depan, ia pun berkata.
“Nih! Tanyakan saja sendiri pada anakmu kalau tidak percaya,” ucap Bella, menyodorkan perut ratanya ke hadapan Bara.
Bara tersentak kali ini, menutup mulutnya rapat-rapat. Jawaban Bella membuatnya bungkam dan berpikir sejenak sebelum akhirnya mengizinkan Bella membeli bikini.
Dengan setengah membungkuk, lelaki itu ikut mengelus perut Bella.
“Tenang, Nak. Jangankan satu, Daddy akan membeli dengan pabrik-pabriknya,” ucap Bara berbisik di perut Bella.
Beberapa karyawati yang berdiri tidak jauh dari pasangan suami istri itu terlihat tersenyum mendengar percakapan keduanya. Bahkan mereka histeris sendiri saat melihat Bara yang mengelus dan berbisik di perut Bella.
Setelah menyetujui, Bella akhirnya menyeret suaminya kembali ke tempat bikini-bikini tergantung. Tepat saat Bella memasukan salah satu ke dalam keranjang pakaian yang akan dibeli, Bara kembali bersuara.
“Kamu hanya boleh mengenakannya di dalam kamar saat berdua denganku!” perintah Bara tiba-tiba.
“Mas ... yang benar saja,” keluh Bella.
“Ini untuk berenang. Buat apa aku mengenakannya di dalam kamar,” lanjut Bella lagi.
“Kamu bisa mengenakannya saat berendam di dalam bathtub bersamaku,” jelas Bara, tersenyum mesum. Membayangkan Bella dengan tampilan seksinya, menemani acara berendamnya nanti malam.
Bella menurut, tidak mau memperpanjang urusannya, makin lama berdebat dengan Bara, ia akan makin lama sampai hotel. Ia sudah mulai lelah.
Keduanya sedang mengantre di kasir, saat mata Bara terpana menangkap sesuatu yang tergantung tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Dengan membungkuk, kembali Bara mengelus perut rata Bella dan membisikan sesuatu disana. Tidak lama, ia sudah meluruskan tubuhnya kembali, dengan ragu-ragu berkata pada Bella.
“Sweeetheart, anak kita mau melihatmu mengenakan itu nanti malam,” ucap Bara, menunjuk ke arah lingerie transparan super seksi berwarna merah hati.
***
T b c
Love you all
__ADS_1
Terima kasih