Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 102. Dia Lelaki baik


__ADS_3

“Aku tidak suka melihat Ricko ada di dekatmu. Untuk apa dia mendekati wanita yang sudah bersuami,” sahut Bara setelah lama mencari jawaban yang tepat.


Tidak mungkin rasanya ia cemburu. Sebisa mungkin ia tidak ingin menikmati rasa seperti ini. Dulu, dengan Brenda ia sudah cukup tersiksa dengan rasa cemburu yang tidak berkesudahan. Dan ia berharap tidak akan merasakannya lagi, saat menikah dengan Bella.


Cemburu itu menyakitkan, tetapi diselingkuhi dan ditinggal lebih sakit lagi. Membayangkan harus sakit kedua kalinya, ia sudah tidak sanggup. Selama sepuluh tahun ini, ia selalu meminta kepada Tuhan supaya tidak merasakan sakit itu lagi.


“Mas itu aneh,” gerutu Bella.


“Ayo kita pulang. Aku sudah terlalu lama keluar, kasihan Ibu harus menjaga Icca,” lanjut Bella lagi.


Menghadapi Bara yang tidak jelas seperti ini rasanya membingungkan. Ia ingin seperti para istri di luar sana, yang dicintai suaminya, diperhatikan suaminya, dilindungi suaminya.


Deg—


Jantungnya berdetak dan memburu seketika. Bukankah selama ini Bara juga melindunginya. Bukankah selama ini Bara juga memperhatikannya. Kalau tidak melindunginya, tidak mungkin Bara akan berlari ke sini dan meninggalkan pekerjaan demi dirinya.


Apa ia yang terlalu berharap dengan satu kata cinta sehingga mengabaikan sikap Bara yang sudah mulai melunak padanya.Bara yang melindunginya. Bara yang perhatian padanya.


Entahlah.


Bella berbalik, suaminya sedang bersiap bangun dan memangkas jarak dengannya. Senyum biasa yang terukir di bibir Bara masih sama, tidak ada yang berubah. Suaminya masih sama.


“Aku akan mengantarmu pulang, setelah itu aku harus kembali ke kantor,” ucap Bara, menggenggam tangan istrinya tanpa ragu. Ia mengandeng tangan wanita hamil itu agar tetap di sisinya, memastikan istri dan bayi yang ada di rahim Bella tetap aman dan nyaman.


***


Mobil sport hitam Bara masuk ke pekarangan rumahnya, saat hari menjelang sore. Karena masih ada sedikit pekerjaan kantor yang harus diselesaikan hari ini, mau tidak mau ia harus kembali meski pun dengan berat hati.


“Bell, aku ke kantor sekarang,” bisik Bara, melepaskan seatbelt yang mengikat tubuhnya. Sedikit mencondongkan tubuh mengarah ke tempat duduk istrinya, Bara membantu Bella melepaskan sealbelt yang membelit tubuh ibu hamil itu.


“Baik-baik sama Mommy, ya,” ucap Bara, berkata lembut sembari membelai perut rata istrinya.


Tidak sampai di situ, sebuah kecupan singkat pun dilabuhkan di bibir istrinya. “Aku pergi sekarang. Aku akan pulang cepat,” pamit Bara.


Bella lagi-lagi harus menelan kecewanya sendiri. Bahkan suaminya tidak pernah ada manis-manisnya. Pertemuannya tadi dengan Kailla dan Pram, sedikit banyak membuka matanya, seperti apa rumah tangga sahabatnya itu.

__ADS_1


Kenyataan sangat jauh berbeda. Apa ia yang terlalu berharap lebih atau memang karena suaminya yang tidak cinta sehingga tidak bisa semanis suami Kailla.


Dengan dirundung kecewa, ia membuka pintu mobil seorang diri. Bara tidak turun untuk membantunya. Lelaki itu tetap di kursi sopir dengan tangan menggenggam setir.


“Mungkin sebaiknya tidak boleh terlalu banyak berharap,” dengus Bella kesal. Langkah kaki membawanya masuk ke dalam rumah. Kekesalan yang mengumpul di dada, membuatnya tidak menoleh sekedar melambaikan tangan seperti biasanya pada Bara.


Berjalan masuk ke dalam rumah. Bella mendapati Issabell dan ibunya yang sedang bermain di temani pengasuh.


“Mommy!” seru Issabell, langsung meloncat kegirangan begitu melihat Bella pulang. Kedua tangan mungil itu sudah terangkat ke atas, meminta digendong seperti biasa tanpa sepengetahuan daddy-nya. Kalau sampai Bara tahu, pasti akan mengomel. Pria itu tidak mengizinkan Bella mengangkat yang berat-berat selama hamil.


“Anak Mommy sudah makan siang?” tanya Bella, mencium kedua pipi Issabell.


“Cudah ... Icca akan nasi, akan eh ... ola,” celotehan Issabell yang susah dimengerti bagi yang belum terbiasa.


“Apaan ola?” tanya Bella, mengendus aroma bedak bayi di tubuh putrinya.


“Maksudnya bakso, Bell,” jelas Ibu Rosma yang sejak tadi diam, ikut bersuara. Wanita tua itu ikut berdiri, sembari mengusap punggung Issabell yang sedang berada di gendongan.


“Bell, ibu mau bicara. Bisa?” tanya Ibu Rosma.


“Ibu akan kembali ke Surabaya,” lanjut Ibu Rosma lagi. Ia mulai tidak betah tinggal di Jakarta terlalu lama dan ia sudah merindukan kampungnya, kamarnya. Merindukan semua hal di Surabaya.


Kalimat Ibu Rosma kali ini sanggup membuat mood Bella berganti. Ia masih belum rela, belum mau mengizinkan ibunya kembali.


“Bu, aku mohon tetap di sini sampai aku melahirkan,” pinta Bella, sembari bergoyang ke kiri dan ke kanan. Membuat Issabell yang berada di gendongannya merasa tetap nyaman.


“Maafkan Ibu, Bell. Ibu sudah merindukan suasana kampung kita. Apalagi, sebentar lagi peringatan kematian Bapak. Ibu mau membersihkan makam Bapak,” jelas Ibu Rosma. Ada linangan air yang berusaha ditahan setiap mengingat suaminya.


Hampir sepuluh tahun ia mengurus kedua putrinya seorang diri sepeninggalan suaminya, tidak ada apapun yang tertinggal, hanya utang perusahaan yang berimbas rumah mewah mereka harus hilang dari genggaman.


Ia benar-benar membesarkan Rissa dan Bella dengan kedua tangannya. Walau pada akhirnya Bara-lah yang paling banyak mendukung kehidupan mereka.


“Nanti Ibu akan ke sini lagi, Bell,” janji Ibu Rosma, menenangkan putrinya.


“Ibu pulang sendirian atau ditemani Kak Rissa?” tanya Bella lagi.

__ADS_1


“Belum tahu. Nanti lihat bagaimana. Ibu juga belum bercerita pada suamimu,” ucap Ibu Rosma, menjatuhkan pelan tubuh rentanya di salah satu sofa setelah menggeser mainan cucunya yang menumpuk. Hampir semua tempat duduk itu ditempati mainan Issabell yang beraneka macam.


“Bell, baik-baiklah dengan suamimu. Berumah-tangga itu tidak mudah, apalagi dengan lelaki yang pernah gagal seperti Bara,” nasehat Ibu Rosma. Pandangannya tertuju pada foto pernikahan Bara dan Bella berukuran raksasa yang tergantung di dinding.


“Tapi, dia lelaki yang baik. Kamu ingat 'kan bagaimana dia mendukung keluarga kita. Mendukungmu dan Rissa,” lanjut Ibu Rosma.


Seulas senyuman tersungging di bibir, wajah keriputnya semakin nyata saat tersenyum. Menatap foto pernikahan Bella dan Bara, ada rasa haru mengisi dadanya.


Bella putri bungsunya itu adalah gadis baik, tidak banyak maunya. Sejak kecil Bella sudah terbiasa hidup susah dengannya. Kehidupan Bella jauh lebih sulit dibandingkan Rissa.


Saat musibah menghantam keluarga mereka, Bella baru berumur 9 tahun, masih terlalu kecil untuk menerima kesulitan hidup. Rissa saat itu sudah di penghujung SMA-nya. Setengah tahun kemudian, Rissa ke Jakarta, melanjutkan kuliah dengan dibiayai Bara.


Tertinggal Ibu Rosma dan Bella. Sejak kecil Bella harus merelakan masa-masa bocahnya untuk membantu pekerjaan membereskan rumah di kediaman Bara. Bahkan sebelum dia diboyong ke kediaman Bara, Bella kecil sering dititipkan ke tetangga saat Ibu Rosma bekerja.


Tiba-tiba air mata itu jatuh, saat mengingat masa kecil Bella dulu. Tidak jarang Bella menangis saat dia pulang kerja. Karena menahan lapar sejak siang. Berbeda dengan Rissa yang jauh sudah dewasa, lebih mengerti kesulitan keluarga mereka.


Yang sering ditangisi Bella kecil dulu, karena harus menonton teman-teman sebayanya menikmati jajanan kampung. Bella sendiri hanya bisa melihat sambil menelan ludah.


Begitu pindah ke rumah Bara, Bella harus menghabiskan sebagian waktu bermainnya demi bisa membantunya bekerja. Sekedar melipat pakaian atau membantu menyapu. Seiring umurnya bertambah, tugasnya pun semakin bertambah setiap pulang sekolah.


“Ibu ... kenapa?” panggil Bella, mengejutkan Ibu Rosma yang melamun sejak tadi.


“Tidak, Ibu bahagia melihat kehidupanmu sekarang. Setidaknya Ibu bisa tenang. Ada Bara yang menjagamu.”


“Ibu hanya ingin berpesan, jangan sampai berpisah. Sebisa mungkin bertahanlah, Bara lelaki baik, dia tidak akan menyakitimu.”


“Ya, Bu.” Setelah sekian kali ibunya memintanya menjaga biduk rumah tangganya, akhirnya Bella mengiyakan.


“Kalau bukan lelaki baik, tidak mungkin dia rela menjadi tulang punggung keluarga kita. Di saat kita sendiri tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Ibu ini hanya pembantunya. Status kita itu rendahan, tetapi dia mengangkat kita setinggi ini. Dia membuat kita bisa mengangkat kepala dan berani menatap dunia.


***


T b c


Love You all

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2