Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 81. Mirip Bella Kecil


__ADS_3

Bella kembali turun menemui ibunya. Terselip haru saat melihat Bara yang sedang berbincang sembari menggengam tangan Ibu Rosma. Sejak dulu, Bara memang sangat menyayangi ibunya. Bahkan alasan pernikahan mereka pun tidak lain karena Ibu. Meskipun saat ini, Bella dan Bara punya alasan lain untuk tetap menjaga rumah tangga mereka supaya tetap utuh.


“Mas ...." Bella sudah berdiri di tengah pasangan mertua dan menantu yang sedang berbagi kisah dan cerita.


“Bell ... kemari, Sayang,” pinta Bara, ikut menarik istrinya duduk di sisinya.


Tangan kokoh itu mengusap lembut perut Bella yang masih rata, seolah menunjukan pada Ibu mertuanya calon anggota baru keluarga mereka yang sedang terlelap di rahim istrinya.


“Maaf, kita belum sempat mengabari Ibu mengenai kehamilan Bella. Beberapa hari ini kondisi Bella sedang tidak baik, muntah, mual dan ada banyak lagi keluhan.” Bara bercerita.


“Tidak apa-apa, Nak. Ibu mengerti.” Suara Ibu Rosma bergetar, menahan sesuatu yang mengumpul di dadanya. Sedikit bergeser, supaya bisa ikut menyentuh perut putrinya.


“Putri Ibu sudah dewasa. Rasanya baru kemarin, ibu menimangmu setiap tidur. Tidak terasa, sebentar lagi kamu akan memiliki anak. Ayah pasti ikut bahagia melihatmu, Nak.” Air mata itu pun lolos sudah, meluncur bebas tanpa bisa ditahan.


“Ibu jangan menangis. Ibu menginap di sini, ya,” pinta Bella, memeluk Ibu Rosma.


Anggukan kecil dari Ibu Rosma menghangatkan perasaan Bella. Kerinduan akan belaian ibunya selama beberapa bulan ini terbayar sudah.


“Bayinya rewel, Bell?” tanya Ibu Rosma.


“Tidak terlalu, Bu. Hanya mual dan muntah di pagi hari saja.” Bella menjawab singkat.


“Ibu bawakan rujak kesukaanmu. Kata Rissa kamu mengidam rujak cingur,” cerita Ibu Rosma. Kembali ia membelai wajah Bella, sebelum memeluk putri yang masih dianggapnya gadis kecil sejak dulu.


Mendengar kata rujak, Bella sontak berdiri. Dengan menyeret tangan suaminya, ia bergegas menuju ke ruang makan. Ia sudah tidak sabar lagi ingin menikmati makanan yang beberapa hari ini membayang di pelupuk mata, berasa di ujung lidah.


Bara sudah berusaha sebisa mungkin mencarikan untuknya, tetapi tidak ada satu pun yang rasanya setara dengan rujak cingur di kampungnya.


“Mas ...." Bella sudah mengisi sesendok penuh rujak cingur dan menyodorkannya di depan Bara.


Bara menurut, bukan kali ini saja. Ini sudah terjadi berulang kali. Sampai Bara hafal dengan kebiasaan istrinya. Bella hanya akan makan sesuap rujak, selebihnya istrinya akan menyodorkan padanya untuk menghabiskan. Untuk itu, belakangan Bara selalu memesan rujak dengan level kepedasan yang bisa bersahabat dengan lidahnya.

__ADS_1


Sebenarnya ini sama sekali bukan makanan Bara. Bahkan di kali pertama mencoba Bara sudah akan memuntahkannya kembali. Namun, semua ditahannya saat teringat kata-kata Dona dan orang terdekatnya, kalau istrinya sedang mengidam. Dan semua permintaan istrinya adalah keinginan si jabang bayi mereka.


Namun, untuk kali ini, Bara berharap keadaan berbalik. Ia cukup mencoba sesendok saja, sisanya diambil alih istrinya. Secara, ini rujak impian Bella. Harapan tinggal harapan, semua doa-doanya tidak dijamah Yang Maha Kuasa.


Sesendok rujak dengan level pedas di atas manusiawi masuk ke dalam mulutnya, Bara langsung menyambar segelas air hangat yang disediakan pembantunya, setelah beberapa detik rujak itu menyentuh lidahnya.


“Bell ... sshh ....” Bara sudah tidak sanggup berbicara. Ia menghembuskan napas berulang kali. Perih menusuk ke telinga, tenggorokan dan perutnya terasa panas.


“Sayang, kali ini aku menyerah,” ujar Bara, menjulurkan lidahnya. Rasanya lebih pekat dari rujak yang dibelikan Dona beberapa hari ini, pedasnya pun lebih luar biasa.


“Kakakmu mau membunuhku, Bell!” Rasanya Bara sudah ingin mengumpat, tetapi raut wajah sedih istrinya membuat ia bertahan.


“Mas, habiskan, ya. Sayang sekali kali sampai dibuang. Ini juga terlalu pedas untukku,” bujuk Bella.


“Sudah dibuang saja. Nanti, kita beli lagi,” pinta Bara, dengan wajah memerah bak kepiting rebus, menahan pedas yang tidak kunjung hilang. Bulir-bulir keringat sudah keluar di dahi dan ujung hidung mancungnya.


Bella merengut, menarik piring rujak itu mendekat. Bersiap menghabiskannya. Baru saja ia hendak menyuapkannya, Bara menahannya.


Ibu Rosma yang memandang dari kejauhan hanya tersenyum. Ia memilih tetap menunggu di ruang keluarga, menemani cucunya Issabell bermain. Gadis kecil itu begitu bahagia saat melihat kedatangan neneknya dari Surabaya.


“Oma, ini Hello Kitty!” Issabell menunjukan boneka kombinasi pink dan putih itu.


“Oh ya? Cantik,” celetuk Ibu Rosma.


Issabell cemberut saat mendengar pujian yang ditujukan pada bonekanya. Membuang pandangannya ke arah lain, timbul rasa cemburu saat mendengar kecantikan boneka itu mengalahkannya kecantikannya.


Sang pengasuh yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan anak asuhnya langsung memberitahu, daripada mengambeknya Issabell semakin menjadi.


“Bu, anaknya tidak mau kalau bonekanya lebih cantik dari dia,” ujarnya, sembari menahan tawa.


“Oh ya." Ibu Rosma ikut tertawa.

__ADS_1


“Lebih cantik cucu Oma ke mana-mana,” lanjutnya lagi, mencubit pelan pipi cucunya.


Mendengar pernyataan susulan dari neneknya, barulah Issabell ceria kembali. Ibu Rosma menatap Issabell tidak berkedip. Ia jelas mengetahui status Issabell yang hanya anak adopsi, tidak memiliki hubungan darah dengan keluarganya ataupun Bara, menantunya. Namun, ia sempat terperangah saat melihat gadis kecil itu bisa begitu mirip dengan Bella saat masih kecil.


“ Semakin ke sini, Icca semakin mirip dengan Bella,” batin Ibu Rosma.


***


Siang berganti malam, Ibu Rosma yang memutuskan menginap di tempat Bella membuat suasana di keluarga kecil itu bertambah ramai dari biasanya. Celotehan demi celotehan Issabell yang berbincang dengan neneknya hampir terdengar sepanjang hari ini. Bahkan gadis kecil itu meminta secara khusus untuk tidur dengan neneknya.


Memang sejak kunjungan ke Surabaya beberapa waktu lalu, Issabell lumayan dekat dengan Ibu Rosma yang juga menyukai anak kecil. Dengan kedatangan Ibu Rosma, tugas Bella sedikit berkurang. Ia bisa istirahat lebih banyak. Semua hal-hal kecil Issabell yang tadinya harus diurus, saat ini bisa digantikan pengasuh asal ditemani Ibu Rosma.


Sejak selesai makan malam, Bara hanya tiduran di kamar sembari mengusap perutnya yang sakit. Rujak cingur tadi siang benar-benar memberi efek luar biasa untuknya. Belasan kali bolak balik ke toilet, rasa mulas di perutnya tidak kunjung hilang.


Bahkan saat ini, ia berjalan dengan sempoyongan menuju ke ranjang. Tubuhnya melemas, belum lagi ditambah kepalanya pusing.


“Mas, apa kita ke dokter saja,” tawar Bella, khawatir. Wanita mungil itu sedang mengusap perut suaminya pelan, berharap bisa meringankan sakit perut yang dirasakan Bara.


“Mas, apa sakit sekali?” tanya Bella lagi, saat melihat Bara hanya menggerakan tangannya, sudah tidak sanggup bersuara.


“Mas ...."


***


T b c


Maaf kemarin tidak up, karena ada pekerjaan di RL.


Terima kasih masih setia dengn Bara dan Bella.


Love You all.

__ADS_1


__ADS_2