
Bara tertegun. Ia sudah berdamai dengan masa lalunya. Kalau dulu mungkin ia akan melakukan hal yang sama dengan yang Brenda lakukan. Namun sekarang, ia sudah jauh lebih bisa menerima.
“Love, ambil kembali uangnya. Itu untuk pengobatanmu. Pikirkan orang tua dan putrimu.”
Bara masih terlihat tenang, tidak larut dalam situasi panas yang diciptakan mantan istrinya. Ekspresinya sungguh jauh berbeda dibanding Brenda, terlihat jelas kemarahan tercetak di wajah mantan istrinya.
“Anggap permintaan maafku, kalau memang dulu aku bersalah padamu,” ucap Bara pelan.
“Hahahaha. Kamu merasa bersalah? Bukankah selama pernikahan kita hanya aku yang bersalah. Hanya aku satu-satunya yang berselingkuh,” sahut Brenda sinis. Di kalimat terakhir, terdengar penekanan kata dan terlihat lebih emosional.
“Bahkan seluruh dunia tahu, aku mengkhianatimu. Br*ngsek!” umpat Brenda.
“Love, terima saja bantuanku. Kita tidak akan saling bertemu setelah ini. Aku juga tidak akan menemui Rania. Tolong beri pengertian pada putrimu, kalau aku bukan ayah kandungnya.”
“Untuk Rania, jangan khawatir. Aku juga tidak mau dia bergantung padamu. Semua ulah Papa dan Mama. Kalau tidak, Rania tidak akan mengenal Barata Wirayudha seumur hidupnya,” sahut Brenda.
“Love ...."
Kalimat Bara menggantung, suaranya berhenti seketika di saat mata elangnya menangkap istri dan putrinya sedang membeku di luar ruangan. Masih dengan menggandeng Issabell, Bella terpaku di depan pintu yang memang tidak tertutup rapat.
Entah sejak kapan istrinya di sana, mendengar semua perdebatannya dan Brenda. Ia tidak menyadari sama sekali. Sejak tadi terlalu fokus dengan semua ucapan Brenda.
“Sayang, kamu datang?” tanya Bara tiba-tiba, berusaha menguasai diri. Jujur ia terkejut dengan kemunculan Bella di saat yang tidak tepat seperti sekarang.
Bara sudah berdiri, berjalan melewati Brenda untuk menghampiri istrinya. Brenda berbalik, menatap ke arah pintu.
Deg—
Netranya menangkap pemandangan yang tidak biasa, Bara sedang menghampiri seorang gadis muda yang menggandeng anak kecil. Anak yang dulu pernah dilihatnya di rumah sakit.
Ada banyak tanya, tetapi mendengar panggilan sayang dari Bara, pastinya gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Bara sangat jarang sekali memanggil seseorang seperti itu, kecuali anggota keluarganya.
“Kamu, kenapa tidak mengabariku?” tanya Bara saat sudah berhadapan dengan istrinya.
“Mas, dia siapa? Diakah Love yang menghubungimu tadi pagi?” tanya Bella, curiga. Menatap Brenda tanpa berkedip.
Di saat ini, ia merasa punya hak bertanya dengan statusnya sebagai istri Bara.
“Bukan, dia Brenda. Mantan istriku. Ayo aku akan mengenalkannya padamu,” ajak Bara.
Pandangannya beralih pada Issabell. Tidak mungkin rasanya membawa masuk putrinya di saat ini. Brenda emosinya sedang tidak stabil. Bara takut, kemarahan Brenda hanya akan membuat Issabell ketakutan.
“Mbak, tolong ajak Icca ke lobi bawah. Ajak dia main di sana sebentar. Nanti aku akan menjemputnya,” pinta Bara, berjongkok menatap Issabell.
“Sayang, Daddy dan Mommy ada pekerjaan di dalam. Icca ikut mbak ke bawah, minta Pak Rudi belikan Icca permen lolipop,” bujuknya. Mendengar kata lolipop, Issabell langsung mengangguk dan menurut.
__ADS_1
Brenda sudah berbalik hendak keluar saat Bara menggandeng istrinya masuk.
“Sayang, ini Brenda. Mantan istriku,” kenal Bara. Menghentikan langkah Brenda yang sebenarnya sudah ingin pergi.
“Love, ini istriku Bella ...."
“Ah, sudahlah, Han! Aku kesini bukan untuk berkenalan. Aku hanya mengembalikan uangmu, aku tidak perlu kenal dengan istri atau keluargamu.” ucap Brenda sambil berlalu. Menengok pun tidak pada Bella yang dikenalkan Bara.
Bella masih menutup mulutnya rapat-rapat. Memandang tubuh gemulai yang masih kelihatan cantik di usia matangnya.
Brenda memiliki rambut tergerai indah yang dicat pirang dan bergelombang. Sepatu hak lancip 9 cm yang dikenakannya menambah indah body gitar Spanyol dengan kulit putih mulus. Belum lagi dandanannya benar-benar berkelas bak artis ibu kota lengkap dengan aroma parfum mahalnya. Ah, sebagai wanita ia sungguh iri melihat mantan istri suaminya.
Bella menunduk memandang sepatu kets sederhana yang menutup kaki mungilnya dan celana jin yang hampir memudar. Belum lagi tubuhnya yang pendek, hanya sebatas leher Bara.
Rasanya jadi tidak percaya diri. Bella masih terus mengagumi keindahan di depan matanya itu menghilang di balik pintu lift.
“Bell, ada apa?” tanya Bara.
“Hah! Tidak apa-apa,” sahut Bella pelan.
“Maafkan aku, kamu jadi harus menonton pertengkaran kami,” ucap Bara. Pandangannya tertuju pada bungkusan yang ada di tangan Bella.
“Apa yang kamu bawa, Bell?” tanya Bara. Langsung saja menyambarnya dari tangan istrinya. Membukanya dengan buru-buru, sampai akhirnya senyum di bibirnya terkembang.
“Kamu membawakanku bekal,” ucap Bara, mengecup pipi Bella.
“Sudah, kenapa masih memikirkannya. Hidupku sudah milikmu sekarang,” sahut Bara, mengejutkan Bella. Ada rasa bahagia saat suaminya mengucapkan kalimat itu dengan penuh keyakinan.
“Tapi kenapa memanggilnya seperti itu,” ucap Bella, merasa cemburu.
“Hanya panggilan, tidak memiliki arti apa-apa. Sudah hampir dua puluh tahun lebih aku memanggilnya seperti itu. Bahkan sejak pertama kami dekat,” jelas Bara dengan santainya.
“Bahkan aku canggung memanggil namanya. Terasa aneh di bibir,” lanjut Bara.
Bella mengangguk, berpura-pura mengerti, walau hatinya sedikit tergores. Panggilan begitu manisnya, rasanya tidak rela.
“Bell, kamu kenapa?” tanya Bara, sudah merapikan meja kerjanya. Menyusun kotak-kotak makanan itu di atas meja.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu sudah makan?” tanya Bara melihatnya istrinya masih tetap mematung.
Bella menggeleng.
“Hah, ini sudah jam berapa? Kamu sudah menelantarkan anakku dan membuatnya kelaparan,” ucap Bara, menarik tangan Bella duduk.
__ADS_1
“Aku tidak lapar, Mas,” sahut Bella.
“Mas, benar bukan dia yang menghubungimu tadi pagi?” tanya Bella.
“Rissa,” bisik Bara.
“Kakak tersayangmu yang menghubungiku,” lanjut Bara lagi.
“Tapi kenapa nama di kontak ponselmu bisa sama dengan nama panggilan mantan istrimu, Mas?” tanya Bella lagi.
“Aku tidak tahu, Bell. Mungkin dia melakukannya sebelum keluar dari rumah kita. Aku tidak pernah mengeceknya. Kamu tahu sendiri 'kan, ponselku sering aku tinggalkan di atas meja,” jelas Bara.
“Tetapi bagaimana bisa nama yang disimpan bisa sama dengan nama panggilan mantan istrimu, Mas?” tanya Bella, tidak kunjung usai menginterogasi suaminya.
“Kamu cemburu?” Akhirnya Bara mengeluarkan juga pertanyaan yang sejak tadi mengisi pikirannya.
“Kamu cemburu karena aku memanggilnya Love?” tanya Bara lagi.
Istrinya sedang menunduk, tidak mau menjawab sama sekali. Bella memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan.
“Bukan begitu ... tapi ...."
“Baiklah, aku tidak akan memanggilnya seperti itu lagi. Tetapi rasanya aneh kalau harus memanggil namanya,” potong Bara, tersenyum.
“Kamu tahu, Bell. Di saat kami saling melempar piring dan gelas pun, kami tetap memanggil seperti itu. Bahkan di saat saling menampar dan memukul pun akan ada panggilan itu di sela umpatan,” cerita Bara.
Bella terbelalak. Kali ini bukan karena panggilan sayang, tetapi lebih kepada kata saling memukul.
“Mas, dulu sering memukulnya?” tanya Bella ragu.
Bara diam, berusaha mengolah kata di dalam otaknya. Jawabannya pasti akan membuat Bella ketakutan.
“Kami masih sama-sama muda saat itu, emosinya masih menggebu dan tidak mau mengalah ....” Bara mulai bercerita.
“Ya, lebih tepatnya saling memukul. Dia menamparku dan aku pasti akan menamparnya kembali. Dia melemparku dengan vas aku juga akan melakukan hal yang sama. Melempar gelas, piring apa saja yang bisa aku lempar saat itu.”
“Dia bahkan pernah mengacungkan pisau dapur ke depan wajahku. Tetapi aku juga menodongkan senjata di kepalanya.”
Bella semakin terkejut, menutup mulutnya. Benar-benar sulit dipercaya, tetapi suaminya tidak mungkin melakukan kebohongan untuk hal yang bisa menjatuhkan nama baiknya sendiri.
“Itu pertengkaran kami yang terakhir. Setelah itu, kedua orang tuanya meminta kami bercerai detik itu juga sebelum ada korban jiwa,” cerita Bara.
***
T b c
__ADS_1
Love You All
Terima kasih.