
Tiba-tiba Rissa masuk, sambil berteriak di ruang makan. Diikuti seorang security yang berusaha menahan langkah kakinya.
“BARA!” teriak Rissa.
Semua orang yang ada di meja makan terkejut, termasuk Issabell yang menangis karena terkejut mendengar teriakan penuh amarah dari Rissa.
“Bell, tolong bawa Icca ke kamar.” Bara berdiri dan bersiap menantang Rissa yang sedang dipenuhi emosi dan amarah.
Tangisan nyaring Issabell tidak membuat Rissa mundur, tetapi malah semakin menjadi. Menarik paksa gadis kecil itu dari dekapan Bella.
“Aku akan mengambil kembali putriku!” ucap Rissa dengan nada keras.
“Mami ... Mami," teriak kecil dari bibir mungil itu bersamaan dengan jerit tangisnya yang kencang.
“Kak, tolong berikan Icca padaku. Kasihan dia tidak tahu apa-apa,” bujuk Bella, berusaha meraih kembali gadis kecilnya dari gendongan Rissa.
“Kembalikan putriku! Kalau tidak aku akan menuntutmu, mengambil paksa putriku!” ancam Bara.
“Dia putriku, darah dagingku, Bar! Ingat itu!” sahut Rissa tertawa.
Issabell yang masih saja menangis dan berteriak histeris, tidak menyurutkan niat jahat Rissa. Entah apa tujuannya mengacau di kediamana Bara, jelas-jelas ia paham kalau ia tidak memiliki hak apa-apa di rumah ini.
“Kak, tolong berikan Icca padaku. Kasihan Icca,” bujuk Bella.
“Apa yang Kak Rissa inginkan, ayo kita bicarakan baik-baik,” bujuk Bella kembali.
Teriakan dan tangisan Issabell terdengar menyayat hati. Bahkan gadis kecil itu belum menghabiskan makan siangnya.
“Ayo, kita bicara di kamarku,” ajak Bella, menepuk lembut punggung Rissa yang masih saja mendekap erat Issabell yang menangis.
“Aku akan menurut, Kak. Tolong lepaskan Icca. Kasihan dia. Kalau memang Kak Rissa sayang padanya, jangan membuatnya ketakutan,” bujuk Bella.
Rissa diam dan berpikir, kemudian mengalihkan pandangan pada Bella. Terpaksa menurut, ia menyerahkan Issabell pada pengasuh yang langsung maju dan menyambut tubuh mungil Issabell yang menggemaskan keluarga Barata Wirayudha.
“Mami ... Mami ...." Teriakan masih keluar dari bibir Issabell. Suaranya semakin mengecil kemudian menghilang di balik pintu kamar tidurnya.
“Aku ikut!” ucap Bara mengekor di belakang Rissa dan Bella yang sudah lebih dulu berjalan.
__ADS_1
“Mas, kenapa ikut? Aku ingin berbicara berdua dengan Kak Rissa.” Bella menolak kehadiran Bara.
“Aku khawatir Rissa akan menyakitimu,” sahut Bara, meraih tangan istrinya dengan tatapan memohon. Ia berharap diizinkan untuk masuk ke kamar.
Bella menggeleng.
“Dia kakakku. Aku yakin semua akan baik-baik saja.”
Bara memilih mundur, menunggu di luar kamar. Namun, kekhawatirnya tetap sama. Ia mengenal bagaimana sifat Rissa, jauh berbeda dengan istrinya.
“Ada apa, Kak? Kenapa harus marah-marah seperti ini. Kasihan Icca jadi ketakutan?” tanya Bella, saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar.
Rissa bukannya menjawab, tetapi malah memerhatikan keadaan di sekitar kamar. Selama dua tahun tinggal di sini, hanya kamar ini saja yang belum pernah didatanginya. Bara tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kamarnya, kecuali Issabell dan pembantu kepercayaannya yang setiap hari membersihkan dan membereskan semua keperluannya.
Hati Rissa bagai tertusuk ribuan jarum saat melihat pakaian kotor milik adiknya, Bella yang tumpang-tindih dengan pakaian kotor Bara. Bertumpuk jadi satu di sudut ruangan menunggu asisten rumah tangga mengumpulkannya dan membawa ke laundry.
“Apa yang kamu lakukan sehingga nasibmu begitu baik?” tanya Rissa tersenyum mengejek. Ia mengalihkan pandangannya dari tumpukan baju kotor, sekarang menatap Bella dengan senyuman licik.
“Kak Rissa kenapa jadi begini?” tanya Bella lembut, berusaha menenangkan sang kakak.
“Nasibmu memang selalu baik. Sejak kecil, kamu selalu dimanja. Tidak hanya Ayah, Ibu juga. Sekarang kamu dengan mudah menikah dengan laki-laki mapan tanpa bersusah payah.”
“Kak Rissa kenapa?” tanya Bella lagi. Kali ini tatapannya terlihat sedih. Kakak yang disayanginya berubah, tidak seperti dulu. Rissa begitu menyayangi dan mengalah padanya.
“Kamu benar-benar tidak mendengarkan nasehat kakakmu, Bell,” ucap Rissa pelan, menatap ke arah ranjang yang berantakan.
“Aku sudah memintamu meninggalkan suamimu, kamu malah menyerahkan diri padanya. Suamimu itu brengs”ek!” tuding Rissa, berbicara dengan keras.
“Selama dua tahun ini, kami sepasang kekasih. Kami tinggal bersama, kami tidur bersama. Kenapa kamu datang tiba-tiba mengacaukan segalanya,” cerita Rissa, menjatuhkan bokong di atas ranjang. Ia duduk sambil mengusap lembutnya ranjang di kamar utama istana Barata Wirayudha.
“Kamu mengacaukan semua perjuanganku. Kamu mengambil semua milikku, kamu mengambil putriku!” tuding Rissa.
Rissa mengalihkan pandangannya, menatap reaksi Bella yang biasa-biasa saja. Dahinya berkerut saat melihat tidak ada raut keterkejutan di wajah adiknya.
“Bell, kamu benar-benar percaya pada laki-laki itu dibanding kakakmu?” tanya Rissa hampir tidak percaya. Bella yang biasanya tegas dan kritis, tiba-tiba menjadi kalem dan tenang.
“Lalu kenapa kalau suamiku tidur dengan Kak Rissa sebelum ini. Bukankah sekarang dia tidur di pelukanku. Berbagi ranjang dan napas denganku setiap malam,” sahut Bella, menantang.
__ADS_1
“Bell, kamu sudah gila.” Rissa terkejut dengan jawaban adiknya sendiri. Ia meraih sesuatu dari tas tangannya. Amplop yang minggu lalu sempat ingin ditunjukkan pada Bella.
Rissa mengeluarkan puluhan foto dan melemparnya ke udara. Foto-foto itu berhamburan melayang di udara, sampai akhirnya terjatuh pasrah di lantai marmer kamar.
Deg—
Bella berusaha tenang, walaupun hatinya saat ini sedang terluka. Mendengar kejujuran Bara saja sudah terasa menyesakan dada. Apalagi saat ini, ia dipaksa melihat sendiri perselingkuhan suaminya yang entah disengaja atau tidak. Foto-foto Bara dan Rissa berpelukan di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana.
“Dia suamiku, aku bisa apa?” bisik Bella dengan suara bergetar, menahan gejolak di dalam hatinya.
Plakk!
“Sadar, Bell! Laki-laki itu tidak pantas untukmu!” Ucapan Rissa disertai tamparan keras di wajah Bella, untuk menyadarkan sang adik.
“Dia tidak pantas untukku, lalu dia pantas untuk Kak Rissa? Begitu maksud Kak Rissa?” tanya Bella, menguatkan hati.
Plakkk! Tamparan kedua mendarat di wajah Bella kembali.
“Sadar! Kamu sudah tidur dengannya sampai tidak bersedia meninggalkannya?" tuding Rissa kembali.
“Kembali ke Surabaya, tinggalkan dia. Ada laki-laki yang lebih pantas untukmu. Bukan laki-laki b”ajingan seperti dia,” ucap Rissa kembali.
“Gadis bodoh! Kenapa menyerahkan kehormatanmu pada laki-laki b'ejat itu! Dia tidak pantas mendapatkan adikku,” ucap Rissa.
Rissa kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan melemparnya tepat di wajah Bella.
Deretan pil yang masih dalam kemasan itu mengenai dahi Bella sebelum terjatuh ke lantai.
“Jangan sampai hamil anaknya. Terserah kalau kamu mau berbagi napas dan ranjang setiap malam dengannya. Lagipula dia sudah mendapatkanmu.”
“Setelah puas dengannya, kamu bisa menuntut cerai. Kembali ke Surabaya, jaga Ibu. Kamu akan berjodoh dengan laki-laki baik, tetapi bukan Bara,” jelas Rissa, berbalik.
“Sampaikan pada suamimu. Aku akan mengambil kembali putriku. Dia sudah melanggar semua janjinya padaku!” ancam Rissa, bergegas keluar dari kamar.
***
Terima kasih.
__ADS_1
Love You all