
Bara mengeraskan rahangnya, amarah sudah menguasi dirinya seketika. Itu terlihat jelas dari genggaman tangannya yang meremas kencang kemudi sampai terlihat jelas buku-buku jarinya yang memutih dan menonjol.
“Jangan mimpi! Kamu tidak akan bisa memisahkanku dan Bella,” ucap Bara. Ia sengaja meninggikan nada suaranya, menunjukan pada si penelepon bahwa gangguan yang sengaja dikirim padanya tidak berarti apa-apa. Tidak akan berpengaruh apa-apa.
Terdengar suara tawa dari seberang. Suara yang sangat menjengkelkan. Bisa dipastikan kalau Rissa berada di depan Bara, wanita itu akan dihancurkannya dalam sekejap mata.
“Silakan kamu tertawa, tetapi aku peringatkan, jangan pernah menggangu Bella, istriku sedang hamil. Kalau kamu masih tetap bersikeras, jangan salahkan aku kalau seluruh dunia tahu siapa Rissa Cantika!” ancam Bara, mematikan panggilan telepon dengan kasarnya.
Napasnya masih memburu, namun pikirannya sudah melayang pada istrinya. Entahlah, khawatir itu kian membuncah kala ia teringat kembali pada Bella yang sedang hamil muda.
Di saat seperti ini, sesalnya terasa menyesak, memenuhi rongga dada. Sesal akan masa lalu yang sudah diukir dengan tangannya sendiri, tanpa berpikir panjang, hanya mengedepankan ego sesaat.
“Bell, maafkan aku, Sayang,” bisiknya pelan. Di sela-sela menelungkup wajah di atas kemudi, sebelum melajukan mobilnya menuju ke kantor BW Group.
***
Siang itu, Bella baru saja pulang dari kampus. Saat melangkah turun dari mobil, Issabell sudah menyambutnya dengan pekik ceria sembari bertepuk tangan.
“Mommy puyang ... Mommy puyang!” jeritnya sembari tergelak.
Bella baru saja meletakan kedua tangannya di bawah ketiak gadis kecilnya, tetapi Issabell menolak.
“No, Mommy, kacian Dedek,” celotehnya, mengusap perut Bella. Hal yang paling sering dilihatnya ketika Daddy dan mommy-nya bersama. Ya, Bara sangat bahagia dengan kehamilan Bella, hampir di setiap kesempatan mengusap perut istrinya.
“Oh, anak pintar,” ucap Bella tersenyum, terkejut dengan pengertian yang ditunjukan Issabell. Gadis kecil itu mulai mengerti dengan hal yang paling sering diingatkan Bara padanya.
“Ayo kita masuk, Sayang. Di sini panas.”
Bella sudah menggandeng putrinya masuk, sembari berbincang ringan. Celotehan Issabell yang mengadu susunan bonekanya berantakan karena ulah sang daddy yang menumpang tidur di kamarnya semalam.
“Ca, kita ke kantor Daddy, yuk. Membawakan Daddy makan siang. Mau?” ajak Bella.
Kebosanan setiap hari hanya menghabiskan waktu di dalam rumah, tidak ke mana-mana, membuatnya memutar otak untuk mencari ide. Sekedar jalan keluar atau mencari angin. Terbersit ide untuk mengantarkan makan siang untuk sang suami.
__ADS_1
“Surprise untuk Daddy. Oke?” tanya Bella, dianggukin Issabel yaang sudah mulai mengerti setiap pembicaraan orang dewasa.
“Oke, Mommy. Kita jayan-jayan," sahutnya dengan wajah berbinar, menunjukan kedua jempolnya kepada Bella.
Dibandingkan dirinya, Issabell lebih parah lagi. Gadis kecil itu hanya menghabiskan waktu di rumah seharian, tidak pernah melangkah keluar dari istana Barata Wirayudha. Mau akhir pekan atau hari kerja tetap sama, tidak ada bedanya.
Bara terlalu lelah dengan pekerjaannya setiap hari, sehingga sudah tidak mau keluar lagi di setiap weekend atau hari libur.
Issabell hanya bisa memanfaatkan kesempatan di saat pengasuhnya belanja ke mini market dekat rumah. Itulah peluang untuk gadis kecil itu berjalan-jalan keluar rumah, sekedar melihat Kinder Joy atau permen lolipop di dekat meja kasir.
Itu pun tanpa sepengetahuan Bara. Karena Bara tidak mengizinkan putrinya berkeliaran di luar rumah tanpa pengawasan. Kecuali, Bella ikut bersamanya, Bara bisa sedikit tenang.
“Baiklah, Mommy mau siapkan bekal makan siang untuk Daddy, Icca dan Mommy. Kita makan siang di kantor Daddy.”
“Yeah!” pekik kegembiraan Issabell, sembari meloncat di atas kasur. Membuat barisan boneka Hello Kitty kocar-kacir. Beberapa malah terjatuh ke lantai berkapet bulu.
***
Bara masih berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja, mencoret dengan pena mahalnya. Mengoreksi data-data dari bawahannya supaya diperbaiki kembali. Beberapa ada yang langsung bisa ditandatangani, tetapi sebagian ada yang harus dibuat ulang karena tidak sesuai dengan keinginan Bara.
Ia sedang merenggangkan kedua tangannya saat pendengarannya samar menangkap pertengkaran di luar ruangannya. Entah keributan karena apa, tetapi ia sudah tidak ambil peduli lagi. Terlalu lelah hanya mengurusi hal receh dan tidak penting. Ada Kevin yang akan membantunya.
Suara keributan itu terdengar semakin kencang, berujung dengan pintu ruangannya dibuka paksa.
Brak!
Pintunya terbuka kasar, tanpa diketuk terlebih dulu. Bara terkejut saat pandangannya beradu dengan sang tamu.
“Maaf, Pak. Ibu ini memaksa masuk ke dalam. Aku sudah memintanya menunggu. Tapi, ibu ini bersikeras,” adu Dona, sang sekretaris yang ketakutan. Ia gagal menjalani salah satu tugas seorang sekretaris.
“Sudah, kamu boleh keluar sekarang,” perintah Bara, mengibaskan tangannya. Memberi kode pada sekretarisnya.
“Don, tolong minta karyawan pantry bawakan minuman untuk tamuku,” pinta Bara berusaha bersikap tenang, meskipun dalam hatinya sudah kacau berantakan.
__ADS_1
“Tidak perlu beramah-tamah, Han! Aku ke sini untuk mengembalikan uangmu!” ucap tamu yang tidak lain adalah Brenda. Terlihat ia mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran besar, isinya penuh sesak.
Pertama kalinya setelah perceraian mereka, ia menginjakan kakinya di gedung BW Group. Ada rasa canggung dan tentunya malu. Apalagi beberapa karyawan masih mengenalinya sebagai mantan istri Bara.
“Duduk, Love! Bisa dibicarakan baik-baik,” ucap Bara dengan santai.
“Tidak perlu menjaga sopan santun denganku, kita sudah terbiasa bicara dengan urat di leher menonjol!”sindir Brenda.
Wanita itu membuang pandangannya ke jendela besar di sisi kiri ruangan Bara. Terlalu muak setiap melihat Bara. Kalau tidak terpaksa, ia tidak akan mau menemui mantan suaminya ini.
Bara menghela napas, berusaha bersikap tenang. Sikap yang jarang sekali dulu ditunjukannya di depan Brenda. Kalau dulu, ia akan bersikap sama dengan mantan istrinya sekarang. Meninggikan suaranya, bahkan mengancam.
“Duduk saja, kita bisa bicarakan,”
“Tidak perlu, aku permisi!” ucap Brenda ketus, sudah berbalik berjalan menuju pintu.
“Love, itu untuk biaya pengobatanmu,” ucap Bara, menghentikan langkah Brenda seketika.
Mata Brenda melotot, bahkan ia tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Yang ia tahu, orang tuanya mengatakan ini uang dari Bara untuk Rania.
“Br*ngsek! Untuk Rania pun aku tidak mau menerimanya, apalagi untukku.” Brenda menggelengkan kepala, masih dengan sikap angkuh.
“Aku tidak butuh uangmu, Han! Jangan pernah mengganggu keluargaku lagi,” lanjut Brenda.
“Aku juga tidak mau mengganggu keluargamu. Aku sudah punya kehidupan sendiri. Tapi papa datang dan menangis di hadapanku.”
“Anggap tidak mengenalku lagi, Han. Kalau aku meninggal sekalipun, jangan pernah datang di depan jenazahku," ucap Brenda.
***
T b c
Love You All
__ADS_1
Terima kasih.