Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 129. Rasa sayang itu bertumbuh


__ADS_3

Keesokan harinya.


Cicit kecil burung sembari mengepak sayapnya mengitari sangkar keemasannya yang tergantung di langit-langit teras rumah. Kicau merdu itu berulang mengalun bagai simfoni siap menyambut pagi. Ditambah suara gemericik air kolam ikan kecil tepat di teras samping yang baru saja selesai dibuat, menambah indahnya suara menyambut pagi.


Ya, karena permintaan gadis kecil mereka yang tiba-tiba menyukai ikan koi, Bara membuatkan Issabell kolam ikan persis seperti yang diinginkan sang putri. Kolam kecokelatan dengan air mengucur dari bebatuan buatan. Tampak tiga ekor ikan berwarna putih bercak tak beraturan kemerahan, menari di dalam jernihnya air.


Keluarga kecil Bara baru saja memulai hari mereka dengan sarapan pagi, menu roti tawar sederhana dengan polesan beraneka selai dan margarin bertabur cokelat meses kesukaan Issabell.


“Bell, aku ke kantor sekarang,” pamit Bara, berdiri sembari menggeser pelan kursi ke belakang setelah menyelesaikan suapan terakhir.


Bella masih membantu Issabell menyelesaikan potongan roti di atas piring hanya mendongak, menyerahkan pipi dan keningnya untuk santapan bibir suaminya seperti biasa.


“Ya, Mas,” sahut Bella, menikmati sapuan lembut bibir suaminya.


Tanpa mengantar sampai ke pintu, Bara berangkat ke kantor sendirian tanpa disopiri Pak Rudi.


Hari-hari Bella sejak kembali ke Jakarta, bisa dikatakan damai. Tidak ada bayangan masa lalu yang tadinya terus menghadang bahtera rumah tangga mereka. Belakangan, biduk itu bisa terbilang tenang melaju mengikuti arus.


Bella sibuk dengan kehamilan dan mengurus putri kecilnya dan Bara sibuk dengan pekerjaan dan proyek-proyeknya. Sejak Bella hamil, bisa dibilang pekerjaan Bara makin padat.


Seperti hari ini, bahkan Bara harus menikmati pekerjaan sekalipun sedang akhir pekan. Mobil sport hitam Bara baru saja meluncur keluar dari kediamannya. Tidak lama setelahnya tampak sebuah Alphard dengan warna yang sama, menerobos masuk tanpa permisi ke halaman rumah.


Belum sempat security yang menjaga gerbang menutup pagar rumah itu, tiba-tiba dari sisi kanan jalan meluncur mobil hitam membuat penjaga berseragam hitam itu mengalah. Membiarkan kendaraan itu meluncur dan berhenti tepat di depannya.


“Selamat pagi, Pak,” sapanya, mengetuk jendela mobil sisi sopir.


Sang sopir segera menurunkan kaca. “Pak Roland ingin bertemu Pak Bara,” jelasnya tersenyum, jempolnya menunjuk ke kursi belakang. Tampak lelaki dengan kemeja hitam, berwajah oriental duduk dengan santainya. Lelaki itu masih mengenakan kacamata hitam, duduk dengan tangan terlipat.


“Maaf, Pak. Pak Bara baru saja keluar,” jelas security rumah.


“Wah ... bagaiamana Pak?” sopir yang masih memegang kemudi dengan kedua tangannya tampak menoleh ke belakang untuk meminta pendapat majikannya.


Laki-laki itu tertegun sejenak. Membuka kacamata hitam yang mengantung di hidung mancungnya dan menyimpan di saku kemeja.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita kembali ... sa ....” Kalimat tidak terselesaikan saat netranya menangkan sosok Bella yang keluar dari pintu utama sambil menggandeng tangan Issabell.


Perasaan hangat menyusup, memenuhi relung hatinya. Hanya dengan memandang dari kejauhan saja, naluri ayah yang selama ini tidak pernah terpancing keluar dari dirinya tiba-tiba menerobos batas akal sehatnya. Tanpa memberi jawaban pasti, Roland melangkah turun dari mobilnya.


“Selamat pagi, Nyonya. Maaf mengganggu paginya,” sapa Roland, tersenyum.


Kali ini laki-laki itu memberanikan diri menatap Bella. Tidak seperti pertemuan pertama mereka, Roland lebih fokus pada putri kecilnya.


Bella mengangguk tanpa suara. “Maaf, Mas Bara sedang ke kantor hari ini. Kebetulan ada pekerjaan,” jelas Bella tanpa diminta.


Sejak kedatangan Roland, yang berakhir dengan masuknya Bella ke rumah sakit, Bara sudah bercerita banyak ke istrinya. Semua hal dari hubungannya dengan Roland sekaligus cerita Rissa, tidak ada yang ditutup-tutupinya. Dan ketika Bella bertemu kembali dengan Roland, ia sudah bisa menguasai keadaannya.


“Ya, penjaga di gerbang sudah memberitahunya tadi,” sahut Roland, beralih menatap Issabell yang mengenggam erat tangan Bella.


Pandangan lekat penuh arti itu sampai akhirnya membuat Issabell jengah. Lutut lelaki itu baru saja bertekuk, bersimpuh supaya bisa sejajar dengan putri kecilnya.


“Hai, Gadis cantik,” sapa Roland, menepuk pucuk kepala Issabell.


“Ya, Sayang.” Bella berusaha menenangkan. Menyelipkan kedua tangan di bawah ketiak Issabell, mengangkat tubuh mungil itu naik di gendongannya.


“Om-nya baik kok, Sayang,” bujuk Bella, cukup mengerti dengan penolakan Issabel pada laki-laki asing yang menatap penuh harap bisa menyentuh Issabell. Terlihat dari tangan yang bergetar ragu hendak mengusap punggung mungil di depannya.


Melihat betapa erat belitan Issabell di lehernya, Bella cukup paham kalau Issabell masih belum mau memberi celah sama sekali.


“Maaf, Pak, sepertinya Icca belum mau didekati,” ucap Bella, merasa tidak enak. Bara memang memintanya mengizinkan Roland mendekati Issabell, tetapi kalau putrinya ini menolak, Bella juga tidak bisa apa-apa.


“Oh ya, ada keperluan penting dengan Mas Bara?” tanya Bella. Kembali ke topik pembicaraan awalnya.


“Tidak terlalu penting. Kebetulan saya akan terbang ke Surabaya, sekalian mampir.” Roland menjelaskan. Tatapannya masih belum beralih, gadis kecil yang bergelayut manja di dalam gendongan mommy-nya.


“Maaf menganggu. Saya kira Bara tidak bekerja di hari libur,” lanjut Roland, mulai merasa tidak enak. Ia cukup paham, sebenarnya tidak pantas bertamu sepagi ini apalagi si tuan rumah sedang tidak ada. Takut akan menjadi kesalahpahaman.


Bella mengangguk. “Kalau penting, aku bisa menghubungi Mas Bara dan memintanya pulang,” ucap ibu muda itu.

__ADS_1


“Tidak. Aku hanya mampir sebentar. Tidak bisa lama-lama.”


Laki-laki itu tampak membeku, lagi-lagi menatap ke arah yang sama. Punggung Issabell dengan rambut kepang duanya. Menyadari itu, Bella berusaha membantu.


“Icca, Om ini ternyata punya boneka Hello kitty juga di rumahnya. Besar,” cerita Bella dengan logat lucu dibuat-buat. Sontak membuat perhatian Issabell teralihkan.


Buru-buru mengangkat kepalanya dari pundak Bella. “Ya, Mommy?” tanya Issabell memastikan.


“Ya, Sayang.” Bella mengusap pelan kepala putrinya.


“Mawu kitty,” pinta Issabell.


“Nanti kita minta Daddy beli hello kitty yang besar, seperti punya Om. Mau?” tawar Bella.


“Mau," sahut Icca.


“Kalau mau, ayo kita temenan dengan Om,” bujuk Bella. Mendengar ucapan mommy-nya. Issabell kembali bersandar manja, mengeratkan pelukannya di leher Bella. Gadis kecil itu menggeleng keras.


“No,” pekiknya pelan.


Roland sejak tadi hanya menonton dan diam-diam memerhatikan interaksi keduanya. Mendengar penolakan putri kandungnya, ada rasa aneh menyelinap di hatinya.


Sejak mengetahui kebenarannya dari Rissa, ditambah hasil tes dari rumah sakit, perlahan rasa sayangnya pada Issabell makin bertumbuh. Apalagi sejak saat itu, hari-harinya dipenuhi dengan foto-foto lucu Issabell yang dikirim orang suruhannya hampir setiap saat. Mengisi tempat kosong di hatinya yang ditinggal pergi almarhum istrinya.


“Terima kasih,” bisik Roland, mengalihkan pandangannya pada Bella. Wanita hamil itu sedang membujuk dan mengecup Issabell. Ada kehangatan menjalar di hatinya, saat melihat pemandangan ibu dan anak yang begitu dekat.


***


T B C


Love you all


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2