
Bara masuk kembali ke dalam ruang perawatan dengan langkah gontai, menghampiri Bella.
"Bell ...." panggil Bara, bingung.
Bella heran, wajah kebingungan itu tercetak jelas. Ada banyak tanya di pikiran Bella. Sejak suaminya melangkah masuk ke dalam, Bella sudah bisa membaca semuanya.
Kebersamaan mereka, membuat Bella memerhatikan setiap detail dari sikap dan tindak tanduk Bara. Walau Bella tidak pernah menunjukkan perhatian secara nyata, jauh di lubuk hati ia sudah menerima kehadiran Bara di dalam hidupnya.
"Mas, ada apa?" tanya Bella. Tidak sabar menunggu Bara yang betah menutup mulut setelah panggilan singkat tadi, akhirnya Bella yang bertanya duluan.
"Mas, kenapa?" Bella mengulang kembali pertanyaan yang sama.
"Bell, tadi Stella menghubungiku ...."
Kalimat menggantung, si empunya saja bingung harus melanjutkan atau menghentikannya sampai di sini saja.
"Ya, Stella kenapa?" tanya Bella tidak sabaran
"Dia ... dia memintaku menemui Rania." Ucapan terpotong itu pun selesai sudah.
Bella tidak terkejut, begitu nama Stella keluar dari bibir suaminya, ia sudah tahu kelanjutannya.
"Dan ... Mas mau menemuinya?" tanya Bella memastikan. Tangannya sedang menekan tombol, supaya ranjang itu meninggi dan ia bisa duduk lebih sempurna. Dengan posisi duduk seperti ini, Bella bisa menatap jelas wajah suaminya.
Bara menggeleng.
Namun, Bella bukanlah istri bodoh. Ia paham betul niat dan keinginan Bara saat ini. Bahkan isi pikiran Bara sudah terbaca.
"Serius? Mas tidak mau ke sana?" tanya Bella, menegaskan.
"Kalau kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan menemui Rania," sahut Bara.
"Aku tidak mengizinkanmu, Mas."
Bella menggigit bibir, menahan suara bergetarnya yang hampir keluar. Entah kenapa ia tiba-tiba jadi begini sensitif dan perasa. Apakah karena hormon kehamilannya atau ada faktor lain yang membuatnya merasa sakit saat Bara mendekati masa lalunya kembali.
Ia bisa tersenyum dengan kejujuran yang ditunjukan Bara padanya, tetapi ada sedikit luka saat melihat wajah kecewa yang berusaha ditutupi suaminya.
Bella mengalihkan pandangannya, menatap putrinya yang hampir tertidur pulas di dalam dekapan pengasuhnya.
"Mas, apa sebaiknya Icca pulang saja," usul Bella, mengganti topik pembicaraan. Berusaha menyembuhkan luka kecil yang baru ditorehkan suaminya tanpa sengaja.
Bara yang sedang duduk di dekat Bella, berbalik menatap Issabell. Segera bangkit, ia menghampiri putrinya.
"Mbak, gendong Icca ke mobil saja, nanti aku menyusul," perintah Bara.
Bella yang sempat mendengar, kembali tercubit hatinya. Entah ia yang terlalu memakai perasaan atau memang sebenarnya hati dan pikiran Bara tidak bersamanya. Seperti merasa terabaikan, itulah perasaan Bella saat ini
__ADS_1
"Mas, mau ke mana?" tanya Bella, dengan suara tertahan.
"Aku akan mengantar mereka pulang," sahut Bara, berjalan mendekat. Tangan kekarnya mengusap perut Bella.
"Aku tinggal sebentar, tidak masalah, kan?" Bara balik bertanya.
Bella menggeleng dengan terpaksa. Kalau ditanya masalah atau tidak, ia memang tidak masalah. Namun, entah kenapa hatinya tidak rela dan mulai berpikiran buruk.
"Mas, ada Pak Rudi yang mengantar mereka, kan?" tanya Bella lagi.
"Ya, aku hanya mau pulang, mandi dan menyiapkan pakaian ganti untukmu." Bara menjelaskan.
“Nanti malam, aku tidur di sini untuk menemanimu,” lanjut Bara tersenyum.
Bella menurut, tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku pamit, Bell. Nanti, kalau butuh apa-apa, tinggal panggil Suster saja, ya," ucap Bara, mengecup kening istrinya.
"Aku cuma pulang sebentar," lanjut Bara.
Bella hanya menyunggingkan senyum terpaksanya. Tak lama, suasana kamar perawatan itu pun menjadi hening. Tertinggal Bella sendiri, yang menangis dalam hati.
"Tega kamu, Mas. Bukannya aku tidak tahu, kamu ingin menemui Rania. Padahal, aku dan anakmu membutuhkanmu di sini," ucap Bella pelan.
****
Bara sudah berpakaian rapi, keluar dari rumahnya menenteng sebuah tas berisi pakaian dan perlengkapan milik Bella. Lambaian tangan Issabell dan celotehan kecil putrinya mengantar kepergiannya dari teras rumah.
Setengah jam perjalanan, akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah dua lantai yang tidak asing baginya. Sepuluh tahun yang lalu, ia pernah tinggal di sana.
Ragu, memilih turun atau tetap menunggu di mobil. Ia hanya sekedar memastikan kalau kondisi di dalam rumah baik-baik saja. Tidak seperti yang diceritakan Stella padanya.
Lima belas menit menunggu di dalam mobil, Bara tidak melihat ada hal aneh. Setelah mempertimbangkan, ia memilih melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tidak mau membuat Bella menunggunya terlalu lama. Dengan berbelok ke rumah Brenda saja, sebenarnya ia sudah bersalah dengan istrinya, tetapi hatinya tidak tenang kalau tidak melihat langsung.
Baru saja ia menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil.
Deg---
Brenda?
Perasaannya campur aduk, antara khawatir, ragu dan ada banyak rasa lain yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Tok ... tok ... tok.
Brenda kembali mengetuk kaca mobilnya. Bara mengalah, menurunkan kaca tanpa berniat turun.
"Apa maumu, Han?" tanya Brenda ketus, tidak mau menatap.
__ADS_1
Bara tersenyum, setelah sepuluh tahun terlewati, setelah banyak perang dan pertengkaran. Brenda masih memanggilnya dengan panggilan sayang semasa SMA.
"Maaf, aku pergi sekarang," ucap Bara.
"Jangan menemui Rania lagi. Aku harap tidak bertemu denganmu. Next time, saat bertemu ... aku mohon bersikaplah seperti saling tidak mengenal!" pinta Brenda, lagi-lagi membuang pandangannya.
"Maaf, aku hanya tidak enak karena tadi Stella menghubungiku," jelas Bara.
"Baiklah, aku anggap pembicaraan kita selesai! Jangan muncul di depan rumahku lagi. Walaupun ini tadinya rumahmu, tetapi setelah perceraian kita ini milikku. Aku berhak mengusirmu" ucap Brenda.
Baru saja Brenda hendak berbalik, tetapi dari arah belakang muncul Rania yang berlari saat mengenali mobil Bara.
"DADDY," jerit Rania sambil menangis.
Gadis itu turun dari mobil yang terparkir di belakang mobil Bara.
"RANIA, MASUK!" perintah Brenda, menyeret kasar putrinya masuk kembali ke dalam mobil.
"Tidak! Rania mau bertemu Daddy, Mom!?" tolak Rania.
Karena Rania berontak, Brenda memukul lengan anaknya dengan kencang berkali-kali, semakin membuat Rania menjerit.
"CUKUP, LOVE! Biarkan aku memeluknya sebentar, setelah itu aku berjanji akan pergi." Bara turun, setelah tidak tega mendengar jerit dan tangis Rania.
Brenda mengalah, membiarkan Rania memeluk Bara sebentar. Ia memilih kembali ke mobil, menunggu di sana jauh lebih baik dari pada menatap wajah mantan suaminya.
"Rania kenapa?" tanya Bara setelah mengurai dekapannya.
"Aku mau tinggal dengan Daddy saja. Tidak mau tinggal dengan Mommy," ucap Rania.
"Tidak bisa, Ran."
"Mommy jahat, suka pukul Rania," adunya.
"Jangan membantah Mommy. Mommy sangat menyayangi Rania.” Bara berusaha menenangkan.
Nyaringnya bunyi klakson yang berasal dari mobil Brenda, menandakan kemarahan wanita itu.
"Rania kembali ke mobil, nanti dipukul Mommy," perintah Bara.
"Tidak mau," rengek Rania.
"Rania, dengar Daddy. Setelah ini Daddy tidak bisa bertemu Rania lagi. Ini terakhir kalinya, ya. Maafkan Daddy, Rania harus menuruti semua ucapan Mommy," ucap Bara, menepuk pucuk kepala Rania.
Rania tetap menolak sambil menangis. Sampai Bara masuk ke dalam mobil pun, gadis itu masih membeku, menangis di tempatnya berdiri.
***
__ADS_1
T B C
Terima kasih