
“Halo," sapa Bara begitu menempelkan benda pipih itu di telinga. Mata Bara membulat begitu mendengar informasi yang disampaikan si penelepon.
Jantung memburu dengan wajah mengeras, lelaki itu mematikan sambungan telepon dengan buru-buru. Beralih menatap Bella, istrinya masih duduk di tempat yang sama, tertunduk dengan wajah sembabnya karena kebanyakan menangis.
Kekesalan Bara pada istrinya belum sepenuhnya reda, tetapi informasi yang disampaikan petugas rumah sakit cukup membuat Bara bernapas lega, meskipun masih ada kekhawatiran yang mengganjal di dada. Ia belum mengetahui jelas bagaimana kondisi Issabell, tetapi dengan mengetahui keberadaannya, itu sudah cukup melegakan.
“Icca sudah ditemukan. Sekarang berada di rumah sakit,” cerita Bara, bergegas keluar kembali.
“Mas, tunggu. Aku ikut,” seru Bella, berlari menyusul. Hampir terjengkal kembali, tersandung permadani yang melapisi lantai kamarnya.
Bara berbalik begitu mendengar suara Bella, menatap istrinya yang hampir terjatuh. Bara menarik napas terkejut, beruntung istrinya masih bisa menjaga keseimbangan. Kalau tidak, Bara tidak bisa membayangkan tubuh mungil yang sedang hamil itu akan terjerembap membentur lantai.
“Hati-hati, Bell,” ucap Bara, protes dengan kecerobohan Bella.
“Maaf, Mas. Aku terlalu bersemangat. Aku ikut ke rumah sakit. Icca pasti merindukanku,” sahut Bella, mengekor langkah Bara tanpa banyak bicara lagi. Semakin banyak bicara, ia khawatir akan membuat Bara semakin kesal padanya.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, keduanya dilanda kecemasan. Bara masih dengan wajah tegangnya, memandang keluar jendela, menatap hiruk pikuk jalan raya. Bella menutup mulut dengan tangan saling meremas, menguatkan diri dengan doa, semoga semua baik-baik saja.
Tidak sampai setengah jam, mobil yang dikendarai Pak Rudi tiba di rumah sakit yang dimaksud. Bara keluar dengan tergesa-gesa, tanpa menunggu Bella. Berjalan meninggalkan Bella yang berjalan lebih lambat karena kedua lututnya yang terluka.
Dengan susah payah, ia menyejajarkan langkahnya dengan sang suami. Sesekali meringis, saat tanpa sengaja kakinya bertekuk lebih.
“Mas, tunggu aku,” pinta Bella, berjalan tertatih-tatih. Bara bahkan tidak peduli padanya. Entah suaminya itu sadar atau tidak kalau saat ini ia juga sedang terluka.
Hatinya tercubit. Ada rasa kecewa tersembunyi di dalam diri Bella. Namun, saat ini ia tidak mau protes dan larut dalam perasaannya sendiri. Yang terpenting sekarang adalah Issabell baik-baik saja. Yang lain akan menyusul terselesaikan.
Bara terlihat bertanya pada bagian informasi, memastikan kalau info yang disampaikan seseorang yang mengaku petugas rumah sakit itu benar adanya. Keduanya bisa tersenyum dan bernapas lega saat petugas bagian informasi memintanya mengisi data dan segera setelah itu mereka diarahkan menuju ruangan yang dimaksud.
Langkah kaki Bara terhenti seiring matanya menatap ke ponsel, memastikan nomor dan nama ruangan sesuai yang dikirim si penelepon padanya.
__ADS_1
“Kenapa, Mas?” tanya Bella tidak sabar.
“Tidak, sepertinya di sini ruangannya,” jelas Bara, menunjuk ke ruangan di dekatnya sembari, memutar knop pintu.
Bunyi pelan pintu terbuka, mereka di sambut pemandangan yang mengiris hati. Pemandangan yang tidak biasa. Issabell tertidur, masih ada jejak-jejak air mata di wajah menggemaskannya.
Bella langsung berlari masuk. Lupa dengan rasa sakit di kakinya, lupa dengan semuanya, menghambur masuk demi untuk memeluk putri yang beberapa jam menghilang.
“Icca kenapa, Mas?” tanya Bella heran. Tidak ada sedikit pun luka, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Putrinya terlihat tidur dengan tenang. Yang membuat semuanya heran, tidak ada siapa pun di sana yang menemani Issabell
Bara menggeleng. “Kamu tunggu di sini sebentar Bell, aku harus bertanya pada perawat untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi,” jelas Bara. Lelaki itu sudah melangkah keluar dari ruangan, tanpa menunggu jawaban Bella.
Penasaran tingkat tinggi dan kebingungan mengisi pikirannya. Kenapa sampai bisa putrinya di sana dan siapa yang mengantar Issabell.
Hampir setengah jam Bara menghilang untuk mencari tahu. Begitu kembali, Bella hampir tertidur. Telungkup di brankar menggenggam tangan mungil Issabell.
Seulas senyum terbit di wajah tampan dan rupawan Bara, melangkah masuk menikmati pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Keadaan lebih tenang, pikirannya pun sudah tidak sekalut sebelumnya. Meskipun sampai sejauh ini, ia tidak mendapatkan informasi apa pun, setidaknya Issabell aman dan sudah kembali ke tengah keluarga.
Panik dan kekhawatiran terlalu merajalela di dalam hatinya, sampai ia melupakan istrinya yang juga sedang hamil anaknya. Memori otaknya sedang memutar kembali kejadian demi kejadian yang terjadi sepanjang sore hingga malam.
Bara tersadar, sudah berlaku kasar pada Bella. “Maafkan aku,” bisik Bara pelan.
“Bell, bangun. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat,” panggil Bara, mengguncang kecil pundak melemas dan tertidur pulas.
Kepala tertunduk bertumpu di atas tangan bertekuk itu bergerak, mengerjap dan beradaptasi dengan cahaya sebelum mengeluarkan suara seraknya.
“Mas, sudah kembali? Bagaimana Icca? Di baik-baik saja, kan?” tanya Bella, memberondong Bara dengan pertanyaan.
“Ya, dia baik-baik saja. Petugas rumah sakit tidak tahu apa-apa. Hanya mengatakan Icca dibawa orang tidak dikenal dan memberi nomor ponselku untuk dihubungi,” jelas Bara, masih tidak habis pikir.
“Berarti orang itu mengenalmu, Mas,” ucap Bella, mengernyitkan dahi. Terlihat ia berpikir serius.
__ADS_1
“Kira-kira siapa Mas? Apa tujuannya menculik Icca lalu mengembalikannya?”
Bara menggeleng. “Aku tidak tahu, sebaiknya kamu pulang sekarang. Setelah Icca bangun, aku juga akan membawanya pulang. Tidak nyaman tidur di sini,” jelas Bara.
“Aku masih mau di sini, Mas. Takutnya Icca bangun dan mencariku,” tolak Bella, masih bersikeras.
“Bell, tolong menurut kali ini. Kamu sedang hamil, tidak nyaman berada di sini. Aku mohon pulanglah,” pinta Bara.
Tidak mau berdebat dengan suaminya, Bella mengalah. Baru saja beranjak dari duduknya, Bara menahan tangannya.
“Kenapa kedua lututmu berdarah dan lecet seperti itu?” tanya Bara. Bola matanya hampir keluar, begitu menyadari penampilan Bella. Lelaki itu sampai berlutut untuk memastikan lebih dekat apa yang terjadi dengan istrinya.
“Oh, aku terjatuh tadi saat mengejar Icca,” sahut Bella. Ia juga baru memperhatikan lebih jelas penampakannya sekarang. Pakaian bernoda dan ada darah mengering meleleh di dekat lututnya.
Mendengar kata jatuh, kepanikan Bara mencuat. Baru saja perasaannya tenang setelah berhasil menemukan Issabell, sekarang mendapati kenyataan istrinya yang sedang hamil sempat terjatuh.
“Ikut aku,” pinta Bara, menarik tangan Bella dan membawanya duduk di sofa.
“Bagaimana bisa jatuh? Bagaimana jatuhnya? Apa yang sakit? Perutmu mengenai sesuatu?” tanya Bara, memberondong Bella banyak pertanyaan.
“Sudah Mas, aku sudah tidak apa-apa,” sahut Bella menenangkan.
“Sewaktu kejadian, sempat nyeri di sini. Mungkin waktu jatuh, perutku menyentuh tanah.” cerita Bella, menunjuk ke perutnya. Pakaiannya pun masih terlihat noda kotor.
Bola mata Bara hampir keluar mendengar penjelasan Bella. “Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku akan memanggil perawat dan dokter untuk memeriksamu!” perintah Bara.
***
T B C
Love you all
__ADS_1
Terima kasih.