Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 60. Rumah Sakit


__ADS_3

Bella baru saja selesai merapikan kembali peralatan make up-nya yang dihancurkan Bara. Sebagian masih bisa digunakan kembali, sebagian lagi sudah hancur berantakan bersama bedak tabur yang mengotori lantai.


Tidak jauh dari tempat Bella berjongkok, tampak kepingan ponselnya, yang tercerai-berai dengan layar ponsel yang hancur. Melihat itu, tangis Bella semakin kencang.


"Hiks ... hiks ...hiks.


"Sudahlah, Bell. Maafkan aku," ucap Bara, setelah lelah mendengar tangisan Bella yang tidak berujung.


"Aku yang akan mengurusi Ricko. Kamu tidak perlu mengurusinya," lanjut Bara, tetap menutup matanya.


"Bell, apakah di hatimu ada aku?" tanya Bara lagi. Sejak tadi istrinya tidak merespon atau menjawab, hanya terdengar suara tangisan saja yang sekarang sudah senyap dengan sendirinya.


Hening--


Tidak ada jawaban, bahkan suara dan pergerakan istrinya pun tidak ada. Beberapa menit menunggu, akhirnya Bara membuka mata.


Mulai was-was terjadi sesuatu, pikirannya teringat dengan Bella yang sedang tidak enak badan sejak pagi tadi. Wajah pucat Bella, melintas di pelupuk matanya.


Mengingat itu, ada rasa sesal di hati Bara. Seharusnya, ia tidak marah-marah terlalu berlebihan pada istrinya. Apalagi, selama ini Bella adalah istri terbaiknya. Sangat jauh berbeda dengan sang mantan.


Deg--


Denyut jantung Bara berdetak kencang, saat melihat Bella yang sedang berbaring di lantai. Melompat turun, Bara bergegas menghampiri.


"Bell, apa yang terjadi?" tanya Bara, mengguncang kecil tubuh istrinya.


Tidak ada jawaban, mata Bella tetap terpejam rapat. Bahkan tubuh Bella pun melemas, tidak bertenaga.


"Sayang, jangan menakutiku. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Bara, menggendong tubuh mungil istrinya.


"Dad, Mami?" tanya Issabell menunjuk ke arah Bella yang melemas di pelukan sang suami. Issabell sedang bermain di ruang keluarga, saat Bara melewatinya sambil menggendong Bella.


Bara tidak menjawab. Dengan setengah berlari, meneriaki nama sopir mereka untuk menyiapkan mobil.


"Pak, ke rumah sakit terdekat saja!" perintah Bara, saat sudah duduk tenang di dalam mobil.


Tenang yang hanya tercetak di wajahnya, tetapi hatinya sedang berlari kencang menyimpan ketakutan. Bara menatap wajah pucat Bella, sembari merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.


Khawatir itu berubah menjadi panik, saat Bella belum juga sadar ketika mereka tiba di rumah sakit.


"Sayang, cepat bangun," bisik Bara, menggenggam tangan dingin istrinya.


Tampak perawat mengambil alih tubuh lunglai Bella, meletakan di atas brankar dan mendorongnya menuju ruang IGD.


Tak lama, seorang dokter pun masuk memeriksa. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan pada umumnya, sang dokter hanya mengatakan istrinya kelelahan, kondisi sedang tidak fit saja untuk dugaan sementara.


Untuk hasil lebih akuratnya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan tentu saja Bara diminta menunggu kembali.


***

__ADS_1


Kelopak mata Bella membuka. Entah ia tertidur sudah berapa lama. Namun, saat terbangun, ia heran sendiri. Berusaha beradaptasi dengan ruangan asing, yang diketahui pasti bukan kamarnya saat ini.


Ada selang infus yang menancap di punggung tangan kanannya. Kamar bercat putih dengan tirai menjuntai di sisi kirinya cukup membuat Bella mengerti saat ini ia sedang berada di kamar perawatan rumah sakit.


"Mas, apa yang terjadi?" tanya Bella pelan sekali, menatap sang suami.


Bara yang sedang membaca koran di sofa, seketika menghempaskan lembaran kertas itu ke atas meja. Bara enghampiri Bella dengan tersenyum. Ekspresi yang jauh berbeda dengan sebelumnya, saat mereka bertengkar di dalam kamar.


"Kamu haus? Kamu lapar?" tanya Bara, menarik kursi. Duduk di samping tempat tidur, Bara meraih segelas air putih dan membantu Bella menghabiskannya.


"Sudah, Mas," ucap Bella, menjauhkan gelas dari bibirnya


"Kamu lapar? Mau aku pesankan makanan? Kamu mau makan apa?" tawar Bara, membantu Bella meninggikan posisi ranjang sehingga istrinya bisa duduk dengan nyaman.


Bella menggeleng.


"Apa yang terjadi, Mas? Kenapa tiba-tiba aku sudah ada di sini?" tanya Bella.


"Kamu pingsan di kamar dan aku membawamu ke rumah sakit," lanjut Bara santai, kembali meraih nampan makanan yang sudah disiapkan pihak rumah sakit.


"Aku akan menyuapimu."


Bella menggeleng.


"Aku tidak lapar, Mas. Aku mau pulang saja." Bella berkata.


"Setelah dokter mengizinkan, baru kita pulang. Sekarang makan sedikit saja, kasihan bayi kita. Kamu pucat sekali, Bell," sahut Bara tersenyum, mengusap lembut perut istrinya.


"Ini beneran?" tanya Bella memastikan. Ia ikut mengusap perutnya, tempat calon bayinya berada.


"Ya, terima kasih, Bell," ucap Bara pelan.


Bara melepaskan nampan, segera memeluk erat istrinya.


"Aku benar-benar hamil, Mas?" tanya Bella, mulai terisak. Ia memeluk erat dan bersandar di bahu Bara.


"Ya, maafkan aku sudah memarahimu tadi di rumah. Ayo, habiskan makananmu," sahut Bara, melepaskan pelukannya.


Tampak ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Foto hitam putih tidak jelas bentuknya, tetapi dokter kandungan mengatakan itu adalah bayi mereka.


"Ini bayi kita, kamu boleh menyimpannya," ucap Bara.


"Mas ...."


Bella kembali menitikan air mata, menatap foto usg itu tak berkedip. Ada banyak rasa mengumpul di dadanya.


"Jangan menangis lagi, kasihan dedek bayinya," ucap Bara, menghapus air yag kembali turun membasahi wajah istrinya.


"Bayi kita baru berusia lima minggu. Masih kecil sekali, masih membutuhkan perjalanan panjang," jelas Bara.

__ADS_1


"Mas, aku bahagia," ucap Bella, kembali merengkuh tubuh kekar suaminya.


"Aku juga. Terima kasih. Kamu sudah memberiku kesempatan menjadi seorang Daddy yang sebenarnya. Ini pengalaman pertamaku."


Suara pintu terbuka mengejukan keduanya. Bella segera melepaskan pelukannya, saat melihat gadis kecilnya berlari masuk ditemani pengasuh yang mengekor di belakangnya.


"Icca," panggil Bella.


"Mami cakit, ya? Ke doktel," celoteh Isaabell yang sudah naik k3 gendongan Bara.


"Ya, Mommy sedang sakit, makanya Icca tidak boleh nakal. Kasihan Mommy," sahut Bara.


"Sini, duduk sama Mommy," pinta Bella, bergeser. Ia membagi tempat untuk putri kecilnya duduk.


"Icca sudah makan?" tanya Bella, melirik jam di dinding. Saat ini sudah hampir jam makan siang.


Issabell menggeleng.


"Mas, apa sebaiknya pesankan makan siang untukmu dan Icca," ucap Bella.


"Aku makan di bawah saja. Tadi sempat melihat sekilas, ada restoran di lobi rumah sakit."


Setelah berpamitan dengan Bella, Bara dan putrinya memutuskan turun ke lantai bawah. Meninggalkan pengasuh Issabell yang diminta menjaga Bella di ruang perawatan.


"Bell, kamu benar-benar tidak mau?" tawar Bara.


"Tidak, Mas.Aku makan yang ini saja," sahut Bella, menunjuk ke arah nampan makanan yang disediakan rumah sakit.


"Oke, aku pamit," ucap Bara, diikuti lambaian tangan mungil putrinya yang tersenyum.


***


Bara menggandeng Issabell, yang menolak berada di gendongannya. Gadis kecil itu lebih suka berjalan sendiri. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, mengedarkan pandangan.


"Daddy, cepatu," tunjuk Issabell ke arah kakinya, mengayunkan tangan Bara. Meminta sang Daddy merapikan kembali sepatu kirinya yang hampir terlepas dari kakinya.


Dengan berjongkok, Bara merapikan kembali sepatu kecil yang terbuka perekatnya.


"Sudah!" ucap Bara tersenyum, kembali menggandeng Issabell.


Baru saja ayah dan anak itu hendak masuk ke sebuah restoran, tetapi seseorang menghentikan langkah Bara.


Ada yang membentur tubuhnya dari belakang. Diikuti lilitan tangan di pinggangnya.


Berbalik, dan Bara terkejut melihat sosok yang hampir sepuluh tahun ini tidak pernah ditemuinya.


***


T B C

__ADS_1


Love you all


Terima kasih


__ADS_2