
“Aku akan membunuhmu sekarang!” ancam Bara.
Setelah berhasil menguasai Roland, laki-laki yang ditutup kabut amarah kembali menghajar Roland. Seolah tidak pernah puas menyalurkan semua emosinya yang tertahan. Sudah tidak peduli dengan teriakan kesakitan dan darah yang mengucur dari sudut bibir kliennya itu.
Bara menggila. Ketika mendapati foto Issabel di ponsel Roland, laki-laki itu masih bisa mengerti, tetapi saat mendapati ada foto-foto pribadi istrinya yang diambil tanpa permisi, di situ emosinya menjadi liar dan tidak terkontrol.
Di tengah kesakitannya, Roland akhirnya sanggup memberi perlawanan. Berhasil menggulingkan Bara, ganti menghajar dan memukul. Pergumulan keduanya, persis seperti anak SD sedang berebutan permen lolipop. Pergulatan yang terkadang dikuasai Bara, berganti Roland, begitu seterusnya sampai keduanya babak belur.
Bukan hanya Roland, wajah Bara pun mulai luka dan lebam dibeberapa titik. Pertengkaran hebat itu baru usai saat beberapa pekerja yang menarik mundur keduanya dan berusaha melerai.
“Pak, sudah.” Kepala pengawas yang tadi sempat menemani Bara, bersuara. Dengan susah payah mencekal kedua tangan Bara.
“Sudah Bar. Aku minta maaf.” Roland akhirnya bersuara setelah menenangkan diri. Napasnya tersengal, naik turun. Mengusap pelipis dan sudut bibir yang terdapat luka sobek.
“Katakan Brengsek’! Apa maumu menyimpan foto-foto istriku? Aku masih bisa terima kalau kamu menyimpan foto Icca, tetapi tidak untuk istriku!” tegas Bara, masih dengan mata memerah. Mengarahkan telunjuknya pada Roland.
“Maafkan aku, Bar.”
Setelah pergulatan hebat, masih terdengar sepatah dua patah pertengkaran lewat kata di antara keduanya, sampai bunyi dering ponsel menghentikan keduanya. Pandangan keduanya tertuju pada ponsel Bara yang tergeletak di lantai, keluar dari sakunya saat baku hantam terjadi.
“Pram??” cicit Bara, setelah memastikan si penelepon yang tak lain sahabatnya.
Raut keterkejutan tampak jelas di wajah Bara saat mendengar informasi yang disampaikan Pram.
“Titip istriku, Pram. Aku akan ke sana sekarang.”
Bara berlari keluar, tanpa peduli lagi dengan teriakan Roland. Saat ini Bella membutuhkannya. Sudah tidak berniat memperpanjang masalahnya dengan Roland saat ini. Dia harus memastikan Bella baik-baik saja.
***
Mobil Kailla sudah terparkir di halaman rumah Bara, gadis nakal itu turun dari kursi belakang dengan senyum usilnya menyapa security rumah.
“Pak, nyonyanya ada?” tanyanya berbasa basi, menyerahkan sekantong gorengan yang dibelinya di depan gerbang komplek.
Padahal Kailla tahu jelas kalau Bella sudah menunggunya di dalam. Dengan ditemani sopir dan asisten tengilnya, Sam, rencananya Kailla akan menemani Bella berburu pernak-pernik untuk jagoan kecil Bara dan Bella yang sebentar lagi akan lahir.
“Terimakasih Non.” Security itu tersenyum sumringah menerima sekantong gorengan beraneka rupa dari tangan Kailla. Tamu majikannya yang paling sering menitipkan jajanan setiap berkunjung.
“Bu Bella ada Non, di dalam. Sudah ditunggu sejak tadi.”
Baru saja security rumah itu selesai menjawab, terlihat Bella muncul di teras rumah dengan gaun hamilnya. Terlihat semakin cantik dan berisi.
“Terimakasih Pak.” Kailla setengah berlari menghampiri temannya.
__ADS_1
“Boo, kita berangkat sekarang?”
Bella mengangguk dari kejauhan. Terlihat ibu muda itu berpamitan dengan Issabell dan Rania.
“Kak, mommy mau pergi bersama Aunty Kai. Kakak baik-baik di rumah, jaga adek. Nanti pulang, mommy belikan es krim pesanan kalian.”
“Icca, mommy berangkat sekarang. Jangan berantem dengan kakak.” Mengecup kening kedua putrinya bergantian.
Kepergian Bella diiringi lambaian tangan Rania dan Issabell dan senyum kecil keduanya yang berdiri di teras rumah.
“Boo, punya anak seumuran Rania enak, ya,” celetuk Kailla.
“Jadi punya teman curhat. Umurnya tidak terlalu jauh beda denganmu. Jadi ngobrolnya lebih nyambung. Apa lagi kalau bahas oppa korea yang ketampanannya unlimited, pasti sambung menyambung sampai Om Bara mati berdiri,” lanjut Kailla, terkikik sendiri membayangkan kecemburuan Bara saat istrinya membahas laki-laki lain.
“Ya, begitu ....” Bella tersenyum.
“Aku juga mau punya anak yang seumuran dengan anakmu ....” Tiba-tiba Kailla menutup mulut.
“Tidak jadi, Boo. Nanti jadi doa dan beneran terjadi. Aku tidak mau Pram memiliki perempuan lain selain diriku.”
Bella hanya tersenyum menatap sahabat baiknya yang hari ini terlihat cantik dengan setelan casual. Kaos putih dan celana jeans biru.
“Mendingan jangan, Kai. Ada nyeri saat kita mengingat kalau suami kita juga pernah dengan yang lain. Akan ada luka kecil yang tidak terlihat dan dipaksa sembuh sendiri. Walau kenyataannya sudah tidak ada lagi yang tertinggal dari hubungan itu, tetapi pasti ada cemburu tersembunyi yang tidak berani kita keluarkan.”
Jalanan ibukota yang tidak terlalu macet, membawa sepasang sahabat itu tiba di mall lebih cepat dari perkiraan. Begitu sampai, Bella sudah menarik tangan Kailla untuk menemaninya mencari perlengkapan bayi.
“Lumayan untuk bantu-bantu angkat belanjaan,” tawar Kailla.
Bella mengangguk.
Kedua sahabat itu berputar-putar dari satu toko perlengkapan bayi ke toko lainnya. Ada saja yang menarik perhatian Bella. Dari kaos kaki mungil sampai topi cupluk lucu. Dari botol susu sampai perlengkapan makan yang entah kapan baru bisa digunakan bayinya. Rasanya semua ingin dibeli.
Kedua tangan Ricko dan Sam sudah penuh dengan belanjaan. Bella masih belum puas berkeliling.
“Boo, kamu tidak lelah? Kita sudah lama berkeliling.” Kailla mengingatkan. Sudut matanya menatap perut Bella yang membuncit.
Bella menggeleng. “Aku masih ingin melihat-lihat.”
“Apa kita mampir makan dulu, meluruskan kaki. Setelah itu baru lanjut jalan.” tawar Kailla. Sejak tadi perutnya keroncongan. Pulang dari kampus langsung ke tempat Bella.
“Sebentar lagi, Kai. Masih ingin melihat-lihat toko yang di depan.”
Kailla mengalah, tidak ingin berdebat dengan ibu hamil yang keinginannya tidak terbantahkan. Memilih menemani Bella berkeliling, mencari perlengkapan bayi. Ricko dan Sam yang berdiri di belakang hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Setengah jam berputar-putar di toko yang menjual stroller, tiba-tiba wajah Bella terlihat pucat. Dengan tangan kiri mengusap perutnya.
“Kai, perutku kram. Rasanya nyeri sekali,” adu Bella, merengkuh lengan sahabatnya.
Tentu saja Kailla terkejut bukan main, apalagi melihat wajah Bella yang tiba-tiba seputih kapas.
“Boo, kamu baik-baik saja? Apa yang dirasakan?” tanya Kailla panik. Ikut mengusap perut buncit sahabatnya.
“Perutku, Kai. Rasanya ada yang keluar, basah,” ungkap Bella, meringis kesakitan.
Mendengar itu, Kailla semakin panik. Teringat kembali peristiwa kegugurannya beberapa bulan yang lalu.
“Boo, tarik napas ... hembus, tarik napas ... hembus. Pasti baik-baik saja,” ucap Kailla menyakinkan, wajahnya tidak kalah tegang. Memerah dan berkaca-kaca, takut terjadi sesuatu pada Bella. Belum lagi kalau sampai terjadi sesuatu pada Bella, suami sahabatnya pasti akan marah-marah lagi.
“Boo, apa masih ....” Kailla tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, Bella jatuh tidak sadarkan diri. Membuatnya berteriak panik.
“Sam! Ricko! Cepat kemari!!” teriak Kailla, hampir menangis.
“Tolong! Siapa pun!!” Kailla berteriak kencang sembari mendekap tubuh lemas Bella yang sudah tidak sadarkan diri.
Tak lama, para pegawai toko datang mengerubungi, berusaha mencari jalan keluar di tengah kepanikan.
“Mbak, siapanya?” tiba-tiba seorang bertanya pada Kailla yang sudah berurai air mata. Meratapi Bella yang pingsan di pelukannya.
“Aku ... temannya.”
“Hubungi keluarganya, Mbak. Atau suaminya. Takut kandungannya kenapa-kenapa,” ucap seseorang yang berdiri di belakang Kailla.
Dengan tangan gemetar, Kailla mengeluarkan ponselnya. Antara takut dan khawatir, otaknya berusaha mencari nomor yang bisa dimintai bantuan. Yang diingatnya cuma Pram, sang suami yang sedang bekerja saat ini.
Bunyi nada sambung itu terdengar lama, Kailla sudah terisak sambil harap-harap cemas, menunggu suara suaminya muncul di seberang.
“Sayang, ada apa menghubungiku?” Tiba-tiba terdengar suara Pram dari seberang. Laki-laki itu sedang rapat, terpaksa keluar untuk menerima panggilan telepon istrinya.
“Sa ... yang, Bella pingsan di mall,” cerita Kailla terbata di sela isaknya. Mendengar suara tangis istrinya, tentu saja membuat Pram panik. Lupa sudah dengan rapatnya.
“Aku takut sampai ....”
“Kirimkan aku alamatnya. Aku akan menyusulmu,” potong sang presdir RD Group.
“Tunggu aku di sana! Jangan pergi ke mana-mana. Minta Ricko dan Sam menemani kalian. Jangan menangis, Sayang. Semua pasti baik-baik saja,” ucap Pram, berusaha menenangkan istrinya.
***
__ADS_1
TBC
Pram dan Kailla muncul lagi ya..