Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 180 : Extra Chapter 4


__ADS_3

“Di dalam rumah, Bella duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu. Berbagi kisah dan cerita seputar pengalamannya hamil dan melahirkan.


“Boo, waktu dijahit sakit?” tanya Kailla bergidik. Membayangkan saja sudah mengerikan apalagi kalau harus merasakan.


“Kamu harus mencobanya suatu saat nanti.” Bella tersenyum usil.


“Oh God! Aku tidak mau membayangkannya.” Kailla ngeri sendiri.


Obrolan keduanya terhenti saat Pram dan Bara masuk ke dalam rumah dengan bayi Real. Terlihat bagaimana luwesnya Pram menggendong bayi, Bella sampai terpana. Tidak menduga sama sekali, jauh dengan Bara yang sampai sekarang masih kaku meskipun sudah seminggu terlewati.


“Sayang, kamu mau menggendongnya?” tawar Pram pada istrinya. Laki-laki dengan setelan kerja itu sudah berdiri di depan Kailla, siap meletakan bayi merah ke dekapan wanita pemilik hidupnya.


Mendengar penawaran Pram, sontak mulut Bara kembali usil. Seperti biasa, setiap mengusili Kailla ada kepuasan batin tersendiri. Mungkin karakternya berbeda dengan Bella, Bara sangat menyukai moment beradu mulut, bertukar tatapan sinis dengan istri sahabatnya itu.


Bukan hanya sekarang, bahkan belasan tahun yang lalu, dia sering menggoda Kailla kecil setiap bertemu di kantor RD Grup yang saat itu masih dipimpin Riadi Dirgantara. Siapa yang tidak mengenal Kailla, gadis nakal putri pemilik RD Grup, yang sanggup menghancurkan meeting penting Riadi dalam sekejap. Hanya Kailla kecil yang rela merangkak di bawah meja rapat, menghitung belasan sepatu pantofel hitam mengkilap peserta rapat sambil menunggu Riadi menyelesaikan pekerjaan secepatnya, hanya untuk sebuah pelukan hangat.


Bahkan tak jarang, ikut ambil bagian di dalam rapat penting. Gadis kecil dengan lolipopnya itu sering tertidur di ruang rapat, di pangkuan Pram saat tidak sanggup dijinakan lagi. Pram yang dulunya hanya berstatus tangan kanan Riadi, terpaksa membawa Kailla masuk ke ruang rapat. Mendekapnya erat, duduk di sebelah daddynya yang sedang memimpin rapat, demi untuk membuat Kailla kecil berhenti menangis.


“Anak kecil menggendong anak kecil. Jangan sampai terjatuh. Kamu tidak akan sanggup menggantinya!” cerocos Bara dengan tatapan tajam.


“Sayang, kamu dengar. Om Bara mengusiliku lagi,” adu Kailla pada suaminya dengan alunan manja.


“Sudah, jangan didengar. Semakin kamu kesal, Bara akan semakin suka mengerjaimu!” Pram menenangkan.


“Jangan kaku, Sayang. Adeknya tidak nyaman nanti.” Pram berucap pelan, sembari meletakan bayi Real ke dalam dekapan Kailla.


“Semakin dilihat kenapa baby Real mirip denganku, ya.” Kailla berkata asal, berganti memanasi Bara.


“Apa karena sewaktu hamil Onty Kai yang sering mengabulkan semua permintaanmu, ya?” lanjut Kailla, sengaja menyindir Bara lagi.


“Semoga tidak, Kai. Aku bukan Pram, aku tidak memiliki kesabaran begitu luas untuk meladeni anak kecil senakal dirimu,” cerocos Bara lagi. Laki-laki yang duduk di sebelah Bella, terlihat merangkul mesra, sesekali mengecup pelipis istrinya. Hal manis yang jarang sekali dilakukan Bara, sontak membuat Bella terkejut.


“Mas, kamu baik-baik saja, kan? Kenapa kelakuanmu jadi aneh begini!” dengus Bella, menatap heran suaminya.


“Aku baik-baik saja,” ucap Bara, menatap sepasang suami istri di hadapan mereka, yang sibuk dengan baby Real. Memperhatikan setiap detail yang dilakukan Pram, dia akan melunakan Bella dengan cara yang sama.


“Kailla sebebal itu saja bisa luluh lantah, apalagi Bella,” pikir Bara.


“Sayang, apa mereka terlihat manis?” tanya Bara, meminta pendapat Bella sembari menunjuk ke arah Pram dan Kailla.


“Om Pram memang manis setiap hari, Mas. Beda dengan dirimu. Jauh sekali Mas. Seperti langit dan butiran debu yang menempel di lapisan bumi.” Bella sudah ingin tergelak, melihat perubahan raut wajah Bara yang tiba-tiba menjadi asam kecut dan cemberut.


“Serius?” tanya Bara, memastikan lagi. Ada raut kecewa dan putus asa di dalam pertanyaannya.


“Aku mencintaimu apa adanya, Mas. Aku anggap laki-laki seperti Om Pram memang rezekinya Kailla. Anugerah dan karunia untuk Kailla. Diciptakan dan ditakdirkan untuk Kailla, bukan untukku. Takdirku adalah laki-laki arogan dan pemarah, tetapi dia selalu manis dengan gayanya sendiri,” bisik Bella pelan. Kalimat yang sanggup membuat Bara melambung tinggi di udara, sampai lupa cara menjejaki kaki mendarat kembali ke bumi.

__ADS_1


Seketika senyuman Bara hilang, otaknya menangkap hal lain. “Maksudmu bagaimana, Bell? Kalau Pram itu anugerah untuk istrinya ... apa aku ini petaka untukmu? Begitu maksudmu? Aku ini musibah, bencana untukmu?” Bara menatap tajam istrinya.


Bella menutup mulut, tidak mau memperpanjang masalah. Sejak bayi Real hadir di dalam kehidupan mereka, sering kali Bara dan Bella berselisih untuk hal-hal sederhana.


Di seberang, Kailla masih menatap baby Real dengan penuh kekaguman. Wajah tampan dan hidung lancip itu benar-benar membuat Kailla ingin memiliki. Beralih menatap Pram, laki-laki itu tersenyum padanya.


“Kenapa? Kamu mau?” tanya Pram lembut. Tangan kiri laki-laki itu sedang mendekap istrinya dengan posesif, seakan takut terjadi sesuatu pada Kailla dan bayi Real yang tertidur nyaman di gendongan.


“Mau ....” Kailla menjawab pelan.


“Selesaikan kuliahmu. Aku akan menghadiahkanmu bayi lucu. Berapa pun yang kamu mau, aku bersedia memberikannya,” sahut Pram, meyakinkan.


“Masih empat tahun lagi. Itu lama sekali!” keluh Kailla.


“Sementara menunggu, kamu bisa mendekap dan memanjakan suamimu setiap hari. Aku tidak keberatan, Kai.” Pram mulai usil kembali, berbisik-bisik sembari memandang bayi Real yang tertidur pulas di pelukan Kailla.


Ada haru menyapa, saat melihat Kailla mendekap bayi Real. Pram berharap itu bisa membangun sisi keibuan Kailla, perlahan belajar menjadi seorang ibu seutuhnya. Pram tahu, semua tidak mudah untuk Kailla. Istrinya besar tanpa dekapan dan pelukan seorang ibu. Bahkan, lebih parahnya tanpa kasih kasih sayang utuh dari daddynya.


“Aku akan membuatmu menjadi mommy terbaik untuk anak-anak kita, Kai. Aku janji, kamu akan jadi mommy terbaik untuk anak-anak kita,” bisik Pram, melabuhkan kecupan hangat di pucuk kepala Kailla.


***


Bara terlihat mondar-mandir di kamarnya setelah mengantar sahabatnya pulang di teras rumah. Laki-laki itu sedang menunggu Bella. Ada banyak cerita yang ingin dibaginya. Langkah kakinya terhenti saat pintu kamar terbuka. Muncul Bella memeluk bayi Real di dekapannya.


“Bell, kenapa adek dibawa ke kamar? Ke mana babysitternya?” tanya Bara.


“Bukan begitu, Bell. Adeknya titip ke babysitternya dulu. Ada yang mau aku bahas.”


“Mas, ini sudah jam minum susunya Real. Sebentar lagi juga menjerit. Memang bisa disusui babysitternya?” Bella meletakan bayinya ke atas ranjang dengan raut cemberut.


“Aduh Bell, apa tidak bisa dimanis-manis sedikit wajahnya. Sejak melahirkan kenapa wajahmu lebih banyak kecutnya,” cerocos Bara.


“Apa maksudmu, Mas? Baru juga masuk kamar, sudah mengajakku bertengkar.” Bella tidak mau kalah.


Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bukan kali ini saja, sejak hamil dan melahirkan, mood Bella naik turun seperti rollcoaster.


“Bell, apa ada hadiah yang kamu inginkan?” tanya Bara tiba-tiba.


Bella mengerutkan dahi tepat setelah menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur. Menatap Bara tak percaya.


“Mas, aku masih lama baru ulang tahun. Kenapa menanyakan hadiahnya sekarang?”


“Bukan begitu, Bell. Ini kado karena kamu melahirkan baby Real untukku.” Bara menjawab sambil tersenyum.


“Aku melakukannya ikhlas, tanpa pamrih. Real itu putraku juga, tidak perlu diberi hadiah. Memang sudah kodratku sebagai wanita untuk hamil dan melahirkan.” Bella menjawab dengan penjelasan panjang lebar.

__ADS_1


“Kamu mau aku belikan tas?” tawar Bara, membungkukan badannya dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Dalam posisi ini, Bara bisa mensejajarkan tingginya dengan Bella yang sedang duduk.


“Mas, kamu sakit? Kenapa tiba-tiba jadi aneh?” Bella menempelkan punggung tangannya ke dahi Bara.


“Kurang ajar, Pram! Diberi hadiah istriku bukannya tumbang, malah sebaliknya. Baru bertanya saja, aku sudah dibilang aneh,” batin Bara menahan kesal.


“Bukan begitu Bell, aku mau memberimu hadiah. Sebagai ungkapan terima kasih karena sudah rela hamil dan melahirkan. Supaya terlihat manis.” Bara berkata jujur.


Semakin mendengar penjelasan Bara, Bella semakin bingung.


“Mas, kalau mau mengucapkan terima kasih, cukup jangan mengeluh setiap malam kalau bayi Real rewel dan ingin tidur di dekapanmu. Itu sudah manis sekali untukku,” sahut Bella, dengan wajah datarnya.


“Bell, aku serius, Sayang.”


“Aku juga serius, Mas. Tidak ada kado yang lebih indah selain pengertian dan kerelaan Mas untuk menjaga Real dengan ikhlas setiap malam, tanpa banyak protes setelahnya,” cerocos Bella.


“Kelewatan kamu, Bell. Aku sudah bersikap manis, tetapi sebaliknya kamu malah bersikap seperti ini. Tidak ada manis-manisnya. Coba lihat Kailla, meskipun bar-bar, nakalnya luar biasa, tetapi dia begitu penurut dan jadi anak manis di depan suaminya.” Bara keceplosan, membandingkan istrinya.


“Mas juga coba berkaca, suami Kailla itu seperti apa! Sama tidak denganmu, Mas. Baru kamu boleh membandingkan.” Nada suara Bella semakin meninggi.


“Bell! Apa maksudmu membandingkanku dengan Pram?”


“Apa maksud Mas membandingkan ku dengan Kailla. Jelas-jelas kita berbeda.” Bella tidak mau kalah.


“Suami Kailla itu, baik, penyabar, penyayang. Buktinya, Real saja menurut, nyaman di dekapannya. Dari cara menggendong saja sudah kelihatan tulus atau tidak.” lanjut Bella, semakin menjadi. Kurang tidur semalaman, membuat emosi keduanya mudah terpancing,


“Apa maksudmu, Bell?”


“Wajar saja! Pram sudah terlatih menggendong bayi sejak puluhan tahun yang lalu. Kamu tahu apa? Pram sudah menggendong bayi sejak zaman penjajahan Belanda. Sedangkan aku baru beberapa hari, tidak bisa dibandingkan seperti itu, Bell.” Bara membela diri.


Laki-laki itu mendengus kesal, menjatuhkan bokongnya di samping Bella. Berusaha menetralkan emosinya yang terlanjur memuncak.


“Memang rumput tetangga sebelah rumah jauh lebih hijau dibandingkan rumput di rumah sendiri. Tidak salah sama sekali, memang kenyataannya lebih hijau. Itu faktanya,” cicit Bara pelan, takut terdengar istrinya.


Bella menoleh seketika. “Ya, memang lebih hijau, tiap hari disiram, dirawat Mas.” Mommy Real masih berusaha tenang.


“Burung perkutut Pak Lurah diujung blok, yang Mas sering lewat setiap pagi kalau berangkat ke kantor. Itu juga lebih nyaring bunyinya. Sampai sekomplek kedengaran kicauannya, Mas. Berbeda dengan burung perkutut di halaman belakang rumah kita, Mas. Cuma bisa mengomel setiap hari,” lanjut Bella, tangannya dengan tegas menunjuk ke arah timur, perkiraan arah rumah Pak Lurah.


“Bell!” teriak Bara.


“Mas!!” Bella ikut berteriak.


Hening, keduanya saling menatap dengan napas memburu sebelum akhirnya panik saat baby Real menangis kencang, terkejut dengan teriakan kedua orang tuanya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2