Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 152 : Sebagian yang terungkap


__ADS_3

Brenda memanggil putrinya yang duduk di sofa, sedang sibuk dengan ponsel di tangan. Wanita itu masih tidak percaya dengan penolakan halus Bella. Dia tidak menyangka perempuan selemah lembut Bella, dengan kebaikan hatinya, akan menolak permintaannya.


“Maafkan aku Mbak Brenda, aku tidak bisa. Aku takut tidak sanggup menjaga amanah yang sudah Mbak berikan padaku.” Kalimat penolakan Bella yang masih terngiang-ngiang di telinga Brenda.


Selama ini, Brenda sudah mencari tahu bagaimana Bella, barulah dia berani menitipkan putrinya pada wanita itu. Bahkan beberapa waktu lalu, dia sengaja menitipkan Rania di bawah pengasuhan ibu muda itu untuk mencari tahu bagaimana sikap Bella terhadap putrinya.


Setidaknya dia harus yakin, kalau Bella bisa mendidik putrinya dengan baik dan menyayangi Rania, barulah dia merelakan putrinya diasuh Bara dan Bella. Dan terbukti, Bella menjaga putrinya dengan baik, mengantar dan menyiapkan Rania ke sekolah. Mengurus putrinya dengan baik.


“Ran, kesini Sayang,” pinta Brenda, kembali meringis kesakitan saat tubuhnya tanpa sengaja bergerak.


Gadis itu menurut, menarik kursi dan duduk disamping mommynya.


“Rania, mulai sekarang harus sayang dengan mommy Bella.” Brenda mengucapkannya dengan berurai air mata. Meski dia kecewa dengan penolakan Bella, tetapi masih berharap istri dari mantan suaminya itu mau menerima Rania suatu hari nanti.


“Ya, Mi,” sahut Rania pelan.


“Tidak boleh nakal, harus menurut semua perkataan mommy Bella. Harus sayang adek-adek,” pesan Brenda.


“Kalau ... kalau mommy melakukan pengobatan, membutuhkan waktu lama, mommy akan menitipkanmu pada daddy dan mommy Bella, Rania harus jadi anak yang penurut,” ucap Rania terbata, tidak sanggup berterus terang pada putrinya kalau dia mungkin saja akan meninggal. Dokter sudah memberi vonis, tidak ada harapan hidup untuknya.


“Ya, Mi.”


“Sebentar lagi Rania akan punya adek lagi. Selain Adek Icca, yang di dalam perut mommy Bella itu adek Rania juga. Kalau Rania tinggal di sana, harus bantu jaga adek,” Brenda kembali berpesan.


“Ya Mi. Memang ... mommy mau meninggal?” tanya Rania dengan polosnya. Airmata gadis itu berurai turun.


“Rania mau sama mommy saja. Tidak mau sama daddy, tidak mau sama mommy Bella. Rania janji tidak nakal.” Gadis kecil itu menghambur memeluk mommynya.


“Iya Sayang. Itu hanya kalau mommy harus melakukan pengobatan yang lama, tidak bisa mengurus Rania. Jadi sementara, Rania tinggal dengan daddy.” Brenda berbohong.


“Tidak, Brenda! Rania akan tinggal dengan kam. Sejak awal, mama dan papa sudah tidak setuju dengan keputusanmu,” tegas Mama Brenda, tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu. Bukan sekarang saja, mereka sudah tidak setuju dari awal. Selama ini kedua orang tua itu menurut hanya karena tidak mau membantah Brenda yang sedang sakit dan nembuat putrinya khawatir.


“Ma ....”


“Sejak awal, mama tidak setuju, Brenda. Sejak kamu meminta mama membawa Rania ke rumah Bara, mama sudah tidak setuju, Sayang.”


“Mama dan papa masih sanggup mengurus cucu mama. Hanya saja, mama tidak bisa membantah keputusanmu dan keinginan Rania yang ingin menginap di tempat daddynya. Ingin merasakan memiliki daddy seperti teman-temannya.” Tangis mama Brenda pecah.

__ADS_1


Stella yang mengekor di belakang hanya bisa diam. Sedangkan Pak Sutomo, papa Brenda melangkah masuk, memilih duduk di sofa.


“Ste, tolong bawa Rania keluar sebentar, aku harus bicara dengan mama dan papa,” pinta Brenda. Lagi-lagi meringis menahan sakit.


“Ma, ini terbaik untuk Rania. Bersama Bara, anak itu akan aman,” jelas Brenda setelah kepergian Rania dan Stella.


“Mama dan papa masih bisa menjaganya. Masih ada adikmu, Stella,” tegas Pak Sutomo.


“Rania lebih aman dan nyaman kalau bersama Bara. Di sana dia akan memiliki keluarga yang utuh. Bara dan Bella itu baik, mereka pasti akan mendidik putriku dengan baik.”


“Apalagi keberadaan ayah kandung Rania itu tidak jelas dimana. Aku mengkhawatirkan Rania, Ma. Bagaimana anak itu nanti. Bersama Bara anak itu akan aman,” tegas Brenda.


“Brenda, Bara itu bukan ayah kandung Rania. Belum tentu dia bisa menyayangi Rania dengan tulus,” sahut Mama Brenda.


“Aku tahu Ma, aku kenal Bara dengan baik. Bahkan Rania juga tahu, kalau Bara bukan ayah kandungnya, tetapi sikap Bara selama ini menunjukan kalau lelaki itu tulus menyayangi Rania. Sampai-sampai Rania tetap menyayanginya meskipun anak itu tahu kebenarannya.”


“Sudah, sebaiknya kita akhiri perdebatan ini. Kamu fokus dengan pengobatanmu. Jangan berpikir terlalu jauh.” Akhirnya Pak Sutomo membuka suara.


Perasan orang tua itu campur aduk, kebingungan. Terkadang dia menginginkan Bara kembali, tetapi terkadang saat otak warasnya muncul, segera dia menyesali semua ucapannya. Beban hidup membuat laki-laki itu tidak bisa berpikiran jernih.


Ditambah melihat kondisi Brenda seperti ini, hatinya pun ikut teriris-iris. Sebagai seorang ayah, kalau bisa dia ingin menggantikan posisi Brenda. Menerima semua sakit, menukar kesempatan hidupnya dengan Brenda. Dia sudah tua, sudah pantas kalau harus dipanggil Tuhan. Berbeda dengan Brenda, yang masih muda, masih panjang jalan hidupnya, bahkan Rania masih membutuhkan sosok Brenda.


***


“Bell, kamu kenapa, Sayang?” tanya Bara, mengenggam tangan Bella di sela aktivitas menyetirnya.


“Mas, aku bingung?” sahut Bella, matanya berkaca-kaca. Teringat ekspresi memohon Brenda yang begitu menyayat hati.


“Bingung kenapa, Bell? Apa yang dikatakan Brenda padamu?” tanya Bara, menatap istrinya sekilas.


“Mbak Brenda ... memintaku ... merawat Rania kalau dia meninggal,” ucap Bella terbata. Ada haru menyapa saat mengulang permintaan Brenda.


Deg—


Bara menginjak pedal rem tiba-tiba. Terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontarkan istrinya. Dia tidak menyangka Brenda berani meminta langsung pada istrinya.


“Apa maksudnya semua ini Bell? Apa maunya Brenda?” ucap Bara, terdengar emosi. Lelaki itu meremas setir mobil menahan kesalnya.

__ADS_1


Di saat masalahnya dengan Bella belum sepenuhnya selesai, kembali mantan istrinya itu memberinya masalah baru.


“Bell, aku tidak tahu menahu masalah ini. Aku tidak terlibat apa pun,” tegas Bara. Tampak lelaki itu menepikan mobilnya di pinggir jalan sepi.


“Bell, kita bicara di sana.” Bara menunjuk sebuah taman kecil di tidak jauh dari mobilnya terparkir.


Bella mengangguk dan menurut. Dia juga merasa perlu membahasnya dengan Bara. Ada rasa tidak enak yang sejak tadi mengisi hatinya saat menolak permintaan Brenda.


“Mas, aku menolak Mbak Brenda, tetapi aku merasa bersalah dan tidak tega. Tatapannya itu begitu memelas dan memohon. Apa keputusanku salah, Mas?” tanya Bella, meneteskan air matanya.


Suami istri itu duduk di kursi taman, menatap lalu lalang kendaraan yang melintas di depan mereka. Tidak terlalu banyak pengunjung saat itu, mereka bisa berbicara dengan tenang.


“Tidak apa-apa. Apa pun keputusanmu, aku menyetujuinya,” sahut Bara, merengkuh tubuh Bella dan membiarkan istrinya bersandar di pundaknya.


“Aku ... aku takut salah membuat keputusan, Mas.” Bella meremas jemarinya.


“Mbak Brenda bercerita banyak padaku. Bahkan selama ini aku banyak berburuk sangka padanya, Mas. Aku mengira Mas bermain dengan Mbak Brenda di belakangku. Setiap kali Mas ketahuan membohongiku, aku akan merangkainya dengan kisah Mbak Brenda, tanpa bertanya padamu, Mas.”


“Mas, masih ingat saat aku menemukan tiket dan faktur pembayaran hotel di Puncak atau Bogor minggu yang lalu.”


“Hmmm,” gumam Bara, menyimak.


“Jujur, hati kecilku sempat mengira Mas sedang bersama Mbak Brenda dan Rania. Apalagi saat melihat Mas bersama Rania di rumah sakit. Dan Mas membohongiku kalau Mas ke Bogor lagi.”


“Maafkan aku, Bell. Bukankah sudah aku jelaskan kalau tiket dan pembayaran hotel itu milik klien perusahaan yang villanya sedang aku bangun.”


“Ya Mas, aku salah sudah berburuk sangka padamu.”


“Masalah berbohong, aku memang bersalah padamu. Aku merasa perlu memastikan dulu, berita yang disampaikan Rania. Setelah yakin, aku berencana bercerita padamu, tetapi kamu sudah terbang ke Surabaya.”


Lagi-lagi Bella tertunduk. “Aku merasa bersalah, di saat Mbak Brenda bertarung nyawa dengan penyakitnya, sebaliknya aku malah berburuk sangka padanya. Maafkan aku, Mas. Sudah meragukanmu,” ucap Bella.


“Mbak Brenda juga bercerita tentang Rissa yang pernah datang menemuinya.”


“Rissa??” Bara terkejut kali ini.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2