
Siang berganti malam, malam berganti hari. Tanpa terasa, dua purnama terlewati. Duka itu perlahan merangkak pergi, senyum pun mulai menyambut pagi.
Kandungan Bella semakin membesar. Tujuh bulan sudah jagoan Wirayudha menikmati hangatnya rahim sang bunda. Berbagi napas, berbagi rasa, berbagi kisah.
Rania, gadis itu mulai bisa tersenyum dan menjalankan rutinitas anak-anaknya kembali. Terkadang menginap di tempat Bara dan Bella, tak jarang juga kembali ke pangkuan opa dan omanya. Demikianlah kehidupannya sepeninggalan Brenda.
Pagi hari di kediaman Barata Wirayudha, seperti biasa aktivitas dimulai dengan sarapan pagi bersama. Sejak kehadiran Rania, ruang makan bertambah ramai. Riuh rendah dengan celotehan Issabell yang berdebat dengan Rania. Seringkali bertengkar hanya karena berebutan telur mata sapi yang ukurannya tidak sama.
“Sweetheart, nanti anak-anak aku yang akan menjemput. Tadi Rania cerita dia pulang cepat. Jamnya samaan dengan Icca.” Bara yang baru bersiap ke kantor ikut bergabung dengan istri dan anak-anaknya. Laki-laki dengan jas tersampir di lengan itu mengecup perut buncit istrinya sekilas, menyapa jagoan kecilnya.
“Ya, Mas. Ini Mas mau sarapan dengan nasi goreng atau roti?” tawar Bella. Ibu hamil dengan daster bunga-bunga itu berdiri di sudut meja, sedang memoles selai coklat ke atas roti tawar untuk putrinya Issabell.
“Nasi goreng saja, Bell.” Bara sudah menarik kursi dan duduk tepat di sebelah istrinya. Tempat kebesarannya yang tidak bisa diganggu gugat atau pun diambil alih pihak lain.
“Ini rotinya Icca,” ucapnya, meletakan roti coklat ke atas piring gadis mungil berkepang dua. Tanpa menunggu, Bella sudah meraih piring kosong dan mengisinya dengan nasi goreng lengkap dengan telur dadar, buatan asisten rumah tangga. Sejak tinggal di Jakarta, Bella jarang sekali memasak. Semua dikerjakan asisten rumah yang khusus dipekerjakan Bara.
“Ini punya Mas.” Meletakan sepiring nasi goreng ke hadapan suaminya.
“Kamu tidak ikut makan, Bell?” tanya Bara, mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
“Sebentar lagi, Mas.”
Pandangan Bella tertuju pada Rania. Gadis itu masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
“Kak, ponselnya disimpan dulu. Mau sarapan dengan roti atau nasi goreng?” tanya Bella.
“Bentar Mi,” sahut Rania, menoleh sekilas kemudian melanjutkan obrolannya dengan teman sekelas.
Lima menit Bara menatap tajam ke arah putrinya, tanpa ada pergerakan sama sekali. Gadis itu sibuk dengan ponselnya, sampai tidak menyadari sekitarnya.
Bella memilih duduk, menikmati sarapannya, sesekali menatap ke arah Rania yang duduk di seberang. Sudah terbayang kalau sebentar lagi suaminya akan meledak.
“Kak, simpan ponselnya. Sebentar lagi Daddy marah,” bisik Bella, menendang pelan kaki Rania.
__ADS_1
Dan benar saja, belum usai Bella menelan saliva, suara Bara sudah terdengar mengerikan.
“KAK, KEMARIKAN PONSELNYA!!” perintah Bara setengah berteriak, mengulurkan tangan meminta Rania menyerahkan ponselnya.
Gadis kelas delapan itu, hanya bisa menurut. Tidak berani membantah apalagi membalas tatapan Bara. Menyerahkan ponselnya ketakutan. Bukan kali ini saja, seringkali dia diomeli Bara setiap tidak patuh.
“Mulai hari ini, daddy tidak ingin melihat siapa pun memegang ponsel di meja makan!” titah Bara.
Mas, sudahlah. Nanti anak-anak terlambat ke sekolah kalau Mas marah-marah lagi,” bujuk Bella, berusaha menenangkan emosi Bara.
“Rania itu bukan anak kecil lagi, dia mulai dewasa. Dia harus belajar disiplin, Bell.”
“Ya, Mas. Nanti saja belajar disiplinnya. Sekarang mereka harus ke sekolah. Nanti baru dilanjutkan marah-marahnya. Mereka juga harus disiplin, datang tepat waktu ke sekolah,” ucap Bella berusaha menengahi.
“Kak, cepat ambil sarapanmu, jangan membantah daddy. Nanti ponselmu, mommy yang akan memintanya,” ucap Bella berbisik pada Rania.
Suasana meja makan itu hening seketika. Semuanya sibuk menghabiskan sarapan tanpa banyak bicara dan mengejar waktu untuk kegiatan mereka selanjutnya.
***
Ketiganya sudah duduk di dalam mobil dengan Bara memegang kemudi.
“Kak, ponselmu disimpan mommy,” ucap Bara setelah memastikan putrinya duduk sempurna di samping dan mengenakan seatbelt. Laki-laki itu mulai melunak dan tidak marah-marah seperti tadi pagi.
“Ya, Dad.”
“Kak, jangan membuat masalah. Mommy itu sedang hamil besar. Sudah tidak sanggup mengurusimu dan Icca. Apalagi sebentar lagi adek lahir, Kakak harus bisa bantu mommy jaga Icca,” lanjut Bara, menatap Issabell yang duduk tenang di kursi belakang.
“Ya, Dad.”
“Kalian mau dibelikan ayam goreng?” tawar Bara setelah melihat keduanya duduk diam dan menurut.
“Mau ... Dad!” terdengar persetujuan dari Issabell. Gadis kecil itu tertawa bahagia.
__ADS_1
“Kakak mau?” tawar Bara lagi. Laki-laki itu tahu, Rania sedang tidak nyaman dengannya karena insiden kecil di meja makan tadi pagi.
Rania mengangguk.
Tak lama, mobil yang dikendarai Bara masuk ke dalam pelataran sebuah gerai ayam goreng ternama. Tampak Bara menggandeng kedua putrinya turun, ikut bersamanya. Tidak butuh waktu lama, dua porsi ayam goreng tepung lengkap dengan minuman dingin tersaji di atas meja.
Rania dan Issabell buru-buru menyantapnya. Jarang sekali mereka diizinkan menikmati makanan cepat saji ini. Biasanya Bella akan menolak setiap kali Bara menawari putri-putrinya. Senyum laki-laki itu terkembang melihat putrinya menikmati dengan lahap.
“Dad, tolong ambilkan saos tomat lagi?”pinta Rania. Menunjukan tangannya yang sudah belepotan dengan makanan. Bara yang sejak tadi hanya menonton keduanya, segera menurut.
“Oke ....” Bara langsung berdiri, tanpa melihat lagi. Tiba-tiba seorang gadis yang sedang memegang segelas minuman soda menabrak dan menumpahkan isi gelas ke kemeja birunya.
“Ma ... af,” ucap gadis itu terbata. Buru-buru mengusap kemeja Bara yang basah.
Mendapat sentuhan seperti itu Bara langsung menghindar. Mengangkat pandangannya. “Tidak apa-apa,” tolak Bara, saat sang gadis kembali hendak membersihkan tumpahan minuman di pakaiannya.
Deg—
Bara menyipitkan pandangannya, saat melihat gadis manis yang menabraknya. Sepertinya dia mengenal dan pernah bertemu dengan gadis itu.
“Oh, ketemu Om lagi,” ucap sang gadis tersenyum manis.
“Donut, Om. Masih ingat?” tanya sang gadis mengajak bicara.
Mendengar kata donut, ingatan Bara langsung mundur ke kejadian dua bulan lalu. Saat tanpa sengaja bertabrakan dengan gadis kurang bahan di salah satu gerai. Dan saat ini, tampilan sang gadis tidak jauh beda. Dengan celana pendek ketat dengan kaos tanpa lengan super ketat.
“Ya Tuhan, dosa apa aku pada istriku sampai bertemu dengan wanita jadi-jadian ini lagi.”
Melihat tatapannya saja Bara bergidik ngeri. Dia bukan laki-laki polos, dia mengenal banyak wanita dan gadis ini adalah jenis ular berbisa. Kalau sampai terpatuk, nyawa taruhannya.
Rania yang sejak tadi mengamati daddynya dan sang gadis, terlihat menahan kesal. Bukannya dia tidak tahu gadis itu menatap Bara tak berkedip. Dengan menggengam segelas minuman dingin miliknya, Rania berdiri dan menabrak sang gadis, dengan sengaja menuang habis minumannya ke dada seksi yang terbalut kaos ketat.
“Mommy, aku akan menjaga daddy untukmu,” ucap Rania dalam hati.
__ADS_1
***
TBC