
Sore itu Bella termenung di bangku taman belakang rumahnya, memandang Issabell yang sedang bermain ditemani Rania dan pengasuhnya. Entah keputusannya benar atau tidak menerima Rania di rumah tangga mereka.
Namun, melihat senyuman terkulum gadis itu, rasanya ia bahagia. Bella seperti melihat masa kecilnya di dalam diri Rania. Dulu, saat seumur Rania, ia juga tidak punya ayah. Ibunya harus bekerja dari pagi sampai malam, baru pulang ke rumah.
Sepanjang hari ia hanya berdua dengan kakaknya. Setiap pulang sekolah dititipkan dengan tetangga sebelah rumah kontrakan. Kadang, ia dan Rissa bisa makan, tetapi tidak jarang juga harus menahan lapar sampai ibunya pulang bekerja.
Keadaan seperti itu baru berakhir ketika Bara mengizinkan ibunya memboyong mereka ikut tinggal bersama. Barulah keadaan membaik. Ia dan Rissa bisa bersekolah, tanpa memikirkan SPP yang menunggak. Tidak dikejar-kejar ibu pemilik kontrakan. Tidak lagi merasakan listrik padam karena tidak bisa membayar tagihan.
Dari arah belakang kursi, tiba-tiba ada tangan yang memeluk erat, mengecup pipi ibu muda itu sekilas. Kemudian tangan kekar itu beralih mengelus perut ratanya.
“Apa yang kamu pikirkan, Bell?” tanya Bara. Lelaki itu masih dengan setelan kerjanya. Sengaja pulang lebih cepat karena khawatir dengan kondisi rumah. Ini adalah hari pertama Rania tinggal bersama mereka. Ia takut gadis itu mengacaukan segalanya. Apalagi saat ini Bella sedang hamil muda.
Ia tidak mau terjadi sesuatu pada bayinya. Pengalaman teman baiknya, Pram yang kehilangan bayi membuat Bara lebih hati-hati saat menjaga Bella.
“Mas! Mengagetkanku saja,” gerutu Bella, menepuk lembut tangan Bara yang sedang mengelus perutnya.
“Apa yang kamu pikirkan, Bell?” Bara kembali bertanya.
“Tidak ada. Hanya saja aku merasa Rania mirip denganku saat masih kecil,” sahut Bella, menunjuk ke arah Rania yang sedang mengejar Issabell sembari tertawa ceria.
“Kenapa sekarang kamu begitu keras kepala, Bell,” tanya Bara, ikut duduk di sebelah Bella.
“Entahlah, aku sendiri heran dengan perubahan sikapku. Apa aku begitu menyebalkan, Mas?” tanya Bella, memandang suaminya dan menunggu jawaban.
“Terkadang ... ya. Seperti tadi pagi, sama sekali tidak mau mendengarkan pendapatku,” sahut Bara, meletakan tangannya di sandaran kursi, sesekali menepuk lembut pundak istrinya.
“Mas, jawab aku yang jujur. Apakah masih ada rasa di hatimu untuk Ibu Rania?” tanya Bella, melirik suaminya dengan ujung matanya. Tak lama pandangannya kembali beralih menatap Rania.
Bara bukannya menjawab malah terkekeh. “Bukannya kita sudah membahasnya kemarin. Kenapa mengulang lagi?”
“Aku belum puas dengan jawabanmu, Mas.”
“Kamu harus tahu satu hal, aku menyayangimu, Issabell dan pernikahan kita.” Bara menjawab.
__ADS_1
Bara menghela napas, sebenarnya malas membahas orang yang sama. Apalagi si pemilik nama sedang bertarung nyawa di rumah sakit, melawan penyakitnya.
“Setelah mencoba berdamai dengan masa lalu, ketika bertemu kembali ... seperti ada rasa yang tertinggal,” lanjut Bara.
Hening sejenak. Bella menatap sinis suaminya, tiba-tiba hatinya ngilu.
“Namun, rasa yang tertinggal itu bukan cinta. Sekian lama kami bersama, bukan hanya sehari-dua hari. Brenda cinta pertamaku,” lanjut Bara, ikut menatap Rania. Ketika mengenal Brenda pertama kali, mungkin usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari usia Rania saat ini.
“Mas sangat mencintainya dulu?” tanya Bella. Semakin bertanya, semakin penasaran, semakin sakit juga hatinya.
“Sudahlah, Bell. Kenapa membahas yang sudah berlalu.”
“Mas, aku mau mendengar jawabannya,” rengek Bella seperti anak kecil.
“Aku yang tidak mau membahasnya,” tolak Bara.
Bella menitikan air mata. “Penolakan Mas membuatku bisa mengerti apa jawabannya,” dengus Bella kesal sendiri.
“Kalau aku menjawab tidak, apa kamu mau percaya, Bell?” Bara balik bertanya.
Lagi-lagi Bella diam.
“Dulu aku menjalani hidup dan berumah tangga lebih banyak menggunakan perasaan. Semakin ke sini, aku belajar banyak. Lebih menggunakan logika.”
“Cinta mungkin penting, tetapi kewarasan untuk menjaga komitmen itu jauh lebih penting.”
Bella menelan ludah. Hatinya tercubit saat mendengar ucapan Bara. Ia hanya pendatang baru di kehidupan Bara, bahkan belum diberi tempat yang layak di hati suaminya sendiri. Setetes air mata jatuh kembali dan Bara melihatnya sendiri.
Tes!
“Sudahlah, Bell. Kita bahas yang lain saja. Masa laluku terlalu mengerikan. Dulu setiap mengingatnya, aku akan menangis sepertimu. Namun, waktu mengajarkan banyak hal untukku. Aku tidak mau jatuh cinta lagi. Aku berharap seumur hidup tidak perlu merasakan cinta lagi. Sudah tidak sanggup kalau harus hancur untuk kedua kali,” jelas Bara.
Bella berusaha menahan gejolak di dalam hatinya. Sakit sekali rasanya mendengar suaminya tidak mau jatuh cinta lagi, termasuk menolak untuk jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Dulu di awal pernikahannya, ia tidak peduli Bara mencintainya atau tidak. Namun sekarang, sejak ia mulai merasakan sesuatu pada suaminya, itu menjadi penting. Dan jadi sakit sendiri saat mendengar suaminya tidak mencintainya. Padahal, sewaktu menikah, ia sudah tahu dengan jelas. Tidak ada cinta di antara mereka.
“Apakah sesakit yang aku rasakan sekarang? Apa ini yang dirasakan Bara saat mantan istrinya berselingkuh?” Bella membatin.
“Mas, apakah aku tidak boleh mencintaimu?” tanya Bella tiba-tiba.
Bara tersenyum. “Mencintailah dengan logika dan waras. Di saat segala sesuatu tidak sesuai harapanmu, kamu tidak akan jadi gila dan berhenti menikmati hidup.”
“Aku tahu pasti akan sulit,” lanjut Bara.
“Semua orang yang jatuh cinta, pasti mengerahkan segenap hati dan hidupnya untuk orang yang dicintainya. Sampai lupa kita bukan pemilik hidup dan hati sebenarnya. Sewaktu-waktu itu diambil kembali, susah untuk bangkit kembali. Bahkan tidak sedikit yang gagal bersyukur untuk nikmat Tuhan lain. Yang diingat hanya kegagalan karena cinta.”
“Mungkin aku salah satunya. Kalau bukan karena ibumu, aku sudah mati bunuh diri atau mati konyol dan mengenaskan,” cerita Bara, kembali menerawang ke masa lalunya.
Pasca bercerai dengan Brenda, hidupnya berantakan. Jauh lebih mengerikan dibandingkan saat masih berstatus suami istri walaupun baku hantam setiap hari. Ia sampai harus menyingkir dari Jakarta untuk menenangkan diri. Supaya tidak terbayang lagi dengan rumah tangga yang mengerikan dan melupakan cinta sekaligus sakitnya dikhianati.
Ia tidak bisa mengurus perusahaannya. Sepanjang hari hanya minum demi untuk bisa mabuk dan lupa dengan pengkhianatan Brenda. Ada satu titik, tubuhnya sudah tidak bisa menerima minuman keras itu lagi. Lambungnya bergejolak dan muntah. Ia pun beralih ke obat tidur, sampai berakhir over dosis. Beruntung ada Ibu Rosma. Wanita itu yang menyelamatkannya.
Menasehatinya perlahan, sampai akhirnya ia memilih jalan ke psikiater. Kehadiran Ibu Rosma membuat ia merasa tidak sendirian. Sosok kedua orang tua yang meninggal karena kecelakaan beberapa tahun sebelumnya seperti muncul kembali.
Setelah terlepas dengan bayang-bayang masa lalunya. Barulah ia berani memutuskan kembali ke Jakarta, mencoba berdamai. Mungkin pernikahannya dengan Bella sedikit banyak membantu. Meskipun pada akhirnya, tanpa sengaja bertemu kembali dengan bagian masa lalunya, saat statusnya sebagai suami Bella. Walau tidak tinggal bersama membuatnya berkomitmen pada rumah tangga mereka.
“Mas, maafkan aku. Mungkin aku sudah mencintaimu, Mas,” ucap Bella pelan, menyadarkan Bara yang sedang mengembara dengan masa lalunya.
Bara mematung, tidak bisa menjawab sama sekali. “Tidak bisakah membuka hatimu untukku?” bisiknya lagi. Suara Bella terdengar memohon.
Hening—
Air mata menetes kembali. “Aku belum pernah jatuh cinta. Jadi aku tidak tahu ... apa yang aku rasakan untukmu ini bisa disebut cinta,” lanjut Bella, tertunduk.
***
T b c
__ADS_1
Love You all
Terima kasih