Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 37. Keluar Kota


__ADS_3

Rissa tersenyum kecut menatap Bella. Kemarahan Rissa semakin memuncak saat melihat beberapa tanda kemerahan di leher Bella.


“Kurang ajar! Bara benar-benar menipuku. Berani-beraninya dia tidur dengan Bella!”


Rissa menarik tangan adiknya, mengajak Bella menuju ke kamarnya.


“Bell, kamu tahu bagaimana kelakuan suamimu di luar sana?” ucap Rissa, sesaat setelah menutup pintu kamarnya.


“Maksud Kak Rissa apa?” tanya Bella dengan polosnya.


“Suamimu itu brengs*ek! Bukan lelaki baik-baik.” Rissa berkata dengan penuh kemarahan. Matanya terus-terusan menatap tanda kemerahan di leher Bella. Bara benar-benar serius pada Bella. Tidak seperti dengannya, Bara hanya menipu demi mendapatkan Issabell.


Bella menatap kakaknya tidak percaya. Ia mengenal Bara, laki-laki itu baik. Selama tinggal di Surabaya, tidak memiliki cacat seperti yang diungkapkan Rissa.


“Aku masih belum paham maksud, Kak Rissa,” ucap Bella, masih tidak mengerti arah pembicaraan kakaknya.


“Sini aku tunjukkan padamu! Setelah melihat bukti kebejatannya, pulang ke Surabaya. Urusi Ibu!” pinta Rissa.


Bella terperangah, nyaris tidak percaya mendengar kata-kata Rissa. Seperti bukan Rissa kakaknya saja.


“Kamu sudah tidur dengannya?” tanya Rissa, menunjuk kasar tanda kemerahan ciptaan Bara tadi pagi.


Bella menggelengkan kepala. Saat ini Bella bingung, mengapa sikap kakaknya jadi seperti ini. Tiba-tiba emosi, menggila tanpa penyebab. Padahal sewaktu sarapan semua baik-baik saja. Tidak ada hal janggal atau aneh dari Rissa.


“Jangan sampai hamil anaknya! Jangan mau hamil anaknya, Bell!” perintah Rissa.


“Dia itu tidak pantas mendapatkanmu!” ucap Rissa dengan keras.


“Kak ...." Bella ragu dan tidak tahu harus menjawab apa. Seperti orang bodoh, tidak paham arah pembicaraan mereka saat ini. Tiba-tiba Rissa membahas hubungannya dengan Bara.


“Dia suamiku, Kak. Kalau dia memaksa, aku tidak bisa apa-apa,” sahut Bella pelan dan tertunduk.


Rissa terlihat menghela napasnya, menatap Bella. Ia kesal dengan keras hati adiknya.


“Kemari, aku akan menunjukkan padamu. Jadi kamu tidak ragu-ragu lagi untuk meninggalkannya.” Rissa menyeret Bella ikut dengannya.


Tangan Rissa terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari pakaiannya. Namun, belum sempat ia menyerahkan amplop cokelat itu ke tangan adiknya, tiba-tiba Bara membuka pintu dengan kasar.


Brak!

__ADS_1


Seringai amarah muncul di bibir Bara. Dengan langkah lebar, berjalan menuju tempat Bella berdiri.


“Ikut aku sekarang!” perintah Bara, menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar Rissa.


Namun, baru sampai di pintu, Bara tiba-tiba berbalik dan menatap tajam ke arah Rissa.


“KEMASI BARANG-BARANGMU! SETELAH AKU KEMBALI, AKU TIDAK MAU MELIHATMU DI RUMAHKU!!” teriak Bara penuh kemarahan dengan mata memerah, urat-urat menonjol di pelipis.


“Jangan pernah ikut campur urusan rumah tanggaku! Jangan merecoki istriku dengan hal-hal yang belum tentu kebenarannya!” lanjut Bara sedikit melunak, tetapi tatapannya tetap membara. Ia sampai menggengam tangan Bella dengan kencang, menyalurkan emosinya yang memuncak. Tidak sadar perbuatannya menyakiti Bella.


“Mas, sakit,” ucap Bella memohon Bara melepaskan tangannya.


“Hah! Maaf, Bell,” ucap Bara, melonggarkan genggaman tangannya.


“Brengs*ek! Kamu menantangku, Bar!” ucap Rissa tidak kalah emosinya. Ia benar-benar berani melawan Bara saat ini.


“Aku sudah curiga, tidak mudah menghadapimu!” ucap Bara keras.


Beruntung Bara selalu meminta pengasuh Issabel mengawasi segala gerak-gerik Rissa sejak dua tahun yang lalu. Di awal, Bara hanya meminta sang pengasuh mengawasi gerak-gerik Rissa saat bersama Issabell, tetapi sejak Bella tinggal bersama mereka, Bara juga memintanya mengawasi Rissa dan Bella.


“Ikut aku, Bell,” ajak Bara, menyeret istrinya ke kamar mereka.


“Kemasi barang-barangmu! Aku harus keluar kota. Aku akan membawamu juga!” perintah Bara melonggarkan dasi dan membukanya. Ia sudah mengeluarkan kopernya sendiri, membukanya di depan Bella.


Melihat itu, Bella langsung mengerti maksud suaminya. Dengan tergesa-gesa berjalan menuju lemari, mengeluarkan kemeja dan celana kerja Bara, kemudian memasukkan ke dalam koper.


“Kita pergi seminggu,” jelas Bara, setelah melihat kebingungan Bella memeluk pakaiannya karena tidak tahu harus membawa berapa banyak.


“Ya, Mas,” sahut Bella, menyusun kembali pakaian Bara. Bella menutup mulutnya rapat-rapat, tidak berani bicara. Teriakan Bara masih terngiang jelas di indra pendengarannya. Sungguh mengerikan dan menakutkan.


Selesai berkemas, tampak Bara menggandeng Bella keluar kamar. Ia mengajak istrinya berpamitan pada putrinya, Issabell.


“Mas, Icca tidak ikut?” tanya Bella memberanikan diri.


Bara menggeleng. “Aku kerja, tidak mungkin membawa Issabell,” jelas Bara. Nada bicaranya sudah terdengar biasa.


“Tapi ... kasihan Icca, Mas,” ucap Bella, sedih menatap Issabell yang merengek saat melihat sopir menyeret koper-koper mereka.


“Daddy ikut,” rengek Issabell mulai menangis.

__ADS_1


“Mas," panggil Bella, menyentuh lengan Bara.


“Aku tidak bisa membawa Icca, Bell.” Bara menjawab.


“Apa sebaiknya aku di sini saja Mas, menjaga Icca.” Bella memberi usul, sontak mendapat tatapan tajam dari Bara.


“Icca sudah punya pengasuh, tidak membutuhkanmu. Saat ini suamimu yang membutuhkan seorang istri untuk mengurusinya,” ucap Bara dengan tegas.


“Mas,” ucap Bella pelan, masih berusaha membujuk. Ia tidak tega melihat rengekan dan tangisan Issabell yang sedang menarik celana Bara.


“Daddy ... ikut,” rengek Issabell masih terisak.


“Mas, apa kita bawa saja. Aku akan menjaganya,” ucap Bella ragu.


“Tidak, Icca tetap di sini.” Bara menolak dengan tegas.


“Nanti pulang, Daddy janji kita akan jalan-jalan,” bujuk Bara, berjongkok. Meraih putrinya, membawa ke dalam gendongan.


“Mami ... ikut,” rengek Issabell pada Bella kali ini. Kedua tangannya sudah terulur, berharap Bella mengambilnya dari gendongan Bara.


“Mas, kasihan Icca.” Bella berkata, sambil memohon.


Bara menatap Bella sejenak, tersenyum.


“Tidak bisa, Bell. Aku harus kerja,” sahut Bara.


Tampak Bara menggendong putrinya keluar menuju taman, berbincang berdua di sana. Meninggalkan Bella yang menatap kebingungan.


“Apa yang terjadi. Kenapa mendadak dan begitu tiba-tiba?” batin Bella.


****


T B C


Maaf telat up ya.


Terima kasih dukungannya.


Love You All

__ADS_1


__ADS_2