
Bara menyusul masuk ke dalam kamar, kemudian mengurung istrinya di kamar supaya bisa berbicara berdua tanpa diganggu. Meminta Bella mendengarkan penjelasannya sekaligus meminta penjelasan Bella.
“Ada apa, Bell?” tanya Bara, berdiri kaku sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Terlihat Bella berjingkat mengeluarkan pakaian suaminya dari dalam lemari. Sengaja Bara meninggalkan beberapa potong pakaian rumah, jika mendesak bisa dipergunakan. Koper miliknya masih tertinggal di depan.
“Bell, bisa kita bicara baik-baik?” tanya Bara lagi, bersikap lembut, tidak seperti biasanya.
“Bicaralah, Mas! Aku masih banyak urusan. Bukan hanya mengurusi Mas saja,” sahut Bella, meletakan kaus dan celana pendek suaminya di atas ranjang.
Bara menghela napas, memilih kata-kata terbaik untuk melontarkan pertanyaan yang sejak semalam mengudara di pikirannya. Ia belajar banyak menghadapi Bella yang begitu sensitif di masa kehamilannya.
“Apa yang terjadi, Bell?” tanya Bara, berjalan mendekat.
“Aku mau berpisah, Mas,” sahut Bella masih mempertahakan niatnya. Sedikit pun Bella tidak berniat mundur. Benar-benar ia sudah mantap, tidak akan gentar dengan keputusannya.
Deg—
Kalimat Bella seketika sanggup membuat dunia Bara berhenti berputar. Kalimat yang sering kali diucapkan Bella. Bara tersenyum, berusaha menolak untuk menerima pernyataan istrinya. Memastikan ulang pendengarannya tidak salah.
Mata biru, tajam bagai elang di wajah tampan Bara sedang menatap iris mata istrinya. Mencari kesungguhan di dalam ucapan Bella, bukan karena emosi atau keegoisan semata.
“Tidak!” Akhirnya Bara melakukan penolakan seperti yang sudah-sudah.
“Tolong pikirkan bayi kita, sebelum mengucapkan hal yang menyakitkan itu, Sweetheart.” Penolakan Bara terdengar jelas. Bahkan dengan sekali sergapan, lelaki itu berhasil memeluk paksa istrinya yang berjarak semeter dengannya.
“Aku mohon. Jangan bahas perceraian, di saat ada bayi kita ikut mendengar dari dalam sini,” pinta Bara, mengusap lembut perut rata Bella. Kebiasaan yang selama ini selalu dilakukannya setiap menjelang tidur malam.
Namun, semalam dia melewatkannya. “Daddy merindukan jagoan Daddy. Semalam jagoan Daddy bisa tidur nyenyak?” tanya Bara, tersenyum dan berbicara sendiri dengan calon bayinya. Bara berharap Bella mengalah dan membatalkan niatnya.
“Untuk pertama kali selama kehamilanku, aku bisa tidur. Dan semalam aku bisa tidur nyenyak sekali, Mas,” ucap Bella berdusta. Sengaja membuat Bara sakit hati.
Bara menelan ludah. Kata-kata Bella seperti tamparan keras di wajahnya. Beralih, ia memandang wajah cantik istrinya. Kombinasi antara kesal dan kemarahan yang jelas-jelas ditujukan padanya.
“Mas mandi dulu, aku akan buatkan kopi untukmu,” ucap Bella, berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Bara.
Senyum Bara terkembang saat Bella menawarkannyya secangkir kopi. Setidaknya perasaan Bella masih tersisa untuknya meski hanya secuil.
“Apapun itu ... maafkan aku,” ucap Bara merasa sudah di atas angin. Istrinya melunak dengan menawarinya secangkir kopi. Bahkan selama di Jakarta, Bella tidak pernah membuatkan untuknya. Semua dilakukan asisten.
__ADS_1
“Mau dicampur sianida atau pestisida?” tanya Bella dengan mimik serius.
Deg—
Ternyata dugaan Bara salah. Kemarahan Bella masih di ubun-ubun, sedikit pun belum mereda sama sekali.
“Bell, sudah ya. Kalau aku bersalah padamu, aku minta maaf,” pinta Bella kembali.
“Mandi dan habiskan sarapanmu di bawah, Mas. Aku harus menemui Issabell,” potong Bella, meninggalkan Bara sendirian di dalam kamar.
***
Bara turun ke bawah saat matahari mulai menyembul di ufuk timur. Semburat cahaya masuk ke dalam ruang makan melalui jendela kaca. Setelah mandi, ia memilih tertidur dulu dengan nyaman, memulihkan staminanya yang terkuras setelah bekerja seharian ditambah harus menyetir dalam jarak jauh.
Sampai di ruang makan, tidak terlihat istrinya. Hanya ada Ibu Rosma yang juga sedang menikmati semangkuk sereal tanpa rasa untuk mengganjal perutnya di pagi ini.
“Bu, Bella di mana?” tanya Bara, mengedarkan pandangannya.
“Dia sedang jalan-jalan keliling komplek.”
Bara menarik kursi, tersenyum menatap sarapan pagi yang sudah dingin. Sepiring nasi dengan telur mata sapi.
Tidak lama, sepiring nasi yang tadinya dingin, sekarang mengepul kembali. Setidaknya ini lebih mudah, menelan menu makanan yang tidak biasa untuk mulut Bara yang lumayan bawel soal masakan.
“Apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian?” tanya Ibu Rosma, mencari tahu. Sejak kemarin ia sudah mengorek banyak hal dari Bella, tetapi putrinya tidak mau terlalu terbuka.
“Aku tidak tahu, Bu. Emosi Bella berubah-ubah. Jujur aku bingung menghadapinya,” sahut Bara pelan. Tertunduk malu di usianya yang tidak muda lagi harus menghadapi masalah rumah tangga kembali. Dan parahnya, lagi-lagi Ibu Rosma yang menjadi pendengar setianya.
“Dulu, kamu pernah gagal dan itu masalahnya di istrimu. Dan lagi-lagi sekarang ... rumah tanggamu bermasalah. Bella ingin menuntut cerai setelah melahirkan nanti. Ibu tidak bisa membantu kalau tidak tahu permasalahannya,” ucap Ibu Rosma.
“Aku tidak tahu jelas. Pertengkaran kami yang terakhir saat asistenku, Kevin menghubungiku dan kebetulan Bella yang menerimanya. Kemungkinan Bella tersinggung karena aku membentaknya saat dia dengan lancang mengangkat ponselku,” sahut Bara. Ada sesal di dalam hatinya. Kalau bisa mengulang, ia tidak akan melakukannya.
“Menurut Bella, dia kecewa dengan sikapmu yang tidak terbuka. Kamu diam-diam membantu Brenda tanpa sepengetahuannya,” cerita Ibu Rosma.
Bara melepas sendok dan garpu dari tangannya.
“Bu, sebelum aku bermain kucing-kucingan dengan Bella mengenai bantuan ke Brenda. Aku sudah pernah berterus terang padanya, tetapi setelah itu ... Bella terus berpikir. Semua hal disangkut-pautkan dengan Brenda dan itu mempengaruhi kehamilannya.”
“Aku tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan anakku. Aku sudah menolak tegas kehadiran Rania di rumah tangga kami, tetapi Bella memaksa untuk merawatnya,” jelas Bara.
__ADS_1
“Ibu tahu, Brenda sedang sakit parah. Keluarga itu sedang kesulitan keuangan. Dan aku yakin, mereka akan terus menggangguku. Makanya aku meminta Kevin menolongnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Demi apa? Semua aku lakukan demi Bella. Bukan karena Brenda,” lanjut Bara.
“Aku tidak mau mereka muncul di depanku dan Bella. Itu bisa mempengaruhi kehamilan Bella.”
Ibu Rosma mengangguk. Sedikit banyak paham akar permasalahannya ada di masa lalu Bara yang rumit dan semerawut.
“Bu, tolong aku. Bujuk Bella untuk kembali ke Jakarta bersamaku. Aku tidak bisa berpisah dengannya. Bagaimana dengan bayi kami. Aku mau anakku tumbuh dengan keluarga lengkap,” pinta Bara memohon.
“Ibu akan membantumu berbicara dengan Bella. Tapi jangan memaksa. Umurnya masih terbilang muda. Kamu tahu, di luar sana teman-temannya masih sibuk ke mal, pergi nonton, bahkan masih sibuk pacaran tidak jelas.”
“Ya, Bu. Aku mengerti.”
“Tolong jangan terlalu keras pada Bella. Kamu ingat, kamu menikahinya saat dia masih sekolah,” lanjut Ibu Rosma.
Obrolan menantu dan mertua itu terhenti saat terdengar percakapan santai dari halaman rumah. Mendengar suaranya, mereka tahu jelas kalau Bella dan Issabell yang sudah kembali dari acara jalan-jalan keliling komplek.
Tidak lama, langkah kaki itu semakin mendekat dan terdengar jelas.
“Bu ...."
"Bu!” teriak Bella sambil mengendong Issabell dan bergegas masuk ke dalam rumah. Nyaris terjengkal karena kakinya tersandung karpet di ruang makan.
Melihat itu Bara langsung berdiri, dengan sigap mengambil alih Issabell dari gendongan Bella.
“Bu, aku bertemu dengan Bu Rahmat, tetangga rumah kita,” cerita Bella, menarik kursi dan duduk tepat di sebelah ibunya.
“Lalu kenapa dengan Bu Rahmat?” tanya Ibu Rosma heran, sembari menyuapkan sesendok sereal ke dalam mulutnya.
“Tadi sempat mengobrol dan aku mau bekerja di kantor suaminya,” cerita Bella dengan santai. Ia tidak memedulikan kehadiran Bara yang sedang melotot padanya.
“TIDAK!” potong Bara, merespon kalimat Bella. Issabell yang masih di gendongannya langsung menangis kencang karena terkejut dengan ucapan Bara yang keras dan tegas.
***
T b c
Love you all
Terima kasih
__ADS_1