Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 36. Gangguan Di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi itu, matahari masih bersembunyi di pekatnya kegelapan, belum berani menampakkan diri. Bella yang baru saja terjaga, memilih bangun dan duduk sambil menatap sekilas jam yang terpasang di dinding. Waktu baru menunjukkan pukul 05.00 pagi.


Pandangan Bella tertuju pada laki-laki yang sedang bergelung di balik selimut, laki-laki yang menyandang status sebagai suaminya. Laki-laki tampan, dewa penolong keluarganya di saat terpuruk.


Senyum tersungging di bibir Bella, wajah polos tertidur itu terasa jauh berbeda dibanding saat sedang terjaga. Telunjuk Bella dengan lancang mengukir di lekuk hidung mancung Bara. Entah keberanian dari mana, ia sendiri tidak bisa menjawab.


Sentuhan ujung telunjuk itu membuat kedua mata Bara mengerjap, terganggu dengan usapan lembut yang menganggu tidur lelapnya. Saat mata itu terbuka tiba-tiba, Bella terkejut dan menyadari kesalahan sekaligus kelancangannya.


“Ma-maaf," ucap Bella tergagap. Buru-buru menyembunyikan telunjuknya di dalam gengaman. Menunduk, ia tidak berani beradu tatap dengan mata biru milik Bara.


Bara tersenyum, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia sendiri hampir tidak yakin. Rasanya di batas antara nyata dan mimpi, bisa melihat sisi lain dari seorang Bella Cantika.


“Hmm,” gumam Bara, tergelak kecil menatap Bella.


Bara tidak berkata-kata, hanya menatap. Membuat Bella menjadi salah tingkah sendiri, memilih membuang pandangan pada bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung indah di dinding.


“Bell, aku ... boleh ... emm ....” Kata-kata itu tidak terselesaikan, Bara memilih menatap untuk mencari tahu isi hati terdalam istrinya. Namun, sungguh disayang, istrinya masih membuang pandangan. Tidak berani menatapnya.


“Bell ...."



Bella baru saja akan mengalihkan pandangannya pada Bara, tetapi suaminya tiba-tiba bangkit dari tidur, mencuri ciuman di pipinya.


Cup!


Bella hanya bisa pasrah, tidak berani menolak. Membeku sesaat, sampai Bara melepas ciumannya.


Lega.


Itu yang Bella rasakan, saat napas Bara sedikit menjauh, tidak menerpa wajahnya sekencang tadi. Namun, semua tidak berlangsung lama. Tiba-tiba dan tanpa diduga, Bara kembali mencium.


Namun, bukan di pipi, bukan juga di pelipis, apa lagi di dahi. Ciuman Bara berakhir di bibir mungil menggoda Bella. Bertahan beberapa detik di sana, sambil menunggu respon si pemiliknya.


Hati Bara sudah bersorak sorai saat ini. Bella hanya diam, tidak menikmati, tetapi gadis itu juga tidak menolaknya. Hanya diam dan pasrah. Menerima semua tanpa banyak bicara seperti biasanya.


“Boleh?” tanya Bara pelan, setelah memberi jarak antara bibirnya dan bibir Bella.


Tidak ada jawaban. Bara bisa melihat Bella sedang gugup, kedua tangan istrinya saling meremas di pangkuannya.


Diamnya Bella dianggap persetujuan oleh Bara. Tanpa menunggu lama, ia kembali mengecup bibir mungil itu, mengunci tubuh Bella dengan kedua tangannya.


Kecupan lembut berganti l'umatan, tetapi Bella tidak meresponnya sama sekali. Hanya diam, dan mengunci rapat bibirnya. Bara bisa merasakan tubuh istrinya bergetar. Entah ketakutan atau gugup, Bara yakin degup jantung istrinya pun tak kalah cepat dengan detak jantung miliknya.


“Bell," panggil Bara lembut, menghentikan ciumannya dan menunggu jawaban.

__ADS_1


“Ya," sahut Bella pelan. Pada akhirnya ia membuka suara.


“Tatap aku sekarang,” pinta Bara berbisik, menuntut dan penuh harap.


Dengan ragu-ragu, Bella menaikkan pandangannya, menatap ke arah bola mata Bara. Bola mata biru keabuan.


“Kita sudah menikah, kan?” tanya Bara, melunakan hati Bella. Ia dan Bella sudah tahu pasti jawabannya.


Bella mengangguk, sebenarnya ia juga sudah paham maksud dan tujuan Bara, tetapi hatinya masih belum mau menerima. Rasanya terlalu cepat. Baru beberapa hari, apakah ia harus secepat itu menyerah pada laki-laki yang belum dikenalnya jelas.


“Kalau merasa menikah denganku, tolong membalas ciumanku,” pinta Bara dengan manjanya.


“Aduh! Bagaimana ini?” batin Bella.


“Mas ...."


Bella ragu-ragu untuk menolak, tetapi ia juga belum siap untuk menerima. Kedua tangannya sudah meremas ujung piyama.


“Maaf," ucap Bella pelan.


“Apa bisa ditunda dulu?” tanya Bella ragu-ragu, menggigit bibir bawahnya.


“Kalau aku bilang tidak, kamu bagaimana?” Bara balik bertanya, berusaha memancing jawaban.


“Kalau aku mau sekarang?” tanya Bara, menaikkan alisnya, menunggu jawaban Bella.


Bara tidak memberi kesempatan, tidak juga menunggu jawaban Bella. Kedua tangannya sudah memeluk, mengunci tubuh Bella supaya tidak menjauh darinya.


Bibir itu kembali mengecup, mencium dan akhirnya melu'mat. Ciuman kali ini lebih menuntut. Bella hanya bisa pasrah, sambil berdoa dalam hati.


Merasa Bella tetap tidak merespon, Bara melepaskan ciuman di bibir. Memilih mengecup leher jenjang istrinya, berharap kali ini Bella bereaksi. Dan benar saja, walau Bella tidak berbicara, tetapi Bara dapat merasakan, Bella meremas erat pundaknya.


Bara tersenyum. Ia mulai mengetahui salah satu cara menaklukan Bella. Mengecup habis leher Bella, sesekali memberi tanda kepemilikan di sana.


Bella yang sudah tidak berdaya, hanya melemas di dalam pelukan Bara sambil berdoa. Semoga ada bala bantuan datang menolongnya.


Melihat Bella saat ini, Bara semakin menggila, mengecup tanpa jeda. Bahkan tangannya sudah mengusap lembut dan mulai bergerilya, menyusup ke balik piyama.


“Ahh ...." Desahan pertama akhirnya keluar dari bibir Bella. Sontak membuat Bara berhenti, menatap Bella yang sedang memejamkan matanya.


“Bell," panggil Bara lembut.


“Hmm,” gumam Bella. Ia sudah tidak bisa berkata-kata.


Baru saja tangan kekar itu menyentuh sesuatu yang tertutup bra, gedoran dan teriakan di pintu menghentikan segalanya.

__ADS_1


“Mami!” teriak Issabell. Sontak membuat Bara dan Bella kembali ke alam nyata.


“Icca," ucap Bella pelan. Mendorong Bara tiba-tiba, kemudian berlari membuka pintu dan mempersilakan putri kesayangannya masuk.


“Icca, kenapa?” tanya Bella tersenyum. Tampak ia mengatur napasnya yang memburu. Kemudian, menggandeng Icca masuk ke kamarnya.


“Daddy," panggil Issabell pada Bara yang sedang telentang di atas ranjang, menutup wajah dengan lengannya.


“Daddy," panggil Issabell sekali lagi, sambil mengguncang pelan pundak Bara.


“Hmm,” gumam Bara berusaha menutup kesal yang menyesak di dada.


Hampir saja ia mendapatkan Bella, tetapi gadis kecilnya mengganggu semua usahanya dan berakhir sia-sia.


“Daddy, ayo main,” ajak Issabell, menatap Bara yang tetap diam. Bella sudah melangkah pergi menuju ke kamar mandi, meninggalkan ayah dan anak itu berdua di atas ranjang.


***


Bella dan Icca baru saja mengantar Bara yang berangkat ke kantor, tetapi begitu berbalik hendak masuk ke dalam rumah, Rissa sudah menghentikan langkah keduanya.


“Bell, bisa kita bicara?” tanya Rissa, menatap Bella.


“Icca sama Suster dulu, ya. Ada yang mau Mommy bicarakan dengan Aunty,” bujuk Bella, meminta pengasuh Issabell membawa gadis kecil itu pergi menjauh darinya.


“Ada apa, Kak?” tanya Bella pelan.


“Kelewatan kamu, Bell!” ucap Rissa, penuh kemarahan saat membuka pembicaraan.


“Maksud ... Kak Rissa apa?” tanya Bella heran.


“Kamu sengaja meminta Bara mengusirku. Hah?” tanya Rissa.


Bella menggeleng. “Tidak. Sepertinya Kak Rissa salah paham,” sahut Bella.


“Kita bicara di dalam saja, Kak. Tidak enak bicara di sini, banyak yang melihat,” lanjut Bella lagi.


“Apa maksudmu, Bell? Kamu sudah mendapatkan semuanya. Termasuk putriku, kenapa harus mengusirku dari rumah ini?” tanya Rissa.


“Aku tidak mengusir Kak Rissa,” sahut Bella, menjelaskan.


Rissa tersenyum kecut menatap Bella. Kemarahan Rissa semakin memuncak saat melihat beberapa tanda kemerahan di leher Bella.


“Kurang ajar! Bara benar-benar menipuku. Berani-beraninya dia tidur dengan Bella!”


***

__ADS_1


Terima kasih. Maaf telat up ya. Love You All


__ADS_2