
Bara terpaku, membeku di tempatnya berdiri. Sungguh baru kali ini ia melihat sisi tersembunyi istrinya.
“Kenapa dia jadi begitu mengerikan,” gumam Bara, menaikan sebelah alisnya. Tampak berpikir keras, Bara mengingat kembali bocah dengan seragam putih abu-abu berbau keringat bercampur debu knalpot.
Senyuman tipis terukir di bibir Bara, mengiringi kakinya yang melangkah kembali ke ruangan. Dengan tangan kiri terselip di saku celana, Bara mengingat kembali potongan demi potongan perjalanan gadis kecil berkepang dua yang dibawa Ibu Rosma ke kediamannya di Surabaya. Perjalanan bocah ingusan yang masih memeluk boneka lusuhnya menjadi Nyonya Barata Wirayudha.
“Hehe ... dia bahkan berani mengancamku,” ucap Bara, terkekeh.
Saat langkah kaki itu membawanya kembali ke ruang kerja, ia masih sempat disuguhkan pemandangan yang menghangatkan hatinya. Bella sedang membujuk Issabell yang masih saja betah di sana, menolak diajak pulang. Putrinya berlari mengelilingi meja kerja dikejar pengasuhnya.
“Daddy!” pekik Issabell, menghambur memeluk kedua kaki Bara.
“Beyum mau puyang,” pintanya dengan lucu, menengadah ke atas dan menatap Bara.
“Hahaha ... tapi Icca harus pulang. Daddy juga mau kerja,” bujuk Bara. Kali ini Bara berjongkok supaya lebih mudah membujuk Issabel dalam posisi tinggi yang sejajar.
“Nanti Daddy pulang cepat. Kasihan Mommy kecapekan,” bujuknya lagi, meraih gadis itu ke dalam gendongannya.
“Daddy antar ke mobil, ya.”
Issabell masih belum setuju, tetapi gadis kecil itu tidak berdaya. Terpaksa menurut, apalagi sebuah boneka Hello Kitty baru dijanjikan Bara untuknya.
“Bell, aku akan pulang cepat,” ucap Bara sembari menggandeng tangan istrinya menuju lift, masih dengan mengendong Issabell di tangan lainnya.
Istrinya masih sibuk dengan ponsel di tangan, entah apa yang dilihat Bella. Pesan dari siapa yang begitu mengalihkan dunia Bella, sampai ucapan Bara pun tidak dipedulikannya lagi.
“Mas ....”
Bella memanggil setelah hampir sepuluh menit fokus dengan ponsel di tangan. Bayangkan saja, Bella begitu serius dari sebelum masuk lift sampai keluar lift dan berjalan menuju parkiran.
“Hmmm, ada apa?” tanya Bara, menoleh sekilas.
“Aku ... aku ... mau ini,” ucap Bella ragu, menunjukan layar ponselnya ke arah Bara.
Langkah Bara terhenti mendadak, mengalihkan pandangannya dari layar ponsel berganti memandang wajah memelas istrinya. Otaknya sedang mencerna apa maksud dan tujuan istrinya meminta padanya makanan aneh yang belum pernah dilihatnya.
“Apa itu, Bell?”
__ADS_1
Pada akhirnya Bara membuka suara. Menarik tangan Bella mendekat supaya bisa meneliti dengan seksama apa yang diperlihatkan Bella padanya.
Walau sudah diteliti, ditelaah bahkan diraba-raba layar ponselnya, tetap otak Bara tidak mampu menjangkau apa maksud dan tujuan Bella menunjukan foto makanan atau entahlah. Seperti sayur-sayuran dan buah-buahan potong yang disiram kuah atau saus cokelat.
“Aku mau ini, Mas. Teman-temanku di Surabaya sedang reunian SMA. Dan salah satu menunya ini. Aku sudah lama tidak makan ini.” Bella akhirnya berterus terang. Keinginannya begitu menggebu dan tiba-tiba.
“Ya, aku tahu. Tapi di mana aku harus mencarinya. Bahkan namanya saja aku tidak tahu,” jelas Bara.
“Ini rujak cingur, Mas.”
“Makanan apa itu?” tanya Bara. Ia sudah menurunkan Issabell, membiarkan putrinya bersama sang pengasuh.
“Minta Mbak di rumah saja membuatkannya untukmu,” sahut Bara pada akhirnya. Tidak mau membahas lebih jauh. Apalagi ia sama sekali tidak pernah melihat dan mencoba makanan aneh itu.
“Bagaimana sih, Mas. Aku mau Mas mencarinya untukku,” gerutu Bella. Raut wajah Bella sudah berubah mendung, dengan tingkat keasaman di atas rata-rata.
“Ya, nanti aku akan meminta Mbak di rumah membuatkannya untukmu,” jelas Bara lagi.
Dengan kesalnya Bella meraih gagang pintu mobil. Ucapan Bara langsung memancing amarahnya.
“Icca, ayo kita pulang!” perintah Bella, menutup pintu mobil dengan kencang.
Sedikit pun ia tidak menduga akan mendapat reaksi seperti ini dari istrinya. Ia merasa ucapannya sudah cukup untuk menjawab keinginan Bella yang tidak biasanya.
Bagaimana pun ini untuk pertama kali Bella meminta sesuatu padanya sebagai seorang istri. Sebisa mungkin ia akan memenuhinya. Hanya saja yang menjadi permasalahan adalah permintaan Bella yang aneh dan tidak seperti istri pada umumnya, yang meminta tas, baju atau sepatu.
Menurut cerita Pram sahabat baiknya itu, istrinya yang seumuran Bella selalu meminta tas branded. Dan itu pun mudah dicari. Terkadang Pram cukup meminta sekretarisnya yang membelikan. Tidak pernah ada cerita istri Pram meminta makanan aneh dan ajaib seperti ini.
Bara memandang mobil yang ditumpangi istrinya itu menjauh pergi. Masih dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya, ia pun bergegas naik kembali ke ruangannya.
Saat melewati meja sekretarisnya, terbersit ide di benaknya. Mungkin sesama perempuan lebih paham dan mengerti. Apalagi Dona, sekretarisnya itu sering membeli makanan di luar, mungkin lebih tahu banyak hal tentang makanan yang dimaksud istrinya.
“Don, bisakah belikan untukku ... eh ... rujak ... rujak ... eh ...." Kalimat Bara menggantung. Ia lupa apa nama makanan yang diminta istrinya tadi.
“Maaf rujak apa yang bapak maksud?” tanya Dona, heran. Ia masih duduk di meja, menunggu Bara menyelesaikan perintahnya.
“Aduh, apa tadi namanya. Belikan rujak untuk istriku. Yang isinya sayur-sayuran dan buah-buahan disiram saus cokelat,” ucap Bara.
__ADS_1
“Hah! apa itu, Pak?” tanya Dona heran. Pikirannya langsung tertuju pada gado-gado atau ketoprak. Makanan yang sering dipesannya online lewat driver ojek online.
Dona, sang sekretaris yang sudah terbiasa bekerja dan berpikir cepat segera mengeluarkan ponselnya. Mencari-cari foto gado-gado yang ada di pikirannya.
“Ini, Pak?” tanya Dona menunjukan pada atasannya.
“Ah, ya. Tapi tolong nanti dicampur buah-buahan. Tadi aku melihat ada buah nanas, mangga dan bengkuang di dalamnya,” jelas Bara.
Mulut Dona ternganga, meminta Bara mengulangi perkataannya. Baru kali ini ia mendengar ada gado-gado dicampur dengan buah-buahan.
“Ya, seperti foto yang kamu tunjukan itu, Don. Cuma minta ditambah buah-buahan yang aku sebutkan tadi,” sahut Bara lagi.
“Tapi, Pak. Di sini tidak ada yang menjual gado-gado dicampur buah-buahan,” jelas Dona.
“Ya sudah, aku tidak masalah membayar lebih. Minta penjual ... eh apa tadi?” tanya Bara, lidahnya susah menyebutkan.
“Gado-gado, Pak.”
“Ah, ya. Minta penjual gado-gado itu mencari buah-buahan yang aku maksud dan mencampurnya di gado-gado pesananku,” jelas Bara.
Dona menggaruk kepalanya setelah kepergian Bara. Tidak berani membantah tetapi juga terasa aneh menurutnya. Ia tidak mau pusing, lebih baik menurut saja dari pada terkena amukan atasannya. Di mana-mana permintaan atasan adalah wajib hukumnya.
“Don, aku mau nanti sore. Harus sudah siap, ya. Mau aku bawa pulang ke rumah nanti. Pesanan istriku,” ujar Bara, sebelum masuk ke ruangannya.
***
Waktu menunjukan pukul 17.00 sore, saat Bara keluar dari ruangannya. Senyum terukir di wajahnya saat melihat kotak mika berisi pesanannya sudah terbungkus rapi di atas meja Dona, sekretarisnya.
“Ini gado-gadonya, Pak.”
Dona berdiri, mendorong sedikit bungkusan plastik bening itu ke arah Bara.
“Terima kasih Don. Maaf sudah merepotkanmu,” ucap Bara, meraih bungkusan itu dan berlalu pergi,
***
T b c
__ADS_1
Love You All.
Terima kasih.