Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 121. Kemarahan Bara


__ADS_3

“Pak, Non Icca diculik!” seru Pak Rudi, berlari masuk ke dalam rumah, berusaha memberitahu majikannya.


Mendengar informasi dari sopirnya, Bara berlari keluar.


“Dari mana kamu dapat informasi ini? Mana istriku?” tanyanya panik mengedar pandangannya, menyusuri halaman rumah yang kosong melompong.


“Di mana istriku?” tanya Bara membentak sopirnya. Terlalu kesal dengan Pak Rudi yang tidak kunjung menjawabnya.


“Ma-maaf Pak, Nyonya di luar,” sahut Pak Rudi, berjalan melewati Bara, menunjukkan keberadaan Bella saat ini.


“Di sana Pak,” jelas Pak Rudi, menunjuk ke arah keramaian warga.


Bara langsung berlari menghampiri, menerobos kerumunan, mencari Bella di antara warga yang berkumpul. Tubuhnya melemas, saat melihat Bella yang terduduk tidak bertenaga di atas rerumputan sambil menangis. Wajah istrinya berantakan, penuh air mata.


“Bagaimana bisa begini, Bell? Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Bara, berjongkok.


Tatapan tajam antara panik, marah, kesal mengumpul jadi satu.


“Katakan Bell, apa yang terjadi?” tanya Bara dengan nada sedikit meninggi.


“Icca diculik Mas,” cerita Bella, dengan air mata berurai.


“Bagaimana bisa, Bell. Bagaimana kamu menjaganya sampai putrimu bisa diculik?” gerutu Bara.


“Diculik di depan rumah, Pak. Di sini,” sahut seorang warga, menunjuk ke tempat kejadian.


“Ya Tuhan ... Bella,” ucap Bara meremas rambutnya sendiri.


Tampak seorang warga menunjukkan rekaman CCTV yang menyorot ke jalan dan memperlihatkan bagaimana Issabell bisa diculik. Kebetulan CCTV rumah Bara sendiri tidak bisa menangkap ke tempat kejadian karena terhalang tembok rumah yang menjulang tinggi.


Melihat rekaman CCTV, emosi Bara semakin tidak terkontrol. Dengan kasar, menarik tangan Bella, membubarkan kerumunan warga itu tiba-tiba.


Pengasuh dan Pak Rudi yang ikut berdiri di sana terlihat mengekor langkah majikannya dengan ketakutan.


“Bagaimana ini, Pak?” ucap sang pengasuh dengan suara bergetar.


“Berdoa saja semoga Non Icca baik-baik saja. Kalau tidak, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi,” sahut Pak Rudi.


Sampai di dalam rumah, Bara membawa Bella ke kamar dan menghempaskan tubuh istrinya dengan kasar ke atas tempat tidur. Terlihat ia menghubungi rekannya yang bekerja di kepolisian untuk membantunya. Tidak sampai di situ, Bara juga menghubungi beberapa temannya yang tinggal di Surabaya, untuk membantu mencari Issabell.

__ADS_1


“Bagaimana kamu menjaga putrimu, Bell?” tanya Bara, melempar ponselnya ke atas ranjang. Raut kesal bercampur marah begitu mendominasi, terlihat begitu mengerikan.


“Maaf, Mas,” cicit Bella, setelah lama diam dan hanya bisa menangis. Bella bersuara juga.


“Apa yang kamu lakukan saat Icca hilang? Apa yang kamu kerjakan?!” tanya Bara, setengah berteriak.


“Di mana security yang biasa berjaga di depan rumah? Kenapa pintu gerbang tidak ditutup?” todong Bara.


“Maaf Mas. Security yang biasa berjaga sedang sakit. Tidak ditutup sejak Pak Rudi keluar menjemputmu, Mas. Aku pikir sebentar lagi Mas sampai, jadi dibiarkan terbuka,” jelas Bella kembali.


Bara menggelengkan kepalanya.


“Kalau sudah tahu seperti itu, harusnya kamu lebih hati-hati, Bell. Icca sendirian keluar di jalan. Tidak ada pengasuhnya, kamu juga tidak ada di sana. Apa yang kalian kerjakan?” omel Bara.


“Aku sedang mengobrol dengan Ibu di teras. Aku tidak melihat Icca keluar, Mas,” sahut Bella, menunduk, sudah siap menerima kemarahan suaminya.


Bara mengusap kasar wajahnya. Benar-benar tidak bisa terima dengan kelalaian Bella.


“Mengurus satu anak saja tidak becus. Harusnya kamu tahu, anak seumur Icca itu tidak mengerti apa-apa. Harus benar-benar diawasi. Kenapa kamu bisa begitu teledor begini, Bell?” keluh Bara berulang kali.


Bella hanya bisa menunduk, menangis dan meminta maaf. Menyesal karena lalai, terlalu serius mengobrol sampai tidak menyadari Issabell sudah menghilang, keluar ke jalanan sendirian.


“Kamu tahu, untuk masalah ini, aku tidak bisa menerima alasan apa pun. Karena kelalaian, kesalahanmu ini bisa mencelakai Icca. Tidak ada pembelaan untuk itu. Berdoa saja Icca baik-baik saja. Renungi kesalahanmu!” ucap Bara, mengantongi kembali ponselnya dan bergegas keluar.


Bunyi pintu yang dibanting Bara dengan keras, membuat jantung Bella hampir meloncat keluar. Tangisnya pecah saat ini. Menangisi Issabell dan kemarahan Bara padanya. Bella menarik bantal dan menyembunyikan suara tangisnya di sana supaya tidak terdengar keluar.


Penyesalan semakin menjadi saat menerima kemarahan Bara. Bahkan ia lupa rasa sakit di lututnya yang berdarah, lupa pakaiannya yang kotor karena jatuh tertelungkup di halaman. Bahkan ia tidak bisa merasakan lagi, nyeri dan kram yang sedang menyerang perut bawahnya.


***


Kemarahan Bara berlanjut, sekarang pengasuh dan para asisten rumah yang kena semprot. Bara dengan mata berapi-api, emosi dalam kadar tinggi, bertolak pinggang di depan para asisten dan pengasuh yang berbaris rapi dan menunduk .


Pak Rudi yang tidak tahu apa-apa juga ikut menciut, bergabung dengan kumpulan asisten rumah tangga Bara. Berdiri dengan tangan menggenggam di depan.


Tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Jangankan menjawab, mengangkat pandangan pun tidak ada yang sanggup.


Saat ini Bara seperti singa mengamuk yang sedang diganggu tidurnya. Kemarahan yang baru kali ini terlihat setelah hampir sekian tahun bekerja.


Hampir setengah jam emosi Bara tidak terkontrol, sampai akhirnya Ibu Rosma mencoba bicara.

__ADS_1


“Maafkan Ibu. Tadi Ibu juga lalai. Tidak ada seorang pun yang menginginkan ini terjadi.”


“Dan sudah terjadi, kita tidak bisa apa-apa selain berdoa semoga semua baik-baik saja,” lanjut Ibu Rosma, menahan matanya yang berkaca-kaca supaya tidak menangis.


Ia juga merasa bersalah dan menyesal akan keteledorannya, tetapi saat ini tidak bisa berbuat apa pun.


Bara tertegun sesaat, berusaha menenangkan emosinya.


“Bu, nanti mungkin ada temanku yang akan datang bertanya mengenai kronologis dan rekaman CCTV. Tolong dibantu. Aku harus mencari Icca sekarang. Tidak bisa berdiam di sini menunggu kabar,” jelas Bara.


“Pak Rudi, ayo!” ajak Bara, bergegas keluar.


Sang sopir yang mendengar namanya dipanggil buru-buru keluar mengekor.


“Cari di mana pun! Kalau perlu kita telusuri seluruh kota Surabaya! Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Icca karena aku terlambat menolongnya,” ucap Bara,


***


Waktu terus berjalan, sore menghilang, malam pun datang. Sejauh ini belum ada kabar, baik dari kepolisian, orang-orang Bara, bahkan Bara sendiri belum kembali sejak sore tadi.


Ibu Rosma hanya bisa duduk termenung ditemani para asisten rumah. Sedangkan Bella sejak sore tidak turun dari kamarnya, hanya menangis dan menyesali kelalaiannya.


Waktu sudah hampir pukul 22.00 malam, saat mobil sport Bara masuk ke halaman rumah. Tidak lama, lelaki itu turun dengan wajah kusutnya. Ponselnya tidak berhenti berdering sejak tadi, berbagi informasi dengan rekan dan temannya yang ikut mencari.


“Bagaimana?” tanya Ibu Rosma.


Bara tidak menjawab, hanya menggeleng dan segera naik ke kamarnya dengan wajah lelah, hampir putus asa.


Tepat saat pintu kamarnya terbuka, terdengar suara dering ponsel kembali. Kali ini dari nomor tidak dikenal.


“Halo,” sapa Bara begitu menempelkan benda pipih itu di telinga. Mata Bara membulat begitu mendengar informasi yang disampaikan si penelepon.


***


T b c


Love you all


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2