Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 67. Kisah Brenda


__ADS_3

Pak Sutomo kembali ke rumah dengan mata berlinang. Brenda kebetulan sedang tidak ada di rumah, menjemput Rania pulang sekolah. Hanya ada suami istri itu saja, Bapak dan Ibu Sutomo yang berada di rumah dua lantai, yang sebentar lagi mungkin akan disita pihak Bank.


"Bagaimana, Pak?" tanya Ibu Sutomo masih dengan raut sedih. Matanya bengkak, dengan tulang pipi menonjol, terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya karena beban pikiran.


Mereka hanya memiliki dua orang putri, yang satu seorang dokter kecantikan, sekarang menjanda dengan seorang putri. Satunya sekretaris di perusahaan property yang masih sendiri di usia yang sudah tidak muda lagi.


"Bara bersedia menanggung semua biaya pengobatan Brenda, tetapi bagaimana kita menyampaikannya ke Brenda," ucapnya menghempas tubuh rentanya di atas sofa.


Laki-laki itu terlihat mengusap air mata yang mengkristal di matanya.


"Kalau aku punya uang, aku tidak mungkin menjatuhkan harga diriku mengemis pada Bara. Rasanya malu setelah apa yang dilakukan Brenda padanya dulu, Bu," ucap Pak Sutomo, terbata, bergetar menahan tangis yang hampir keluar.


"Tapi kita bisa apa, Pak. Harga diri kita ditukar dengan nyawa putri kita," sahut istrinya, mulai menangis.


"Kalau hanya sakit biasa, tidak masalah menanggung sakitnya. Tapi ini sakit yang tidak biasa dan membutuhkan biaya besar. Tidak semuanya bisa ditanggung asuransi," ucap Ibu dari Brenda dan Stella.


"Belum lagi biaya sekolah Rania. Stella saja sudah berhutang banyak ke perusahaannya untuk biaya hidup kita," lanjut Ibu Sutomo.


Penyakit Brenda ini bukanlah terbilang baru. Sudah sejak dua tahun yang lalu, ia menjadi cancer survivor.


Akan tetapi, dulu tidak dilakukan pengangkatan payudara secara keseluruhan, hanya operasi pengangkatan jaringan kanker atau benjolan saja dengan beberapa kali kemoterapi dilanjutkan radiasi setelahnya. Itu pun sudah menguras tabungan dan simpanan semua anggota keluarga.


Dan sekarang sel kanker itu menyerang kembali. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Brenda harus secepatnya melakukan operasi.


"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya pada Brenda," lanjut Pak Sutomo, memejamkan mata.


***


Bara kembali ke rumah setelah lewat dari waktu makan malam. Ada beberapa pekerjaan kantor yang harus diselesaikannya setelah kemarin sempat libur seharian, mengurus Bella di rumah sakit.


Saat masuk ke dalam kamar, pemandangan menenangkan sudah menyambutnya. Bella yang tidur berdua dengan Issabell, begitu damai.


"Sayang," bisik Bara, merapikan beberapa helai anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.


Guncangan kecil di atas kasur, sedikit banyak mengusik tidur. Ditambah sentuhan tangan Bara yang mengusap wajahnya, membuat mata terpejam itu mengerjap beberapa kali dan akhirnya membuka sempurna.


"Mas sudah pulang?" tanya Bella, bangkit duduk. Mengusap matanya yang masih terbawa kantuk. Ia langsung tertidur setelah menemani Issabell bermain.

__ADS_1


"Hmm, kamu sudah minum vitaminmu?" tanya Bara, mengusap perut istrinya.


Bella menggeleng.


"Anak Daddy apa kabarnya hari ini. Rewel, kah?" tanyanya pada Bella sambil tersenyum usil.


Bella hanya tersenyum, tersipu malu mendengar pertanyaan Bara. Rasanya aneh, mendengar kata-kata Bara pada bayi yang masih di dalam perutnya, bahkan belum ada bentuk dan rupanya.


"Mas sudah makan malam?" tanya Bella lagi.


"Sudah, tadi makan di kantor," sahut Bara. Kali ini tatapannya beralih ke Issabell yang tertidur di samping Bella.


"Mas, mau aku siapkan air hangat untuk berendam atau bagaimana?" tawar Bella.


"Tidak perlu, mulai sekarang aku akan menyiapkannya sendiri."


"Jadi, Mas tidak membutuhkanku lagi? Sejak dulu, aku selalu menyiapkan kebutuhan mandimu, Mas," tanya Bella menggoda. Tatapan ibu hamil itu terlihat tidak biasa.


"Jangan coba-coba kabur dan menculik bayiku," ancam Bara, memeluk istrinya.


Kecupan hangat dilabuhkan di kening dan kedua pipi Bella. Setelahnya, ia melepaskan kemeja dan bersiap membersihkan diri.



"Tunggu aku, ya!" lanjutnya lagi.


Bella segera bangkit dari duduknya, berjalan menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian tidur suaminya.


***


"Bell, tadi mantan mertuaku datang ke kantor," cerita Bara saat sudah selesai berpakaian. Berendam air hangat di saat penat, bisa mengembalikan energinya yang terkuras.


Menghempaskan bokongnya di sofa, duduk tepat di sebelah Bella yang memang sedang menunggunya.


"Ada apa, Mas?" tanya Bella, penasaran.


Tidak biasanya Bara mau membuka suara tentang masa lalunya.

__ADS_1


"Brenda sedang sakit kanker payudara," ucap Bara pelan. Pandangannya menerawang, menatap foto pernikahan yang tergantung di atas tempat tidur.


"Kasihan Mbak Brenda, Mas."


"Apa kamu keberatan kalau aku membantu semua biaya pengobatan termasuk ... pendidikan Rania dan biaya hidup mereka. Paling tidak sampai keadaan mereka membaik," tanya Bara tiba-tiba.


"Brenda adalah tulang punggung keluarga, Papa dan mamanya tidak bekerja," lanjut Bara.


Ada rasa bersalah terlihat di wajah Bara, hanya saja Bella tidak mengerti rasa bersalah itu ditujukan untuk siapa.


"Aku sebenarnya sedikit merasa bersalah pada Brenda dan keluarganya. Walaupun aku sudah memberi sedikit untuknya saat perceraian kami, tetapi mungkin dibanding dengan harta yang aku miliki saat itu, apa yang kuberikan padanya tidak sebanding," ucap Bara pelan.


"Aku dan Brenda memiliki perjanjian pranikah, dan dari perceraian kami, dia tidak mendapatkan apapun. Kecuali rumah dan sebuah unit mobil yang kutinggalkan untuknya."


"Tidak ada pembagian harta goni-gini?" tanya Bella memastikan.


"Tidak, sesuai dengan perjanjian pranikah. Rumah dan mobil itu pun kerelaanku memberi kepadanya. Seharusnya dia pergi dengan tangan kosong. Dia berselingkuh dariku," cerita Bara.


Bella terkejut, pikirannya kembali pada kata-kata Bara di mana Brenda sangat membenci suaminya. Apa jangan-jangan ada sangkut-paut dengan tidak mendapatkan apa-apa dari perceraian mereka dulu.


"Apakah itu adil, Mas?" tanya Bella. Ia tidak paham dengan perjanjian pranikah yang dimaksud Bara.


"Kami sudah sepakat, sebelum melangsungkan pernikahan dulu."


Bella terdiam, mencerna kata perkata yang keluar dari bibir suaminya sampai akhirnya ia membuka suara.


"Aku tidak keberatan," sahut Bella pelan.


Bagaimana ia bisa keberatan. Toh, hidupnya dan keluarganya di Surabaya juga berkat belas kasihan Bara. Kalau tidak karena bantuan majikan yang sekarang menjadi suaminya, ia juga tidak yakin bagaimana keluarga mereka melewatkan hari-hari setelah kematian ayahnya.


***


T B C


Maaf singkat, mau nulis untuk Om Pram di sebelah.


Terima kasih

__ADS_1


Love You all.


__ADS_2