Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 150 : Bell, maafkan aku


__ADS_3

Bella sedang membuat kepang di rambut sebahu Issabell. Sengaja dia mendandani putrinya supaya terlihat cantik dan lucu untuk bertemu dengan kedua orang tua Roland.


Jemari tangan Bella terlihat lincah menjalin rambut hitam itu sedemikian rupa, sambil sesekali bercanda dengan Issabel yang duduk di atas ranjang, di sampingnya.


“Mommy, kita ... mana?” tanya Issabell dengan kalimat yang belum terlalu sempurna.


“Kita mau ke mana, Sayang? Seperti itu cara bertanya yang benar,” ralat Bella, memberi tahu.


Bella tersenyum ketika putri mungilnya mengulang kembali pertanyaan yang sama. “Kita ... mau .. mana?” ulangnya sambil tertawa.


“Mommy tidak tahu, Sayang. Tadi daddy cerita ke Icca mau ke mana?” Bella balik bertanya.


Tangannya sedang mengikat jalinan rambut Issabell dengan karet rambut supaya tidak terlepas. Memasangkan sebuah jepit rambut hello kitty berukuran besar di bagian atasnya.


“Sudah cantik!” puji Bella, merapikan sisir dan ikat rambut yang tersisa, memenuhi tepi tempat tidur.


Dari arah kamar mandi, terlihat Bara keluar hanya berbalut handuk dililit di pinggang rampingnya. Memamerkan perut kotak berotot, seolah ingin menarik perhatian sang istri.


“Icca, main dengan mbak dulu,” pinta Bella, menghadiahkan kecupan di pelipis sebelum menurunkan Issabell dari atas tempat tidur.


Tampak gadis kecil itu berlari dengan rambut yang baru saja dikepang rapi melompat ke kiri dan kanan. Bella terpaksa mengusir putrinya setelah melihat penampilan Bara yang seadanya.


“Bell, kamu sengaja mengusir Icca, kan?” tanya Bara dengan penuh percaya diri. Kedua alisnya naik-turun, menggoda ibu hamil yang semakin hari semakin cantik dengan tubuh berisinya.


“Mas, aku belum sepenuhnya memaafkan Mas. Kebohongan Mas itu masih membekas. Tidak semudah itu melupakannya,” ucap Bella, bergegas menuju meja rias, merapikan rambut panjangnya.


Senyum yang tadi sempat hadir sekarang lenyap tak berbekas. Bella meremas sisir dengan pikiran menerawang. Duduk memandang cermin dengan pikiran kosong.


“Bell, maafkan aku.” Lelaki dengan handuk di pinggang itu berjalan mendekat, berlutut di sisi Bella demi mendapatkan maaf seutuhnya.

__ADS_1


“Kamu mau aku bagaimana?” tanya Bara, memeluk pinggang Bella dan menempelkan kepalanya di perut buncit istrinya, mencoba menguping apa yang sedang dilakukan jagoan mungilnya di perut sang mommy. Tidak terdengar apa-apa, hanya perut Bella yang membuat senyum Bara merekah.


Bella menggeleng. “Aku hanya takut kalau Mas mengulang kembali. Setiap saat aku memaafkan, ada saja yang membuat aku kecewa lagi,” jelas Bella, menghela nafas pelan.


Memandang nanar pada lelaki yang sedang menikmati kebersamaan dengan bayi di dalam kandungannya. Kalau boleh jujur, berat memaafkan Bara kembali setelah kebohongan demi kebohongan yang dilakukan suaminya, tetapi ada bayi tidak bersalah yang dilibatkan di sini, buah hatinya dan Bara.


Bagaimana pun, anaknya tidak tahu seberat dan serumit apa masalahnya dan Bara, tidak berhak menerima buah dari sikap egoisnya. Memilih pergi meninggalkan Bara, pasti akan ada banyak hati yang terluka, termasuk Ibunya dan Issabell. Dia tidak bisa bersikap kekanak-kanakan seperti itu.


Kalaupun harus berpisah, dia akan memilih berpisah secara damai. Yang tidak akan meresahkan banyak hati, karena kepergiannya diam-diam tanpa tujuan. Namun untuk saat ini, dia masih melihat kesetiaan di mata suaminya, meskipun Bara sering berdusta.


Bella masih melihat seberkas cinta yang tulus dari Bara untuknya. Lelaki yang begitu mencintai ibunya sampai rela menikahi putrinya tanpa cinta, tidak akan mungkin sanggup menyakitinya dengan sengaja. Bukankah menyakitinya berarti menyakiti ibunya juga.


“Aku hanya tidak mau bertengkar untuk sementara ini. Ibu sedang sakit dan aku juga sedang hamil.” Bella mengeluarkan apa yang dipikirkannya selama ini.


“Baiklah, tidak masalah. Kalau belum memaafkanku, tidak apa-apa ... tetapi kembali bersamaku ke Jakarta. Rumah kita di sana. Suami istri itu harus tetap bersama, seberat apapun masalahnya,” pinta Bara, beralasan.


“Kabur dari masalah bukan penyelesaian. Rumah tangga akan tetap utuh kalau kita tetap bersama menghadapi masalah, tetapi saat salah satunya memilih pergi, di sanalah awal perpisahan itu bermula. lanjut Bara.


Kembali Bella menghela nafas berat. “Aku akan ikut Mas ke Jakarta. Aku sudah janji dengan Mbak Brenda, aku tidak mau membuatnya menunggu.”


“Aku juga akan mengurus kepindahan sekolah Icca. Mungkin sampai melahirkan aku akan menetap di Surabaya. Aku tidak bisa meninggalkan Ibu sendirian di sini.”


Bara terkejut. Keinginan tinggal di Surabaya kembali diucapkan Bella. Bukan sekarang saja, sudah sering Bella mengambil keputusan sepihak untuk menetap di Surabaya.


“Aku tidak setuju, Bell. Perusahaan di Jakarta membutuhkanku, aku tidak bisa menetap di Surabaya bersamamu,” tegas Bara.


“Mas bisa tetap di Jakarta, aku dan Icca akan menetap di sini sampai aku melahirkan, Mas.”


Bara kembali menggeleng. “Aku tidak mau kita berpisah seperti ini, Bell.”

__ADS_1


Ibu hamil itu tersenyum getir. Mengedar pandangannya ke sekeliling. “Kisah kita dimulai dari kamar ini, Mas.” ucap Bella, dengan mata berkaca-kaca. Mengalihkan pembicaraan. Membahas masalah yang sama terus menerus membuatnya sesak.


Teringat bagaimana hubungannya dengan Bara berawal. Dulu, lelaki yang bersimpuh di depannya adalah seorang pahlawan di dalam kehidupan keluarganya. Bella teringat, pertama kali diajak ibunya masuk ke kediaman mewah ini setelah mengantongi izin dari lelaki yang sekarang menjadi suaminya.


Bara lelaki yang baik hati, sangat baik di matanya pada saat itu. Di zaman sekarang, akan sulit menemukan sosok sebaik Bara. Lelaki itu tidak pernah pusing dengan berapa banyak uang yang dikeluarkannya.


Suaminya itu bisa membantu siapa saja yang dianggap pantas, dengan tulus dan tanpa pamrih. Bara tidak pernah menolong orang setengah-setengah. Dulu setiap awal bulan, dia dan Rissa akan mendapatkan uang saku untuk biaya sekolah dan uang jajan dari Bara.


Tidak pernah terbersit sedikit pun di benak Bella, kalau lelaki yang menjadi dewa penolong keluarga mereka akan menjadi suaminya di kemudian hari dan sekarang sedang berlutut mengharap maaf darinya.


“Kamu dulu yang paling sering masuk ke kamar ini. Gadis ingusan yang pemberani. Apa tidak terpikir olehmu, aku akan menguncimu di kamar mandi,” ucap Bara tertawa, mengingat gadis lugu yang selalu menyiapkan air hangat untuknya setiap pulang kantor.


“Kamu dulu sangat baik, Mas. Bukan tukang bohong seperti sekarang!” omel Bella, memukul mundur pundak Bara, membuat Bara hampir terjengkang ke belakang.


“Bell ....” protes Bara, kembali membelit pinggang Bella dengan manja.


Keduanya masih di posisi yang sama. Bella duduk di depan cermin dan Bara berlutut memeluk pinggang istrinya.


“Mas, aku serius. Aku sudah mengambil keputusan, bukan karena hubungan kita yang memburuk akhir-akhir ini. Aku mengkhawatirkan Ibu. Di sini Ibu sendirian, aku tidak bisa tenang.”


“Apalagi semakin bertambah bulan, kandunganku semakin membesar. Kalau terjadi sesuatu pada Ibu, aku belum tentu bisa terbang seenaknya seperti sekarang,” jelas Bella. Tatapan penuh harap dan pengertian mengarah jelas, menerobos manik mata biru suaminya.


“Aku belum bisa menjawabnya sekarang, Bell. Aku harus memikirkannya dulu. Tidak mudah tinggal berpisah seperti ini. Aku tidak bisa kalau harus tinggal berjauhan denganmu dan Icca,” sahut Bara.


Lelaki itu sudah berdiri, menepuk pelan pipi mulus Bella yang tertunduk. Mengecup pelan bibir merah delima istrinya sekilas.


“Bersiaplah Bell, kita akan menemui Rolland sebentar lagi,” pinta Bara. Kaki panjangnya sudah melangkah menuju walk in closet dan berganti pakaian. Terpaksa harus menyudahi obrolannya, supaya tidak terlalu malam menemui Roland. Apalagi mereka harus membawa serta Issabell.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2