
Mobil yang dikendarai Pak Rudi sudah menembus jalanan kota Surabaya. Bara yang duduk di kursi tengah memangku putri kecilnya yang enggan menjauh, selalu menempel padanya. Di sisi kanan, tampak Bella bersandar manja di pundak Bara, bermanja-manja sembari menikmati video di youtube.
“Kamu capek, Bell?” tanya Bara. Dengan tangannya yang bebas, mengusap perut Bella yang masih saja rata di trimester pertamanya.
“Sedikit, Mas. Kakiku kram,” keluh Bella. Pandangannya tidak mau berpindah sedikit pun dari layar ponsel.
“Aku sudah tidak sabar melihat perutmu buncit,” ucap Bara. Ia tersenyum membayangkan Bella berdaster dengan perut besarnya, berjalan ke sana kemari. Membayangkan saja sudah membuatnya bahagia.
Ibu Rosma dan pengasuh Isabell mengulum senyuman, duduk di kursi paling belakang, menikmati gambaran keluarga kecil yang sedang bahagia. Setidaknya wanita tua itu bisa sedikit tenang melihat Bella yang mulai melunak.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke dalam halaman rumah bertingkat. Terlihat Bara turun dengan menggendong Issabell yang tertidur di pundaknya, bergegas masuk ke dalam rumah dan membawa putri kecilnya itu ke dalam kamar.
“Bell, tolong siapkan air mandiku,” pinta Bara, meletakan putrinya perlahan di atas tempat tidur, merapikan pakaian Issabell yang berantakan.
Bella yang mengekor di belakangnya, langsung masuk ke kamar mandi tanpa protes. Menyiapkan air mandi untuk suaminya. Pekerjaan yang sudah rutin dilakukannya, bahkan sebelum menikah dengan Bara, ia sudah terlatih melakukannya.
“Bell, nanti sore aku akan kembali ke Jakarta,” ujar Bara. Lelaki itu sudah ikut masuk ke kamar mandi, mengekor sang istri yang membungkuk di dekat bathtub
“Kamu yakin tidak mau ikut pulang bersamaku ke Jakarta?” tanya Bara, masih berusaha membujuk dengan caranya sendiri. Berharap bisa memboyong anak dan istrinya pulang ke rumah mereka.
“Aku masih ingin di sini, Mas,” sahut Bella.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Bella juga keberatan kalau harus berpisah dari Bara, tetapi ia belum mau kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Takut belum siap menghadapi masa lalu Bara yang pasti akan datang kembali di dalam kehidupan mereka.
Untuk sementara mungkin lebih baik tinggal di Surabaya, sembari menenangkan diri dan fokus dengan kehamilannya. Menjauh dari kisah Bara dan para mantannya yang sering membuat Bella makan hati.
“Aku tidak rela berpisah jauh dari kalian,” ucap Bara tiba-tiba sudah mendekap tubuh Bella dari belakang.
“Bagaimana kalau kita berbagi. Dua minggu di Jakarta, dua minggu di Surabaya,” tawar Bara lagi.
“Jadi kita tidak perlu berpisah,” lanjut Bara lagi, memutar otak mencari jalan tengah. Tangannya masih mengelus lembut perut Bella. Kebiasaan yang sering dilakukannya semejak Bella hamil. Kalau mereka terpisah, ia sudah tidak bisa mengelus anaknya lagi.
__ADS_1
“Bagaimana, Bell?” tanya Bara.
“Sebisa mungkin, aku tidak mau kehilangan momen-momen kehamilanmu. Ini anak pertamaku,” lanjut Bara.
“Aku lihat dulu, Mas,” jawab Bella pelan dan menunduk.
“Mas mandi dulu saja. Aku masih harus merapikan pakaian,” pamit Bella, melepaskan diri dari dekapan Bara.
Bella bukannya tidak mau mengalah, tetapi saat ini ia sedang menikmati hubungan mereka yang tenang, yang tidak bisa dirasakannya selama tinggal di Jakarta.
Hampir setengah jam, Bara berendam di dalam kamar mandi. Bella sendiri sibuk memilah-milah pakaian kotor dan merapikan sebagian perlengkapannya.
“Mas, pakaian kotornya mau dibawa ke Jakarta apa ditinggal?” teriak Bella.
Baru selesai mengatupkan bibirnya, tiba-tiba, mulutnya dibekap seseorang dari belakang. Dengan panik ia menoleh, melirik sosok yang mengejutkannya.
“Mas!” pekiknya kesal, saat menyadari Bara sosok yang membungkam mulutnya tiba-tiba. Suaminya itu masih dengan handuk melilit di pinggang. Rambut pun masih basah menetes turun membasahi pundak dan dada bidang yang telanjang.
“Sstt. Icca sedang tidur,” bisik Bara, berjongkok di samping Bella.
“Mas, aku serius,” ucap Bella kesal, mencubit pinggang Bara.
“Aku juga serius, Bell. Ah, masih tidak rela,” celetuk Bara, meraih selembar kaus dari tumpukan pakaian bersih yang tersusun di dalam koper. Mulai bersiap-siap, ia harus mengejar penerbangan ke Jakarta sebentar lagi.
Bara masih mematut wajahnya di cermin, sesekali menyisir rambutnya dengan jemari sambil tersenyum. Ia mengagumi ketampanan dirinya sendiri. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah istrinya yang duduk di tempat tidur dari pantulan cermin di hadapannya.
Bella sedang duduk tertegun dengan ekspresi datar, pikirannya mengembara. Mempertimbangkan semua permintaan Bara yang berulang kali diucapkan padanya. Hatinya sedikit tercubit, setiap kali mendengar Bara memohon padanya.
“Apa aku terlalu egois, kalau masih belum mau kembali?” batin Bella.
***
__ADS_1
Bara menggendong Issabell yang baru saja bangun dari tidurnya. Gadis kecil itu masih mengantuk, menelungkup di pundak Bara sembari memejamkan mata. Puluhan kecupan dilabuhkan Bara di wajah Issabell, sembari berbisik tentang rindu yang dirasakannya ketika nanti berjauhan dengan sang putri.
“Daddy pergi sekarang. Icca tidak boleh nakal,” bisik Bara, mengusap anak rambut yang berantakan menutupi sebagian wajah Issabell.
“Jangan membuat Mommy kecapekan. Kasihan Mommy. Ada adik Icca di dalam perut Mommy,” bisik Bara, kembali mengecup pipi Issabell yang masih beraroma bantal bercampur air liur.
Gadis kecil itu hanya diam, masih belum sepenuhnya menguasai keadaan. Melemas di dalam pelukan.
Tepat saat akan masuk ke dalam mobil, Bara menyerahkan Issabell pada Bella.
“Jangan menggendong Icca terlalu lama,” pesan Bara tersenyum.
“Bell, aku jalan dulu. Kalau pekerjaanku tidak terlalu menumpuk, dua hari lagi aku akan kembali,” pamit Bara mengecup kening Bella sekilas.
Rasanya belum rela, tetapi ia masih ada pekerjaan di Jakarta yang tidak bisa diabaikan. Seminggu di Bali, ia sudah meninggalkan banyak tugas menumpuk di atas meja.
“I love you,” bisik Bara pelan, nyaris tidak terdengar.
Bella sempat terkejut, masih takut kalau salah mendengar. Ingin bertanya, tetapi malu. Ia hanya bisa diam. Bahkan saat Bara mengecup bibirnya sekilas, Bella masih mematung. Tidak menduga akan mendengar pernyataan cinta Bara yang begitu tiba-tiba.
Sampai Bara masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu menghilang, Bella masih belum yakin.
“Apa aku sudah gila?” celetuk Bella, menepuk pipinya dengan keras. Bella masih berpikir, kata cinta yang Bara ucapkan tadi adalah halusinasi dan tidak nyata. Issabell yang berada di gendongannya, terkejut melihat mommy-nya memukul wajah sendiri.
Bella berbalik masuk ke dalam rumah, masih dengan Issabell di dalam gendongannya. Tidak menyadari lelaki penguntit yang mengambil foto-fotonya dengan Issabell dan mengirimnya pada seseorang. Lelaki yang sama, saat mengambil foto-fofo mereka di bandara.
Aku belum yakin, tetapi kemungkinan gadis kecil ini putrimu, Bos.
***
T b c
__ADS_1
Love you all
Terima kasih.