
"Bell, kamu di mana, Sayang. Jangan menakutiku," bisik Bara mulai panik.
Berlari keluar dengan pakaian tidurnya, mencari Bella yang menghilang dari kamar.
Baru saja Bara melangkah keluar dari kamar hotel, langkahnya terhenti. Ia melihat Bella sedang berjalan ke arahnya dengan raut wajah biasa-biasa saja.
Tidak ada kemarahan, tidak ada raut wajah terluka seperti semalam. Hanya wajah sembab dan sedikit kantong di bawah mata.
Ah, istrinya terlalu banyak menangis semalam. Ia sudah memberi hadiah luka tepat di malam pertama mereka.
"Sayang," seru Bara, berlari memeluk tubuh mungil yang sekarang tak berdaya di dalam pelukannya.
Bara tersenyum bahagia, mendapati Bella setelah sempat panik dan mengira istrinya pergi meninggalkannya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Bella heran, melihat mata biru itu sudah berkaca-kaca.
Bara menggelengkan kepala, tetap saja mendekap erat tubuh istrinya.
Sedetik yang lalu, ia baru saja merasakan kehilangan yang mendalam. Setelah mendapati istrinya pergi dan ranjang mereka tidak berpenghuni.
"Aku kira kamu pergi, Bell," sahut Bara setelah bisa menguasai diri.
"Aku hanya jalan-jalan ke depan. Mas sepertinya kelelahan, jadi aku tidak membangunkanmu," jelas Bella, berusaha melepaskan diri.
"Tadi Kak Ricko juga menghubungiku. Jadi takut Mas terganggu," lanjut Bella lagi.
"Ada apa lagi Ricko menghubungimu?" tanya Bara menyelidik. Ia menatap Bella, mencari kebenaran dari manik mata sang istri yang tidak mungkin bisa berdusta.
"Kak Ricko mau ke Jakarta," cerita Bella, tersenyum, melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ke Jakarta?" tanya Bara memastikan.
__ADS_1
"Ya, Mas. Katanya mau coba cari kerja di sini. Sudah bosan di Surabaya."
"Mau apa lagi laki-laki itu?" batin Bara.
Bara mengangguk, memilih menyelesaikan pembahasan mengenai Ricko. Ada banyak waktu untuk menyelidiki mengenai Ricko dan kepentingannya pada sang istri.
Saat ini pandangannya tertuju pada bungkusan yang dibawa Bella di tangannya. Sejak tadi ia tidak menyadari, terlalu fokus pada Bella dan masalah mereka.
"Kamu dari mana, Bell?" tanya Bara mengikuti pergerakan tangan Bella yang meletakan bungkusan ke atas meja kecil di samping sofa.
"Aku membelikanmu bubur ayam, Mas," jelas Bella, membuka kotak mika berisi bubur ayam yang masih panas.
"Terima kasih, Sayang," bisik Bara pelan, memeluk Bella dari belakang.
Ia terharu dengan perhatian Bella. Di saat seperti ini, Bella masih mengingatnya, masih memperhatikannya.
Rasa bersalah itu semakin besar. Menyakiti istri yang sudah begitu baik, membuat luka pada wanita yang begitu polos dan tidak mengerti apa-apa.
"Mas makan saja. Aku sudah makan tadi di tempat penjualnya," pinta Bella, menyerahkan sendok plastik ke tangan Bara.
"Kamu tidak membangunkanku. Besok-besok, jangan pergi seperti ini lagi. Aku takut kamu akan meninggalkanku tadi," bisik Bara.
"Sudah, habiskan sarapanmu, Mas. Keburu dingin," ucap Bella memaksa tersenyum.
Bara menurut, melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia terlalu panik, sampai lupa mencuci muka dan mengganti pakaiannya.
Saat Bara kembali dari membersihkan diri, dilihatnya Bella sedang berbaring di ranjang, memainkan ponsel pintarnya.
"Bell, apa kamu masih marah soal semalam?" tanya Bara memberanikan diri.
Bella diam, tidak menjawab. Masih menatap ponsel dengan serius.
__ADS_1
Lama tidak terdengar suara. Keduanya, baik Bella ataupun Bara memilih diam. Bara tampak menghabiskan bubur ayamnya dan Bella masih saja sibuk menatap layar ponselnya.
"Aku masih kecewa padamu, Mas. Belum bisa memaafkanmu sepenuhnya," ucap Bella tiba-tiba.
Bara menghentikan tangannya yang hendak menyuapkan sendok terakhir ke dalam mulutnya, beralih menatap Bella.
Istrinya sedang memejamkan mata, ada bulir air mata yang turun di pelipis Bella.
"Istri mana pun akan terluka mendengarnya, Mas," sahut Bella.
"Mungkin kalau Mas menceritakannya sebelum kita ...." Bella diam, tidak melanjutkan kalimatnya.
"Maafkan aku, Bell."
"Itu yang membuatku makin terluka. Apa lagi wanita itu kakakku sendiri. Mas pikirkan saja, bagaimana perasaanku saat ini."
"Maafkan aku, Bell," bisik Bara pelan.
Selanjutnya laki-laki itu memilih diam, memberi ruang untuk Bella menumpahkan kesedihannya. Tidak mau banyak bertanya atau membuat Bella mengingat pembicaraan mereka semalam.
Bara baru berani mendekat, saat Bella tertidur di dalam kesedihannya. Ia memandang wajah cantik itu dari dekat.
"Maafkan aku, Bell. Aku berjanji akan membuatmu bahagia setelah ini," bisik Bara membelai wajah Bella yang sedang terlelap. Rasa bersalah menghantamnya. Kalau dulu, ia tidak berpikir sejauh ini. Namun, kehadiran Bella beberapa hari ini sanggup membuat perasaannya terusik.
***
Terima kasih
Love You All
__ADS_1