
“Ibu pulang ke Surabaya bersama Non Icca. Bawa Mbak pengasuh juga, Pak,” sahut sang asisten.
Bara terkejut bukan main. Setiap Bella ke Surabaya pasti istrinya itu sedang marah padanya. Entah untuk alasan apa, tetapi selama ini Bella akan pergi setiap memiliki masalah dengannya. Sudah menjadi kebiasaan, sampai Bara sangat hafal.
“Aduh Bell, sampai kapan kamu baru bisa mengerti keadaanku. Tidak bisakah dibicarakan baik-baik,” ucap Bara pelan, meremas rambutnya. Dia tidak tahu jelas apa yang membuat istrinya itu memutuskan kembali ke Surabaya.
Mencoba menghubungi Bella juga rasanya percuma, saat ini istrinya pasti sedang di udara. Ponselnya tidak akan aktif. Saat pikiran kalut sedang mengisi otaknya, terdengar deru mobil Pak Rudi yang masuk ke pekarangan rumahnya.
Setengah berlari, Bara menghampiri sopir keluarganya itu. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi.
“Pak, istriku terbang jam berapa?” tanya Bara, menumpahkan rasa penasarannya.
“Kurang tahu juga, Pak.” sahut Pak Rudi dengan santai.
“Istriku kemana saja sepanjang hari ini, Pak?” tanya Bara lagi. Paling tidak, dia bisa mencari tahu.
“Tidak kemana-mana, Pak. Hanya tadi sebelum ke bandara, ibu ke rumah sakit untuk meminta surat keterangan dokter,” jelas Pak Rudi.
Deg—
“Ke rumah sakit?” tanya Bara, memastikan lagi.
"Rumah sakit yang biasa istriku dirawat?" tanya Bara lagi.
Pak Rudi mengangguk. Lelaki paruh baya itu berjalan menuju pos security bergabung dengan rekannya para penjaga gerbang depan, setelah memastikan Bara yang kembali masuk ke dalam rumah.
Jantung Bara berdetak kencang, pikiran buruk pun berterbangan di otaknya. Lelaki tampan itu bergegas menuju ke kamarnya dengan berbagai dugaan-dugaan yang mungkin bisa saja terjadi.
“Apa Bella melihatku bersama Rania di rumah sakit, jadi dia marah lagi karena aku berbohong,” ucapnya pelan, sembari menapaki anak tangga yang akan mengantarnya lantai dua. Dia tahu jelas, rumah sakit tempat Brenda dirawat adalah rumah sakit dimana dokter kandungan Bella berpraktek.
“Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini. Pasti Bella salah paham lagi padaku, mengira aku berhubungan kembali dengan Brenda,” bisik Bara, meremas rambutnya, kesal pada dirinya sendiri.
Begitu masuk ke dalam kamar, ponsel Bara selalu menempel di telinga. Berulang kali menghubungi Bella, berharap segera tersambung. Bagaimanapun, dia harus meluruskan dan mencari tahu apa yang terjadi. Tidak mau ada kesalahpahaman yang berlarut-larut di tengah usia kehamilan istrinya yang semakin membesar.
***
Begitu menginjakan kakinya ke Surabaya, Bella langsung mencari taksi. Dia tidak bisa langsung ke rumah sakit dengan mengajak Issabell. Putri kecil yang masih terlelap di gendongan pengasuhnya.
“Mbak, nanti temani Issabell di rumah. Aku harus menunggu Ibu di rumah sakit,” pinta Bella.
__ADS_1
“Hati-hati, Mbak. Jangan sampai kejadian penculikan Issabell terulang lagi. Aku tidak mau sampai Mas Bara marah-marah lagi,” lanjut Bella.
“Baik, Bu.”
“Kalau ada apa-apa, segera menghubungiku.” Terlihat Bella mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, mengaktifkannya kembali.
“Ya, Bu,” sahut sang pengasuh.
Bella merapikan rambut Issabell yang tergerai berantakan menutupi wajah mungilnya. Tersenyum menatap putri kecil yang sekarang begitu akrab dengannya.
“Dia cantik sekali,” ucapnya pelan.
“Kak Rissa harusnya bahagia bisa memiliki putri secantik Icca,” ucap Bella hati.
Bella masih terpaku menatap putrinya kala ponsel di tangannya berbunyi. Berdering pelan memecah hening di dalam taksi.
“Mas Bara,” ucap Bella, berbisik pelan. Buru-buru mengeser tombol hijau untuk menerima panggilan suaminya.
“Mas,” sapa Bella, begitu gawai tipis itu menempel di telinga.
“Akhirnya Bell. Apa yang terjadi? Kenapa harus sampai pulang ke Surabaya lagi? Semua bisa dibicarakan,” ucap Bara, mencerca Bella dengan banyak pertanyaan. Mendengar suara Bella, hatinya mulai tenang.
“Maaf Bell, aku mohon jangan marah lagi. Tolong, maafkan aku. Aku tahu, aku salah karena sudah berbohong padamu,” ucap Bara, menjelaskan. Kalimatnya terdengar begitu memelas.
“Mas bicara apa?” tanya Bella bingung sendiri. Dia tidak paham dengan arah pembicaraan suaminya.
“Aku tidak bermaksud membohongimu lagi, Bell. Semua ini hanya salah paham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Brenda. Kamu hanya salah paham, Bell,” cerita Bara, langsung berterus terang.
Bella mengerutkan dahinya. Bingung sendiri dengan semua ucapan suaminya.
“Mas,” ucap Bella, dengan nada datar.
“Aku mohon kembali ke Jakarta. Aku tidak bisa berpisah darimu. Kita bicarakan baik-baik. Kamu sedang hamil, jangan berpikir untuk berpisah lagi,” pinta Bara.
“Mas, apa yang terjadi? Mas bertemu dengan Mbak Brenda lagi? Mas berbohong lagi?” Sekarang, Bella yang memberondong Bara dengan banyak pertanyaan.
Deg—
Mendengar respon Bella, Bara terkejut. Sepertinya dia sudah salah paham. Mendengar pertanyaan istrinya, lelaki itu yakin kalau Bella tidak tahu apa-apa tentang kunjungannya ke rumah sakit untuk menemui Brenda.
__ADS_1
“Bell, apa yang terjadi? Kenapa mendadak ke Surabaya?” tanya Bara, melunak dan lebih tenang.
“Ibu tidak sadarkan diri. Tidak ada yang mengurus Ibu di sini,” sahut Bella. Pikirannya masih tertuju pada Brenda.
“Hah?!” Bara terkejut.
“Kenapa tidak mengabariku?” tanya Bara, panik.
“Aku sudah mencoba, tetapi sulit sekali menghubungimu. Bahkan aku juga menghubungi Kevin. Semuanya tidak menjawab,” gerutu Bella, menahan kesal.
“Oh, aku kira kamu pulang karena apa. Nanti kabari aku mengenai kondisi Ibu, Bell. Kalau memang perlu, aku akan menyusul ke Surabaya,” celetuk Bara, terlihat tenang.
Baru saja Bara akan mematikan ponselnya, Bella menahannya.
“Tunggu Mas, urusan kita belum selesai!” ucap Bella ketus, teringat dengan pernyataan Bara sebelumnya.
“Urusan apalagi, Bell?” Bara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mas bertemu Mbak Brenda lagi? Bertemu dimana? Katakan padaku!” perintah Bella, mulai terpancing emosinya. Merasa tidak terima sudah dibohongi Bara. Bukan kali ini saja, suaminya itu sudah sering kali berbohong.
“Emm ... Bell, bukan begitu,” sabut Bara, berusaha menenangkan.
“Bukan begitu bagaimana? Mas tadi pagi izin padaku untuk keluar kota, meninjau proyek. Tiba-tiba sekarang Mas mengatakan kalau bertemu dengan Mbak Brenda,” ucap Bella, menahan amarahnya.
“Katakan padaku! Jujur sekarang! Sudah berapa kali Mas berbohong. Jangan-jangan selama ini Mas tidak ke Bogor, tetapi bertemu dengan Mbak Brenda!”
“Tidak begitu Bell. Baru sekali ini saja,” jelas Bara.
“Ya sudah. Aku tidak mau lagi bicara denganmu, Mas. Kelewatan kamu, Mas,” putus Bella, mematikan ponselnya. Amarahnya terpancing saat mendengar kejujuran Bara yang terlambat.
Kembali teringat dengan kejadian di rumah sakit. Sosok lelaki yang dikiranya sang suami, saat masuk ke dalam lift.
“Ternyata dia benar-benar Mas Bara,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Dengan ujung jari mengusap tetes air yang hampir terjatuh. Tidak ingin pertengkarannya tercium oleh pengasuh putrinya. Sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya dari semua orang.
“Tega kamu, Mas. Tidak pernah puas menyakitiku,” batinnya.
***
TBC
__ADS_1