Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 104. Mau Berpisah


__ADS_3

Suasana di ruang makan terlihat biasa, dengan Bara yang duduk di kursi kebesarannya dan anggota keluarga lainnya menempati kursi yang tersisa. Pria itu sesekali melirik ke arah istrinya, menyimpan rasa bersalah di dalam hati, di sela-sela akitivitas makannya.


Perubahan sikap Bella tidak terlalu kentara, tetapi lumayan berasa untuk Bara yang paham betul telah terjadi peristiwa kurang mengenakan di antara mereka.


“Bell, maafkan aku,” bisiknya pelan. Tangan kekar itu menggenggam perlahan tangan yang diletakan pemiliknya di atas meja makan. Berharap sekali permintaan maafnya sama seperti permintaan maaf sebelum-sebelumnya yang selalu disambut ramah istrinya, tetapi dugaan Bara salah. Kali ini Bella hanya meliriknya sekilas tanpa mengumbar senyuman seperti yang sudah-sudah. Mendapati hal itu, penyesalan Bara semakin bertambah.


“Apa reaksi spontanku tadi terlalu berlebihan dan menyakiti perasaannya.”


Berusaha membuang jauh pikiran buruknya, Bara melanjutkan makannya. Masih dengan mengintip aksi tutup mulut Bella, diiringi alunan dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring keramik.


Sesekali, bisa terdengar suara cempreng Issabell saat menolak sarapannya paginya.


“Nak Bara, apakah setelah ini Ibu bisa bicara?” tanya Ibu Rosma di penghujung acara makan pagi.


Dengan anggukan teratur, Bara menjawab permintaan mertuanya. Namun, penglihatannya tidak lepas dari istrinya, Bella.


***


Bara sudah berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana, menatap bunga mawar merah yang bermekaran di taman samping rumahnya. Di sebelahnya, terlihat Ibu Rosma duduk di bangku taman menerawang ke arah yang sama.


“Ibu mau pamitan.” Kalimat itu terucap juga dari bibir Ibu Rosma.


“Aku berharap Ibu tinggal di sini menemani Bella. Istriku masih membutuhkan Ibu,” ucap Bara, berharap kata-katanya bisa memukul mundur niat mertuanya yang berkeinginan kembali ke Surabaya. Bara paham benar apa yang dirasakan Bella.


Kehadiran Ibu Rosma di tengah mereka cukup membantunya menghadapi mood Bella yang naik turun seperti rollcoaster. Selain Ibu Rosma bisa memberinya saran, mertuanya juga bisa merendam dan menasehati istrinya itu.


“Ibu tidak betah di sini, tapi nanti saat Bella mau melahirkan, Ibu akan ke sini lagi. Agak lamaan, sekalian mengurusi Bella dan bayi kalian,” jelas Ibu Rosma.


“Ya sudah ... kalau Ibu merasa seperti itu, aku tidak bisa menahan,” ucap Bara tersenyum.


“Nak Bara, Ibu titip Bella. Tolong belajar memahaminya. Dia masih terlalu muda, bahkan belum genap dua puluh tahun. Temannya masih sibuk bermain, tetapi dia sudah menikah dan memiliki anak, apalagi sekarang sedang hamil.”

__ADS_1


“Ya, Bu.”


“Tolong bersabar menghadapi sisi kekanak-kanakannya. Bella belum sepenuhnya berpikiran dewasa. Ibu sudah berusaha memberi pengertian padanya, tetapi pada akhirnya semua ada di tanganmu.”


“Kamu yang harus pelan-pelan mengajarinya, bukan dengan memaksa. Kamu yang harus mencoba mengertinya, bukan menuntut lebih. Karena selain umurmu sudah jauh lebih matang, kamu juga suaminya,” jelas Ibu Rosma.


“Suatu saat dia akan berpikir layaknya orang dewasa. Dia akan memahami arti berumah tangga yang sebenarnya. Ibu tahu, terkadang dia masih menuntut perhatian lebih, rasa sayang lebih atau rasa cinta yang lebih darimu. Kalau kamu bisa, tolong tunjukan padanya.”


“Dia mungkin belum yakin denganmu, jadi masih menuntut hal yang sebenarnya sudah didapatkannya tanpa dia sadari. Balik lagi, kedewasaanmu yang akan menuntunnya. Kesabaranmu yang akan menjadikan istrimu sempurna, seperti yang kamu mau.”


“Ibu sudah tidak bisa ikut campur terlalu jauh. Selamanya dia putriku, tetapi sejak menjadi istrimu, ibu memiliki batasan untuk ikut campur di dalam rumah tangga kalian. Tidak bisa menilai siapa yang benar dan yang salah,” ucap Ibu Rosma, menghela napas ketika menyudahi semua ucapannya.


***


Bella keluar dari kamarnya dengan menyeret koper. Sebelum itu, ia juga sudah meminta pengasuh Issabell menyiapkan pakaian putrinya.


Ibu Rosma yang sedang duduk menunggu Pak Rudi masuk dan mengangkat koper-koper miliknya terkejut saat melihat Bella.


“Aku mau ikut Ibu pulang ke Surabaya,” sahut Bella dengan santai.


“Dan Icca juga akan ikut bersama kita,” lanjut Bella lagi kala melihat pengasuh mengeluarkan koper pink berisi pakaian dan perlengkapan Issabell.


“Suamimu?” tanya Ibu Rosma, masih tidak yakin dengan keputusan Bella.


“Bara sudah setuju tadi. Ibu tidak perlu khawatir. Dia juga tidak akan mau Ibu dari bayinya sampai kenapa-kenapa,” sahut Bella, tanpa beban sedikit pun.


Ibu Rosma sedikit banyak paham kalau terjadi sesuatu dengan putrinya, tetapi kalau ia menolak membawa Bella, putrinya akan semakin tertekan. Mungkin tidak masalah membawa serta Bella, sembari membujuknya pelan-pelan nanti.


“Mbak, pakaian Icca sekalian diganti dan siapkan botol susunya, ya,” perintah Bella lagi, setelah merasa ibunya setuju. Rania yang ikut menguping pembicaraan terlihat tersenyum.


“Kalau Tante Bella pergi, Mommy bisa kembali dengan Daddy,” batin gadis itu.

__ADS_1


Sudah terbayang di benaknya kehidupannya dan sang mommy akan utuh seperti keluarga lainnya. Toh, sejak dulu bukankah memang mereka tinggal bersama. Rania sudah melihat sendiri album-album foto masa kecilnya, di mana ada Daddy, Mommy dan dia.


***


Semua koper-koper sudah dimasukan ke dalam bagasi. Ibu Rosma dan Issabell juga sudah duduk tenang di dalam mobil. Sebelum ikut masuk, Bella masih sempat berpamitan pada Rania.


“Ran, kamu di rumah saja, ya. Tante hanya sebentar,” pamit Bella, berusaha menutupi niatnya dari Rania. Ia tidak mau nanti Rania melapor pada Bara dan menggagalkan rencananya.


Tidak hanya sampai di sana, saat mobil yang membawa mereka masuk ke bandara, Bella masih berpesan pada Pak Rudi untuk menunggunya.


“Pak tunggu di parkiran, nanti kalau saya sudah selesai bisa menghubungi ponsel Pak Rudi,” pintanya sebelum masuk ke pintu keberangkatan bersama Ibu Rosma dan Issabell.


“Bell, kenapa kamu meminta Pak Rudi menunggu?” tanya Ibu Rosma heran. Padahal jelas -jelas, mereka semua akan terbang ke Surabaya. Untuk apa meminta sopir menunggu.


“Tidak apa-apa, Bu. Takutnya ada barang yang tertinggal,” ucap Bella, mengeluarkan ponselnya dan menunjukan tiket elektronik yang dikirim melalui email di ponselnya kepada petugas.


Ketiganya sudah duduk di ruang tunggu bandara. Hampir satu jam, barulah terdengar panggilan untuk masuk ke dalam pesawat. Dengan mengulas senyuman, Bella berdiri sembari menggendong Issabell yang tertidur. Setelah memastikan nomor penerbangannya benar, ia mengajak Ibu Rosma berjalan menuju pintu yang sudah dijaga petugas bandara.


Di saat sudah duduk di dalam pesawat barulah ia menghubungi Pak Rudi, meminta sopirnya itu untuk pulang ke rumah. Bukan main terkejutnya Pak Rudi saat mengetahui majikannya ikut terbang ke Surabaya bersama Issabell. Padahal, sejak awal Bara berpesan padanya hanya mengantar mertuanya saja. Terbayang sudah kemarahan Bara saat mengetahui semua ini.


“Bell, kamu yakin suamimu tidak akan marah?” tanya Ibu Rosma, merapikan rambut Issabell yang berantakan. Cucunya itu tertidur di kursi bagian tengah, diapit oleh Bella dan dirinya.


Bella terdiam, sembari menonaktifkan ponsel dan menyimpannya kembali ke dalam tas.


“Bu, aku mau berpisah dengan Mas Bara,” ucap Bella tiba-tiba.


***


To be continue


Love You all

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2