Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 55. Rania


__ADS_3

Gadis cantik yang rambutnya dikuncir kuda, dengan gaun bermotif floral itu terkejut saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang duduk santai di sofa. Berlari tersenyum, gadis itu memanggil sosok yang sudah lumayan lama tidak ditemuinya.


“Daddy!”


Gadis itu berlari, langsung duduk di pangkuan Bara. Senyum kecilnya tersungging terus-menerus menatap sang daddy.


"Daddy, kenapa tidak main ke rumah Rania lagi?" tanya gadis itu, bersandar di dada Bara.


"Daddy sibuk, Sayang."


Bara memainkan kuncir kuda gadis tanggung yang bernama Rania. Putrinya dengan sang mantan istri. Belakangan Bara memang jarang menemuinya, sejak kedatangan Bella ke Jakarta.


"Kamu ke mana tadi?" tanya Bara menatap cemilan di tangan Rania. Gadis itu terus-menerus memasukan potato chip rasa jagung bakar ke dalam mulutnya.


"Di depan, Dad. Rania bosan di dalam. Aunty Ste sedang sibuk," celotehnya, memajukan bibirnya menunjuk ke arah Stella yang masih sibuk membantu Kailla menghabiskan supnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Bara, merapikan anak rambut yang berantakan di dahi Rania.


Rania menggeleng, tersenyum bahagia menatap Stella. Seolah ingin menyampaikan perasaan bahagianya, bisa bertemu Daddy yang belakangan ini dirindukannya.


"Ayo, Daddy kenalkan dengan Mommy Bella," ajak Bara, membawa gadis berusia 13 tahun itu mendekat pada Bella.


Bella yang sejak tadi hanya menonton, langsung tersadar saat Bara menggandeng Rania mendekat padanya.


"Bell, ini Rania, putriku. Dia putri dari mantan istriku, Brenda," jelas Bara.


"Panggil Mommy Bella, Sayang," pinta Bara, meminta Rania menyapa istrinya.


"Mommy Bella," sapa Rania terlihat terlihat terpaksa. Ada tatapan tidak suka tampak di bola matanya.


"Ya, Sayang," sahut Bella tersenyum, memeluk Rania.


"Issabell tidak ikut?" tanya Rania setelah melepaskan diri dari pelukan Bella, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari sosok kecil yang biasanya dipanggil adik kecil.


"Issabell tidak ikut. Tadi Daddy ke sini, adikmu masih tidur,” jelas Bara, kembali duduk di samping Pram.


"Daddy, kapan Daddy main ke rumah lagi?" tanya Rania, menghampiri Bara.


"Daddy tidak sempat, Sayang. Belakangan Daddy sibuk," sahut Bara, kembali memainkan kuncir rambut Rania


"Mommy tidak ikut?" tanya Bara.


Rania menggeleng, menatap tajam ke arah Bella.

__ADS_1


"Daddy sibuk dengan Tante itu?" tanya Rania, menunjuk ke arah Bella.


"Rania, Tante itu Mommy Issabell," jelas Bara.


Rania naik kembali ke pangkuan Bara, berbisik sesuatu di telinga Bara.


Bara menggelengkan kepala. Entah apa yang dibisikkan gadis kecil itu. Bella hanya bisa menatap dari kejauhan.


"Dia keponakanku, Mbak," jelas Stella.


Bella mengalihkan tatapan dari sang suami dan putrinya, beralih memandang Stella yang tersenyum padanya.


Sekretaris Pram itu bisa melihat jelas, kebingungan yang tercetak di wajah Bella yang sekarang menjadi istri dari mantan kakak iparnya.


"Dia putri kakakku, Brenda." Stella kembali menjelaskan. Ia berusaha membuat semuanya terang, tidak terjadi kesalahpahaman di antara Bara dan istrinya.


Bella mengangguk. Tidak berniat memperpanjang lagi. Berada di sisi Bara, sungguh penuh dengan kejutan. Entah karena ia yang baru masuk ke dalam sana, atau memang hidup suaminya itu penuh dengan rahasia yang belum diungkapkan padanya.


Selama ini, Bella juga tidak mencari tahu. Hubungannya dengan Bara baru dekat akhir-akhir ini.


"Kakakku sedang bekerja dan tidak ada yang menjaga Rania. Jadi aku membawanya ke sini bersamaku." Stella berucap kembali, berusaha menceritakan apa yang bisa diceritakan pada Bella.


"Istri Mas Bara sepertinya baik. Syukurlah, akhirnya Mas Bara bisa memulai hidupnya kembali," batin Stella.


Pernikahan kakaknya sudah tidak sehat. Tidak bisa dan tidak layak dipertahankan lagi. Kedua orangtuanya pun memilih menyerah. Sudah tidak sanggup melihat pertengkaran luar biasa yang terjadi hampir setiap hari.


Brenda keras kepala dan demikian juga Bara. Mereka tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang mau menurunkan egonya masing-masing. Semua diperumit dengan kasus perselingkuhan Brenda. Yang akhirnya membuat pernikahan itu berakhir di pengadilan negri.


Baru beberapa bulan belakangan ini Bara muncul kembali. Itu pun tanpa sengaja, ia berpapasan di RD group saat membahas kontrak kerja sama.


Rania yang bertahun-tahun merindukan sosok Bara, akhirnya bisa bertemu kembali dengan sang daddy.


Sejak beberapa bulan terakhir, Bara sering menemui putrinya. Mengganti kerinduan sang putri padanya selama sepuluh tahun ini. Namun, sejak kemunculan Bella, perhatiannya terbagi. Belum lagi ulah Rissa yang membuat semua berantakan, kembali ia harus mengabaikan Rania.


Di mata gadis tanggung itu, Baralah Daddy yang sebenarnya. Saat menikahi Brenda, Rania baru berusia 1 tahun. Gadis itu tidak mengenal ayah kandungnya. Yang ia tahu dan kenal hanya Bara.


Bella menatap lekat pada Rania yang sedang duduk di pangkuan Bara, sampai mengabaikan Kailla dan Stella yang berada di dekatnya.


"Bell," panggil Kailla, menyadarkan.


"Eh ... ya, Kai." Bella mengalihkan pandangannya.


"Kapan?" tanya Kailla menatap ke arah perut Bella yang masih rata.

__ADS_1


Bella menggeleng. "Belum ...."


Bella sudah tidak fokus, pikirannya ke mana-mana. Belum hilang keterkejutannya dengan masa lalu Rissa dan Bara. Sekarang muncul masa lalu yang lain. Besok-besok entah akan muncul siapa lagi.


Sepanjang kunjungan di rumah sakit, Bella memilih diam. Ia hanya menjawab sesekali saat ditanya saja. Dan Rania, menempel terus dengan Bara, tidak memberi kesempatan pada siapa pun untuk mengalihkan perhatian sang ayah.


Dua jam berlalu, hari pun mulai petang. Bara akhirnya menyudahi kunjungannya. Dengan berpamitan pada Pram dan Kailla serta Stella, Bara menggandeng Bella.


“Rania, Daddy pulang,” pamit Bara, membungkuk dan menyejajarkan tingginya dengan Rania. Tak lupa, menepuk lembut pucuk kepala Rania.


“Rania ikut Daddy pulang,” ucapnya hampir menumpahkan air mata.


“Tidak bisa, Sayang. Mommy tidak mengizinkan,” tolak Bara, tersenyum. Ia mengecup kedua pipi gadis kecil itu.


“Aunty,” rengek Rania, berlari sambil menarik lengan Stella.


“Lain kali ya, Sayang,” bisik Stella, berusaha menenangkan Rania yang mulai menangis.


Tangisan tertahan itu semakin kencang, tubuh Rania berguncang saat tidak seorang pun bersedia mengabulkan keinginannya. Rania menatap satu per satu wajah di dalam ruangan, berharap ada yang mau mendukungnya.


Bella mendekat, mengandeng tangan Rania.


“Mas, apa kita saja yang mengantarnya pulang?” tanya Bella, memberi ide.


Bara terkejut, menolak ide yang menurutnya gila. Bella tidak tahu bagaimana kelakuan mantan istrinya. Dokter kecantikan itu memang benar-benar cantik di luarnya saja, tetapi hatinya benar-benar keras dan susah ditaklukan.


Setiap Bara mengunjungi Rania, hanya ada Stella yang menemani. Brenda memilih pergi dan tidak mau bertemu dengannya.


“Tidak bisa, Bell. Mungkin lain kali saja, ya.” Bara menolak, memberi kode pada Stella supaya menenangkan Rania.


“Rania pulangnya sama Aunty Ste. Nanti baru bertemu Daddy lagi. Kita bujuk Mommy supaya mengizinkan Rania menginap di tempat Daddy,” ucap Stella, membungkuk di depan Rania yang sedang mengusap air matanya.


“Ya, minggu ini Daddy janji ajak adiknya Rania main ke rumah,” bujuk Bara kembali.


Rania masih tidak rela, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk bertemu dengan Bara, memang bukan perkara mudah. Bara harus membuat janji melalai Stella.


Brenda tidak pernah menolak keras, tetapi mantan istrinya itu juga tidak menerimanya dengan tangan terbuka. Perceraian mereka sepuluh tahun yang lalu, bukan terbilang baik-baik. Bahkan sebelum bercerai pun, mereka harus baku hantam hampir setiap malam.


****


Terima kasih


Love you all

__ADS_1


__ADS_2