
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke kediaman Bara hanya hening. Sepasang suami istri itu memilih diam. Entahlah, keduanya dengan pikirannya masing-masing.
Bara fokus dengan setir di tangannya, konsentrasi pada jalanan. Bella terlihat menatap keluar jendela, memandang pengendara lain yang hilir-mudik melewati mobil mereka.
“Bell, maafkan aku. Belum membuka cerita masa laluku,” ucap Bara, tiba-tiba menghentikan mobilnya tidak terlalu jauh dari taman kota.
“Ya, Mas,” Bella menjawab singkat, masih betah memandang kendaraan yang lalu-lalang.
“Rania dan Issabell memiliki arti yang berbeda untukku, meskipun mereka sama-sama memanggilku Daddy.”
Kali ini Bella mengalihkan pandangannya, menatap Bara heran. Selain itu, ia tidak paham maksud dari kalimat Bara.
“Bagiku Issabell putri kandungku, memakai nama keluargaku. Berbeda dengan Rania,” lanjut Bara.
“Maksud, Mas?”
“Aku sebenarnya tidak mau membuka aib mantan istriku. Tapi ini demi hubungan kita. Setelah ini, anggap kamu tidak mendengar apa-apa.”
Bara menghela napas, sepertinya berat untuk bercerita tentang luka masa lalu. Namun, ia ingin memulai rumah tangga serius dengan Bella. Dan cerita masa lalu itu harus dibuka kembali, menceritakannya kembali sebagai bentuk kejujuran dan keterbukaan. Agar di kemudian hari tidak menjadi bumerang untuk rumah tangga mereka.
“Mantan istriku, Brenda. Rania, putri kandungnya dengan laki-laki yang tidak mau dibuka identitasnya oleh mantan istriku. Tapi itu haknya.” Bara mulai bercerita.
“Selama aku menikah dengan Brenda, Rania menjadi putriku. Tapi setelah bercerai, aku bukan siapa-siapanya lagi. Termasuk bukan ayahnya Rania lagi, Tapi aku tidak berhak melarang seorang anak kecil untuk berhenti memanggil dan menganggapku Daddy,” jelas Bara.
Bella terkejut, tidak menyangka. Melihat interaksi Bara dan Rania, seperti ada ikatan batin antara ayah dan anak diantara keduanya. Namun, penuturan Bara bertolak belakang dengan yang baru saja terlihat.
“Saat aku bercerai dengan mamanya, hanya meninggalkan sebuah kecupan ringan di kening Rania yang saat itu baru berusia tiga tahun lebih.”
“Aku tidak bertanggung jawab apa pun pada Rania, tidak menghubunginya juga selama hampir sepuluh tahun ini. Aku memutuskan hubungan, begitu juga dengan mantan istriku. Kami saling menghindar. Bahkan, di saat harus berpapasan di suatu tempat, kami saling tidak mengenali,” lanjut Bara.
“Mas, seburuk itu, kah?” tanya Bella.
“Lebih buruk dari itu. Mungkin kalau kami tidak berpisah, kami akan saling membunuh satu sama lain.”
Bella terkejut kembali. Rasanya aneh, dua orang yang tadinya saling mencintai, tinggal bersama. Mengapa bisa jadi saling membenci.
“Brenda teman sekolahku, kami menjalin hubungan sewaktu SMA. Selanjutnya aku kuliah di Amerika, Brenda di Jakarta.”
Bara terdiam, rasanya benar-benar sulit untuk membuka luka masa lalunya.
“Dalam perjalanan itu, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Setelah menyelesaikan kuliah, akhirnya aku memilih pulang melanjutkan perusahaan yang hampir hancur. Perusahaan yang dirintis orang tuaku. Dan memantapkan hati untuk menikahi kekasihku, Brenda.”
__ADS_1
“Saat itu, aku hanya memiliki Brenda. Tapi, saat aku datang menemuinya, dia sudah memiliki seorang putri, Rania. Berumur satu tahun. Selama aku di Amerika, Brenda berselingkuh,” ucap Bara, memejamkan mata.
“Dan Mas tetap menikahinya?” tanya Bella, padahal ia sudah tahu pasti jawabannya.
“Hal bodoh yang pertama kali aku lakukan. Tapi pada saat itu aku butuh dukungan. Umurku baru 25 tahun.”
“Di saat terpurukku, aku hanya memiliki Brenda. Dan dia, dengan kondisi single parent juga membutuhkan seseorang yang menopang hidupnya dan Rania.”
“Kami menikah dengan alasan yang kami sebut cinta, berusaha menerima kekurangan masing-masing.”
Bara memijat pelipisnya.
“Aku berharap dia berubah setelah menikah. Tapi ternyata, sekali berselingkuh, dia akan tetap berselingkuh lagi.”
Bara merebahkan kepalanya di atas setir mobil. Mengingat kebodohannya.
“Setahun menikah, Brenda berselingkuh kembali. Bukan dengan satu laki-laki, ada banyak laki-laki dalam hidupnya.”
“Setahun aku berjuang untuk membuatnya kembali, tapi tidak bisa. Aku menceraikannya di tahun kedua pernikahan kami,” ucap Bara pelan.
“Mbak Brenda sudah menikah lagi?” tanya Bella ragu.
“Aku tidak tahu jelas dan tidak mau tahu sebenarnya. Aku tidak mengurusi hidupnya lagi. Tapi menurut Stella, Brenda masih sendiri.”
“Jangan pernah berselingkuh, Bell. Itu menyakitkan. Tadinya aku berpikir tidak mau menikah lagi,” ucap Bara pelan.
Bella memandang ke samping, menatap Bara yang memejamkan mata, tetapi dari sudut matanya tampak bulur air mata yang jatuh di pelipis.
“Mas, kamu kenapa?”
“Di saat kamu melihat orang yang kamu sayangi berselingkuh di depan mata.” Bara terdiam, berhenti sejenak.
“Di saat istrimu, yang setiap malam berada di pelukanmu. Tapi, di siang harinya ada di pelukan laki-laki lain. Berbagi tempat tidur dengan laki-laki lain. Kalau bisa meminta kepada Tuhan, aku tidak mau diberi kesempatan melihat perselingkuhannya secara langsung,” ucap Bara, bergetar, berusaha menahan perasaannya.
“Mas ...." Bella menepuk lembut lengan suaminya, menghapus air mata yang mengalir di pelipis Bara.
“Bayangan itu akan muncul terus-menerus di dalam hidupmu, Bell. Dan butuh waktu lama untuk berdamai.”
“Mas ... sangat mencintai Mbak Brenda?” tanya Bella, menggigit bibir bawahnya.
“Pada saat itu, aku sangat mencintainya. Dia tempatku berbagi duka, tempat ku bersandar di saat terpuruk. Aku hanya memilikinya di dunia ini. Aku memercayakan hidupku padanya. Berjuang untuk kebahagiaannya,” sahut Bara membuka matanya. Menatap Bella yang sedang memandangnya dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Bella mendengar Bara mencintai seseorang. Dan itu keluar langsung dari bibir suaminya sendiri.
Dan yang membuat Bella ingin menangis adalah rasa sakit, saat mendengar pengakuan cinta Bara. Walaupun itu masa lalu, entah kenapa rasanya menyakitkan. Berbeda rasa saat Bella melihat foto-foto mesra suaminya dengan Rissa. Berbeda sakit, di saat mendengar Bara mengatakan kalau ia pernah tidur dengan Rissa.
Sakit yang dirasakan Bella saat ini, seperti tertusuk ribuan belati tepat di jantungnya. Apa lagi melihat air mata Bara. Dari situ sudah terlihat seberapa besar cinta Bara untuk mantan istrinya.
“Dan untuk melupakan cinta itu, Mas memilih meninggalkan kota ini dan ke Surabaya?” tanya Bella lagi.
“Ya, dan aku tetap ada sampai sekarang karena Ibu. Tidak ada Ibu, tidak ada Barata Wirayudha di dunia ini. Aku dulu terlalu memakai perasaan. Dan sekarang aku tidak akan menggunakan perasaanku. Aku takut dengan sakitnya,” ucap Bara.
Ya, Bella ingat, ibunya pernah bercerita, di awal pertemuannya dengan Bara. Laki-laki yang menjadi suaminya sekarang, saat itu sangat rapuh. Bahkan, kalau tidak ada Ibu, Bara akan mengakhiri hidupnya.
Saat itu Bella masih kecil, ia baru berumur 9 tahun. Tidak paham apa-apa. Saat itu pun, keluarganya sedang terpuruk. Tadinya mereka tinggal di rumah mewah, tetapi kematian ayahnya membuat kehidupan mereka berubah drastis. Tidak ada lagi gaun indah, kamar Hello Kitty berikut boneka kesayangannya. Semua hilang dalam sekejap mata.
Ibu membawanya dan Rissa tinggal di kontrakan sempit. Rumah mewah mereka disita bank beserta isi-isinya. Tersisa perlengkapan pribadi. Itupun yang masih bagus, harus dijual untuk kebutuhan sehari-hari.
Rissa saat itu sudah hampir menamatkan SMA-nya. Kakaknya itu tidak merasakan hidup susah terlalu lama. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Rissa langsung melanjutkan kuliah ke Jakarta.
Dan keluarga mereka beruntung bisa bertemu Bara pada saat itu. Bella dan Rissa tetap bisa melanjutkan pendidikannya karena Bara. Tak lama, mereka pun pindah dari kontrakan sempit, menghuni salah satu kamar di kediaman Bara,
Menumpang makan dan tinggal. Sebagai ganti, Bella dulu membantu ibunya mengurus rumah besar Bara setiap pulang sekolah.
“Bell, maafkan sikap Rania tadi. Kasihan anak itu,” ucap Bara tiba-tiba, mengalihkan topik pembahasan.
“Kenapa, Mas?” tanya Bella penasaran.
“Dia sepertinya kehilangan sosok ayah. Aku membatasi diriku untuk bertemu atau terlalu dekat dengannya. Aku beralasan setiap kali Rania meminta bertemu,” jelas Bara.
“Kenapa memang Mas tidak mau terlalu dekat dengan Rania?” tanya Bella lagi.
“Aku tidak mau melibatkan hidupku terlalu jauh dengan kehidupan Brenda. Dan Rania adalah bagian dari hidup Brenda.”
“Rania baru beberapa bulan ini bertemu lagi denganku. Tanpa sengaja aku bertemu Stella, dan mantan adik iparku yang memohon padaku supaya aku menemui Rania.”
Bella semakin bingung.
“Seharusnya Rania sudah melupakanku. Waktu aku meninggalkannya, dia baru tiga tahun. Tapi Stella dan mantan mertuaku selalu mengenalkan pada Rania, kalau aku daddy-nya.”
***
T B C
__ADS_1
Terima kasih
Love You All