Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 70. Kejutan Di Pagi Hari


__ADS_3

Bella masih saja mendengus kesal, sesekali melempar senyuman pada gadis kecilnya. Wajahnya sedikit cemberut, tidak seperti biasa. Rasa aneh saat diabaikan suaminya, masih mempengaruhi mood-nya pagi ini.


“Mommy ... sini. Main bola!” teriak Issabell, kaki lincahnya menendang bola ke sana kemari, mengejarnya kemudian.


Bella menggeleng. “Mommy tidak bisa, Sayang,” tolak Bella, setengah berteriak.


“Mommy! Sini!” rengek Issabell, mulai menangis kecil saat permintaannya ditolak.


Dengan gontai, Bella berdiri. Ia melangkah dengan terpaksa.


Cuaca pagi itu lumayan cerah, dengan matahari pagi yang tidak pelit membagi sinarnya. Semburat itu terlihat jelas dan menggigit kulit. Namun, gadis kecilnya tetap betah berjemur tanpa protes.


“Bell, aku harus berangkat sekarang,” ucap Bara tiba-tiba, merengkuh tangan Bella dari belakang.


“Hah!” Bella sempat terkejut. Suara maskulin yang terdengar memuakan saat ini. Mood seorang wanita hamil apa bisa begini mengerikan, Bella sendiri tidak paham. Biasanya ia tidak peduli dengan perhatian Bara, tetapi sekarang terasa penting dan seperti keharusan.


Manja. Satu kata yang seharusnya tidak pernah ada di kamus Bella. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini sepertinya ia begitu peduli.


“Oh, ya,” lanjutnya lagi singkat. Tidak ada reaksi apa pun. Bella kembali melangkah menuju ke arah putrinya.


“Hati-hati di jalan, Mas,” ucap Bella lagi, melambaikan tangan. Ia memang sengaja tidak mau beramah-tamah. Ibu hamil itu masih terbawa perasaan.


“Bell, kalian tidak mengantarku ke depan?” tanya Bara heran. Matanya mengikuti pergerakan kaki Bella melangkah.


Yang ditanya sudah berlalu pergi, menengok pun tidak. Lambaian tangan yang baru saja terjadi adalah respon terakhir istrinya.


Hanya menghela napas, Bara berbalik pergi. Ia harus segera berangkat, kalau tidak akan terjebak macet di perjalanan. Andai tidak memikirkan kehamilan Bella, sudah pasti ia akan mengajak istrinya ikut bersamanya.


***


Sepanjang hari ini terasa hampa, tidak ada panggilan atau kabar dari suaminya. Bella pun hanya menghabiskan waktu sebentar di kampus, setelah itu pulang ke rumah menemani Issabell.


Melewatkan makan siang hanya berdua, Bella masih bersikap biasa. Namun, saat melewatkan makan malam hanya berdua lagi dengan putrinya, rasa was-was mulai menyelimuti hatinya. Kepercayaan pada suaminya terkikis perlahan.


Puncaknya saat waktu menjelang tidur, tidak ada tanda-tanda kepulangan Bara. Di ponsel, tidak ada kabar secuil pun dari Bara.


“Mommy, mau bobok,” pinta Issabell. Seharian ini, mereka menghabiskan waktu berdua. Bella yang fokusnya terbelah, memilih menemani Issabell bermain.

__ADS_1


“Bobok sama Momny di sini saja, ya,” ajak Bella.


“Mau, Mommy,” sahut Icca, langsung meloncat naik ke atas tempat tidur.


“Mommy, Daddy, Icca," ucap gadis kecil itu lagi sambil memainkan jemarinya.


“Ayo, kita ke bersiap!” pinta Bella, menurunkan gadis itu dari atas tempat tidur dan membawa putrinya berganti pakaian tidur, mencuci kaki kemudian menggosok gigi di kamar.


Barulah setelah itu mereka kembali ke kamar Bella. Ketika masuk kembali, mata Bella sempat menatap ke arah jam di kamarnya. Waktu sudah hampir pukul 21.30 malam. Bahkan suaminya belum ada kabar berita sejak siang tadi. Berusaha menghubungi ponsel Bara, selalu disambut dengan suara merdu sang operator cantik.


“Mommy, baca celita, ya,” pinta Issabell.


“Ya ...." Bella tersenyum, tetapi hatinya kian memanas. Dengan kesal, ia mengunci pintu kamarnya.


“Biarkan saja, sekali-kali harus diberi pelajaran! Tidak ada kabar, dihubungi pun tidak bisa,” gerutu Bella dalam hati.


Bella sudah mengambil sebuah buku cerita anak-anak yang biasa disimpan di laci nakasnya, bekal untuk Issabell yang terkadang suka menumpang tidur bersama mereka.


“Ayo diselimuti sampai ke leher, Sayang,” pinta Bella, menarik selimut, membungkus rapat tubuh mungil yang semakin hari semakin gembul.


Seharian ini Issabell kelelahan bermain dan itu membuatnya mudah tertidur di saat malam hari,


“Good night, Sayang,” bisik Bella, mengecup kening gadis kecilnya.Ia ikut berbaring dengan pikiran tidak sehatnya.


Seharian ini ada banyak pikiran buruk tentang suaminya bermunculan. Dari sekretarisnya Dona, kemudian nama Brenda yang sempat diucapkan Bara tadi pagi, belum lagi ingatannya kembali pada kisah Bara dan kakaknya.


Walau ia berusaha menerima semuanya dengan lapang dada, tetapi tetap saja ada rasa takut. Apalagi sekarang ia sedang hamil. Ia tidak tahu akan ada wanita mana lagi yang muncul di depan matanya dan memproklamirkan hubungan dengan suaminya.


Pikiran-pikiran itu mondar-mandir di dalam otaknya, bagai musik pengantar tidur. Walau sulit, akhirnya Bella tertidur juga.


***


Deru mobil Bara tiba di kediamannya saat menjelang tengah malam. Hari ini jadwalnya padat sekali, ia tidak ada waktu untuk mengabari Bella, bahkan mengecek ponsel pun tidak. Ia tidak sempat. Belum lagi, mobil mereka harus terjebak macel di tol dalam kota.


Dengan langkah gontai dan wajah lelahnya masuk ke dalam rumah yang sepi dan senyap. Tangan Bara menggenggam erat jas kerjanya yang sudah kusam terkena debu proyek.


Tepat sampai di depan pintu kamarnya, senyum tipis muncul di bibirnya. Namun, itu semua tidak berlangsung lama, saat tangannya mengayunkan gagang pintu yang terkunci dari dalam.

__ADS_1


“Astaga, Bell. Kenapa dikunci?" desahnya sudah tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.


Tenaganya habis sudah. Tidak sanggup berpikir apalagi harus berdebat, Ia melangkah menuju ke kamar putrinya. Untuk saat ini, kamar itu solusi terbaik, melepas penat dan lelahnya.


Brakk! Bara menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur bernuansa Hello Kitty yang didominasi warna merah muda. Lengkap dengan barisan boneka kucing betina yang berbaris rapi di bagian kepala tempat tidur.


Tanpa membersihkan diri, Bara hanya melepas kemeja dan celana panjangnya. Bermodal celana boxer, ia pun terlelap di alam mimpi setelah mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.


***


Kamar putrinya yang tanpa alarm, membuat Bara bisa tidur lebih lelap dari biasanya. Tidak seperti di kamar tidurnya, yang setiap pagi akan terganggu dengan alarm ponsel istrinya.


Ceklek!


Pintu kamar itu terbuka, tampak pengasuh Issabel masuk seperti jadwal biasanya membangunkan gadis kecil putri majikannya. Semalam, ia bisa tidur cepat. Issabell terus bersama ibunya sejak selesai. makan malam.


Sedikit heran, tidak seperti biasanya Issabel mau tidur dengan kondisi kamar remang dan sedikit gelap. Ia berjalan perlahan menuju ke tempat tidur.


“Icca, ayo bangun!” panggilnya pelan. Baru saja ia akan berbalik menyalakan penerangan, tangannya ditarik seseorang dan terjatuh di atas ranjang. Tidak sampai di situ, ada tangan kekar dan kuat membelit tubuhnya semakin membuatnya panik.


“Ah!” pekiknya kencang dan ketakutan. Bella dan Issabell yang baru saja keluar dari kamar segera berlari untuk mencari tahu apa yang terjadi.


“Kamu siapa?” terdengar suara serak Bara, yang belum melepaskan pelukannya. Bahkan Bara masih mengumpulkan kesadarannya yang belum kembali semua.


“Mbak, apa yang terjadi?” tanya Bella, yang mengenali suara pengasuh Issabell. Segera ia menyalakan lampu untuk mencari tahu.


Saat ruangan itu menjadi terang benderang, Bella terkejut. Bara yang hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada sedang memeluk pengasuh Issabell di atas ranjang.


“Mas, apa-apan ini?” tanya Bella.


***


T b c


Terima kasih


Love you all

__ADS_1


__ADS_2