Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 161 : Harus istirahat total


__ADS_3

Pram memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Masih sempat menghubungi Sam untuk memastikan Kailla dan Bella baik-baik saja. Beruntung, jarak mall dan kantor RD Group tidak terlalu jauh, jadi Pram bisa menemui istrinya secepat kilat.


Setengah berlari sambil menempelkan ponsel di telinga, Pram menghubungi Bara, sahabatnya. Nada sambung itu terasa lambat sekali, di situasi panik seperti ini.


“Bar, Bella pingsan di mall. Kamu di mana? Aku sedang menuju ke sana, istriku tidak akan sanggup menanganinya sendirian. Sebentar lagi aku share lokasinya.” Pram langsung menembak dengan serentetan kalimat tanpa jeda, di saat panggilan itu tersambung.


“Titip istriku, Pram. Aku akan ke sana sekarang.” Terdengar suara panik Bara dari seberang, sebelum sambungan itu terputus.


Dua puluh menit, Pram membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Bunyi klakson mobil tanpa henti meminta jalan berbuah umpatan pengendara lain. Sampai di parkiran, Pram sudah tidak bisa berpikir lagi, memarkirkan asal mobilnya dan berlari masuk ke dalam mall tanpa melihat ke sekeliling lagi. Semua jadi tidak berarti saat Kailla di dalam masalah.


Kalau terjadi sesuatu pada Bella, Kailla akan kena imbasnya. Sebagai suami Kailla, tentu dia ikut bertanggung jawab atas apa yang dilakukan istrinya. Meskipun itu sengaja atau tidak. Bella sedang hamil. Dia tidak mau Kailla mengambil tanggung jawab itu sendirian. Ada dua nyawa yang sedang dipertaruhkan.


Jantung Pram berdegup kencang saat tiba di toko yang dimaksud Kailla. Istrinya berjongkok di depan Bella yang sudah setengah sadar. Duduk di kursi plastik dikerubungi Ricko dan Sam yang menenteng banyak barang belanjaan.


“Ada apa, Bell?” tanya Pram, khawatir melihat ibu hamil itu meringis dengan wajah pucat. Tangan kanan lelaki itu meraih tangan istrinya.


“Bangun, Sayang,” pinta Pram, membantu Kailla berdiri, pandangannya tak lepas dari Bella. Tidak ingin terjadi hal buruk pada wanita hamil yang terlihat lemah.


“Perut Bella sakit, Sayang,” adu Kailla memeluk pinggang suaminya.


“Kita ke rumah sakit ya, Bell. Aku sudah menghubungi suamimu.” Pram menatap kedua asistennya yang sedang menenteng barang belanjaan.


“Sam, antarkan ke kasir semua belanjaannya!” pinta Pram, mengeluarkan dompet dan menyerahkan kartu debit pada asistennya itu untuk membayar semua belanjaan Bella.


“Pin seperti biasa, Sam.” Laki-laki itu kemudian mengalihkan perhatiannya pada Bella.


“Bell, kamu baik-baik saja? Kita ke rumah sakit sekarang, ya.” Pram menoleh pada istrinya.


“Kai, aku boleh menggendong Bella?” tanya Pram, meminta izin istrinya. Tidak mungkin membiarkan asistennya atau orang lain yang melakukan. Tidak enak dengan Bara.

__ADS_1


Kailla mengangguk. Di saat panik seperti ini, tidak ada lagi rasa cemburu, apalagi Bella bukan orang lain. Dia sahabatnya sendiri.


Pram membungkuk. “Bell, maafkan aku.” Laki-laki itu meminta izin, sebelum menyelipkan tangannya di balik punggung istri sahabatnya itu. Bella hanya pasrah, membantu mengalungkan tangannya di leher Pram. Saat ini kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk jalan sendiri ke tempat parkir.


Kailla terlihat merapikan tas tangan Bella, berlari mengekor di belakang suaminya.


“Ricko, urus semua belanjaan. Aku dan Kailla harus ke rumah sakit sekarang,” pinta Pram, bergegas menuju lift.


***


Bella sudah berada di ruang IGD, saat Bara tiba di rumah sakit. Raut wajah laki-laki itu terlihat panik. Bagaimana tidak, istrinya sedang hamil tiba-tiba dikabarkan pingsan. Sepanjang perjalanan, laki-laki itu hampir menggila. Berteriak kesal karena perjalanan terasa panjang.


“Pram apa yang terjadi?” tanya Bara, saat tiba di IGD, melihat Pram dan Kailla sudah menunggu di depan ruangan. Sahabatnya mondar-mandir dengan kedua tangan terselip di saku, sedangkan istri sahabatnya, Kailla sedang duduk dengan raut panik dan mata berkaca-kaca. Gadis itu menggigit kuku-kuku tangannya untuk menyalurkan rasa khawatirnya. Semua terjadi begitu cepat.


“Aku datang, istrimu sudah lemas. Semua akan baik-baik saja, Bar.” Pram menepuk pundak Bara untuk menenangkan.


“Kai ... kamu yang paling paham bukan? Kekacauan apa lagi yang kamu buat?” todong Bara.


“Aku ... aku tidak tahu, Om. Tiba-tiba, Bella mengeluh sakit perut dan ....” Kailla tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu tertunduk setelah melihat Bara menatapnya sinis.


“Dan ... jatuh tidak sadarkan diri,” lanjut Kailla pelan, sambil tertunduk. Dua bulir air mata itu menetes turun dengan tangan saling meremas di atas pangkuan.


“Setiap kali Bella pergi denganmu pasti ada saja kekacauan yang kamu buat. Dan sekarang kamu lihat sendiri, Bella sampai seperti ini,” tuduh Bara, tanpa bertanya lebih jauh.


“Aku ... aku ... tidak melakukan apa pun, Om.” Kailla berusaha membela diri.


Pram yang mendengar ucapaan Bara, segera memeluk Kailla. Dia tahu, saat ini istrinya sedang sedih, ditambah kenal omelan Bara.


“Sudah, jangan dimasukan ke dalam hati, Bara sedang panik. Kalau kamu yang di posisi Bella, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama,” bisik Pram, sembari menangkup kedua telinga Kailla supaya tidak mendengar omelan Bara dengan jelas.

__ADS_1


“Aku tidak melakukan apa-apa, Sayang,” ucap Kailla, berlinang air mata. Memeluk pinggang suami yang sekarang berdiri di depannya.


Pram mengangguk. “Sstttt ... ya, aku tahu, Sayang. Aku tahu ... aku percaya padamu, tidak penting orang lain menilaimu apa, yang terpenting aku percaya padamu,” bisik Pram, berusaha menenangkan. Menghapus bulir air mata yang mengalir di pipi istrinya.


Laki- laki itu beralih menatap Bara. Serba sulit di saat seperti ini. Dia mengerti bagaimana perasaan Bara. Mungkin kalau dia di posisi Bara akan sama gilanya.


“Kamu tidak hamil, tetapi setidaknya pikirkan Bella sedang hamil! Tidak bisa seenaknya sepertimu!” omel Bara lagi. Laki- laki itu tidak bertanya lagi, langsung menuduh. Panik dan khawatir, menutup akal sehatnya.


“Bar ....” Pram bersuara setelah sejak tadi diam. Kalau Bara tidak dihentikan, akan semakin menjadi dan istrinya akan semakin terluka.


Perhatian ketiga orang di depan ruang IGD teralihkan saat seorang pria setengah baya dengan blazer putih keluar dari pintu.


“Dengan suaminya pasien?” tanya sang dokter.


“Saya, Dok!” Bara bergegas menghampiri. Khawatir, panik dan kegelisahaannya sejak tadi mengumpul. Butuh kejelasan dan penjelasan.


“Istri anda mengalami pendarahan dan ada rembesan ketuban. Untuk sementara kami akan memberi suntikan pematangan paru-paru mengingat belum saatnya istri anda melahirkan. Untuk berjaga-jaga seandainya harus melahirkan prematur.” Sang dokter memberi penjelasan.


Bara melemas setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani Bella. Ini pengalaman pertamanya. Khawatir dan panik itu pasti. Dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada Bella dan bayi mereka.


“Untuk sementara, pasien harus istirahat total dan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan kondisi air ketuban. Sebisa mungkin, kami akan berusaha menjaga agar bayi bisa lahir tepat waktunya.” Sang dokter kembali menjelaskan.


Bara mengangguk dengan wajah datarnya. “Istri saya bagaimana, Dok?” tanya Bara.


“Kondisi pasien sudah stabil, hanya menunggu dipindahkan ke ruang perawatan. Nanti di sana akan kita pantau, Pak.


Pram yang ikut mendengar penjelasan dokter segera menepuk pundak Bara. “Semua akan baik-baik saja, Bar. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Bella dan anak kalian.”


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2