Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 59. Pertengkaran


__ADS_3

"Maaf, ada keperluan apa dengan istriku, Bella?" tanya Bara.


Ricko terkejut, kata istri yang keluar dari bibir laki-laki gagah dengan setelan rapi di hadapannya seketika membuat waktu berhenti berdetak, bumi berhenti berputar.


Kegilaan apa yang sudah dilakukannya. Kenapa Rissa bahkan menutup mulut mengenai fakta ini. Memilih menyembunyikan kebenaran, mendorongnya mengejar cinta pada Bella.


Apalagi sudah terlanjur menginjakan kaki ke ibu kota, kembali ke Surabaya rasanya malu sendiri. Boleh gagal dalam bercinta, tetapi tidak boleh gagal dalam berusaha dan berkarya.


Kalau benar laki-laki tampan yang sedang mengulitinya dengan tatapan tajam adalah suami Bella, mau diletakan di mana harga dirinya sebagai laki-laki.


Dengan menguatkan tekad dan niat sekaligus membuang rasa malu karena terlanjur mengejar istri orang, Ricko pun menjawab.


"Saya sebenarnya ingin mencari pekerjaan di Jakarta, Pak," sahut Ricko, berusaha tenang. Berdiri kaku, tidak berani beradu pandang dengan kilatan mata Bara yang mengintimidasi.


"Ehem ...." Dehaman Bara memecahkan keheningan yang tercipta.


"Memang istriku membuka lowongan pekerjaan?" tanya Bara ketus dan terkesan asal.


"Bu-bukan begitu Pak. Mak ... sud ...."


"Sudah! Katakan saja apa maksud dan tujuanmu menemui istriku sepagi ini?"


Bara sudah bertolak pinggang, tidak mau beramah tamah pada tamu istrinya ini. Bara jelas tahu kalau Ricko bukan saingan cintanya.


Cukup melihat bahasa tubuhnya saja, Bara bisa menilai laki-laki muda ini bukan orang jahat.


Hanya saja, Bara masih kesal membayangkan Bella dan Ricko masih saling berhubungan di belakangnya. Terbukti dari kedatangan Ricko yang tiba-tiba.


"Bella yang memberikan alamat rumah ini" tanya Bara, menembak langsung. Lebih tepatnya menuduh.


"Sayang ...." Terdengar sapaan manja yang tidak biasa. Bahkan ini belum pernah terjadi di dalam pernikahan mereka selama ini.


Bara terperanjat, hilang sudah kata-kata yang siap ditembakan keluar. Berbalik, ia memandang istrinya dengan wajah pucat membawa nampan berisi minuman.


Melihat itu, Bara mengambil alih. Sedikit khawatir dengan kondisi Bella yang sepertinya sangat lemah.


"Kasihan Kak Ricko, Mas. Dia tidak punya tujuan dan belum paham Jakarta. Rencananya mau mencari pekerjaan ke sini. Mau mengubah nasib," sahut Bella, menenangkan.


Ada kekhawatiran, saat Ricko menyebut nama kakaknya Rissa. Bella takut suaminya murka. Ketenangan selama beberapa minggu terakhir akan terganggu kembali.


Bara menatap Ricko dari atas ke bawah, begitu seterusnya dan berulang kali.


"Baiklah, nanti coba aku tanyakan pada Kevin. Apa ada lowongan pekerjaan di kantorku."


"Apa ... ada yang lain lagi?" tanya Bara. Pertanyaan bernada mengusir secara halus.

__ADS_1


Ricko menggeleng.


"Duduk saja dulu, Kak. Diminum," ucap Bella mempersilakan.


Melihat situasi tegang dan kaku yang tercipta di antara keduanya, membuat Bella tidak enak hati.


"Baiklah. Aku menunggumu di dalam, Bell. Ada yang harus kita bicarakan," perintah Bara. Menatap keduanya, sebelum beranjak masuk.


***


Bella masuk ke dalam kamarnya dengan menunduk. Ada ketakutan saat melihat tatapan tajam suaminya. Bara sedang duduk di sisi ranjang dengan ekspresi datar, tidak seperti biasanya.


"Mas ...."


Bella ikut duduk di samping Bara, menggenggam tangan terkepal suaminya.


"Bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui alamat kita, Bell?"


Bella diam, bingung harus menjawab apa. Menjawab jujur, pasti akan memancing kemarahan suaminya. Mengakui dirinya sendiri, hasilnya akan sama saja. Bara akan tetap memarahinya.


"Bell?" tanya Bara lagi.


"Maaf, Mas ...." sahut Bella menunduk. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Kalian masih berhubungan tanpa sepengetahuanku?" tanya Bara, menatap tajam istrinya.


"Kemarikan ponselmu, Bell!" perintah Bara, menyodorkan tangan, menunggu Bella menyerahkannya.


"Mas ...."


"Serahkah padaku. Cepat!" perintah Bara, tegas. Tidak ada penawaran. Kali ini ia berdiri dengan bertolak pinggang.


Bella menurut, bergegas menuju ke walk in closet, mencari tasnya. Sejak kemarin ia tidak mengecek ponselnya sama sekali.


"Ini, Mas," sodor Bella, menyerahkannya tanpa berpikiran ponselnya akan memancing amarah Bara kembali.


Bara langsung mengobrak-abrik isi ponsel Bella. Untuk pertama kali di dalam hidupnya melakukan hal seperti ini.


Dulu, dengan mantan istrinya, ia bahkan tidak pernah menyentuh ponsel Brenda. Tidak pernah mengurusi dengan siapa Brenda berteman. Ia tidak pernah mencari tahu sama sekali kehidupan istrinya, sampai ia mendapati sendiri perselingkuhan istrinya di depan mata.


Perlakuan yang berbeda di saat ia menjalani kehidupan rumah tangga dengan Bella. Entah ini disebut trauma atau apa istilahnya. Namun, pengalaman mengajarkannya banyak hal.


Kalau dulu, saat melihat Brenda bersama teman laki-lakinya, Bara akan menutup mata. Tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya dan mengurusi istrinya seperti yang saat ini dilakukannya pada Bella.


Jemari Bara sudah mengeser ke atas, bawah, kiri, kanan. Tepat saat membuka kotak pesan, darahnya mendidih seketika.

__ADS_1


"Bell, ini yang kamu bilang tidak berhubungan dengannya!" ucap Bara, melempar ponsel itu ke atas ranjang. Meremas rambutnya sendiri, Bara menahan amarahnya.


"Mas, aku benar-benar tidak berhubungan dengan Kak Ricko." Bella berusaha menjelaskan.


"Cukup,Bell! Jangan berbohong. Aku melihat sendiri puluhan pesan darinya sejak kemarin."


Bella terkejut, ia bahkan belum membacanya. Begitu mengingat kembali ucapan Ricko, ia baru tersadar.


"Aku belum membacanya sama sekali, Mas. Aku sungguh tidak tahu apa-apa," jelas Bella.


"Apa maumu, Bell? Kita sudah menikah, jangankan bertukar kabar dengan laki-laki lain, hanya memandang pun tidak pantas, Bell."


"Apa maksudmu? Apa tujuanmu membawanya ke sini?" tanya Bara, menyentak tangan Bella dengan kasar.


"Tidak ada, Mas. Bukan aku, sungguh bukan aku yang memberi alamat kita," jelas Bella.


"Jadi dia bisa mendapat alamat kita dari mana kalau bukan darimu!" tuduh Bara.


Amarah sudah menutup logikanya, dengan kasar ia meraih ponsel Bella, melemparnya ke dinding. Hancur berkeping-keping di atas lantai.


Tidak sampai di situ, kembali Bara berjalan ke meja rias, menghancurkan semua yang tersusun rapi di atas meja. Semua bedak dan alat make up Bella, jatuh berantakan di lantai.


"Mas ...."


Bella hanya sanggup memanggil, tanpa bisa berkata-kata dan berusaha menenangkan amarah suaminya. Ia pernah melihat amarah Bara pada Rissa, tetapi ini untuk pertama kalinya amarah itu ditujukan untuknya.


"Mas, Kak Rissa yang memberitahu alamat kita," bisik Bella, menahan tangis. Memilih jujur pada akhirnya.


Ia baru saja melihat sisi mengerikan suaminya. Suara barang yang dibanting Bara terdengar begitu menyeramkan. Beruntung kamar mereka berperedam suara, paling tidak pertengkaran dan kekacauan di dalam tidak terdengar keluar.


Bara terdiam, menghentikan amukannya. Menatap istrinya yang sedang berjongkok, memungut satu persatu barang-barang yang baru saja dilemparnya.


Tubuh mungil itu bergetar menahan tangis, berusaha menahan kecewa dan sedihnya. Bella mengigit bibirnya sendiri, supaya isak itu tidak terdengar keluar.


"Biarkan saja. Nanti Mbak yang akan membereskannya," perintah Bara, berbaring memejamkan matanya.


Emosinya masih belum padam, bagaimana pun ia harus membuat perhitungan dengan Rissa.


"Sudah, Bell. Biarkan Mbak yang membereskannya," ucap Bara, sedikit melembut.


"Dan membiarkan orang lain tahu kalau kita bertengkar," bisik Bella, menutup mulutnya, menangisi apa yang baru saja terjadi.


***


T B C

__ADS_1


Love You All


Terima kasih


__ADS_2