Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 54. Daddy


__ADS_3

Bara membuka pintu kamar, napasnya masih memburu, panik yang mendera tiba-tiba membuat jantungnya berdetak kencang. Belum titik-titik keringat yang muncul di dahinya.


Suhu di kamar memanas seketika, entah karena paniknya atau hasratnya yang tidak tertuntaskan


Pintu kamar dibuka, gadis kecil pengganggu ayah bundanya sudah berlari masuk sembari berteriak.


“Mami,” teriak Issabell, memeluk lutut Bella yang baru saja selesai menyimpan foto-foto Bara.


“Ya, Sayang. Kenapa?” tanya Bella tersenyum berusaha menetralkan jantungnya yang juga berdetak tak kalah kencang.


“Mau bobok cini,” sahut gadis kecil itu mengangkat kedua tangan ke atas, memohon Bella menggendongnya.


Bara melotot, melihat interaksi ibu dan anak yang sekarang semakin akrab. Kalau Bella mengangguk dan menyetujui permintaan Issabell, bisa dipastikan niatnya pasti tertunda. Padahal hasrat yang sudah hampir seminggu ini ditahan di dadanya baru saja akan terselesaikan.


“Ayo, bobok sama Mommy,” ajak Bella, menidurkan si putri kecil di tengah ranjang.


Menepuk-nepuk bokong Issabell sesekali mengusap lembut punggung gadis kecil itu. Bella yang juga ikut berbaring di sisi Issabell tampak memejamkan matanya turut melepas lelah.


Bara, laki-laki itu menuju ke sofa, ditemani ponsel pintarnya mengecek berbagai email yang dikirim Kevin, asistennya. Pekerjaan menantinya setelah hampir seminggu ditinggalkan.


Entah berapa lama, Bella hampir tertidur saat bisikan lembut terdengar jelas di telinganya.


“Sayang, Icca sudah tidur,” bisik Bara yang sudah ikut berbaring di samping Bella yang membelakanginya.


“Mas,” protes Bella dengan nada manja, saat suaminya itu sudah mulai mengerayanginya kembali.


Matanya masih mengantuk, tidak bisa protes secara terang-terangan apalagi berteriak. Suara nyaringnya pasti akan mengganggu tidur Issabell.


“Hmm,” gumam Bara sedang menikmati, mengusap tubuh istrinya.


“Nanti malam saja, ya. Aku janji, Mas,” pinta Bella. Memejamkan mata, ia meneruskan tidurnya yang terganggu.


“Bell, nanti saja tidurnya. Sebentar lagi kita harus ke rumah sakit menjenguk istrinya Pram,” jelas Bara, mengingatkan.


“Oh ya, aku hampir lupa, Mas.”


Bella membuka mata, segera bangkit perlahan supaya pergerakannya tidak mengganggu tidur putrinya. Tatapannya tertuju pada Issabell yang tertidur pulas. Tersenyum, sebelum mengalihakan pandangannya pada Bara yang tidur telentang, menutup wajah dengan lengannya di sisi Issabell.


“Mas, Icca ikut?” tanya Bella.


“Tidak. Nanti minta Suster menemaninya di sini. Aku khawatir membawanya ke rumah sakit,” sahut Bara membuka mata.


“Ya sudah, kalau begitu aku bersiap, Mas.”


***

__ADS_1


Bara sudah memegang setir dengan Bella duduk manis disebelahnya memangku sekeranjang buah-buahan yang baru dibelinya di fresh market.


“Mas, itu Kailla bagaimana ceritanya sampai bisa keguguran?” tanya Bella penasaran.


“Kurang tahu, Bell. Kevin tidak bercerita apa-apa,” sahut Bara, tetap fokus menatap lurus ke depan.


“Kasihan, ya. Terakhir bertemu kelihatannya baik-baik saja. Dia sempat cerita tentang kehamilannya dan niatnya untuk kuliah kembali setelah melahirkan,” cerita Bella. Ikut prihatin dengan musibah yang menimpa teman barunya.


“Bell, seandainya kamu hamil dan aku tidak mengizinkan kamu meneruskan kuliah. Apa kamu keberatan?” tanya Bara tiba-tiba.


Selama ini Bara tidak pernah membahas apapun mengenai kehidupan rumah tangga mereka. Keinginan memiliki anak secepatnya baru dibicarakan tadi siang. Itu pun setelah Bara tanpa sengaja mendapati pil KB yang tiba-tiba ada di kamar mereka.


“Tidak, Mas. Aku akan berhenti kuliah,” sahut Bella.


Ia sendiri belum berpikiran sampai sejauh itu, tetapi kalau memang Tuhan menghadirkan bayi di rahimnya, ia akan memilih berhenti kuliah dan fokus mengurusi anak dan suaminya. Apalagi pengalaman beberapa minggu ini mengurus Issabell, sudah memberinya sedikit gambaran.


Akan sulit sekali untuknya membagi waktu antara keluarga dan kuliah ke depannya. Apalagi nanti kalau ia hamil dan punya bayi. Bisa dipastikan akan bertambah kesulitannya. Kecuali ia menggunakan jasa pengasuh untuk anaknya nanti.


Membayangkan anak-anaknya yang akan dirawat oleh pengasuh, dekat dengan pengasuh, bahkan mungkin lebih memilih pengasuh dibanding dirinya membuat Bella tidak rela.


“Kamu yakin?” tanya Bara, memastikan.


Bara tidak melarang kalau Bella tetap ingin melanjutkan kuliahnya, tetapi kalau Bella memilih berhenti dan fokus mengurus anak dan dirinya, Bara akan bahagia sekali.


“Terima kasih, Bell,” ucap Bara, tersenyum melirik istrinya.


Setidaknya itu lebih baik, dibanding Bella melepas semua tanggung jawabnya sebagai Ibu kepada pengasuh. Apalagi Bara memiliki trauma dengan wanita karir seperti mantan istrinya dulu. Walaupun sebenarnya tidak ada salahnya, tetapi pengalaman buruk itu masih membekas di otaknya.


Mobil Bara sudah masuk ke dalam pelataran rumah sakit Ibu dan Anak. Setelah memastikan kendaraan roda empat itu terparkir rapi, keduanya masuk ke dalam gedung rumah sakit.


“Mas, tidak salah 'kan ruangannya?” tanya Bella memastikan lagi.


“Tidak, info dari Kevin di lantai ini,” sahut Bara, mengedarkan pandangan untuk mencari nomor yang tertera di pintu kamar perawatan.


Tak lama, kamar rawat yang dicari pun berhasil ditemukan. Mengetuk pintu kamar itu pelan, Bara dan Bella menunggu penghuni di dalamnya keluar.


Tampak Stella, sekretaris Pram muncul dari balik pintu. Bara terkejut mendapati Stella yang membuka pintu kamar perawatan untuk mereka.


“Ste, kamu di sini?” sapa Bara, sambil bertanya heran.


“Ya, Mas, tadi ada urusan dengan Pak Pram,” sahut Stella, menatap gadis cantik yang sedang menenteng keranjang buah di samping Bara.


“Oh, ini istri Mas. Kenalkan, ini Bella.” Bara mengenalkan istrinya.


“Stella, Mbak.” Stella menyodorkan tangannya ke arah Bella.

__ADS_1


“Bella,” ucap Bella menyambut uluran tangan gadis yang terlihat akrab dengan suaminya.


“Masuk Mas, Mbak ...."


Dari dalam kamar, terdengar suara Pram bertanya.


“Siapa, Ste?” tanya Pram, sedang duduk di kursi, menyuapi istrinya.


“Mas Bara, Presdir.”


“Bar, masuk!” ucap Pram, menyerahkan semangkuk sup yang dipegangnya kepada Stella.


“Ste, tolong bantu Kailla,” pinta Pram pada sekretarisnya.


Kedua laki-laki itu saling berpelukan.


“Bagaimana bisa sampai ke sini, Bar?” tanya Pram heran, menepuk pundak Bara.


“Kevin mengabariku. Yang sabar ya, Pram!” ucap Bara, ikut menepuk pundak Pram.


Pram tersenyum menatap Bella dan mempersilakan istri temannya itu masuk dan menemui Kailla.


“Kai, yang kuat, ya,” bisik Bella, menggenggam tangan Kailla.


Kailla mengangguk, air matanya kembali turun. Teringat akan peristiwa pilu yang baru dilewatinya semalam.


“Terima kasih, Bell,” ucap Kailla mengusap perutnya yang sekarang sudah tidak ada bayinya lagi.


Perut rata yang kemarin-kemarin masih diisi janin mungil, yang sering diajaknya bicara.


Stella yang berdiri di samping Bella sambil menyuapkan sup pada istri Presdirnya tampak mencuri pandang dalam diamnya. Menatap Bella dari atas sampai ke bawah.


Bara dan Pram sendiri terlihat mengobrol di sofa, sesekali menatap para istri yang juga terlibat percakapan ringan. Suasana hangat di dalam ruang perawatan itu, dikejutkan oleh kemunculan seorang gadis berusia tanggung yang tiba-tiba masuk sambil memeluk cemilan.


Gadis cantik yang rambutnya dikuncir kuda, dengan gaun bermotif floral itu terkejut saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang duduk santai di sofa. Berlari tersenyum, gadis itu memanggil sosok yang sudah lumayan lama tidak ditemuinya.


“Daddy!"


***


T B C


Love you all


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2