
Bella yang sudah membersihkan diri, berjalan tertatih-tertatih keluar dari kamar mandi. Netranya menangkap Bara yang sedang berdiri di balkon, sudah mengenakan kaus dan celana tidurnya kembali.
“Mas, ada ...." Bella tidak melanjutkan pertanyaannya, saat melihat ponsel yang menempel di telinga suaminya.
Bara berbalik, menatap Bella yang berdiri di tengah pintu menatapnya.
“Ya, Sayang,” sapa Bara, setelah memutuskan panggilan telepon.
“Tidak apa-apa, Mas,” sahut Bella pelan.
“Kevin menghubungiku, ada masalah dengan proyek di Manado,” cerita Bara.
“Kemarilah, Bell,” ajak Bara, mengulurkan tangan.
Bella ragu, tetapi akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan sang suami. Tangannya baru saja menerima uluran tangan Bara, akan tetapi Bara dengan cekatan sudah menariknya ke dalam pelukan.
“Mas,” panggil Bella pelan, matanya menerawang, memandang rembulan yang membulat sempurna di gelap malam.
“Hmm,” gumam Bara. Laki-laki itu sudah memeluk Bella dari belakang, mengecup tengkuk istrinya setelah menyibak rambut Bella yang tergerai indah.
“Aku merindukan Icca, Mas,” ujar Bella.
“Hahaha ... untuk seminggu ini lupakan Icca, dia baik-baik saja. Sekarang putrimu sedang terlelap,” cerita Bara, mengeluarkan ponselnya.
Tangannya sedang menggeser-geser layar, kemudian menunjukkan gambaran CCTV yang saat ini menyorot Issabell sedang terlelap dengan boneka panda besarnya.
“Aku kangen Icca,” bisik Bella lagi.
“Kalau kangen, buatkan adik yang banyak untuk Icca,” sahut Bara dengan santai.
“Mas,” protes Bella dengan manja.
“Sekarang kamu bertambah manja. Tapi aku menyukainya, dibanding Bella yang mandiri dan bisa segalanya,” jelas Bara, tersenyum dan mengeratkan pelukan di pinggang Bella.
“Hah!” Bella heran, berbalik menatap suaminya.
“Aku suka kamu yang manja, jadi aku merasa ada gunanya juga sebagai suami,” ucap Bara menjelaskan. Bibirnya sudah maju, mengecup pipi Bella.
Cup. Cup. Kecupan beruntun di pipi kiri dan kanan.
“Masih sakit?” tanya Bara tiba-tiba. Suaranya terdengar pelan, sepelan deru angin malam.
“Mas mau apa?” Bella bertanya balik, perasaannya sudah tidak enak mendengar pertanyaan Bara.
“Mau nambah. Hahahaha,” gelak tawa Bara terdengar setelah berhasil menjahili Bella. “Aku bercanda,” lanjut pria itu lagi.
__ADS_1
Keduanya masih betah berpelukan di tengah dinginnya malam. Saling berbagi cerita, berbagi rasa dan berbagi kehangatan. Tampak Bara menyandarkan kepalanya di pundak Bella.
Ah, sudah lama sekali rasanya tidak ada tempat untuk melepaskan lelah dari segala masalah dan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Sekarang, setelah hampir sepuluh tahun perceraiannya, ia menemukan kembali tempat bersandar dan berbagi kisah.
“Bell, terima kasih sudah mau menikah denganku,” bisik Bara, masih saja belum rela berpindah dari pundak istrinya, menikmati aroma rambut Bella yang harum tertiup angin.
Rasanya hangat, Bara merasa sekarang memiliki seseorang tempatnya bertukar cerita, seseorang tempatnya melepas penat setiap pulang kerja
“Ya, Mas.”
“Tahukah kamu ... kenapa aku memilihmu, Bell?” tanya Bara, tiba-tiba membahas masalah yang sudah dua tahun terlewati. Tidak ada yang membahasnya dulu, Bella tidak memiliki keberanian untuk bertanya dan Bara tidak memiliki keinginan untuk menjelaskan.
“Maksud, Mas?” tanya Bella heran.
“Apa kamu tidak penasaran ... kenapa aku memilihmu dulu, bukan Rissa?” Bara menjelaskan maksudnya.
Bella menggeleng, selama ini ia tidak mempermasalahkan. Dulu pun, ia menerima Bara karena Ibu. Dan bagi Bella, tidak penting alasan Bara memilihnya karena apa. Toh, mereka sudah menikah dan sekarang sudah menjadi pasangan suami istri seutuhnya. Untuk apa lagi membahas sesuatu yang sudah berlalu.
“Aku memilihmu ... saat melihat gadis kecil dengan tampang lusuh, berkeringat dan bau. Masih mengenakan seragam abu-abu, datang menghampiriku dan Ibu.”
Saat itu, entah kenapa ada sesuatu yang membuatku yakin memilihmu. Aku juga tidak tahu, di saat itu aku langsung memintamu pada Ibu,” jelas Bara
“Kamu kelewatan sekali, Mas. Aku yang masih kelelahan, sudah dikagetkan dengan ucapanmu. Untung aku tidak pingsan waktu itu,” gerutu Bella.
“Mas, kita kembali ke kamar saja,” ajak Bella, melepaskan belitan di perut ratanya.
“Tidak, di sini dingin, Mas,” jelas Bella, memberi alasan.
“Ya sudah, ayo kita buat yang hangat-hangat lagi!” ajak Bara tersenyum menggoda.
“Tidak mau lagi. Masih sakit, Mas.” Bella menolak dengan wajah cemberutnya. Bergegas masuk meninggalkan Bara.
Begitu melangkah masuk, mata Bella menangkap sesuatu yang janggal di atas seprainya. Berjalan mendekat untuk memastikan, Bella tertunduk. Semburat rona malu muncul di kedua pipinya, mengingat apa yang belum lama dilakukannya bersama sang suami.
Baru saja Bella akan berbalik, tetapi tubuhnya sudah membentur tubuh kekar Bara.
Buk!
“Ah, sejak kapan Mas membuntutiku?” keluh Bella, mengusap keningnya yang sakit karena membentur dada Bara yang keras dan berotot.
“Sejak kamu menikmati noda darahmu di atas seprai putih itu,” jelas Bara tersenyum.
“Aduh! Dia mengingatkanku lagi. Ini sangat memalukan,” gerutu Bella dalam hati.
“Mas, kalau dilihat karyawan hotel akan sangat memalukan,” keluh Bella.
__ADS_1
“Biarkan saja. Apa mau dibawa pulang, disimpan buat kenang-kenangan,” tawar Bara, usil.
“Memang bisa, Mas?” tanya Bella dengan polosnya.
“Bisa saja. Serahkan padaku!” ucap Bara, menyombongkan diri.
Bara sudah beralih ke sofa, menjatuhkan tubuh lelahnya di sana.
“Bell, kemarilah!” pinta Bara. Ia sudah berbaring, meluruskan kaki panjangnya yang memenuhi sofa cokelat muda itu.
“Tidurlah di sini!” perintah Bara, menepuk dada kirinya.
Awalnya Bella ragu, tetapi akhirnya ia menurut juga. Menyandarkan kepalanya di bahu Bara, menyembunyikan senyuman terkulum dan malu-malu.
“Aku mau ... kamu jangan menemui Rissa dalam waktu dekat ini,” ucap Bara tiba-tiba. Sontak, kepala yang tadinya bersandar manja itu, mendongak. Menatap Bara, menunggu jawaban dari pertanyaan kenapa dan mengapa yang tidak terucap di bibirnya.
“Tunggu Rissa tenang, baru kita menemuinya,” lanjut Bara.
“Bell, ada yang mau aku ceritakan padamu. Aku bertengkar hebat dengan Rissa, kamu sudah menyaksikan sendiri, kan?”
“Ya, Mas. Ada apa? Kenapa Mas sampai meninggikan suaramu di depan Kak Rissa?” tanya Bella mulai penasaran.
Bara diam, pikirannya sedang merangkai kata-kata yang tepat dan tidak menyakiti istrinya. Ia ingin bisa berkata jujur, tetapi ia bingung harus memulai dari mana. Semua begitu berantakan dari semula.
Hubungannya dengan Rissa seperti benang kusut. Saling mengumpat dan memaki, walau tidak terucap oleh kata mereka saling memendam kebencian. Namun, ia tidak ingin aibnya dan Rissa akan menghancurkan rumah tangganya. Apalagi ia melihat sendiri, bagaimana Rissa ingin menghancurkan hubungannya dan Bella.
Lebih baik Bella mendengar darinya dibanding dari Rissa. Bara khawatir, Rissa akan membuat Bella salah paham, meninggalkannya dan Issabell.
“Aku dan Rissa sedang tidak baik-baik saja. Sejak awal aku merebut Issabell, aku sudah menggunakan cara yang salah.” Bara mulai bercerita.
“Lalu ... Mas?” Bella semakin penasaran.
“Demi Ibu dan Issabell, aku mempermainkan perasaannya,” ucap Bara, memejamkan mata. Rasanya berat sekali, menceritakan kesalahan sendiri pada orang lain.
“Maksud, Mas? Aku belum mengerti,” tanya Bella.
“Aku merebut Issabell dari Rissa dengan cara kotor dan menjijikkan. Aku tidak bisa apa-apa. Aku sudah meminta baik-baik, tetapi Rissa menolak. Dan menuntut hal yang menurutku tidak masuk akal,” lanjut Bara, memejamkan mata.
****
T B C
Terima kasih.
__ADS_1
Love You all.