
Catatan : Kisah Pram dan Kailla ini hanya selingan ya, jadi tidak akan setiap saat muncul disini. Pasangan ini ada judul sendiri di ISTRI KECIL SANG PRESDIR & ISTRI SANG PRESDIR . Kalau penasaran dan kangen Om Pram dan Kailla, bisa baca langsung di novelnya.
***
Kailla setengah menyeret pelan Bella, ibu hamil muda itu turun ke lantai satu untuk menemui suaminya. Di antara semua, hanya Kailla yang paling berani menyemprot lelaki arogan tukang marah, siapa lagi kalau bukan Barata Wirayudha.
"Eitss! Hati-hati Nyonya. Jangan karena kamu sedang tidak hamil jadi kamu tidak menaati protokol memperlakukan wanita hamil," tuding Bara. Mengarahkan telunjuknya pada Kailla, berpura-pura emosi dan tidak terima istrinya diseret Kailla. Meskipun ia tahu sebenarnya tidak akan terjadi apa-apa. Kailla masih mengikuti standart menyeret yang baik dan benar.
Jujur, Bara suka sekali menggoda istri sahabatnya yang limited edition dan unik. Kailla yang ceplas-ceplos membuat sisi jahil Bara terpancing saat bersama anak nakal itu. Sangat jauh berbeda dengan istrinya yang kalem dan lemah lembut.
"Om, Bella itu belum ada setengah jam di rumahku. Kenapa harus dijemput secepat ini?" keluh Kailla kesal, sesaat setelah berhadapan dengan lelaki tampan mengenakan setelan jas kerja hitam.
"Semakin lama bersamamu, istriku akan makin terkontaminasi," sahut Bara dengan santai.
“Kamu tidak sadar bagaimana kelakuanmu. Sering bersamamu, istriku akan mengikuti kenakalanmu. Aku tidak sesabar Pram. Kalau istriku seperti ini nakalnya, sudah aku gantung terbalik di pohon mangga,” ucap Bara menahan tawa melihat wajah cemberut Kailla.
“Huh! Memang belum pernah merasakan balsem,” gerutu Kailla, menyodorkan tangan terkepalnya ke hadapan Bara.
Bara terkekeh. Setiap bertemu Kailla, bakat berdebatnya semakin terasah. Ia seperti menemukan sisi lain dirinya yang tersembunyi. Ada sensasi tersendiri meladeni anak nakal yang selalu saja kesal setiap bertemu dengannya.
"Huh!" Kailla mendegus kesal sembari mengentakkan kaki ke lantai, menatap suaminya, meminta dukungan.
"Sayang, kamu dengar sendiri. Om Bara menyamakan aku dengan kuman, mau menggantungku ke pohon mangga," adu Kailla pada suaminya, bergegas merengkuh lengan Pram dengan manja.
"Sudahlah, Sayang. Bara hanya ingin menjemput istrinya pulang."
"Ini baru sebentar, tarikan napasku saja belum sempurna. Main jemput saja. Masa kalah dengan malaikat maut, yang masih sabar menunggu," keluh Kailla, menatap lekat mata Bara yang terkekeh melihat tingkahnya.
“Aku belum puas bergosip dengan Bella.
"Next time ya, Kai. Aku ada perlu dengan Bella," jelas Bara melunak, langsung meraih tangan istrinya dan membawa Bella masuk ke mobil.
Kailla hanya bisa menatap sedih, mengantar Bella di teras rumah dengan lambaian tangannya. Di sebelahnya, sang suami ikut melakukan hal yang sama sembari merangkul mesra pundak istrinya.
"Sayang, kamu serius dengan kata-katamu tadi?" tanya Pram, masih menatap ke arah ekor mobil sahabatnya yang berjalan keluar halaman rumah.
"Yang mana?" tanya Kailla, bingung.
"Kamu juga akan membalsem perkututku," ucap Pram bergidik.
"Kalau dia nakal dan suka membantahku. Jangankan balsam, aku akan mencincangnya," sahut Kailla, melirik nakal ke arah adik kecil Pram sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
***
Dalam perjalanan menuju ke rumah mereka, Bella lebih banyak diam, mencerna dan menimbang semua perkataan Kailla. Mungkin ada benarnya, ia harusnya lebih terbuka dan terus terang pada suaminya untuk menghindari salah paham.
Suasana jalanan yang padat merayap di jam pulang kantor, membuat kedua terjebak macet di perempatan lampu mereka.
"Mas." Bella menelan saliva. Setelah lama berpikir, ia memilih bertanya langsung kebenarannya dari sang suami. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku lupa mengabarimu, aku menemukan karcis masuk Taman Safari dan faktur pembayaran kamar hotel di saku celanamu. Aku letakkan di laci nakas," ujar Bella, meremas tangannya yang panas dingin. Takut mendengar jawaban suaminya yang mungkin saja akan menyakitinya.
"Oh, buang saja. Itu sudah tidak terpakai," sahut Bara dengan tenang. Santai seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
Bella menoleh, menatap suaminya yang sedang serius dengan kemudi. Tidak ada raut gugup atau semacamnya. Bara terlihat biasa-biasa saja.
"Mas ... eh ... kemarin Mas ke Taman Safari?" tanya Bella, terbata-bata. Sebenarnya ragu, tetapi ia penasaran.
"Tidak. Itu hanya Pak Rudi mengantar klien perusahaan."
Bella menelan saliva mendengar jawaban suaminya. Terdengar aneh dan tidak biasa. Masih belum terlalu puas dengan jawaban Bara.
"Memang kenapa harus diantar Pak Rudi?" tanya Bella lagi. Ia harus menuntaskan rasa penasarannya.
"Lalu?" tanya Bella penasaran.
"Ya begitu, aku membantunya mencarikan hotel dan meminta Pak Rudi menemani keluarganya yang belum pernah ke Taman Safari. Begitu saja, tidak ada yang penting," sahut Bara, masih saja tenang.
Bella tersenyum, meskipun jujur saja ia tidak bisa seratus persen percaya pada suaminya.
"Kamu kenapa?" Bara balik bertanya setelah melihat istrinya terdiam.
"Tidak, Mas." Bella berkata pelan, menatap lurus ke depan.
"Jangan berpikiran macam-macam."
Bara menepuk pucuk kepala istrinya, sebelum akhirnya meraih jemari Bella dengan tangan kirinya, membawa tangan itu mengusap paha kirinya, berbagi fokus dengan jalanan. Ia cukup mengerti. Istri labilnya yang mudah curigaan ini tidak akan gampang percaya dengan semua ucapannya.
"Kamu sudah makan, Bell?" tanya Bara mengalihkan fokus istrinya supaya tidak terus-terusan memikirkan tiket masuk Safari.
"Aku masih kenyang, Mas," sahut Bella dengan tatapan menerawang.
Tanpa mendengarkan jawaban istrinya Bara mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran langganan mereka yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan.
__ADS_1
"Temani aku makan ya, Bell," ucap Bara tersenyum.
Bella mengangguk. Tidak banyak bicara.
Menikahi Bella yang pendiam dan tidak banyak bicara adalah tantangan tersendiri untuk Bara. Istrinya itu akan jadi pelit bicara dan lebih banyak menutup mulut di saat ada masalah.
Entah karena tadinya, hubungan mereka yang tidak biasa, membuat Bella tidak bisa seperti istri umumnya. Bella tidak berani berbicara terang-terangan. Selalu sungkan, membuat Bara tidak bisa terlalu ceplas-ceplos.
Mobil Bara sudah terparkir sempurna di pelataran restoran. Terlihat lelaki itu turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Mengulas senyum, sebelum menggenggam mesra tangan Bella masuk ke dalam restoran.
"Bell, kamu mau pesan apa?" tanya Bara, mengangkat pandangannya dari buku menu.
"Aku masih kenyang, Mas. Pesan makanan ringan saja untukku."
"Kerupuk saja ya kalau begitu," ucap Bara, mencoba bercanda.
"Huh! Kenapa tidak sekalian Mas memintaku makan angin saja, itu lebih ringan dari kerupuk," dengus Bella, terpancing kesal dengan lelucon Bara yang tidak lucu.
Setelah pelayan restoran mencatat menu pesanan dan meninggalkan meja mereka, Bara mulai melancarkan aksinya kembali.
"Sayang, jangan seperti ini. Aku tidak berbohong padamu. Silakan tanyakan pada Pak Rudi," usul Bara.
"Kamu tidak bisa percaya padaku, tentunya kamu bisa percaya dengan sopir kita," lanjut Bara lagi. Lelaki itu kembali memaksa menggenggam tangan istrinya yang duduk berhadapan dengannya.
"Aku mencintaimu, Bell. Jangan pernah berpikiran yang tidak-tidak," ucap Bara tiba-tiba.
Tanpa diduga sama sekali, Bara menyatakan cinta secara mendadak. Bukan di sebuah acara makan malam romantis dengan lilin putih dan buket bunga mawar.
Sontak Bella mengangkat pandangannya yang sejak tadi hanya menunduk. Menatap lekat mata elang suaminya yang selama ini menolak mencintainya.
Namun, tiba-tiba ia mendengar Bara mengucapkan tiga kata ajaib yang selama ini selalu dimintanya di setiap doa malamnya.
"Mas," cicit Bella pelan. Perasaannya tentu melambung jauh saat ini.
Bara tersenyum, mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri. "Aku mencintaimu, Bella Cantika. Gadis manis yang mengisi hidupku di sepuluh tahun terakhir ini."
"Istri yang akan menemani di sisa hidupku. Aku mencintaimu."
***
TBC
__ADS_1