
Bara masih menatap istrinya yang terlelap. Ada berbagai rasa yang berkecambuk. Beberapa hari ini, ia dihadapkan dengan perubahan sikap Bella yang begitu tiba-tiba.
Dari seorang istri yang begitu pengertian dan dewasa, tiba-tiba berganti menjadi istri yang gampang emosi dan sulit dimengerti. Apa yang dilakukannya selalu salah, apa yang diucapkannya selalu membuat istrinya marah.
Ini perubahan karena kehamilan, kah? Atau ada faktor lain yang memicunya. Bara pun tidak mengetahuinya dengan jelas. Sejauh ini, ia berusaha mengerti dan bersabar untuk semua sikap Bella padanya.
Berusaha untuk lebih perhatian dan memahami istrinya. Melimpahkan kasih sayang dalam berbagai bentuk pada istrinya. Kadang ingin protes, apa yang diinginkan Bella dengan kemarahannya setiap hari. Namun, ia tidak bisa melakukannya.
Cinta, kah? Apakah tidak cukup dengan sayang yang dicurahkannya. Apakah dengan kesetiaannya saja tidak cukup untuk Bella.
Apakah ia harus membuka hatinya kembali. Hati yang terluka dan berdarah-darah, hati yang selama ini dengan susah payah diobatinya. Sampai ia memilih tega untuk dirinya sendiri, memilih untuk tidak jatuh cinta lagi demi tidak terluka untuk yang kedua kalinya.
Kalau itu yang diinginkan Bella, jika itu yang dituntut Bella, mau tidak mau, ia harus menyenangkan istrinya dan berusaha membuat Bella bahagia.
***
Pagi itu seperti biasa, Bella bangun lebih awal dari suaminya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, ingin rasanya mengerjai Bara. Memberi peringatan kecil untuk suaminya, betapa ia menginginkan dicintai Bara, bukan hanya sekedar sayang yang selama ini ditunjukan sang suami.
Terkadang ia juga merasa bersalah, apalagi melihat luka kecil di betis suaminya. Walaupun tidak terlalu parah, tetapi itu bukti pengorbanan Bara untuknya.
“Mas ... bangun!” panggilnya, melirik jam di dinding sudah hampir pukul enam pagi. Issabell beberapa hari ini lebih tenang, tidak pernah mengganggu aktivitas paginya sejak Ibu Rosma tinggal sementara di rumahnya.
“Mas, bangun!” Bella menguncang kecil pundak Bara. Lelaki itu terlihat mengerjap dan menggosok pelan matanya sebelum akhirnya membuka sempurna.
“Hmm ... sudah jam berapa, Bell?” tanya Bara, merenggangkan otot tangannya.
“Hampir jam enam. Mas, tidak ke kantor? Kakinya masih sakit?” tanya Bella, meraih kaki itu dan meletakannya ke atas pangkuan. Tampak Bella mulai membuka belitan perban yang mengikat di sana.
“Darahnya sudah mengering, sebaiknya aku biarkan terbuka saja. Jadi Mas bisa memakai celana panjang,” ucap Bella.
“Aku ke kantor agak siangan, Bell,” sahut Bara tersenyum.
“Ah ... good morning, Sweetheart,” sapa Bara, tiba-tiba meraih tubuh istrinya yang sedang duduk di sisinya. Mendekap erat, kemudian mengecup pucuk kepala Bella dengan lembut.
“Ah ... Mas. Kenapa jadi seperti ini?” keluh Bella, heran melihat sikap manis Bara yang tidak seperti biasa.
“Jangan marah-marah, Sayang. Awali hari itu dengan senyuman, jangan cemberut.” goda Bara, mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
“Kamu tidak ke kampus hari ini?” tanya Bara lagi.
“Sebentar lagi aku akan bersiap,” sahut Bella, singkat.
Bara tersenyum, sebelum mencoba bermanja-manja lagi pada istrinya. “Tidak adakah ciuman selamat pagi untukku?” tanya Bara. Menatap lekat pada manik mata hitam pekat istrinya.
“Tidak! Aku harus bersiap sekarang,” tegas Bella, menolak suaminya.
“Mas, aku sudah yakin dengan keputusanku dengan berhenti kuliah. Aku akan fokus dengan kehamilanku dan Issabell,” ucap Bella.
Bara tersenyum. “Aku tidak melarangmu untuk tetap kuliah, tetapi kalau kamu serius ingin menjadi ibu rumah tangga ... aku juga akan mendukungmu,” ucap Bara.
“Oh ya, Bell. Mengenai Ibu, apa tidak sebaiknya Ibu tinggal di sini saja bersama kita,” Bara memberi ide.
Bella terlihat berpikir. Ia sebenarnya menginginkan hal yang sama. Akan tetapi, selama ini Ibunya selalu menolak setiap ia mengutarakan niatnya.
“Mas, bagaimana kalau Mas saja yang membujuk ibu. Mungkin kalau denganmu, Ibu akan menurut.” Bella mengemukakan pendapatnya.
Helaan napas berat terdengar sebelum akhirnya Bara mengangguk setuju.
***
Percakapan ringan disertai canda tawa terdengar mengiringi acara makan pagi keluarga Wirayudha. Bella yang mulai mencair, dengan Bara yang juga mulai bersikap layaknya suami idaman membuat Ibu Rosma bisa bernapas lega. Sebagai orang tua, ia sangat menginginkan kebahagiaan pernikahan putra-putrinya.
Tidak peduli bagaimana pernikahan Bara dan Bella bermula, tetapi ia menginginkan kebahagiaan adalah jawaban akhirnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, baik Bara maupun Bella berpamitan dengan ibunya. Masih dengan menggendong Issabell, Bara membawa gadis kecil itu ke teras rumah. Kebiasaan setiap pagi kala ia berangkat kerja.
Bella yang hendak ke kampus, ikut mengekor di belakang. Bergantian mencium gadis mungil mereka sebelum bergegas ke mobil masing-masing.
Bara baru saja membuka pintu mobilnya, saat sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumahnya yang terbuka sempurna. Dahinya berkerut, saat melihat ada sosok dikenalnya turun dari sedan biru itu.
Deg—
“Rania," ucapnya tanpa suara.
Sungguh tidak mengerti bagaimana gadis itu bisa sampai ke rumahnya. Namun, sosok berikut yang melangkahkan kaki turun dari mobil, menjawab kebingungannya. Ada mantan ibu mertuanya di sana sembari menenteng sebuah tas berukuran sedang dan menggandeng Rania masuk ke halaman rumahnya.
__ADS_1
Sempat terjadi perdebatan dengan security, tetapi akhirnya Bara memberi kode supaya membiarkan tamu pagi mereka itu masuk. Bella yang baru saja akan masuk ke mobilnya pun terlihat heran. Ia sudah mengenal sosok Rania saat menjenguk Kailla di rumah sakit.
“Apa yang terjadi?” tanyanya. Kalimat pertanyaan itu spontan keluar dari bibirnya, saat melihat Rania bersama seorang wanita tua melenggang masuk ke dalam pekarangan rumah. Melihat itu, Bella mengurungkan niatnya, berjalan mendekati suaminya untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Mas, ada apa ini?” tanya Bella heran.
Bara menggeleng. “Mas juga tidak tahu, Bell,” sahut Bara.
“Ikut aku, Bell,” pinta Bara, membawa istrinya menghampiri mantan ibu mertuanya.
“Pagi, Ma,” sapa Bara, masih menggengam erat tangan istrinya.
“Bar, maaf mengganggu. Tapi ... Mama butuh bantuanmu,” ucap Ibu Sutomo, tertunduk malu. Tangan rentanya masih menggengam tangan cucu kesayangannya.
“Ada apa ini, Ma?” tanya Bara heran. Sampai sejauh ini, ia belum paham maksud kedatangan mantan ibu mertuanya.
“Maaf sekali, Bar. Apa kita bisa bicara di dalam? Ada masalah serius yang harus Mama sampaikan,” jelasnya lagi. Raut wajah itu terlihat memohon.
Hening—
Bara dan Bella saling berpandangan. Sedikit banyak mereka sudah mulai mengerti, pastinya berita yang ingin disampaikan sang mantan ibu mertua bukanlah berita baik.
“Bar, mohon maaf sebelumnya. Mama butuh bantuan.” Ibu Sutomo berkata. Dengan wajah tertunduk, malu bercampur sedih tercetak jelas.
“Ada apa, Ma?” tanya Bara, menatap Rania yang diam seribu bahasa di samping neneknya.
“Maaf sekali, Bar. Mama mau menitipkan Rania sementara tinggal bersamamu,” ucap Ibu Sutomo, meneteskan air mata tiba-tiba.
Suami istri itu terkejut, saling memandang keheranan.
“Brenda sedang kritis di rumah sakit. Mama dan Papa harus menjaganya di rumah sakit dan Stella harus bekerja. Tidak ada yang menjaga Rania,” lanjutnya lagi.
***
T b c
Love You all
__ADS_1
Terima kasih.